“Ni-nia. Ka-mu ke-napa? Ka-mu gak kesu-rupan, ‘kan?”
Wajah Aryo semakin memucat apalagi ketika aku mendekat ke arahnya dengan memasang wajah garang.
Plak. Langsung saja kutampar pipinya. Sungguh aku merasa geram sekali. Dulu ketika mendapati Aryo selingkuh, aku memilih diam dan mencoba menyelamatkan sendiri hatiku yang sudah berdarah-darah. Jangan tanyakan berapa Betadine, kain kasa sama plester yang kugunakan. Banyak pokoknya. Belum lagi air mataku yang terus menerus mengalir sampai membuat kolam di sekitar sarung bantal yang bergabung dengan kolam iler.
Dan kini? Si mantan malah ngajakin aku balikan? Ngajakin nikah? Setelah dia mencampakkanku begitu saja? No way. Mending aku nyari bujang muka tembok tapi hatinya bak malaikat dan penuh kasih sayang daripada harus kembali sama mantan.
“Nia! Kamu tampar aku, Sayang?”
“Sayang sayang kepala kamu kena godam. Heh, mantan! Apa kamu lupa apa yang udah kamu lakuin buat aku! Apa kamu ingat perlakuan kamu, di belakang aku. Selingkuhin aku, belum lagi sampai DP duluan sama mantan temen aku itu. Kamu pikir aku mau balikan sama kamu? No way! Mending aku nyari bujang muka tembok tapi baik hati dan sombong. Gak masalah. Asal dia setia sama aku. Ngaca kamu! Ngaca! Dulu kamu kemana, hah? Meski aku di luar ketawa-ketiwi aku tetap punya hati. Sakit kalau disakiti, nangis kalau kamu khianati.”
“Nia ... maaf. Aku khilaf.”
“Khilaf itu sekali, Aryo. Bukan berkali-kali. Itu namanya demen. Itu namanya b******k. Hiks hiks hiks.”
Akhirnya aku menangis di depan Aryo. Sesuatu yang sebulan lalu jangan sampai terlihat di depan orang lain kini kuperlihatkan di depannya. Aku tak peduli dengan malu, Maluku masih tetap di sebelah pulau Sulawesi gak mungkin pindah-pindah. Penting sakit hatiku harus diluapkan.
“Nia, maaf. Ayo kita perbaiki semua. Aku janji aku akan berubah. Aku akan melepaskan Deswita. Kamu sabar ya, tunggu aku.” Aryo mendekat ke arahku, refleks aku menjauh. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Kusapu dengan kasar air mataku.
“Enggak Aryo, pantang bagiku untuk merebut milik orang lain. Kalau kamu menyesal, harusnya kamu bertobat dan perbaiki diri kamu. Harusnya kamu berusaha menjadikan pernikahan kamu sebagai ladang untuk memperbaiki diri bukannya malah semakin menjerumuskan kamu.”
“Nia ... aku mohon, maafkan aku. Beri aku kesempatan.”
Aku menggeleng, kuseka air mataku serta ingusku yang masih keluar dengan lengan baju.
“Kesempatan buat kamu udah gak ada. Maaf Aryo, kisah kita udah usai. Jangan ganggu aku lagi, biarkan aku menata masa depanku. Lebih baik kamu perbaiki hubunganmu dengan Deswita. Ingat, ada anak kalian di rahim Deswita. Jadikan dia sebagai pengingat akan kesalahan kamu. Jangan kamu korbankan dia hanya untuk napsu kamu.”
Aku langsung berbalik dan berjalan menuju ke luar pantry. Aku berlari menuju atap gedung. Aku butuh tempat untuk mengasingkan diri sejenak. Sampai di atas gedung, aku berjongkok dan mulai menangis lagi.
“Ya ampun, dasar mantan sialan! Gak tahu apa aku lagi bokek, duitku udah habis buat bayar bukunya si Sania. Hiks hiks hiks. Yak, aku gak punya duit buat beli Betadine, kasa, sama plester. Hiks hiks hiks. Dasar mantan sialan. Enak aja ngajak balikan, hiks hiks hiks.”
Aku benar-benar merasa frustasi karena air mataku tak juga berhenti. Mana tuh ingus juga ikut-ikutan meler lagi.
