Episode 13

1018 Words
Akhirnya Emira memgirim chat kepada Rasya, "Ras, kamu tidur ya?." Begitu bunyi chatnya. Yang seketika Rasya baca dan membalasnya. "Enggak." Ketika Emira sedang mengetikkan pesan untuk Rasya, mama Emira menelfon. Yang Emira langsung angkat. "Assalamu'alaikum, ma." "Wa'alaikumsalam, Ra. Gimana kamu masih di rumah bu Majid?" "Masih, ma. Papa gimana ma?". "Papa sudah sadarkan diri, Ra. Tapi masih harus di rawat intensive. Kata dokter, jantung, Ra." "Ya Allah. Papa.... Tapi kondisinya baik kan ma?". Emira melihat daya batere di HP nya makin lemah. " Ah.. ma.. HP aku lowbat parah nih mah. Bentar lagi mati. Aku gak bawa chargeran HP. Nanti aku pinjam sama Rasya, ma." "Ya sudah.. kamu..." tut tut tut.. Sambungan telepon terputus. Emira menghela nafas, kesal. HP nya mati. Padahal masih ingin membahas masalah uang. Pasalnya Emira sama sekali tidak memegang uang. Rasya kemana sih? Masa Emira harus teriak-teriak manggil. Padahal lagi berada di rumah orang. Orangnya lagi uring-uringan di atas. Melihat Roomchat Emira yang online dan tadi sempat mengetik tapi, setelah ditunggu-tunggu tidak ada chat masuk dari Emira. Rasya berfikir mungkin sedang di telfon sama Junet Junet tadi. Rasya geram.. kesal, cemburu. Sementara di bawah, Emira menekuk wajahnya, ya ampun... Rasya kemana sih. Tega banget nyuekin Emira kayak gini. Duduk di ruang tamu sendiri. Celingak celinguk kayak orang, ah gak tau lah. Emira jadi bosan. Tiba-tiba di depan, ada seseorang datang, membuka gerbang kemudian memasukkan mobil ke garasi. Emira yakin itu papanya Rasya. Duh, jadi semakin tidak enak perasaan Emira. Tibalah sang papa di depan pintu mengucap salam. "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." jawab Emira. Canggung. Pun papa Rasya agak terkejut melihat anak perempuan duduk di ruang tamu sendirian. "Oom.." Emira menyapa sopan. "Kamu yang suka main basket di depan itu ya?" Bahkan papa Rasya langsung mengenalinya. "Iya oom, saya Emira." Emira ingin berdiri menyalami papa Rasya, tapi tidak bisa. Tapi Emira tetap mencoba untuk berdiri. Kemudian menyalami dan mencium tangan papa Rasya. "Saya pak Majid, papanya Rasya. Saya ke dalam dulu ya. Rasya kemana memangnya kok ditinggal sendiri kamu?. "Ada di atas Oom." "Oo.. Ya udah oom masuk dulu ya. Biar oom panggilin Rasya nya." "Iya oom. makasih." "Rasyaaa." Papa Rasya memanggil dari bawah tangga. "Iya pa" Terdengar jawaban dari Rasya. "Ini Temennya kok di tinggal gimana sih kamu?" "Iya bentar pa. Rasya turun." Papa Rasya menuju dapur melihat istrinya, absen dulu. "Ma, masak apa? Wah.. kayaknya enak. Papa jadi laper." Papa Rasya melihat capcay udang dan ayam goreng di meja makan. "Papa mending mandi dulu gih, nanti langsung makan." Papa Rasya mengangguk, mencium pipi istrinya sebelum hengkang ke kamar mandi. Dan kejadian itu tidak luput dari penglihatan Rasya yang sedang menuruni anak tangga. "Ck, papa main sosor aja." Ucap Rasya lirih. Rasya melihat Emira cemberut di ruang tamu, Emira kesal dengan keadaan sekarang. Rasya masih mengamatinya, Emira sedang emosional. Rasanya kesal pengen nangis. Tapi, ini sedang berada di rumah orang. Mana mungkin ia menangis gak jelas di sana. Makanya, Emira sekuat tenaga menahan gejolak yang dari tadi mengobrak-abrik perasaanya. Hingga Emira tidak bisa berkata-kata lagi. Rencana maminjam Charger HP pun Emira tidak bisa mengungkapkan. Tidak bisa di sembunyikan, raut wajah Emira yang emosional. Rasanya pengen pulang. Padahal rumahnya cuma disebrang lapangan. Ibarat kata, keplesetpun bakalan sampai rumahnya. Tapi, gimana? Gerbang aja di gembok. Sampai lupa menyalakan lampu luar. "Ra". Akhirnya Rasya menegur. Tapi yang Rasya lihat, malah tetesan air mata di sana. Emira tidak tahan lagi. Menangislah dia. Rasya mendekat. Duduk di sampingnya. "Kenapa?" Emira menggelengkan kepala. "Maaf, tadi lama aku tinggal." Tercekat nafas Emira, sesenggukan. Yang Rasya usap punggung Emira. Rasya kira Emira benar-benar tomboy, tapi melihat keadaannya sekarang, Emira menangis tanpa malu di hadapan orang. "Ada kabar apa dari Surabaya?" Lembut Rasya bertanya. "Jangan nangis gini ah, cerita aja sama aku. Ada apa? Emira masih diam, menetralkan gelisah yang mengganjal didalam daddanya. Setelah beberapa saat, Emira pun bersuara. "Aku mau pulang." "Hah?. Gimana cara nya, Ra? lompat pager? dobrak pintu?" Emira masih menyeka air matanya dengan Tissu . Tangisnya pun sudah berhenti. Percayalah, kalau ada sesuatu yang membuat hati kita sakit, nyesek di d**a, menangislah.. itu akan mengurangi beban sakit di dalam sana. "Kamu gak betah tinggal di sini?" "Aku gak enak sama orang tua kamu, Ras." "Oo.. santai aja. Mereka asyik kok orangnya. Udah, jangan nangis lagi. Nanti ilang tomboynya." Rasya terkekeh, tangannya menyentuh pipi Emira yang tadi penuh air mata. Emirapun menepisnya, "Apaan sih Ras, lama-lama minta di tabok tangannya." Ucap Emira. Rasya tertawa mendengat ucapan Emira. "Jangan dong, Ra." Terdengar mama Rasya memanggil Rasya dan Emira untuk makan malam. Papa Rasya pun sudah Segar habis mandi lalu memakai piyama kemudian duduk di kursi meja makan. Heran, melihat Rasya memapah Emira menuju meja makan. Oiya mama Rasya belum cerita tentang Emira pada suaminya. "Emira kenapa kok jalannya gitu?" Papa Rasyapun bertanya. "Lututnya sakit pa, abis jatuh di sekolahan." Ini mama Rasya yang menjawab. "Terus, sementara Emira akan tinggal di disini. Dia kekunci pintu. Tadi pagi, pas anak-anak sekolah, Mamanya ke Surabaya setelah denger berita suaminya dilarikan ke Rumah Sakit. Sampai lupa menitipkan kunci rumah." "Ooo, ya ampun. Semoga papamu baik-baik saja ya Em." Emira mengangguk canggung. Rasya membantu Emira untuk duduk di kursi meja makan. Benar-benar tidak nyaman yang di rasain Emira. Duh, berapa lama Emira berada di rumah ini? Makan malam sudah selesai, sekarang mereka kebingungan akan menempatka Emira di kamar yang mana. Tidak ada kamar tamu di rumah itu. Di bawah hanya ada 1 kamar yaitu kamar orang tua Rasya. Di atas malah ada 3 kamar. Tapi yang 2 masih kosong. Sebab, kakak-kakak Rasya masih berada di Bandung. Kuliah di sana. "Emira, udah bisa belum naik tangga?. Kalau bisa, kamu bisa tidur di kamar Raihan atau Reynald di atas." Mama Rasya yang menawarkan. Emira sungguh tidak enak hati, " Emira tidur di sofa saja ma, tidak apa-apa. Emira sudah terbiasa kok ketiduran di sofa kalau di rumah." "Mana bisa begitu, Ra. Yuk di coba naik tangga. Kamu pasti bisa." Ucap Rasya yang langsung membantu Emira untuk berdiri dan berjalan menaiki tangga. Pelan, satu persatu tangga Emira pijaki, menahan ngilu dilututnya. Akhirnya mereka tiba di tangga paling atas, kemudian Rasya menunjukkan kamar kedua kakaknya. Biarkan Emira memilih mau tidur di mana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD