Sore hari ketika pekerjaanku selesai, aku menyempatkan diri makan sebentar di restoran sekitaran hotel tempatku menginap. Setelah makan segera kembali ke hotel karena aku sudah janji akan menghubungi Karina. Benar katanya, saat berjauhan seperti ini aku mulai bisa meredakan amarah yang terus bergejolak sejak 2 hari lalu. Entah mendapatkan hikmat dari mana, tiba-tiba aku berpikir dan menyalahkan diri sendiri. Yang memaksa Karina menikah adalah aku sendiri. Kalau istriku ingin menikmati hasil kerja kerasku, bukankah normal? Lalu kenapa aku harus merasa dimanfaatkan. Sedari dulu aku memang ingin membahagiakan Karina. Kalaupun aku bertemu wanita lain, mungkin pinilaiannya terhadap apa yang kumiliki sekarang sebagai poin plus demi masa depan yang pasti. Aku merasa bodoh sekali termakan oleh em

