Episode 10

1048 Words
Hari itu, mama Emira mendapat kabar dari Surabaya. Bahwa suaminya tiba-tiba pingsan dan dilarikan ke Rumah Sakit. Dalam keadaan panik, mama Emira detik itu juga berangkat ke Bandara, membawa perlengkapan seadanya. Sampai lupa mengabari putrinya yang sedang berada di sekolah. "Ra, gimana ni? kamu ada kunci cadangan engga?". Tanya Rasya. Emira menggelengkan kepalanya, "Enggak ada, duh kemana sih mama. Nomor HP nya nggak aktif." Gerutu Emira. Saat Emira menelfon mamanya, mamanya sedang berada di dalam pesawat. Jadi HP nya tidak bisa dihubungi. Mama Emira merutuki dirinya saat berada di atas awan, kenapa sampai lupa mengabari putrinya? Sedangkan putrinya sedang terluka kakinya. Nanti setelah landing, mama Emira akan segera mengabarinya. "Kamu ke rumah aku aja dulu ya. Aku dah telat sholat jum'at nih." Emira tidak menjawab. Tapi Rasya langsung menyalakan mesin motor dan menuju rumahnya. Setelah tiba di halaman rumah Rasya, "Yuk" Rasya membantu Emira turun dari motor kemudian memapahnya masuk ke dalam rumah. "Assalamu'alaikum." Rasya mengucap salam saat sudah berada di teras. Dan terdengar jawaban salam dari dalam rumah Rasya. Rasya berjongkok, membukakan tali sepatu Emira kemudian melepaskan sepatu Emira. Emira sungguh tidak enak hati dengan perlakuan Rasya yang sedemikian rupa. Mama Rasya membuka pintu, " Eh, sama siapa Ras?" "Emira ma, tu yang rumahnya di seberang. Mamanya lagi keluar, pagar digembok jadi gak bisa masuk. Rasya buru-buru ni mau ke mesjid juga. Nitip Emira ya ma, lagi luka kakinya." Rasya bicara sambil memapah Emira masuk ke dalam rumahnya dan membantu Emira duduk di sofa ruang tamu. "Oo.. iya udah sana. Pake sarung Papa aja tuh ada di rak sebelah lemari." Maksudnya, agar lebih cepat, Rasya tidak perlu naik ke atas ke kamarnya untuk mengambil perlengkapan sholat. "Iya ma" "Ra, aku tinggal dulu sebentar ya. Kamu diem-diem dulu di sini. Jangan kemana-mana sebelum aku pulang. Oke." Emira mengangguk saja. Rasya pergi dengan tergesa, tidak lupa menyalami dan memcium tangan mamanya. Emira memperhatikannya sampai Rasya menghilang keluar pintu utama rumahnya. "Sebentar ya Emira, mama mau ambil minum dulu." Ucap mama Rasya. "Tante, tante gak usah repot-repot tante." "Enggak repot kok, panggil mama aja ya Emira. Jangan tante. Biar sama kayak anak-anak mama. Mama lebih suka dipanggilnya mama." Ucap mama Rasya sambil tersenyum ramah. Emirapun tersenyum, "Baik ...ma, mama aku jadi ada dua dong ma." Ucap Emira yang semakin lebar senyumnya. "Iya gak apa-apa. Lebih bagus kan punya mama dobel? Mama bikin minum dulu sebentar ya." "I..Iya ma, makasih ma." Mama mengangguk, tersenyum pada Emira. Selama mama Rasya berada di dapur, Emira mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang tamu. Emira melihat Photo keluarga yang ukurannya cukup besar terpasang di salah satu sisi tembok ruang tamu rumah Rasya. Disana ada Mama dan Papa Rasya dengan posisi duduk si kursi, kemudian di belakangnya ada 3 laki-laki yang berdiri. Yang salah satunya adalah Rasya. Ternyata Rasya 3 bersaudara. Tapi, selama ini Emira belum pernah melihat kedua saudara dari Rasya. Mama Rasya berjalan ke ruang tamu dengan membawa nampan yang diatasnya ada sebuah gelas es teh dan sepiring potongan buah mangga. "Emira, ayo diminum dulu. Enak panas-panas gini minum Es teh." "Iya ma, makasih ma. Malah jadi ngerepotin mama." "Udah, anggap aja dirumah sendiri Em.." jawab mama Rasya. "Emira, kakinya kenapa bisa terluka gitu?" "Jatuh