Rindu menatap dirinya dalam pantulan cermin besar dihadapannya, ruang perawatan milik ayahnya kini berubah menjadi tempat merias diri sekaligus ijab kabul yang akan dilaksanakan hanya dalam beberapa menit lagi, semua orang sudah menunggu, termasuk Chris yang duduk di sofa yang menjadi tempat Rindu merebahkan punggungnya yang pegal setiap malam selama menginap di sana untuk menjaga ayahnya. Tangan Rindu berkeringat, ia menghapuskan gugupnya dengan membuang napas berkali-kali melalui mulut hingga bibirnya terasa kering. Gadis itu mengenakan kebaya berwarna broken white selutut dengan belahan tinggi di bagian depan hingga mencapai pinggul, kain batik melengkapi pakaian adat Rindu yang melilit sempurna menutupi kakinya sedang ia hanya menggulung rambutnya dibelakang kemudian dipasangi melati

