Jeslyn kini sudah sampai di depan hotel mewah tempat Leonel menginap. Langkahnya terasa berat, seolah setiap tapak menuju lobi itu membawanya lebih dekat pada kehancuran. Pukul delapan lewat dua puluh menit. Dia tahu, Leonel pasti sudah menunggunya.
Awalnya, dia benar-benar tak ingin datang. Rasa takut, malu, dan marah bercampur jadi satu membuatnya hampir membatalkan niat berkali-kali. Tapi bayang-bayang pesan terakhir dari Leonel membuat hatinya ciut. Ancaman itu terlalu nyata untuk diabaikan.
Jeslyn tak bisa membayangkan jika foto itu sampai tersebar. Bukan hanya dia yang akan hancur, tapi juga keluarganya. Walau, Jefran sendiri berselingkuh darinya, tapi tidak ada bukti fisik. Berbeda dengannya, Skandal yang menyebut dirinya pernah tidur dengan kakak iparnya? Itu akan jadi bencana yang tak bisa ditebus.
Dengan napas bergetar, dia memasuki lift menuju lantai paling atas.
“Tenang, Jesse. Kamu harus bisa hadapi ini dan selesaikan dengan cepat,” gumamnya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia lakukan berulang kali.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai yang dituju, dengan langkah berat, dia membawa langkahnya keluar dari lift dan berjalan menuju kamar di mana Leonel berada.
Sesampainya di depan pintu kamar, wanita itu kembali gugup dan ragu. Apa tindakannya ini salah atau benar.
“Yakin, Jesse. Kamu bisa!” batinnya memberi semangat. Akhirnya, dia pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu di depannya dengan ragu.
Tok! Tok! Tok!
Tak butuh waktu lama, pintu terbuka perlahan, dan Leonel berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja longgar dan celana santai, senyum miring terukir di wajahnya.
"Terlambat 20 menit, Hm..?” ucapnya sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. ”Tapi, aku maklum. Kamu pasti sibuk bergulat dengan hati nuranimu." lanjutnya dengan ekspresi mengejek.
“Apa kita akan mengobrol seperti ini?” tanya Jeslyn dengan nada sinis.
“Silakan masuk. Bukannya kemarin kamu tidak ragu untuk masuk ke kamarku?” godanya membuat Jeslyn mendengus kesal sekaligus malu.
Leonel menutup pintu setelah Jeslyn masuk. Wanita itu masih berdiri kaku di tempatnya dengan keadaan canggung.
“Eh?” Jeslyn terkejut saat Leonel dengan kurang ajarnya memeluk tubuh Jeslyn dari belakang. “Apa-apaan kamu? Kamu sudah gila!” dengan cepat Jeslyn melepaskan diri dan berbalik ke arah Leonel dengan sorot mata tajam penuh amarah.
“Aku, gila?” Leonel malah terkekeh di sana sambil melipat kedua tangannya di d**a. “Aku hanya merindukan Wanita ku.”
“Aku bukan wanitamu, ataupun milikmu!” ucapnya dengan tajam.
“Benarkah? Bukankah aku yang pertama untukmu dan kamu melarangku untuk berpaling darimu.” Leonel berjalan mendekati Jeslyn yang penuh siaga. Menyadari Leonel bergerak semakin dekat, Jeslyn pun bergerak mundur sampai akhirnya Leonel menangkap lengan Jeslyn supaya wanita itu tidak terus menghindar. “Aku sudah memberi tanda pada tubuhmu. Dan kini, kamu milikku, wanita ku!” ucapnya penuh penekanan.
“Sebenarnya, apa yang kamu inginkan, Tuan Leonel. Kejadian kemarin, jelas adalah kesalahan karena aku sedang mabuk,” ucap Jeslyn.
“Tapi, kamu mengingat semuanya, bukan? Kamu bahkan menikmatinya,” ujar Leonel. “Kesalahan? Baiklah kalau kamu menyebut itu sebagai sebuah kesalahan. Bukankah itu adalah kesalahan terindah? Dan aku, sangat menyukainya.” Seringai terukir di bibir Leonel yang seksi. Sorot matanya yang tajam berhasil membuat Jeslyn berdebar kencang dan sangat gugup, entar karena rasa takut atau terintimidasi, yang jelas, dia merasa sangat gugup.
Jeslyn menepis lengan Leonel yang masih mencengkeram pergelangannya.
"Aku tidak datang ke sini untuk mendengarkan ocehanmu," katanya tajam. "Aku datang karena aku tidak ingin kamu menghancurkan hidupku... atau hidup adikmu."
Leonel mendongak, ekspresinya berubah menjadi sedikit serius. Namun, senyuman itu tetap tak hilang sepenuhnya.
"Aku tidak berniat menghancurkan apa pun," katanya tenang. "Aku hanya... ingin memastikan bahwa kamu tidak pura-pura lupa pada malam yang luar biasa itu. Karena bagiku, itu lebih dari sekadar 'kesalahan akibat mabuk'."
Jeslyn memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan dirinya. Hatinya seperti diperas. Dia merasa jijik pada dirinya sendiri karena ada bagian dari dirinya yang masih mengingat dengan sangat jelas bagaimana rasanya malam itu—dan betapa dia tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa tubuhnya memang merespons sentuhan Leonel. Tapi itu bukan cinta. Itu bukan keinginan. Itu jebakan. Jerat yang kini mencekik lehernya perlahan.
