Bab 9 : Hijabmu Mahkotamu

3783 Words
Hijab bukanlah mode yang bertujuan membuat wanita lebih cantik, justru hijab dipakai agar wanita terlindungi dari fitnah. *****            Setelah isak tangisnya berhenti, Azalea langsung mengambil handphone-nya, menghubungi salah satu temannya semasa SMP. Malam ini tepatnya pukul 22.00 WIB hujan pun reda. "Hallo Mel, ini gue Azalea! Malam ini lo ada acara gak?" ucap Azalea menghubungi salah satu temannya yang bernama Amelia. "Ck! Sombong lo, baru nelpon gue sekarang! Kagak, emangnya ada apa?" "Kita pergi ke tempat biasa yuk! Bersenang-senang! Gue lagi bad mood malam ini!" "Serius lo mau ke tempat itu lagi? Bukannya lo suka dimarahin sama orang tua lo?" "Iya, gue serius! Sekalian ajak tuh si Rina dan Nayla, gue kangen sama mereka! Oh ya, malam ini gue ke sana naik taxi. Lo tungguin gue di depan tempat itu!" "Oke Lea, see you!"            Malam ini Azalea berdandan cantik dengan memakai dress kesayanganya yang hanya sepaha. Dia akan bersenang-senang pergi ke sebuah club yang ada di Bandung bersama teman-temannya sewaktu SMP yaitu Amelia, Rina dan Nayla. Hanya saja setelah menginjak SMA mereka berpisah karena tidak satu sekolah. Selain itu dia juga ingin menenangkan hati dan pikirannya karena diliputi rasa takut untuk memakai hijab. Setelah berdandan rapi, dia langsung buru-buru pergi takut ketahuan ibunya. Belum sempat Azalea membuka pintu rumah. Ibunya memanggilnya. "Azalea! Mau ke mana kamu?" "Lea, mau ke rumah teman Bu, sebentar!" "Sudah malam! Ibu gak akan izinin kamu! Masuk kamar atau ibu telpon ayah!" "Azalea, pergi Bu!" ucap Azalea santai lalu melangkah pergi menuju pintu. Ibu Azalea langsung memejamkan matanya sambil beristigfar. Kemudian ia langsung menarik lengan Azalea. Membuat Azalea kesal. "Ibu! Lepasin, Bu!" "Sayang, kamu itu perempuan. Ini sudah malam. Coba lihat pakaian kamu, kamu memakai pakaian terbuka dan berniat keluar malam sendirian. Ibu gak akan izinin kamu! Apa belum cukup ibu menasihati kamu untuk memakai hijab?" "Sudahlah Bu, Azalea malas berdebat sama ibu! Azalea pergi!" ucap Azalea sambil melepaskan tangan ibunya. Azalea pun langsung membuka pintu rumah tersebut dan berlalu pergi. Ibunya mengejarnya, akan tetapi Azalea sudah menaiki taxi. Kini ibu Anisa hanya menangis, dia langsung menelpon Riyan sepupu Azalea untuk membawa Azalea pulang. *** Hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di club itu. Sekarang Azalea sudah sampai. Dia langsung masuk menghampiri teman-temannya yang sudah menunggunya. "Azalea, long time no see! I miss you!" ucap Nayla sambil memeluk Azalea. "Miss you too, Nay!" balas Azalea santai. "Tumben banget lo ngajakin kita ke tempat ini lagi, lo ada masalah?" ucap Rina penasaran. "Ck! Gue lagi bad mood aja di rumah. Ibu gue selalu saja nyuruh gue pakai hijab, teman gue juga sama di sekolah katanya aurat lah itu lah. Sebenarnya hati kecil gue pengin pake tuh hijab, tapi gue takut gerah dan terlihat kampungan." jelas Azalea. "Ya sudah jangan dipakai, lagian lo cantikan gak pakai hijab. Buktinya cowok-cowok waktu SMP banyak yang naksir sama lo." "Kalau gue terserah lo aja sih Lea." ucap Nayla. Azalea hanya diam. "Sudahlah jangan bahas itu di sini. Sekarang saatnya kita bersenang-senang!" ucap Rina antusias. Azalea menghabiskan malam ini di salah satu club di Bandung. Saling canda tawa, menari ditemani alunan musik yang dimainkan DJ serta kilauan lampu yang berkelap-kelip menghiasi ruangan ini. "Lea, handphone lo bunyi tuh!" ucap Nayla.               Azalea langsung mengambil handphone-nya yang disimpan di meja. Setelah melihat nama seseorang di layar handphone-nya, dia mendengus kesal. "Siapa yang nelpon?" tanya Rina. "Ibu," "Terus kenapa gak lo angkat?" "Ogah!"           