Episode 9

1185 Words
Tibalah hari ini hari Jum'at, hari pertama Emira mulai masuk sekolah lagi setelah 3 hari ijin karena lututnya terluka. Satu hari lagi Emira absen, maka pengurus kelas bersama teman-teman yang lain akan datang menjenguknya. Dan Emira tidak mau itu. Tidak enak jadi merepotkan mereka. Jadilah Emira berangkat sekolah hari ini. Jalannya masih agak pincang, dan perlu kalian tau bersama siapa Emira berangkat sekolah. Benar, Rasya menghampiri Emira tadi sebelum berangkat sekolah. Dengan motor CBR nya yang membuat Emira begitu kesusahan untuk naik ke atas boncengan. Akhirnya Motor CBR dia parkirkan kembali di rumahnya. Dan berjalan kaki kembali ke rumah Emira, jadinya mereka mengendarai motor matic milik Emira. Emira masih berada di dalam rangkulan Rasya, sebab Emira belum bisa berjalan sempurna. Butuh tongkat penyangga untuk menopang tubuhnya. Dan Emira tidak punya itu, akhirnya Rasya lah yang jadi penopangnya. Tidak apa-apa, Rasya suka. Hingga pagi ini mereka berjalan berdempetan, saling merangkul. Bukan karena mereka sedang pacaran romantis, tapi lihat lutut Emira yang masih dibalut kain elastis yang biasa orang pakai untuk membalut gyps patah tulang. Masih belum sembuh sempurna luka nya. Untung Emira punya sifat cuek, sehingga dengan tatapan siswa-siswa lain yang melihatnya seperti itu dengan Rasya selama dari parkiran hingga menuju kelas, Emira tidak memikirkannya. Mereka tidak merasakan lututnya yang berdenyut ketika jatah kaki kirinya berpijak ke bumi. Lagian hari ini masih pagi sekali. Belum begitu banyak siswa yang datang. Singkat cerita, Emira sudah di antarkan sampai kelasnya oleh Rasya, sampai tempat duduknya malah. Yang mendapat sorakan dari beberapa teman sekelas yang hari itu datang lebih pagi, "Whoaah" kompak siswa-siswa menyoraki. "Ra", salah satu temannya mendekat. "Masih sakit gitu kok udah masuk sekolah aja?." Tanya temannya " Eh Sejak kapan kalian sedekat itu?" imbuh salah satu siswa, mewakili siswa-siswa lain yang penasaran. "Ck, Rasya tetanggaan sama aku. Jadi dia bantuin aku kayak tadi." Jawab Emira santai. "Ooo, pantesan. Jadi kalian gak pacaran kan?" Sebab, temannya itu tidak yakin Emira bakalan pacaran. Secara dilihat dari sudut manapun Emira tidak tertarik perihal cinta-cintaan. Emira yang tomboy lebih senang bermain bergaul dengan cowok-cowok. Berdecak "Ck, ya enggak lah." Lama-lama Emira malas meladeni temannya itu. "Gaes, mereka gak jadian kok. Kalian masih ada kesempatan. hahaha." Celetuk temannya tadi seolah itu adalah kabar gembira buat teman-teman sekelas yang berjenis kelamin perempuan. Teman-temannya pun seperti bernapas lega mendengarnya. Emira diam bersandar di bangkunya memperhatikan mereka saja. Dita yang baru sampai ambang pintu kelas terkejut melihat teman sebangkunya duduk di sana. "Raaaa" Girang, Dita datang sedikit berlari ke arah bangkunya. Emira melihatnya dari pintu hingga Dita berada di sebelahnya. "Udah sembuh itu." Dita mendaratkan bokongnya di kursinya, jarinya sambil menunjuk ke arah lutut Emira. "Udah mendingan, masih agak ngilu sih." "Kok udah masuk aja, masih sakit kan?" "Gak apa-apa, aku dah banyak ketinggalan pelajaran. Nanti pinjam buku catatannya ya." "Iya tenang aja, nanti aku bantuin nyatet juga gak apa-apa." "Yang bener?" Dita mengangguk semangat. "Iya beneran, kan kamu lagi sakit." Kata Dita sambil meringis sampai terlihat gigi-giginya. "Baik banget sih temen aku. Lagian yang sakit kaki kali bukan tangan." Jawab Emira sambil tertawa. Bel masuk jam pelajaran pertama berbunyi. Pelajaranpun dimulai setelah Pak Bandi sudah berada di depan kelas. Menerangkan pelajaran Mate-matika. Dan setelah itu, siswa-siswa di beri tugas mengerjakan latihan soal. Hingga kini jam istirahat tiba, Dita mengirim pesan kepada Airin agar datang ke kelas Dita, sebab ingin memberi kejutan bahwa Emira hari ini sudah masuk sekolah. Dan saat Airin tiba di pintu kelas, "Aaaaaak, Emiraaaa... udah sembuh ya?." Sama seperti Dita tadi pagi, yang langsung semangat berlari menghampiri Emira. Setiba di samping Emira, Airin melihat lutut Emira yang masih dibalut. "Lah, itu masih sakit Ra? kok udah masuk sekolah aja." Airin keheranan. "Udah mendingan Ces... udah kangen sama kalian jadi aku masuk aja. Haha." Jawab Emira. Dan tiba-tiba Rasya datang membawa bungkusan siomay dan air minum kemasan botol dengan rasa teh. Pas disaat Dita menawarkan Emira mau nitip apa, Dita dan Airin sudah siap berangkat ke kantin. "Ra, ini dimakan ya." Rasya meletakkan siomay dan botol minum di meja dihadapan Emira. Emira agak terkejut, tapi datar saja. Lain dengan Airin yang sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya, mulutnya sudah menganga dari tadi. Super spechless melihat Rasya sedekat ini. "Makasih Ras, baru mau nitip Dita tadi." "Sama-sama, gimana lututnya Ra? Masih terasa sakit enggak?" Dita bangkit dari duduknya, kemudian mempersilahkan Rasya untuk duduk di tempat duduknya tadi. "mmm.. Rasya, duduk dulu sini. Aku sama Airin mau ke kantin dulu bentar. Nitip Emira ya." Kata Dita sambil menarik tangan Airin untuk keluar kelas. Airin masih terperangah saja..Ya ampun Airin memang lebay sekali. Masih ada beberapa siswa juga yang masih berada di dalam kelas, mungkin mereka bawa bekal dari rumah dan tidak perlu ke kantin untuk membeli makanan. "Kalau diem gini sih gak sakit. Tapi masih ngilu kalau di gerakin. Apalagi buat jalan." Jawab Emira sambil membuka bungkus somaynya. Rasya membukakan segel botol minumnya untuk memudahkan Emira nanti pas mau minum. " Nanti pulang sekolah diem-diem dulu di sini, sampe aku dateng. oke?" Emira mengangguk, mengunyah somay dengan pelan. Tanpa Emira dan Rasya tau, temen sekelas Emira yg berada dikelas saling berbisik membicarakan mereka. Dan juga Ryana, dia melihat dari kejauhan dari luar pintu kelas. Ryana merasa kesal melihat Rasya berada di sana, duduk di dekat Emira, ngobrol, nungguin Emira makan. Ih apa deh Rasya, ngeliatin orang lagi makan. Menyodorkan air minum pula. Sedangkan di kelas, Rasya seperlunya doang ngobrol dengan Ryana. Padahal di kelas duduknya bersebelahan. Benar-benar membuat kesal hati Ryana. *** Bel jam pulang sekolah berbunyi. Siswa-siswa keluar kelas untuk pulang, Emira masih berada di bangkunya di temani Dita. Kalau Airin, dia langsung pulang, sebab dia sudah di jemput. Emira sudah cerita sama Dita kalau Rasya akan ke sini membantunya untuk berjalan nanti. Catatan pelajaran sudah di foto, dan susah dikirim lewat w******p. Nanti di rumah, tinggal Emira salin. Sudah 15 menit Emira menunggu. Rasya belum juga datang. Emira memutuskan untuk menelpon Rasya. "Halo Ras, masih lama engga?" "Iya Ra, aku kesana sekarang" jawab Rasya dan langsung mematikan sambungan teleponnya. "Ck, kemana sih dia. Apa lupa apa gimana tau." Malah Dita yang gerutu. "Ada urusan kali. Tapi lagi kesini kok dia." Rasya pun tiba, ter engah-engah. Sebab dia lari dari rooftop sampai ke kelas Emira. "Sori Ra, ada urusan tadi. Aku kira cuma bentar urusannya. Eh tau nya lama." kata Rasya. Padahal Emira tidak menanyakan apa-apa. "Terus, udah selesai belum nih urusannya?. Jangan gara-gara aku kamu ninggalin urusan itu." "Udah kok, yuk lagian udah jam segini. Nantu aku telat sholat jum'atnya." Rasya membantu Emira berdiri, Dita juga membawakan tas Emira dan membantu memegangi Emira dari sebelahnya. Emira berjalan di papah dua orang, menuju parkiran dan setelah Emira sudah berada di atas boncengan, Dita menuju motornya. Tidak lupa Emira mengucapkan trimakasih dan Dita bilang "Hati-hati dijalan, Ra.. pegangan... Rasya hati-hati ya bawa anak orang itu." ucap Dita. "Iya-iyaa, makasih yaa" Jawab Rasya singkat. *** Merekapun sudah sampai rumah. Rasya turun dari motor memanggil mama Emira, tapi tidak ada jawaban. "Ra, tante kemana? pergi ya?" Emira juga heran, "Maaa..." Emira memanggil. "Tapi gerbang di gembok Ra." "ck, kemana sih mama." Emira memeriksa HPnya. Tidak ada telfon maupun pesan dari mamanya. Kira-kira kemana mama perginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD