bc

My Crazy Office Girl

book_age16+
detail_authorizedAUTHORIZED
314
FOLLOW
1.3K
READ
like
intro-logo
Blurb

Kania Nandita Maheswari adalah seorang office girl slengekan bahkan cenderung suka bertingkah gila. Meski begitu, dia sangat ramah dan suka menolong.

Sikapnya yang ceplas ceplos, apa adanya tetapi bisa menjaga etika membuat semua orang menyukai Kania termasuk Pak Manajer yang terhormat bernama Andromeda Bagaskara.

Andro awalnya berusaha menepis rasa tak biasa pada salah satu OG paling cantik di kantornya. Bukan masalah karena status Kania yang cuma OG. Tapi sikap norak dan gilanya itu loh yang bikin seorang Andro harus mikir seribu kali.

Dua manusia dengan sifat dan keadaan yang bertolak belakang. Mungkinkah keduanya akan bersatu seperti kisah Cinderella dan Pangeran? Atau mereka hanya sekedar berjumpa saja tanpa hubungan spesial selain antara atasan dan bawahan.

chap-preview
Free preview
Menghibur Pak Andro-1
Menghibur Pak Andro Aku menghentikan aktivitas lari pagiku. Mengelap keringat lalu menoleh ke belakang ke arah empat soulmateku. Siapa lagi kalau bukan Heri, Shelomita, Anastasya dan Gita. Ulala, apa maksud mereka? Ngajakin lari pagi malah pada sibuk selfi. Ya wis, aku memilih lari lagi. Rambutku yang panjangnya sepunggung sengaja kukuncir dan memakai topi. Puas berkeliling sebanyak dua putaran, aku memilih berjalan santai sambil memandang ke sekeliling. Sejak tadi terlihat banyak cowok menatapku sambil kedip-kedip mata, menebar senyum bahkan menyapa. Tetapi tak kugubris sama sekali. Bukannya aku sok jual mahal tetapi karena di sampingku tadi ada cewek cantik banget yang berlari beriringan denganku. Mana tuh kulit mulus banget, licin guys, matanya sipit dengan wajah khas keturunan Tionghoa. Makanya, walau sejak tadi ada yang lirik-lirik, senyum-senyum bahkan kedip-kedip mata ke arahku, gak tak gubris. Takut salah tafsir. Takut ge-er mengira lagi tepe-tepe sama aku jebule malah maring wong wadon neng jejerku. Aku gak kuat nahan malunya, guys. Jadi, mending pasang muka kalem dan sok gak kenal. Yeah. Setelah berjalan santai sebanyak lima putaran, aku memilih beristirahat, duduk di bawah pohon dan menyelonjorkan kaki, tak lupa lap keringat sana-sini dan terakhir meminum air kemasan yang kubawa. Airnya sengaja kupilih yang tawar, bukan yang manis-manis, soalnya aku udah manis. Hoek. “Woi, kamu dari mana aja, Nia? Kita cari-cari kok gak ada?” Aku melirik malas ke arah Gita yang muncul bersama kawan-kawan. “Kalian nyari aku di mana?” “Di sebelah sana.” Shelomita menunjuk ke bagian depan Monas. Aku semakin memutar bola mata. “Kamu kemana, Non? Kita cari-cari, loh.” Heri langsung duduk di sebelahku. “Habis muterin Monas, kan niat aku ke sini olahraga bukan olah mata,” sindirku dan hanya dibalas oleh para soulmateku dengan derai tawa. Kami pun mulai bercerita ngalor ngidul ngetan ngulon berhenti ketika mentok gak ada topik obrolan. Lalu berlanjut ghibah lagi begitu menemukan tema ghibahan. Tiba-tiba, Anastasya memberi kode ke arah kami. “Guys tengok arah jam delapan.” Refleks empat kepala menoleh bersamaan. Woha, si Papan Datar sedang olahraga pemirsa. Otomatis mata keempat gadis cantik penghuni pantry PT. Mentari Jaya Sentosa fokus pada objek tampan idaman jutaan perempuan. “Masya Allah, nikmat Tuhan mana yang bisa kudustakan melihat pahatan makhluk Tuhan bernama Andromeda Bagaskara. Duh! Bisa gak sih aku jadi kaos jerseynya aja, atau jadi lap keringetnya juga gak papa. Rela gue.” Anastasya mulai ngedrama. “Kamu benar, boleh gak sih, aku bermimpi jadi pacarnya, selingkuhan juga boleh.” Gita ikut-ikutan menyuarakan isi hati. “Sssttt, itu Pak Andro. Dia kemari,” bisik Shelomita begitu semangat. Dia bahkan sengaja memasang senyum termanis saat Pak Andro melewati kami. Kedua teman perempuanku pun melakukan hal yang sama termasuk aku. Tetapi walau senyum Pepsodent sudah kami tebarkan, Pak Andro seperti tak melihat kami berempat. Dia tetap berlari tanpa tengok kanan kiri. Padahal, kami berempat plus Heri sudah merasa gigi kami kering gara-gara tersapu oleh angin. “Kita dicuekkin gitu? Astaga!” Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Gita. “Ho’oh.” “Iya.” “Betul.” “Yap, sepertinya kita harus menginjak bumi guys, jangan main-main mulu di antariksa.” Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku. Semua sahabatku menoleh ke arahku. Aku membalas tatapan mereka. “Aku salah ngomong? Enggak, ‘kan?” “Bahasamu loh, Nia. Sok banget,” sinis Heri padaku. “Dih! Kania gitu, jabatan boleh OG, otak no KW KW apalagi weka weka. Udah ah, aku mau lari lagi, ada yang mau ikut?” Sesuai dugaanku, empat kepala menggeleng. Bahkan masing-masing sudah mengeluarkan ponsel dan siap memasang aksi buat selfi. Ya sudahlah, emang adanya mereka kayak gitu. *** Aku mengibas-kibaskan tanganku ke area mulut. Tak lupa menjulurkan lidah. Pedaaaas. Busyet dah, ternyata cabenya cabe setan semua. Padahal kupikir cabe lagi mahal makanya pakenya cabe-cabean eh ... beneran cabe rupanya. “Duh, mana airku habis. Ternyata siomaynya pedes.” Aku masih memasang ekspresi kepedasan, lalu bermaksud mengambil minum ke arah pantry. Sebuah uluran tangan datang ke arah wajahku saat pantatku baru saja terangkat setinggi sepuluh senti. Kulirik siapa si empunya. Uwow, si Pak Manajer yang terhormat rupanya. “Eh, Bapak. Siang Pak.” “Hem.” “Makasih, Pak. Tahu aja Kania butuh sedekah air.” “Ck. Udah kelihatan dari ekspresi kamu.” “Hehehe.” Aku langsung mengambil air mineral yang disodorkan oleh Pak Andro lalu kembali memakan siomay yang tinggal sedikit. Ini jam makan siang, jadi kami para OB dan OG sedang istirahat juga. Para rekan OG/OB lagi makan di warung padang. Kalau aku, memilih membeli siomay dan duduk di pojokan balkon lantai enam. Sengaja gak turun, takut tergoda jajan. Duitku lagi minus. “Duitmu habis, ya? Kok cuma makan siomay?” Pak Andro berkata dengan ekspresi datar, suara biasa aja tapi membuat hatiku sedikit terluka. “Ish, Bapak. Gak usah ngomong bener deh Pak. Bikin hati Kania sakit, Pak. Macem habis dijanjiin mau dikawinin tapi gak dinikahin. Nyesek.” Sengaja aku mengelap mataku dengan ujung baju. “Gak usah lebay.” “Aih, si Bapak. Tahu aja kalau aku lebay, eh mau minta gak Pak, tapi udah kugigit ujung plastiknya.” Kusodorkan plastik berisi siomay dengan ujung yang sudah terbuka ke arah Pak Andro. Dia hanya menatap jijik ke arah siomay yang ada dalam genggaman tanganku. “Gak mau? Ya udah, padahal ada cap bibirku loh Pak. Pasti manis dan bikin Bapak ketagihan.” Pletak. “Aduh! Sakit Pak. Bar-bar bener deh, pantas ceweknya selingkuh orang si Bapak gak romantis. Cewek itu suka banget bibirnya diubek-ubek sama bibir pacarnya bukannya dianggurin, Bapak.” Pletak. Lagi sebuah jitakan mampir di keningku. “Otakmu perlu dirukyah, tahu.” “Ya elah, Pak. Kok tahu?” Pletak. Aku cuma bisa mengerucutkan bibir. Semenjak tragedi jadi pacar pura-pura walau sehari doang, Pak Andro semakin semena-mena padaku. Tentu aksinya berlaku jika kami hanya berdua. Entah berapa kali, keningku ini dijitak sama dia. Belum lagi bibirku yang sering sekali kena ciuman dari benda-benda yang dia pegang. Entah map, kertas, pulpen, buku, koran. Cuma satu aja tuh yang kagak kena yaitu ciuman dari bibir tebalnya. Ups! “Habiskan makanmu, buatin saya mie instan super pedas!” Aku melongo, mie instan? Super pedas? “Yakin ini Bapak mau makan mie instan?” “Hem.” “Okelah.” Selesai menghabiskan siomay, aku segera menuju ke pantry. Memanaskan air, mengambil cabai, memotongnya, mengambil mie instan dan memasukkan ke dalam rebusan air mendidih. Tak lupa menambahkan irisan cabai. Dalam waktu sepuluh menit, mie instan pesanan Pak Andro sudah matang. Baru saja, aku hendak mengantar ke ruangan Pak Andro, eh si Pak Manajer yang terhormat sudah menghampiri dengan langkah gontai. Dia langsung duduk di kursi. Segera kusodorkan semangkuk mie instan di hadapannya. Pak Andro sejak tadi hanya mengaduk-aduk mie tanpa memakannya. Aku yang gemas akhirnya merebutnya. “Kalau Bapak gak niat makan mie, mending buat saya saja, Pak.” Tanpa meminta persetujuan, aku langsung memakan mie dengan semangat. Bahkan suara kunyahan dan seruputan dari mulutku begitu kencang terdengar. “Enak?” “Banget.” “Heh.” Pak Andro mengambil air minum dan meneguknya. Dia kembali mengembuskan napas kasar. Ckckck, patah hati emang melelahkan sepertinya. Aku pun merasa kasihan sama dia. Duh! Yang lagi patah hati. Aku pun pernah merasakannya, untung cepat move on. Demi rasa persaudaraan sesama umat yang pernah diselingkuhi sama pacar, aku pun berusaha menghibur Pak Andro. “Semangat dong, Pak. Hati boleh patah tapi napsu makan jangan berubah. Rugi jadinya. Lagian si Bapak kan ganteng? Ntar nyari yang lebih cantik dari Mbak Jelita kan bisa.” Pak Andro menatapku dengan tatapan sendu. Duh, beneran dah si Mbak Jelita udah salah langkah, mengkhianati lelaki baik kayak Pak Andro demi lelaki lain yang ... ah, begitulah. “Apa saya harus jadi bad boy ya, agar pacar saya gak berpaling ke lelaki lain?” “Eh, jangan Pak. Jadi cool boy aja, kek sekarang. Banyak cewek yang suka cool boy kayak Bapak kok.” “Serius?” “Seribu rius.” “Termasuk kamu?’ “Yes, makanya Kania terima kalau Bapak nembak saya. Tapi ditembaknya pakai hati ya Pak jangan pakai pistol. Kania masih pengen hidup. Belum ngerasain kawin juga. Atau Bapak mau kawinin Kania? Kania bersedia kok.” Pak Andro menatapku dengan tatapan tajam. “Maksud kamu?!” Terlihat rahang Pak Andro sudah mengeras, raut mukanya sedikit memerah. Aku tertawa melihat ekspresi wajahnya yang menurutku tampak lucu. “Kenapa kamu tertawa. Emangnya lucu, kamu minta dikawinin sama saya, hah?!” “Ya emang lucu, Pak. Kania seneng kok, andai bisa kawin sama Bapak.” “Kania!” bentak Pak Andro. Suaranya menggelegar dan dia sudah berdiri. “Hahaha.” “Kania!” “Gak usah marah deh Pak, jelas Pak Andro gak bakalan mau kawin sama Kania. Orang kalau Pak Andro mau kawin sama Kania, syaratnya Pak Andro kudu ngasih mas kawin sama Kania yang banyak. Kalau perlu mas batangan, sawah sehektar atau deposito. Bapak mau?” Pak Andro terdiam, mukanya yang awalnya memerah karena marah perlahan-lahan mengendur. Dia duduk kembali, menggeleng-gelengkan kepala lalu langsung menyerobot mangkok di depanku. “Ngomong sama kamu bikin darah tinggi,” gerutunya sambil menyendokkan mie lalu memasukkan ke dalam mulut. “Hahaha, kan Kania antik, Pak.” “Iya, perlu dimusiumin.” “Ditaruh di kamar Bapak aja ya, Pak.” “Hem, iya. Eh—” Aku segera berlari sebelum kena jitakan apalagi ciuman dari berbagai benda yang ada di pantry. Kabur, pokoknya. ***** Mantan Ngajak Balikan Suara langkah kakiku terdengar membahana di lantai enam. Dengan semangat, aku membersihkan ruangan sebelum nanti pulang kembali ke kostan. Selesai dengan pekerjaannku, aku kembali menuju ke pantry utama. Di sana hanya ada Aryo yang sedang bermain ponsel. Sebenarnya agak malas kalau harus satu ruangan dengan mantan. Tapi aku ada perlu menaruh semua peralatan tempurku jadi mau tak mau harus kembali ke pantry. Kulewati Aryo tanpa mengatakan sepatah kata pun. Selesai menaruh alat tempur, aku segera keluar dari pantry sambil mencangklong tas. Namun langkahku terhenti karena panggilan dari Aryo. Aku menoleh ke arahnya. Terlihat Aryo duduk tegak, ponselnya sudah berada di atas meja. “Hai, Kania. Kamu sehat?” Aku mengernyit mendengar pertanyaan Aryo. “Lah kamu emangnya gak bisa lihat aku? Kalau aku sakit gak mungkin dong aku mondar mandir sejak