Episode 12

1011 Words
Di Supermarket, mereka berjalan bersisian. Rasya merangkul Emira dan salah satu tangan Emira merangkul pinggang Rasya. Kalau Emira tidak pincang, mungkin orang lain melihatnya seperti pasangan yang serasi. Emira memutuskan untuk ikut ke supermarket. Setelah tadi Rasya menanyakan ukuran dalamannya. Gila aja. Lagian apa tidak aneh bocah laki-laki belanja barang-barang begituan sendiri? Kini mereka berada di lantai 2. Sebab Lantai dasar berisi produk kebutuhan-kebutuhan bulanan dan kawan-kawannya. Sedangkan di lantai 2 berisi pakaian. "Ras, aku bener-bener nggak enak sama mama kamu sama kamu juga. Mama aku gimana sih, main pergi-pergi aja." Huh sebal. Emira kesal. Sebab, harus di hadapkan dengan kondisi yang seperti sekarang ini. Emira terpaku, Rasya masih diposisi semula. Berada di samping Emira memegangi pundak Emira. Rasya yang dengan polosnya melihat-lihat Etalase di depannya. Dalaman wanita berjejer di sana. Emira yang rungsing sendiri. Malu. Mau ambil barangnya pun rasanya sungkan. Sebab Rasya memperhatikan. "Udah, ambil yang mana yang pas buat kamu." Kurang ajar, kenapa Rasya bisa se cuek itu dengan hal-hal seperti dalaman wanita? "Ah bodo amat lah..." Emira ambil 1 box berisi 3 pcs Celana dalam dan 3 pcs b*a dengan ukuran 34, dengan 3 warna yang berbeda. Hitam, cream dan biru dongker. Kemudian dimasukkan ke dalam keranjang belanja Rasya sama sekali tidak terlihat sungkan, menenteng keranjang berisi barang-barang pribadi wanita. Selanjutnya, Rasya membawa Emira ke tempat pakaian wanita. Emira malah bingung. Sebab yang di pajang benar-benar bukan tipe nya banget. "Aku mau kaos oblong aja sama celana training." kata Emira pada Rasya. Kalau itu mah Rasya di rumah juga punya. Tapi Rasya bawa saja Emira ke tempat yang dimana ada kaos di pajang. Emira sudah mendapatkan semua yang dia butuhkan. Total harga semua belanjaan sekitar 350ribuan. Sedangkan mama Rasya tadi cuma membawakan uang 300ribu. Emira.. kamu benar-benar tidak tahu diri. Habis mau bagaimana lagi?. Emira tidak punya baju ganti. Sekarang aja masih pakai seragam sekolah, yang di luarnya pakai hoodie yang tentu saja milik Rasya. Emira janji, nanti pas mamanya pulang akan Emira ganti uangnya. Rasya kan jadi nombok 50 ribu. "Ras, kamu jadi nombok deh." Ucap Emira mendongak melihat wajah Rasya sambil nyengir kuda. "Besok kalau mama pulang, langsung aku ganti." imbuhnya. Kok gemas, Rasya menunduk menatap wajah Emira yang nyengir tadi. Sampai Rasya ikut tersenyum juga. "Nggak perlu di ganti, Ra. Aku gak mau ya." Ucap Rasya. " Heh, nanti aku ngelunjak loh." "Silahkan ngelunjak, dengan senang hati. Buat kamu, apa sih yang enggak." Rasya mengeratkan rangkulannya. Sementara tangan sebelahnya menenteng kantong belanja. Jangan-jangan Rasya sudah merasa bahwa Emira adalah miliknya. Ehem. Mereka jalan lamban sekali. Sebab kaki Emira yang masih sakit belum bisa di ajak jalan cepat "Ih, Ras.. apaan sih.. ." Mereka tiba di pintu keluar supermarket, Rasya menyuruh Emira untuk menunggu di kursi tunggu yang sudah disediakan pihak Supermarket. Sementara Rasya ke parkiran untuk mengambil motornya. "Tunggu di sini bentar, Ra. Aku ambil motor dulu." Emira mengangguk. Kemudian tidak lama ada seorang pria datang, menghampiri Emira. Juna namanya, temen sekelas sawaktu masih SMP. "Ra, Emira.." Emira yang sedang fokus dengan HP nya pun mendongak, "Eh, Jun.. di sini? mau belanja ya?" "Nganter mama, tuh." mengarahkan pandangan ke dalam terlihat ada seoarang ibu yang tengah mengambil trolly belanja. Itu mamanya Juna. "Kamu sendiri ngapain? masih pake baju seragam gini?" "Aku abis belanja juga, lagi nunggu temen ambil motor." Juna tidak memperhatikan kaki Emira yang sedang terluka. Sementara di halaman Supermarket, Rasya datang sambil memperhatikan mereka berdua. Setelah sampai di depan pintu masuk Rasya turun dari motornya, Emira tidak menyadari kedatangan Rasya. Entahlah, Rasya hawanya jadi panas. Padahal cuma lihat mereka ngobrol. "Ra," Yang menoleh si Juna. "Yuk", Rasya langsung membantu Emira untuk berdiri. Juna yang heran melihat interaksi laki-laki dihadapannya dan Emira. Juna belum pernah melihat laki-laki ini, rata-rata teman-teman Emira Juna mengetahuinya. Tapi, anak ini.. Juna baru pertama kali melihatnya. Apakah mereka pacaran? "Eh, Ras." Emira yang sudah dalam posisi berdiri tapi berada dalam rangkulan Rasya ingin memperkenalkan kepada Juna. "Ras, ini temen sekelas aku waktu SMP. Juna namanya. Kenalin." Rasya mengulurkan tangannya pada Juna, Datar.. "Aku Rasya." Juna membalas menjabat tangan Rasya. "Juna." "Kalian pacaran?" Juna to the point saja. "Enggak." Emira yang menjawab. Tapi Juna tidak percaya, apalagi saat ini posisi mereka mesra sekali. "Dia tetangga baru aku di komplek. Kaki aku lagi sakit. Jadi gini deh. Rasya yang bantuin aku jalan." Emira nyengir di tempat. Sementara Rasya gemas, tidak mau hanya dianggap teman oleh perempuan di sampingnya ini. Padahal memang teman, kan? "Mama nungguin di rumah. Keburu maghrib nanti. Pulang sekarang atau masih mau ngobrol?" Padahal masih jam 5 lebih seperempat. Maghrib masih lama, lagian rumah mereka tidak terlalu jauh dari supermarket. "Ya udah, kita pulang dulu Jun. Kamu bantuin mama kamu sana dorong trolly." Ucap Emira sambil terkekeh. "Ya udah, nomor kamu masih yang lama kan, Ra?." Rasya makin jengah dengan situasi ini. Maka ia langsung saja menuntun Emira menuju motornya. Sementara Emira.. "Masih kok." menjawab pertanyaan Juna tadi, sambil menoleh kebelakang, melihat Juna yang bertanya dan sudah berada dibelakangnya. "Oke, ati-ati di jalan ya, nanti aku hubungi kamu." Juna memberi kode dengan kelingking dan jempolnya membentuk seperti gagang telepon. Emira pun memberi jempol sebagai tanda 'Oke, setuju'. Oh tidak Rasya kesal, diam sepanjang perjalanan. Entah kenapa. Sampai rumahpun Rasya uring-uringan. Bicara dengan Emira seadanya. Hingga Emira heran sendiri. Saat ini, Emira berada di ruang tamu rumah Rasya, duduk di sofa. Sendiri. Tentu saja Emira sudah mandi, sudah ganti baju yang Rasya belikan tadi. Rasya ada di atas, di balkon kamarnya. Masih kesal dengan interaksi Emira dan Juna tadi sore. Sementara mama Rasya masih sibuk di dapur. Emira ingin membantu mama Rasya, Tapi Emira tidak bisa berdiri lama. Emira duduk anteng di sofa, fokus pada HPnya. Mengirim pesan pada mamanya di Surabaya. "Ma.. gimana keadaan papa? Yang tidak ada jawaban dari mamanya. Lima menit Emira menunggu, tapi tidak ada tanda chatnya di baca oleh sang mama. Emira bermaksud ingin menelponnya saja, tapi lihat baterai di HP nya tinggal 7 persen. Ah, Emira lesu, bersandar pada sandaran sofa. Rasanya ingin menangis saja. Emira harus meminjam Charger HP pada Rasya. Tapi, dimana Rasya? Dari semenjak maghrib belum kelihatan batang hidungnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD