Pria yang Licik

1210 Words
“Jeslyn?” Jeslyn sangat terkejut saat dia membuka pintu kamarnya. Leonel telah menipunya, ternyata yang ada di balik pintu adalah Jefran. “Ada apa?” tanya Jefran di sana menyadarkan lamunan Jeslyn. “Um… Bukan apa-apa,” jawab Jeslyn tersenyum manis di sana. “Kapan kamu pulang? Kenapa tidak menghubungimu? Aku mencarimu sejak tadi,” ujar Jefran menatap Jeslyn dengan intens. Wanita itu berdehem kecil, jantungnya berdebar kencang karena gugup. Dia pikir, yang tadi datang adalah Leonel. Dan, apa yang dia pikirkan, tidak mungkin Leonel nekad datang ke rumahnya. “Jeslyn?”panggil Jefran kembali menyadarkan lamunan Jeslyn di sana. “Ada apa? Apa kamu sakit?” Jeslyn menggeleng cepat, mencoba menguasai dirinya yang kalut. "Nggak, aku cuma... kurang tidur. Makanya agak linglung," kilahnya sambil menghindari tatapan Jefran. Namun, Jefran tak langsung percaya. Ia melangkah masuk tanpa diundang, menutup pintu kamar Jeslyn dan berdiri tepat di hadapannya. Tatapannya tajam, seolah membaca isi hati wanita itu. "Jeslyn, ada yang kamu sembunyikan dariku?" tanyanya pelan. "Apa maksudmu?" Jeslyn mencoba tersenyum, tapi gugup jelas terbaca di wajahnya. "Entahlah, kamu terlihat beda. Sejak kemarin. Dan sekarang tiba-tiba menghilang, tidak bisa dihubungi..." Jeslyn mundur satu langkah. "Aku... Aku baik-baik saja, Jef. Aku hanya butuh istirahat. Sepertinya, aku kelelahan,” jawab Jeslyn dengan tenang. “ Kamu yakin?” tanya Jefran. “ Ya, tentu saja. Aku sangat yakin,” jawab Jeslyn tersenyum simpul. “ Lain kali, jangan menghilang tanpa kabar. Bagaimanapun, kamu tunangan ku dan tanggung jawabku pada orang tuamu kalau kamu kenapa-kenapa. Jadi, balas pesanku,” ucap Jefran sedikit kesal. “Ya, baiklah.” “Kalau begitu istirahatlah. Aku akan kembali, sepertinya Leonel akan tiba di rumah utama siang ini,” jawab Jefran. Mendengar nama Leonel disebut, seluruh tubuh Jeslyn meremang dan jantungnya berdebar tidak karuan. “Um… Baiklah, kamu pergilah. Aku hanya butuh istirahat,” jawab Jeslyn. “Oke.” Jefran hanya mengelus kepala Jeslyn dengan lembut dan berlalu pergi meninggalkan Jeslyn seorang diri. Begitu pintu tertutup, Jeslyn langsung mengunci diri dan membalikkan badan, menyandarkan tubuhnya ke pintu sambil menghembuskan napas berat. “Gawat... aku hampir ketahuan,” gumamnya, menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Bayangan wajah Leonel kembali muncul di benaknya, lengkap dengan suara godaan terakhir pria itu di telepon. "Pikirkan baik-baik, Jeslyn. Karena aku benar-benar akan menagihnya." Jeslyn mengusap wajahnya kasar. “Pria itu benar-benar menakutkan. Dalam Sekejap sudah bisa mempengaruhiku,”gumamnya. Ponselnya kembali bergetar. Jeslyn menatap layar dengan napas tertahan. Sebuah pesan muncul dari nama yang sangat tidak ingin dia lihat: Leonel: “Apa kau terkejut? Tenang saja, aku bukan orang yang bertindak terburu-buru. Kita nikmati saja permainan ini, dan jangan harap aku akan membiarkanmu begitu saja, calon adik ipar tersayang.” “Pria gila!” umpat Jeslyn menghembuskan napas kasar di sana saat membaca pesan dari Leonel. Jeslyn melempar ponselnya ke atas kasur, lalu memeluk dirinya sendiri sambil berjalan mondar-mandir di kamar. Jantungnya berdebar kencang, kepalanya penuh dengan kemungkinan buruk yang bisa terjadi kalau rahasia itu terbongkar. "Tenang, Jeslyn. Dia cuma menggertak. Dia nggak mungkin seberani itu... kan?" katanya mencoba meyakinkan diri, tapi keraguan terpancar jelas di matanya. Dia menoleh ke arah ponsel di kasur, yang kini kembali bergetar. Satu pesan baru masuk. Dari Leonel lagi. Leonel: “Siapkan dirimu. Aku akan segera menemuimu. Kita perlu bicara... secara pribadi.” Jeslyn membelalak. Segera? Kapan? Dia buru-buru meraih ponsel, jari-jarinya gemetar saat hendak mengetik balasan. “Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Hal yang terjadi kemarin, hanya kecelakaan karena aku mabuk. Tolong, lupakan saja!” itulah pesan yang ditulis Jeslyn. Namun, sebelum ia sempat menekan tombol kirim, ponselnya kembali bergetar. Notifikasi baru muncul di layar—bukan pesan kali ini, tapi sebuah foto. Dari Leonel. Dengan tangan gemetar, Jeslyn membuka foto itu. Dan detik berikutnya, wajahnya