ma di sekolah." "Ya ampun, lagi apa memangnya bisa jatuh?. Main basket ya? kayak di lapangan depan rumah tu. Mama perhatiin kamu tomboi banget ya Em?." "Jatuh di depan toilet ma, enggak lagi main basket. Emira jarang main basket malahan kalau di sekolah." " Ooo.. tapi kalau lagi di rumah main basket terus. Pantes beberapa hari lapangan sepi. Kaptennya lagi cidera ternyata." Mereka berdua terkekeh bersama. Secepat itu mereka akrab. "Mama kamu lagi ada urusan sebentar kali, jadi tidak menitipkan kunci rumah ke tetangga." "Ah iya, mungkin kunci rumah dititipkan tetangga sebelah rumah Emira ya ma?" "Bisa jadi, Em. Tapi Emira di sini dulu. Makan siang baru coba tanya nanti kunci rumah ke tetangga sebelah rumah kamu." "Tapi tadi tante Ira gak bilang apa-apa pas Rasya sama aku panggil-panggil mama, padahal dia ada di teras tadi aku lihat." Tante Ira rumahnya sebelahan persis dengan rumah Emira. "Ya udah, kalau enggak mama kamu cuma sebentar urusan di luarnya. Jadi tidak perlu nitip kunci." "Bisa jadi ma, tapi kenapa HP mama gak aktif?" Emira cemberut memperhatikan layar HP melihat Ruang Chat dengan mamanya. Belum ada tanda centang dua disana. Berarti HP mamanya masih tidak aktif. Yang membuat Emira semakin khawatir. Kemana sih mama. Tak lama Rasya pulang dari sholat jum'atnya. "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." Jawab Mama Rasya dan Emira bebarengan. "Ya udah, mama tinggal ke dapur dulu ya. Mama siapin makan siang." "Emira jadi gak enak nih ma, jadi ngerepotin." "Mama nggak merasa direpotin kok Em, kamu jangan sungkan gitu." jawab mama Rasya. Emira tersenyum kikuk mendengarnya. Yang Rasya perhatikan sedari tadi, " Mama pengen anak cewek tu, Ra." Ucap Rasya setelah mamanya lengser menuju dapur. Rasya pun sudah duduk di samping Emira, dekat hampir mepet dengan Emira. Masih dengan sarung yang masih rapi dipakainya. Bersandar malas pada sandaran sofa yang empuk kemudian memejamkan mata. Lelah sepertinya. Hening, ya ampun.. Emira menoleh ke arah wajah Rasya. Rupanya ni anak tidur. Pantes diem aja. Emira pun, kembali fokus dengan HPnya. Masih penasaran dengan mamanya yang belum ada kabar juga. Emira agak kesal juga khawatir dengan keberadaan mamanya. Saking pulasnya Rasya tidur, kepalanya sampai miring bersandar pada bahu Emira. Emira menoleh lagi, sangat dekat wajah mereka. Emira berdecak, "Ck, bisa-bisanya tidur di saat lagi ada temennya di deketnya." Emira menggerutu kesal. Makan siang sudah siap, Mama Rasya memanggil dari dalam. Dari meja makan. "Rasya.... makan dulu. Emira ajak ke sini." Tidak ada jawaban dari Rasya, yang Emira berusaha membangunkan gerangan. "Ras" Emira menggoyangkan tangan Rasya agar Rasya bangun. Wajah mereka sangat dekat. "Rasyaa... bangun di panggi mama tu." Rasya membuka mata, nyawanya masih belum menyatu dengan raganya. Kemudian mengangkat kepalanya, menoleh ke Emira. Emira terkejut, sebab wajah Rasya tepat berada di depan wajah Emira. Sempat saling mengunci pandang. Yang kemudian Emira condongkan badan menjauh dari Rasya. "Mama manggil tu.." Ucap Emira kemudian. Rasya masih anteng aja, meregangkan tangan sambil menguap. "Aku kira aku udah di surga." Ucap Rasya. Yang langsung kena tabok pundaknya oleh Emira. "Heh, kalau ngomong di saring dulu. Pengen cepet-cepet koid apa kamu?" "Bukan gitu, abis baru bangun langsung lihat bidadari." Ucap Rasya sambil menoel dagu Emira. "Rasya!" Emira jelas terkejut. "Dasar, sinting."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD