Dikta menyerahkan paper box dan menaruhnya di atas meja resepsionis, aroma gurih dari sesuatu yang di panggang tercium hingga keluar dan membuat liur hampir menetes. "Kalian suka sandwich?" Chris menatap para staff perempuan yang berdiri di hadapannya. "Suka, Pak." Irhen mewakili pertanyaan itu dan menjawabnya. "Bagus, nikmatilah selagi hangat." Kebaikan dari Chris rasanya tidak biasa, Irhen sudah bekerja di sana hampir dua tahun dan ia tidak pernah menerima makanan apa pun atau bahkan berbicara dengan bos besarnya itu sekalipun kalau bukan karena urusan pekerjaan yang jarang sekali melibatkan keduanya. "Kebetulan sekali kan, Kak Rindu. Kakak terlambat bekerja jadi pasti belum sarapan." Mulut Indah memang sepertinya harus disumpal dengan kaos kaki basah agar tidak mengatakan hal yang