pagi kek kitiran. Pasti kalau aku sakit aku tuh lagi rebahan di kost. Pertanyaan aneh.” Aku segera berbalik dan hendak melanjutkan langkah. “Kania!” Refleks aku memutar tubuhku kembali dan menatap Aryo sambil bersedekap. “Apalagi?!” ketusku. Aryo terlihat menarik napas dalam lalu mengembuskannya kasar. Dia menatapku dengan tatapan sendu. Jiah! Drama bener. Aku tak bergeming dan tetap dengan posisi tangan bersedekap, dagu sedikit dinaikkan, tatapan mataku kubikin setajam mungkin lalu sengaja senyum sinis yang tercetak bukan senyum lain apalagi senyum menggoda. Hoek! No way. Senyum itu hanya akan kuperlihatkan pada suamiku kelak. “Kenapa diem? Mau ngomong apa?” “Maaf. Maafkan aku ya Kania, aku bener-bener menyesal banget udah ngecewain kamu, mengkhianati kamu. Aku udah jadi lelaki b******k. Aku ... aku nyesel banget.” Aryo menatapku dengan mata berkaca-kaca. Mungkin bagi orang lain, mereka akan merasa iba. Tapi bagiku, enggak. Justru aku muak. “Aku bener-bener nyesel banget Kania. Deswita gak kayak kamu. Kamu mungkin rada gila tapi kamu baik. Kamu tulus. Deswita gak kayak kamu. Deswita—” Dan bla bla bla. Aryo terus menceritan keburukan Deswita padaku. Deswita beginilah, Deswita begitulah. Tukang nuntutlah, tukang belanja lah. Helow, bukannya dari dulu dia udah tahu yah kalau Deswita kan emang begitu. Lalu masalahnya apa? Hampir lima belas menit Aryo menceritakan kehidupan rumah tangganya yang baru berjalan satu bulan. Aku merasa muak mendengarnya namun sengaja kutahan. Aku hanya penasaran, maksud Aryo itu apa dengan curhat kehidupan rumah tangganya padaku. “Terus?” “Ya begitu Kania, Deswita gak pernah menghargai aku, dia egois banget, dia gak pernah nyiapin apa pun keperluanku. Dia males-malesan. Aku udah gak tahan banget hidup sama Deswita.” Aryo menghentikan curhatannya. Dia meminum kopinya lalu berulang kali menarik napas dan mengembuskannya. “Terus?” “Ya begitu, Kania. Intinya aku udah gak tahan hidup sama dia.” “Terus kenapa kamu malah curhat ke aku? Bukannya lebih baik kamu ngomong dari hati ke hati sama istrimu?” Aryo menatapku sendu kemudian dia tersenyum lebar. “Aku udah mutusin mau menceraikan Deswita setelah dia melahirkan dan aku akan menikahi kamu.” Senyum sangat lebar masih menghiasi bibir Aryo saat mengatakannya. Aku sendiri hanya bisa melongo. Cukup lama aku bertahan dengan posisi melongo. Untung aku sedang tak berada di kebun bunga dengan para kumbang dan kupu-kupu. Atau di sekitar TPA dengan segala lalat dan kumpulan hewan pengisap darah. Soalnya, kalau aku sedang berada di taman bunga atau TPA, bisa dipastikan para serangga domestik kini sedang berlomba-lomba masuk ke dalam mulutku. Soalnya aku kan manis. “Nia! Kania. Kania!” bentakkan Aryo mengagetkanku. Otomatis mulutku terkatup. Aku berusaha menenangkan diriku. Setelah kembali ke dunia nyata bukan halu, aku malah tertawa terpingkal-pingkal. “Nia! Kamu kenapa? Kenapa kamu tertawa kek gitu?” Aku masih tertawa sementara Aryo sudah berdiri. Terlihat sekali kini mukanya memucat seperti orang yang sedang ketakutan. Sementara aku terus saja tertawa. “Hahaha, hihihi, hahaha, hihihi, hahaha.” Aku bahkan sampai memegang perutku yang tiba-tiba kram karena kebanyakan tertawa. “Nia! Nia! Kamu kenapa, Sayang? Kamu gak papa, ‘kan? Kamu gak ketempelan kuntilanak penghuni pantry, ‘kan?” Aryo masih menatapku dengan raut wajah panik. Aku menghentikan tawaku. Meski masih ingin tertawa namun aku berusaha sangat keras agar tak tertawa lagi. Begitu tawaku sudah reda segera kulempar tatapan maut pada Aryo. Aryo kaget dan terlihat mukanya semakin ketakutan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

TAKDIR KEDUA

read
34.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Tunangan Pengganti CEO

read
1K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook