“Aku bisa gila karena memikirkan pria itu!” keluh Jeslyn berguling di atas ranjang dengan perasaan kacau.
Seharian ini, dia tidak keluar dari kamar karena memikirkan perkataan Leonel kemarin. Bisa-bisanya pria itu ingin jadi selingkuhan dari tunangan adiknya sendiri.
Jeslyn menatap langit-langit kamar yang kosong, lalu mengubur wajahnya ke bantal dengan frustrasi. "Kenapa hidupku jadi serumit ini?" gumamnya.
Ponsel di atas nakas terus-menerus bergetar. Sudah puluhan pesan masuk dari Jefran, bahkan dari sahabatnya yang penasaran ke mana Jeslyn menghilang. Tapi semuanya diabaikan.
Yang terngiang justru suara Leonel.
"Asalkan hanya aku yang boleh mencium dan tidur denganmu."
"Aku tidak keberatan jadi yang kedua."
"Kamu milikku, Jeslyn."
"Aaaargh!!" Jeslyn berguling sekali lagi dan duduk di pinggir ranjang. Rambutnya berantakan, matanya sembab karena kurang tidur, dan pikirannya tak kunjung tenang.
“Aku harus keluar dari kekacauan ini. Harus!” tekadnya mulai muncul. Ia bangkit dan berjalan ke depan cermin. Menatap pantulan dirinya sendiri dengan sorot penuh muak.
“Aku bukan boneka siapa pun. Aku harus bisa lepas dari pria berbahaya itu,” katanya, seolah meyakinkan diri sendiri.
Ketukan di pintu menyadarkan lamunannya.
“Jesse, apa kamu sudah siap? Kita bisa terlambat untuk datang ke acara makan malam.” Terdengar suara ibunya diluar pintu.
“Makan malam?”
Degh!
Hampir saja, Jeslyn melupakan acara ini. Makan malam keluarga dengan keluarga Jefran untuk menyambut kepulangan Leonel.
Perut Jeslyn seketika mual. Makan malam yang awalnya ia anggap sebagai formalitas keluarga biasa, kini berubah menjadi siksaan psikologis. Bagaimana bisa dia duduk di meja makan, berpura-pura baik-baik saja, sementara pria yang mengancam dan mempermalukannya akan berada di sana… tersenyum manis di depan semua orang?
Jeslyn menutup matanya, mencoba mengatur napas. Tidak. Dia tidak boleh terlihat lemah malam ini.
“Sebentar lagi, Mom!” serunya, berusaha membuat suaranya terdengar normal.
Begitu suara langkah sang ibu menjauh, Jeslyn kembali menatap cermin. “Kamu harus kuat, Jesse. Jangan beri dia kesempatan untuk menyudutkan dan menggodamu. Jangan!” gumamnya menatap pantulan Dirinya di depan cermin.
Dia membuka lemari, memilih gaun bernuansa anggun dan elegan berwarna navy, bukan untuk menarik perhatian, tapi untuk menunjukkan bahwa dirinya bukan gadis lemas, dia akan melawan dan tidak merasa takut maupun terancam oleh sosok Leonel.
Dia akan menghadapi Leonel. Di meja makan nanti. Di hadapan semua orang.
Wanita itu bersiap dengan makeup natural dan membiarkan rambutnya terurai indah. Setelah siap, dia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar. Di sana ibu dan ayahnya sudah bersiap.
“Lama sekali,” keluh ibunya.
“Sorry, Mom. Aku tadi ketiduran,” jawabnya dengan senyuman merekah.
“Kalau begitu, kita berangkat sekarang,” ujar ayah Jeslyn.
Mobil keluarga Jeslyn melaju menuju restoran mewah tempat makan malam keluarga itu diadakan. Sepanjang perjalanan, Jeslyn memilih diam. Tangan di pangkuannya saling menggenggam erat, berusaha menyalurkan ketegangan yang bergemuruh dalam dadanya. Senyum yang ia tampilkan barusan hanyalah topeng. Di dalam, pikirannya penuh dengan berbagai kemungkinan.
Sesampainya di restoran, mereka disambut pelayan yang membawa mereka menuju ruang VIP. Dari kejauhan, Jeslyn sudah bisa melihat keluarga Jefran duduk rapi di meja panjang. Termasuk… pria itu.
Leonel.
Pria itu duduk santai di salah satu ujung meja, mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing atas terbuka. Matanya langsung menangkap sosok Jeslyn yang baru datang. Dan seperti biasa, senyum miring itu langsung muncul, senyum yang seolah tahu banyak hal tentang Jeslyn.
Namun Jeslyn tak menghindar. Dia menatap balik, mengangkat dagu, dan berjalan mantap ke kursinya. Seolah semua yang terjadi antara mereka tak pernah ada.
“Jeslyn, kamu terlihat cantik sekali malam ini,” puji ayah Jefran.
“Terima kasih, Uncle,” balas Jeslyn sopan.
“Leonel, ini Nyonya Emma dan tuan Jose, orang tua Jeslyn. Kamu sudah tau, kan. Jeslyn ini tunangan Jefran,” ucap Ayah Leonel memperkenalkan keluarga Jeslyn.
“Ya, Dad. Aku sudah tau, saat di pesta kemarin, kami sempat bertemu dan berkenalan. Bukankah begitu, Jeslyn?” tanya Leonel sedikit menggoda.
“Um… Ya,” jawab Jeslyn berusaha tenang walau jantungnya berdebar kencang. Dia sangat takut, Leonel akan bertingkah seenaknya.
“Kamu tidak membalas pesanku, Jesse,” bisik Jefran yang duduk di samping Jeslyn.
“Ah, maafkan aku. Sebenarnya aku kurang sehat, jadi aku tidur seharian,” jawabnya tersenyum kikuk.
“Kenapa nggak bilang dari tadi?” Jefran menatapnya dengan khawatir, menggenggam tangannya pelan di bawah meja. “Kamu kelihatan baik-baik saja, tapi kalau belum pulih, kita bisa pulang lebih cepat.”
Jeslyn tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, aku sudah jauh lebih baik.”
Dari seberang meja, Leonel mengamati interaksi itu dengan tatapan tajam. Genggaman tangan, senyum lembut, perhatian Jefran—semua itu seperti duri menusuk kesadarannya. Rahangnya mengencang, tapi dia tetap menjaga sikap.
“Kami sangat senang Jefran akhirnya menemukan wanita baik dan anggun seperti Jeslyn,” ujar ibunda Jefran.
“Terima kasih, Tante,” jawab Jeslyn cepat, menyembunyikan ketegangan di balik senyum sopannya.
Pelayan mulai menyajikan hidangan pembuka. Suasana menjadi lebih tenang, dengan percakapan ringan antar keluarga. Namun, bagi Jeslyn, ketegangan di meja makan ini seperti bom waktu. Dia bisa merasakan tatapan Leonel yang terus mengawasinya, meski pria itu berpura-pura sibuk mengaduk wine di gelasnya.
“Jeslyn,” ucap Leonel tiba-tiba, “kalau kamu masih tidak enak badan, mungkin bisa minta tolong Jefran mengantar pulang. Atau… aku yang antar?”
Tangan Jeslyn langsung menggenggam sendoknya lebih erat. Tapi dia tetap tersenyum. “Terima kasih atas tawarannya, kak Leonel. Tapi aku rasa, tunanganku cukup bertanggung jawab untuk Menjaga ku,” jawabnya.
Senyum miring Leonel semakin lebar. “Tentu, tentu. Aku hanya… khawatir. Kadang, kita butuh orang yang benar-benar mengenal kita, untuk tahu apa yang kita butuhkan.”
Kalimat itu terasa seperti kode tajam yang menusuk langsung ke d**a Jeslyn. Ia bisa melihat ekspresi Jefran yang sedikit bingung, namun belum mencurigai apa pun.
Jeslyn menarik napas dalam-dalam. Tenang. Jangan terpancing. Kamu yang pegang kendali sekarang.
Dia menegakkan tubuhnya dan menatap Leonel dengan senyum yang tak kalah tajam. “Terima kasih atas perhatian kak Leonel. Tapi, Jefran sudah cukup lebih baik untukku,” ujar nya dengan tenang.
Beberapa pasang mata di meja tampak terkejut dengan respon Jeslyn, namun Leonel hanya terkekeh pelan.
“Touché,” bisiknya pelan. “Kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan, sayang.”
Jeslyn hanya membalas dengan senyum kecil dan mengalihkan pandangan ke Jefran yang duduk di sebelahnya. Fokus, Jesse. Jangan biarkan dia mengendalikan suasana. batinnya berulang kali mengingatkan.
Percakapan di meja makan berlanjut dengan suasana yang sedikit canggung, meski ditutupi oleh tawa-tawa kecil dan obrolan basa-basi. Namun di balik semua itu, Jeslyn bisa merasakan aura panas yang terpancar dari ujung meja, tepatnya dari Leonel yang sesekali masih menatapnya seolah hendak menelanjangi pikirannya.
Beberapa menit kemudian, ponsel Leonel bergetar di atas meja. Ia melirik sekilas, lalu berdiri. “Permisi sebentar, aku harus menerima panggilan ini.”
Dia keluar dari ruang VIP dengan tenang, namun Jeslyn tahu... sesuatu akan terjadi.
Benar saja. Tak lama setelah Leonel pergi, notifikasi pesan masuk ke ponsel Jeslyn berbunyi. Getaran kecil itu terdengar nyaris seperti ledakan di kepala Jeslyn.
Satu pesan. Dari Leonel.
“Ikuti aku ke balkon belakang. Sekarang. Atau video itu akan terkirim ke tunanganmu dalam 3 menit.”
Jeslyn menegang. Wajahnya memucat. Tangannya gemetar, tapi ia segera mengatur napasnya.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Jefran yang melihat ekspresi Jeslyn berubah.
Jeslyn buru-buru tersenyum dan menggeleng. “Nggak apa-apa. Aku… cuma butuh sedikit udara segar. Aku ke toilet sebentar, ya.”
Jefran hendak berdiri, tapi Jeslyn menahan lengannya. “Sendiri aja. Aku nggak apa-apa, sungguh.”
Dengan langkah yang nyaris goyah, Jeslyn berjalan keluar. Di lorong panjang menuju balkon belakang, dia melihat pintu kaca terbuka. Angin malam berembus pelan, membawa aroma bunga dan tekanan tak kasatmata yang menyesakkan d**a.
Leonel berdiri membelakangi pintu, menatap langit malam. Suara langkah Jeslyn membuatnya menoleh.
“Kamu datang lebih cepat dari dugaanku,” ujarnya dengan senyum tenang, seolah tak ada yang salah.
Jeslyn mengepalkan tangannya. “Apa kamu nggak punya hati, Leonel? Mengancamku seperti ini… kamu benar-benar keterlaluan!”
Leonel berjalan perlahan ke arahnya. “Aku tidak mengancammu, Jeslyn. Aku hanya… menunjukkan caraku untuk membuatmu tetap di sisiku.”
“Dengan mengancam akan mengirim video itu ke Jefran?” suara Jeslyn bergetar.
Leonel berhenti satu langkah di hadapannya. “Kamu tahu aku bisa melakukan lebih dari itu. Tapi aku belum. Karena aku masih ingin kamu memilih… dengan sadar. Untuk tinggal bersamaku.”
Jeslyn menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Dan kalau aku bilang tidak?”
Senyum Leonel memudar sedikit, berubah menjadi tatapan dingin. “Maka aku akan membuatmu membayarnya, bukankah kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu,” ucap Leonel tersenyum lebar penuh intimidasi hingga Jeslyn tak bisa berkutik.
***