seketika pucat pasi. Itu… foto dirinya dan Leonel. Di kamar hotel. Tertidur di ranjang yang sama. Kepalanya bersandar di d**a telanjang pria itu, sementara Leonel terlihat menatap kamera dengan tatapan tajam dan menyeringai penuh kemenangan. Jeslyn menutup mulutnya, tubuhnya gemetar hebat. “Tidak… tidak mungkin… dia—dia menyimpan bukti!?” “Dasar pria licik!” umpatnya. Notifikasi pesan masuk lagi. Leonel: "Kalau kamu masih menganggap itu hanya kecelakaan, maka aku akan mengingatkanmu betapa indahnya kecelakaan itu, Jeslyn. Oh, bagaimana kalau foto itu sampai di tangan Jefran. Apa yang akan terjadi pada adikku, ya? Kasihan sekali dia…” Jeslyn terduduk di lantai, lemas. Matanya berkaca-kaca. Ponselnya nyaris terlepas dari genggaman. Jemarinya gemetar, tubuhnya terasa dingin seperti es. Kata-kata Leonel menusuk pikirannya—tajam dan penuh ancaman tersembunyi. “Dia nggak main-main... Dia benar-benar gila!” bisik Jeslyn, suaranya nyaris tak terdengar. Ketakutan menjalari tubuhnya perlahan. Ini bukan lagi sekadar kesalahan satu malam. Ini sudah menjadi permainan berbahaya yang melibatkan harga diri, keluarga, dan masa depan. Tangannya menutupi wajah, air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan. Namun, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Panggilan masuk: Leonel Jeslyn mematung. Layar itu berkedip-kedip seakan menantangnya untuk menjawab. Ia tak sanggup menekan tombol hijau, tapi juga tak bisa memalingkan pandangannya. “Apa maumu?” tanya Jeslyn dengan nada suara tigggi penuh kekesalan. Yang terdengar hanya tawa renyah di seberang sana. Tawa itu membuat bulu kuduk Jeslyn meremang. Suaranya tenang, namun mengandung nada manipulatif yang mengintimidasi. "Aku hanya ingin bicara denganmu, sayang," jawab Leonel akhirnya, suaranya berat dan santai. "Tapi kamu sepertinya terlalu tegang. Jangan khawatir, aku belum mengirimkan foto itu pada Jefran… selama kamu tidak membuatku marah." Jeslyn mengepalkan tangan, berusaha menahan gemetar yang merambat dari ujung jari hingga ke tulang punggungnya. "Tuan Leonel, aku benar-benar tidak ingin berurusan denganmu. Anggap saja malam itu tidak pernah terjadi!" bentaknya dengan suara bergetar. "Lagi-lagi dengan alasan itu?" Leonel terkekeh pelan. "Sayangnya, aku bukan tipe pria yang bisa melupakan hal menyenangkan semudah itu. Lagipula… kamu juga menikmatinya, bukan?" "Berhenti bicara seperti itu!" teriak Jeslyn dengan amarah bercampur panik. Namun Leonel hanya tertawa lebih keras. "Oke, oke. Aku akan berhenti… kalau kamu bersedia menemuiku malam ini. Sendirian." Jeslyn membeku. "Apa?! Kamu gila!" "Aku tahu," jawab Leonel dengan nada santai. "Dan aku juga tahu, kalau kamu menolakku, foto itu mungkin akan secara tak sengaja, terkirim ke Jefran. Kamu tentu tidak ingin tunanganmu tau, kan?” tanya Leonel benar-benar menjebak Jeslyn dalam kesulitan. “Dasar pria licik!” umpat Jeslyn. “Ya, tidak hanya kamu yang memujiku seperti itu,” jawabnya dengan tenang membuat Jeslyn mendengus kesal sambil mematikan sambungan telepon. Tidak ada pilihan lain, haruskah Jeslyn menemui Leonel nanti malam? Jeslyn terdiam, tatapannya kosong menembus layar ponsel yang kini telah kembali hening. Nafasnya memburu, otaknya sibuk menimbang berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Kalau dia menolak, Leonel bisa saja benar-benar mengirimkan foto itu ke Jefran, dan semua akan hancur. Tunangannya, keluarganya, masa depannya. Tapi kalau dia menurut... apa yang akan dilakukan pria licik itu padanya? “Tidak… ini gila. Aku harus cari jalan keluar. Aku nggak bisa terus dikendalikan olehnya,” gumam Jeslyn sambil memijat pelipis. Tapi, sebelum sempat berpikir lebih jauh, satu pesan baru kembali masuk. Leonel: "Pukul delapan. Di tempat biasa. Datang sendiri... atau bersiap kehilangan segalanya." Jeslyn menatap layar dengan mata membelalak. “Tempat biasa?” gumamnya pelan. Ya Tuhan, tempat itu, tempat semuanya berawal. Dia menelan ludah. “Kalau memang aku harus menghadapi iblis itu... aku akan pastikan, aku tidak lagi jadi mangsa,” ucapnya lirih. Tring… Leonel : “Jangan sampai terlambat, Sayang. Aku akan menunggumu.” Degh! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD