Episode 11

803 Words
Kini, mama Emira sudah berada di dalam bandara di Surabaya. Mama Emira cepat-cepat menelfon putrinya. Yang saat ini Emira tengah duduk di kursi makan dan sedang menikmati makan siang buatan mama Rasya. Menyuap pelan nasi yang dia sendokkan dari piring lengkap dengan lauk dan sayurnya. Nikmat, sama seperti masakan mamanya. Tiba-tiba HP Emira bergetar, di layar terlihat ada panggilan dari mamanya. "Mama!" Emira barusaja menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, mulut itu penuh. Tapi, ia langsung menekan tombol hijau di layar HP nya. Tanpa memperdulikan Mama Rasya dan Rasya di sana Emira langsung menodong pertanyaan kepana mamanya yang berada jauh di Surabaya. "Mama!, kemana aja sih? Mama udah pulang? Aku gak bisa masuk ke rumah nih." Oceh Emira "Ra, duh maaf mama tadi buru-buru banget. Panik.. sampe lupa ngabarin kamu. Pas inget mama udah di pesawat, jadi gak bisa langsung nelfon kamu." Emira masih jadi pusat perhatian Mama Rasya dan Rasya. "Apa? Pesawat?! Mama kemana sampai naik pesawat? "Mama sudah sampai Surabaya, Ra. Papa masuk Rumah Sakit. Makanya mama langsung berangkat. Sampe lupa ngabarin kamu saking paniknya. Sekarang mama mau langsung ke Rumah Sakit, kamu sekarang dimana, Ra?" Emira tertegun mendengar kabar dari mamanya. Matanya sudah berkaca. "Aku di rumah Rasya, terus aku gimana ma? gak bisa masuk rumah. Papa sakit apa kok tiba-tiba gini sih." Suara Emira melemah. Ada kesedihan di sana. Akhirnya air mata Emira mengalir tanpa permisi membasahi kedua pipinya. Reflek Rasya mengulurkan tangannya, mengusap lembut punggung Emira. Rasya sekarang tau mungkin papa Emira di Surabaya sedang sakit hingga membuat panik mama Emira dan langsung berangkat ke sana. "Mama gak tau, kabarnya papa pingsan terus dilarikan ke Rumah Sakit." menjeda. "Di sana ada bu Majid, Ra?" imbuhnya. "Ada, sebentar." "Ma, mama aku mau ngomong." Tatapan Rasya masih fokus kepada Emira yang terlihat sedih. Kini tangan Rasya sebelah kiri berada di pundak Emira, tangan sebelah lagi mengusap punggung Emira. Berusaha menenangkan perempuan di sampingnya. Makan siang yang masih separuh pun ia abaikan. "Assalamu'alaikum" Ucap mama Rasya setelah HP Emira ia ambil dan didekatkan di telinga. "Wa'alaikumsalam. Aduh.. maaf banget sebelumnya ya bu.. saya jadi merepotkan karena Emira tidak bisa masuk ke rumah. Kunci nya sampai saya lupa titipkan gara-gara panik banget tadi bu. Saya dikabarin Papa Emira jatuh sakit di Surabaya..Jadi saya langsung terbang ke sini." "Oh, nggak apa-apa bu. Saya malah seneng Emira di sini. Saya tidak merasa direpotkan sama sekali. Sekarang ibu fokus saja dulu ke suaminya. Merawatnya di sana, Emira biar di sini sama saya bu. Saya benar-benar seneng bu jadi ada temen ngobrol." Emira mendengarkan apa yang mama Rasya bicarakan. Dan sepertinya Emira tau apa yang mereka obrolkan. Apakan Emira akan tinggal di rumah Rasya selama mamanya di Surabaya? Emira jadi bingung sendiri. Mana bisa tinggal di rumah orang dalam waktu yang lama. Mana kaki masih sakit. Yang ada malah merepotkan. Gak bisa bantu-bantu pekerjaan rumah. "Trimakasih bu Majid, tadinya saya mau suruh oomnya buat jemput Emira biar tinggal sama oomnya untuk sementara. Tetapi oomnya dari kemarin tugas di Jogja. Sampai minggu depan baru balik ke Jakarta. Saya jadi bingung ini " "Bu, ibu tidak usah bingung, biar Emira di sini sama saya. Ibu fokus dulu merawat suaminya ya bu. Di jamin Emira seneng tinggal sama saya. Mudah-mudahan suaminya lekas sembuh ya bu." "Aamiin.. sekali lagi terimakasih ya bu Majid. mohon maaf juga sudah merepotkan. Saya pamit dulu, bu. Saya mau langsung ke rumah sakit." "Baik bu, hati-hati bu.. semoga lekas sembuh suaminya, bu. Saya turut mendoakan dari sini." "Terimakasih bu Majid. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." "Ra, untuk sementara kamu tinggal di sini dulu. Biar mama kamu fokus merawat papa kamu di Surabaya." Emira hanya menunduk, tidak tau mau menjawab apa. Baju pun Emira tidak ada. Apalagi dalamannya. Emira harus bagaimana? Mau beli, uang jajan Emira tinggal 20ribu di kantong. Tidak tau, Emira bingung. Baju seragam sekolah juag cuma ini yang sedang ia kenakan sekarang. "Ya udah. Kita habiskan makannya dulu ya, Ra. Sayang nanti mubazir." kata Rasya. Ah iya, Emira harus habiskan makannya walaupun tiba-tiba menjadi tidak selera. Tetapi kasihan mama Rasya yang sudah memasaknya tadi. Singkat cerita. Hari sudah sore, Rasya sudah mandi. Segar dilihatnya. Sedang Emira, kalau Emira mandi, terus baju salinnya gimana? Apa harus dipakai lagi baju seragam plus dalamannya? "Rasya" Mamanya memanggil. Ajak Emira ke supermarket sana, beli dalaman. Emira yang mendengar ucapan mama Rasya jadi malu sendiri. Apa-apaan ini, ngomongin dalaman sama anak laki-laki. Rasanya Emira ingin pulang saja. "Ini uangnya." Mama Rasya menyodorkan 3 lembar uang seratus ribuan. Ya ampun, bahkan mama tidak meninggalkan uang untuk Emira. Emira benar-benar sudah merepotkan keluarga Rasya. Walaupun Mama Rasya dengan senang hati atas keberadaan Emira. Tapi, Emira benar-benar merasa tidak enak dalam hatinya. "Ra, mau ikut enggak? Beli perlengkapanmu di supermarket. Emira melihat ke arah lututnya. Yang Rasya pahami, "Ya udah, gak usah ikut ya. Kakinya masih sakit ya?. ukuran CD sm ** mu berapa, Ra?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD