Malampun menjelang, Karina berjalan mondar mandir menunggu telefon dari Brahm atau setidaknya pesan darinya. Meskipun Brahm mengatakan akan menghubunginya nanti malam, Karina sengaja merias diri dan mengulas bibirnya dengan lipstik merah menyala, walaupun mereka tidak bertemu muka. Sudah 10 menit lewat dari jam 9, namun Brahm belum juga menghubunginya. Hati kecil Karina mulai bertarung dalam batinnya. ‘Apa aku dulu saja yang menelfonnya lebih dulu, tapi kalau dia belum sampai hotel dan masih sibuk, bisa-bisa aku makin disebelin. Apa aku kirim pesan saja yah?’ Tapi sekarang sudah di atas jam 9, harusnya sudah selesai pekerjaannya.’ Tidak sabar, akhirnya Karina memutuskan sebagai yang menghubungi suaminya lebih dulu. Panggilan pertama tidak diangkat, membuat Karina merengek kesal. “Masa

