Tak terhitung sudah berapa lama Zero berada di panti asuhan. Tapi belum ada tanda-tanda ibunya menjemputnya. Anak itu begitu merindukan sang ibu. Berbeda dengan sikapnya ke pria gila itu. Zero malah bersyukur tidak bertemu ayahnya yang bagai monster. Dahulu, dia sempat berdoa agar sang ayah dienyahkan dari muka bumi ini. Tapi dia tidak tau, bila harapannya itu juga menyingkirkan Delia dari hidupnya. Rasanya, anak itu mau kembali seperti dulu. Tidak papa sering kena pukul. Asal, dia bisa melihat senyum ibu yang begitu dia rindukan. Zero jatuh dalam keputus asaan. "Zero, putraku yang tampan dan baik. Suatu hari kamu akan menjadi pria paling bahagia di dunia ini. Dan mama berharap, mama bisa menyaksikan kebahagiaan kamu, di mana pun itu." Mata Delia berlinang. Satu-satuanya yang dia syuku