"Leonel..." Jeslyn membuka mata, menatap pria itu lurus-lurus. "Aku tidak mencintaimu. Aku akan menikah dengan Jefran. Hubungan kita… apapun yang kamu pikir pernah ada, tidak nyata!"
"Ah, tapi sayangnya..." Leonel menyentuh dadanya, pura-pura terluka, "bagiku, itu sangat nyata. Dan kamu tahu apa yang lebih menyakitkan? Kamu bisa menghapus semuanya dengan satu kata tidak nyata, sementara aku... masih mencium aroma rambutmu dari bantalku pagi ini."
Jeslyn menahan napas, tubuhnya menegang.
"Kamu gila!" gumamnya.
Leonel tersenyum kecil, lalu melangkah ke meja kecil di samping ranjang dan mengambil ponselnya. Ia mengangkat layar, memutar layar ke arah Jeslyn, memperlihatkan file yang ia simpan dengan nama: Jeslyn - Malam Itu.
“Tidak!” Jeslyn langsung maju dan berusaha merebut ponsel itu, tapi Leonel lebih cepat mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Aku tidak akan mengirimnya… kalau kamu tetap jadi milikku."
Jeslyn terdiam. Dadanya naik-turun, napasnya tidak teratur.
“Kamu… kamu mau menyanderaku seumur hidup?” tanyanya dengan suara bergetar.
"Kalau itu satu-satunya cara agar kamu tetap bersamaku, maka iya." Leonel menatapnya lurus. "Kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku, menamparku, memaki aku setiap hari. Tapi kamu akan tetap jadi milikku, Jeslyn. Aku tidak akan melepaskanmu."
Jeslyn memundurkan diri pelan-pelan. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa seperti boneka yang dikendalikan oleh tali-tali tak terlihat, oleh rasa bersalah, rasa takut… dan ancaman.
“Dan kenapa kamu sangat takut? Bukankah Jefran juga mengkhianatimu? Bahkan di pesta yang ada tunangannya sendiri, dia berani mencium wanita lain. Kenapa kamu tidak melakukan hal yang sama? Menjadikanku sebagai selingkuhanmu. Aku tidak keberatan untuk jadi yang kedua,” ucap Leonel dengan santai sambil membelai rambut Jeslyn dengan lembut. “Asalkan, hanya aku yang boleh mencium dan tidur denganmu. Aku melarang keras, pria lain menyentuhmu!” ucapnya penuh penekanan dan sorot mata tajam yang mengintimidasi.
Jeslyn menepis tangan Leonel yang menyentuh rambutnya, kali ini dengan lebih keras.
“Kamu benar-benar sakit jiwa,” desisnya dengan nada rendah namun penuh amarah. “Kalau kamu berpikir aku akan menjadikanmu selingkuhanku, kamu salah besar. Aku bukan milik siapa pun—termasuk kamu!”
Leonel mendekat, tapi Jeslyn tidak lagi mundur. Dia berdiri tegak, meskipun lututnya terasa lemas dan jantungnya berdegup kencang.
“Aku mungkin sudah melakukan kesalahan besar saat itu, tapi bukan berarti aku akan membiarkan kamu mengendalikanku seumur hidup,” lanjut Jeslyn, matanya menatap tajam. “Aku menyesal, bukan karena malam itu terjadi, tapi karena aku mempercayaimu. Aku kira kamu masih punya sisi manusia, ternyata kamu cuma predator!”
Leonel menghela napas pelan. Tatapannya yang awalnya tajam kini berubah gelap, hampir seperti bayangan yang menyelimuti wajahnya.
“Lalu, kamu mau apa sekarang? Pergi? Melapor ke polisi? Silakan. Tapi kamu tahu risiko kalau foto dan video itu tersebar. Kamu tahu apa yang akan terjadi dengan reputasi keluargamu, dan Jefran...” ia tersenyum tipis, penuh jebakan, “dia akan hancur. Bukan hanya sebagai tunanganmu, tapi juga sebagai pria yang dikhianati oleh kakaknya sendiri.”
Kata-katanya seperti cambuk bagi Jeslyn. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa ingin berteriak.
Tapi, di balik ketakutannya, keberanian mulai muncul. Ia sadar, selama ini, Leonel terus memberi ancaman karena tahu Jeslyn takut. Tapi, kalau ia terus bertahan dalam ketakutan, ia akan selamanya jadi boneka dalam permainan pria itu.
“Aku akan pergi malam ini. Tapi bukan karena aku setuju. Aku butuh waktu… untuk berpikir. Dengar, Tuan Leonel…” Jeslyn menatapnya lurus, penuh ketegasan yang belum pernah muncul sebelumnya, “Kamu tidak bisa mengendalikan dengan ancamanmu!”
Ia berbalik, melangkah cepat menuju pintu. Leonel tidak mengejarnya. Ia hanya diam, membiarkan pintu tertutup di belakang Jeslyn dengan dentuman pelan… dan sebuah senyum kecil yang penuh teka-teki mengembang di wajahnya.
“Ini jadi semakin menarik. Ah, sial! Aku semakin menginginkannya,” gumam Leonel dengan seringainya.
Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Carikan aku informasi tentang keseharian Jesslyn Edgar, semua aktivitasnya setiap hari, siapa temannya, hobinya secara detail.”
Setelah itu, dia memutuskan samb ungan telepon.
“Kamu akan jadi milikku, Jeslyn… “
***