Sebuah uluran tissue mengarah di depan wajahku. Aku mendongak. Tampak seseorang berdiri dengan posisi wajahnya sengaja tak menatap ke arahku.
“Pakai ini, kasihan lengan bajumu udah gak bisa nampung air mata sama ingus.”
Aku menerima uluran tissue dari Pak Andro. Menarik beberapa lembar, lalu segera kuhapus air mataku. Menarik tissue lagi untuk menghapus ingus. Sengaja aku membuat suara agar ingusku keluar semua.
“Ma-kasih. Pak An-dro,” ucapku sambil sesenggukan.
Dia hanya tertawa mengejek. Mana tuh decakan sinisnya terdengar lagi.
“Gak nyangka ya, cewek kayak kamu bisa patah hati juga. Bisa nangis juga.”
“Iyalah, Pak. Meski saya sedikit gila tetap saja saya punya hati, Pak. Bapak aja yang gak ada hati bisa sedih diselingkuhin pacar apalagi Nia yang cuma wanita biasa,” ucapku sambil membuang ingusku lagi.
“Ck. Lebay,” sinisnya.
Aku menoleh tak terima ke arah Pak Andro. Beneran ya ini orang gak ada empati sama sekali. Padahal kemarin waktu dia patah hati, aku loh yang dengan sukarela membuatkannya kopi. Karena sedang sedih, aku membiarkan saja tingkahnya. Terlalu lelah untuk membalas. Aku justru fokus meratapi diri dengan posisi masih jongkok.
Kurasakan embusan angin menerpa wajahku. Aku merasa lebih tenang. Kelegaan kini menyergap diriku. Aku pun berdiri lalu melangkahkan kaki menuju ke pembatas gedung. Kurentangkan kedua tanganku ke samping, mata sengaja kupejam agar lebih menikmati embusan angin yang datang.
Grep. Duk! Gedebuk. Brak!
Aku mengaduh karena merasakan sakit pada bokongku yang baru saja mencium lantai. Segera kupandangi seseorang yang berada di sampingku dengan posisi duduk juga dengan raut wajah keheranan.
“Kamu mau bunuh diri?!” teriaknya.
“Kalau mau bunuh diri jangan di sini apalagi di depan saya! Sana nyari tempat lain.” Pak Andro terlihat kesal dan terus memarahiku.
Aku melongo tak percaya. Bunuh diri? Astaga! Jangan bilang Pak Manajer mengira aku mau bunuh diri.
*****
Makan Berdua
Pak Andro masih saja memarahiku. Bahkan kini dia sedang mengeluarkan dalil-dalil dalam Al Quran yang intinya bunuh diri itu dosa.
Aku sama sekali tak begitu fokus dengan amarah Pak Andro apalagi kata-katanya. Fokusku kini tersedot pada wajahnya yang benar-benar ganteng.
Alis lebat, bibir tebal, rahang tegas, hidung mancung dan mata yang tajam tetapi begitu memikat. Astaga! Setahun ini aku kemana aja sih? Kok bisa aku gak nyadar ada cowok seganteng ini di dekatku. Aku malah fokus dengerin gombalan Aryo yang ujung-ujungnya dicampakkan gara-gara aku menolak untuk dibelai.
Saking fokusnya menatap wajah di depanku, tak sadar aku melongo.
“Pffft.” Aku kaget sekaligus hampir tersedak. Mulutku baru saja disumpal dengan gulungan tissue.
“Pffft, bah. Ish, Pak Andro jahara bener deh, Kania masih doyan makan sayuran sama daging, Pak. Belum pindah haluan jenis makanannya. Kania gak berniat jadi Ebeg yang suka maka beling dan sebangsanya,” ketusku sambil membersihkan mulut dari gumpalan tissue.
“Kamu ini ya! Senang sekali mengeluarkan iler. Jijik tahu!”
“Lah, si Bapak. Lagian ngapain mau-maunya lihatin saya pas ileran. Lihatnya pas dandan dong, Pak.”
“Halah, dandan juga gak ada yang berubah. Sekali norak tetap norak.”
Aku mengerucutkan bibirku, lalu memilih berdiri dan kembali mendekat ke batas pagar.
“Eeeeh! Kamu mau ngapain? Bunuh diri? Sudah saya bilang kalau mau bunuh diri jangan di depan saya dan jangan di kantor ini. Sana cari tempat lain!”
Aku mengembuskan napas lelah, berbalik dan menatap Pak Andro sambil berkacak pinggang.
“Saya gak mau bunuh diri, Pak. Saya cuma mau cari angin, makan angin. Lagian saya belum ingin mati. Belum nikah belum kawin juga. Siapa tahu jodoh saya itu pria kaya. Bos gitu. Kan lumayan, Pak.”
“Ck. Bos mana yang mau sama OG aneh kayak kamu.”
“Ya elah Pak, Bapak itu kalau ngomong suka benar. Ya gak harus bos kantoran lah, Pak. Juragan empang aja cukup kok buat Kania.”
Sebuah toyoran di kepala semakin membuatku kesal. Namun aku memilih tak membalas. Selain karena kurang sopan, aku takut nantinya malah aku yang dipecat. Dengan alasan tindakan tak menyenangkan pada atasan. Gawat itu! Sekarang kan nyari kerja susah. Bersyukur aku masih bisa kerja dengan gaji yang lumayan.
Kami terdiam untuk waktu yang lama. Aku fokus menatap pemandangan kota Jakarta di bawah sana sementara lelaki di sampingku ternyata melakukan hal yang sama. Aku mencebik. Dalam hati bergumam.
‘Ya elah, dasar orang ganteng. Diem begitu aja tetep ganteng. Mana gaya berdirinya mempesona lagi. Dengan menatap lurus ke depan lalu sebelah tangan masuk ke kantong celana. Duh! Andai statusku bukan OG, pengen tak pelet kamu, Pak.’
Aku terkekeh menyadari rencana gilaku pada Pak Andro.
“Tadi nangis-nangis, sekarang tertawa. Kamu beneran udah gak waras,” ucapan dingin Pak Manajer membuat tawaku menghilang seketika.
“Ish, Pak Andro beneran nyebelin tahu gak sih. Bikin khayalan indahku ambyar.”
“Ck.”
Kami sama-sama diam. Azan suara maghrib berkumandang. Aku kaget menyadari kalau aku sudah terlalu lama di atas gedung.
“Sana, balik!” titah Pak Andro.
“Ya ya ya, ini saya juga mau pulang kok, Pak. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Aku berjalan menuju ke pintu. Sebelum membuka pintu, aku menoleh ke arah Pak Andro lagi. Cukup lama aku menatap Pak Andro sampai tak sadar aku tersenyum.
“Pak Andro!” teriakku keras sekali hingga Pak Andro menoleh.
“Iya.”
“Jangan melamun. Kata orang, di atas sini ada Mas Wowo yang sukanya ngajakin orang ganteng buat lompat ke bawah. Kayanya gak asik loh, kalau Bapak minta saya jangan bunuh diri lah malah Bapak yang kelihatan depresi. Hahaha. Dah, Pak Andro. Jangan lompat ya, Pak. Dadah.”
Aku segera membuka pintu dan menuju ke bawah. Sengaja aku menggunakan tangga darurat. Sampai di depan gedung kantor, aku sengaja duduk di dekat halte. Aku merasa butuh waktu untuk merenung sebentar. Beruntung lagi gak sholat jadi gak perlu buru-buru pulang ke kost.
Cukup lama aku duduk di halte, kemudian setelah mendengar azan lagi, aku baru ‘ngeh‘ kalau ternyata aku melamun untuk waktu yang terlalu lama. Tak terasa waktu sudah memasuki isya.
Belum juga aku melangkah, sebuah mobil yang aku kenali berhenti tepat di depanku. Pintu samping penumpang terbuka, menampilkan sosok lelaki tampan yang dingin dan sedikit arogan.
“Masuk!” titahnya tanpa menoleh ke arahku.
Aku pun hanya mendesah lalu tersenyum. Segera saja aku masuk ke dalam mobil Pak Andro. Meski ada sedikit kekhawatiran di hati, tapi aku tahu Pak Andro gak mungkin ngapa-ngapain aku. Lah, pacaran sama Mbak Jelita yang cantiknya paripurna aja gak pernah ngapa-ngapain, masa dia mau sama aku yang gak glowing apalagi licin. Apalah Si Kania yang tampilannya kusam, tangan kasar, rambut berantakan, kere, ileran pulak.
***
Mataku membelalak melihat begitu banyak hidangan yang terpampang di depan mataku. Mau tak mau aku sesekali mengelap sudut mulutku dengan tissue. Takut ngeces.
“Tumben sadar ada iler.” Suara sinis terdengar di depanku.
Pak Andro sedang mengambil kain serbet lalu dia buka kain itu dan memakainya. Dia mulai mengambil sendok dan garpu, kemudian memasukkan makanan ke dalam mulut. Cukup melihat cara Pak Andro makan, aku pun segera mengikuti langkah yang dia peragakan tadi. Dengan pelan aku memasukan makanan ke dalam mulutku. Mengunyahnya sebanyak tiga puluh tiga kali baru menelannya.
Alhamdulillah, percobaan pertama berhasil. Lagi, aku menyendokkan makanan dengan cara yang sama. Pelan dan elegan.
Kami berdua makan dalam diam. Tak ada satu pun dari kami yang berbicara. Selesai makan, aku meminum air putih persis seperti yang dilakukan oleh Pak Andro. Kemudian mengambil serbet untuk mengelap area mulut.
“Eeehhhmmppp.”
Aku segera menutup mulutku dan sedikit menundukkan wajah. Ya ampun, kenapa malah bersendawa keras sekali. Duh, jadi gak elegan deh.
Suara kekehan di depanku terdengar. Pak Andro masih terkekeh dengan tatapan sedikit mengejek ke arahku.
“Ya elah, Pak. Jangan diejek kenapa? Harap maklum ini pertama kali Nia makan di tempat mewah. Norak dikit kan gak papa.”
“Emangnya kamu gak pernah jalan dan diajak makan sama Pak Ginanjar atau Pak Pandu?”
“Ish, si Bapak. Meski Kania cuma OG, Kania masih punya harga diri ya Pak. Kania lebih suka diijabsah sama lelaki biasa daripada jadi tempat pembuangan bibit doang. Walau orangnya tampan bin tajir melintir. Enaknya bentar doang, tapi deritanya gak berkesudahan. Ingat kan Pak sama Mbak Dini yang hamil sama Pak Farel, tapi Pak Farelnya gak ngaku. Duh, kasihan banget tahu. Udah dipecat, malu, lah anaknya gak punya Bapak.”
Aku terus bercerita perihal kasus Mbak Dini dan Pak Farel. Pak Farel adalah kepala divisi keuangan sementara Mbak dini adalah sekretarisnya. Pak Andro sepertinya sangat tertarik dengan ceritaku. Dia diam saja tapi begitu menyimak ceritaku terlihat dari matanya yang selalu menatapku dan sesekali terkekeh jika aku sedang mengumpati Pak Farel.
“Jadi ya Pak. Bapak jangan jadi cowok beng-beng ya Pak. Jadi cowok yang baik aja, jangan berubah. Kata Bapakku, jadi cowok baik gak ada ruginya. Banyak berkahnya apalagi jadi suami dan ayah yang baik. Duh! Pokoknya so sweet.”
“Hem.”
“Ya elah Pak. Perasaan sejak tadi ham hem doang. Ngomong apa kek.”
“Buat apa saya ngomong. Suaramu aja udah bikin bising.”
Aku hanya mencebik. Cukup lama kami berada di salah satu rumah makan mewah yang ada Jakarta. Pukul delapan lebih lima belas menit kami memutuskan pulang. Selama perjalan pulang kami hanya diam. Aku sendiri terlalu mengantuk sehabis kekenyangan jadi males ngoceh. Sesekali keningku terantuk kaca mobil hingga lama kelamaan aku tak sadarkan diri.
Guncangan di bahu membuatku kaget dan bangun dengan gelagapan.
“I-iya.”
“Sudah sampai.”
“Oh, ya? Makasih Pak udah ditraktir makan. Beneran deh Bapak baik banget. Tahu aja Kania lagi bokek. Nia turun ya Pak. Assalamu’alaikum.”