Azalea langsung me-reject panggilannya dan mematikan handphone-nya. Tiba-tiba Riyan yang sudah tiba di club itu langsung menghampiri Azalea dan mengajaknya untuk pulang. Sontak membuat Azalea kaget. "Azalea! Pulang!" ucap Riyan dengan suara agak meninggi karena bising dengan suara musik. "Ck! Ngapain sih Kak, lo ke sini? Gue mau di sini, mending Kakak aja yang pulang!" "Lea, sekarang udah jam 12! Tante Anisa khawatir sama lo!" "Biarin! Gue mau tetap di sini!" "Sekarang lo harus pulang! Dan ikut sama gue!" bentak Riyan sambil menarik lengan Azalea paksa, sehingga membuat Azalea meringis kesakitan. "Kak Riyan! Lepasin!" "Gue gak akan lepasin tangan lo, sebelum lo ikut pulang sama gue! Ayok pulang!" Mau tidak mau Azalea pun menuruti titah Riyan. Ia ikut pulang dengan Riyan menaiki mobil pribadinya. Selama di perjalanan, Azalea mendapati omelan dari Riyan sehingga membuatnya kesal. "Dari dulu kamu gak pernah berubah! Kakak tuh kasihan sama tante Anisa, dia sayang banget sama kamu, peduli sama kamu. Tapi kamu sebagai anak yang ada malah bikin hati ibu kamu sedih. Mau sampai kapan kelakuan kamu begini terus Lea?" "Ck! Gak usah urusi hidup gue Kak dan gak usak sok peduli sama gue!" tegas Azalea. "Gue peduli sama lo, karena lo udah gue anggap adik kandung gue sendiri! Dan tante Anisa dia udah kayak ibu kandung gue sendiri! Lo beruntung masih punya ibu, gak seperti gue, anak piatu!" "Sorry Kak," ucap Azalea pelan sambil tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. "Maaf juga Kakak udah bentak kamu, Kakak pingin kamu hijrah Lea! Besok sepulang sekolah, Kakak akan bawa kamu ke rumah tahfidz. Besok kamu akan belajar mengaji di sana dan mulai semuanya dari awal!" "Ta--tapi Kak," "Gak ada tapi-tapian ini permintaan dari ibu kamu dan ayahmu sudah menyetujuinya, jadi kamu harus menurutinya." Azalea pun menyetujuinya, karena kalau dia menolak permintaan ibunya pasti ayahnya akan marah besar kepadanya, terlebih dia sudah menyakiti hati ibunya. Setibanya di rumah, benar saja ibunya langsung mengomeli dirinya. Karena malas untuk berdebat, Azalea langsung pergi ke kamarnya dan memilih untuk tidur. Malam ini malam yang menyebalkan bagi Azalea. *** "Azalea! Bangun sayang, ini sudah siang!" teriak ibunya sambil menggedor-gedor pintu kamar Azalea, tapi tidak ada respon dari Azalea. Mendengar gedoran pintu yang cukup keras, Azalea langsung terbangun. Dengan mata yang masih terpejam dan rambut berantakan Azalea beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya. "Bu! Berisik!" "Ini sudah siang sayang, nanti kamu terlambat! Cepat mandi! Ibu siapin bekal untuk kamu!" Azalea kembali menutup pintu kamarnya, dia langsung bergegas ke kamar mandi. Setelah mandi dan berganti pakaian, dia langsung keluar kamarnya sambil menuruni anak tangga dengan buru-buru. "Lea, tunggu! Ini bekalnya!" ucap ibunya menghampiri. "Makasih bu, Azalea berangkat. Assalamualaikum." ucapnya sambil menyalami punggung tangan ibunya. "Waalaikumsalam." balas Ibunya.  ***                 Terik matahari mulai terasa di kulit Azalea. Sudah 10 menit Azalea menunggu angkot, namun angkot yang ditunggu Azalea tidak kunjung tiba. Hari ini dia terlambat untuk pergi ke sekolah, jam tangannya sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB. Hatinya benar-benar kesal bercampur sedih, karena hari ini ada ulangan harian bahasa Inggris, salah satu mata pelajaran favorite-nya dan Azalea tidak mau ketinggalan. Dia lupa bahwa hari ini ada ulangan harian, bahkan semalam dia tidak belajar malah keluyuran gak jelas. Sehingga sekarang dia menangis menyesali perbuatannya. Tidak peduli orang-orang yang berada di halte melihatnya. Tiba-tiba seseorang menyodorkan selembar tisu. Azalea langsung mengambil tisu tersebut dan mengusap air matanya. Kemudian ia langsung mendongakkan wajahnya kepada seseorang yang memberikan tisu tersebut. "Dimas?" ucap Azalea kaget. "Iya gue! Udah nangisnya? Buruan lo naik motor gue, jangan nangis mulu! Cengeng lo!" "Ck! Nyebelin, tapi gue udah terlambat!" "Lo gak mau bolos sekolah kan? Mending terlambat daripada gak sekolah! Buruan deh naik!" "Iya-iya gue naik!" "Pegangan yang kenceng!" teriak Dimas. Azalea mendengus kesal, mau tidak mau dia langsung menuruti titah Dimas.  ***            Baru saja mereka turun dari motor. Suara pekikan gurunya memeKakkan telinga. Suara yang khas di telinga Azalea dan Dimas yaitu guru BK killer yang tak lain Pak Budi. "Ya ampun Dimas! Azalea! Kalian tidak tahu ini sudah jam berapa?" "Jam setengah sembilan pak, hehe kita telat ya?" kata Dimas sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Terlambat sekali! Berhubung kalian terlambat, bersihkan semua toilet di sekolah ini hingga jam pelajaran kedua, mengerti?" "Yah ... Pak, jangan toilet please." ucap Azalea sambil memelas. "Juga bersihkan taman. Sekarang!" tegas Pak Budi sambil memperlihatkan mata tajamnya.      Dimas dan Azalea menelan ludahnya sendiri. Mereka benar-benar kesal berhadapan dengan guru BK killer itu. Hari ini mereka benar-benar sial.  ***           Setelah menyelesaikan tugas dari Pak Budi yang menguras tenaga. Azalea duduk di kursi taman di bawah pohon rindang, sambil mengipas-ngipas wajahnya yang terasa panas. Azalea yang sedang memejamkan mata langsung kaget ketika pipinya merasakan sesuatu yang dingin. Ternyata Dimas yang menempelkan botol air mineral dingin di pipi Azalea yang memerah karena terbakar matahari. Lalu ia memberikan botol air mineral itu yang sengaja ia belikan untuk Azalea. "Buat gue?" tanya Azalea. "Bukan! Ya buat lo lah," jawab Dimas setelah meneguk air mineral itu. "Thanks," Azalea langsung meneguk air mineral itu. "Capek ya?" tanya Dimas. Azalea yang sedang meminum air mineral itu, langsung berhenti dan menatap ke arah Dimas. "Banget! Tega ya pak Budi, gak punya hati! Udah gitu, jelek lagi. Pantas aja gak disukai banyak murid," racau Azalea. "Gue bilangin ah sama pak Bontot! Pak Bud..." teriak Dimas. Kemudian Azalea langsung membekap mulut Dimas. "Lo nyebelin banget sih!" ucap Azalea kesal, dia langsung melepas tangannya yang membekap mulut Dimas. "Haha ... Takut dihukum lagi ya sama pak Bontot?" Azalea menganggukkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya. "Gayanya aja kelihatan jagoan, tapi nyalinya lembek!" ledek Dimas sambil tertawa. "Ih Dimas! Dasar nyebelin!" ucap Azalea sambil mencubit lengan Dimas. Sehingga membuat Dimas meringis kesakitan. "Dasar cewek rese! Sakit tau," ucap Dimas sambil mengusap-usap tangannya. "Biarin!" ucap Azalea sambil menjulurkan lidahnya dan beranjak pergi ke kelasnya meninggalkan Dimas. Sementara Dimas senyum-senyum sambil melihat Azalea pergi, karena Dimas senang bisa dekat lagi dengan Azalea.  ***         Azalea sedang menunggu Riyan di tempat biasa menunggu angkot bersama Khanza di depan sekolah. Rencananya mereka akan pergi ke rumah tahfidz. Azalea sengaja mengajak Khanza agar dia ada teman. "Lea, serius nih aku boleh ikut sama kamu? Kak Riyan gak bakalan marah?" tanya Khanza. "Ya enggaklah, pasti boleh kok!" seru Azalea. Tidak berselang lama Riyan pun datang untuk menjemput Azalea. Kedua gadis itu langsung menghampiri Riyan. "Hai Kak Riyan," sapa Khanza. Riyan hanya tersenyum. "Kak, aku bawa temen aku Khanza. Gak apa-apa kan?" ucap Azalea. "Iya boleh, buruan kalian masuk. Nanti keburu sore loh." ujar Riyan. Mereka pun menuruti titah Riyan masuk ke dalam mobil. Azalea duduk di depan dengan Riyan sementara Khanza di belakang. Hanya membutuhkan waktu 20 menit mereka sampai di tempat yang mereka tuju yaitu rumah tahfidz. Azalea dan Khanza mengamati sekeliling, terlihat bangunan masjid yang indah, taman dan juga kelas mengaji. Khanza dibuat kagum, sementara Azalea dia merasa gelisah. Riyan menghampiri temannya yaitu seorang perempuan berjilbab lebar, kulitnya putih bersih dan juga cantik. Mereka pun berbincang sebentar, lalu Riyan dan perempuan itu langsung menghampiri Azalea dan Khanza. "Azalea, Khanza. Kenalkan ini Kak Sinta teman Kakak tepatnya teman satu organisasi di kampus Kakak. Dia yang punya rumah tahfidz ini, nanti kalian bisa belajar menghafal quran dan belajar banyak ilmu dari Kak Sinta." jelas Riyan memperkenalkan Sinta. "Hai Kak Sinta, Kakak cantik." celetuk Khanza membuat Sinta tersipu malu. Riyan yang melihat rona merah di pipi Sinta langsung menundukkan pandangannya sambil berucap istigfar. "Alhamdulillah, adik juga cantik kok. Adik namanya siapa? Azalea bukan?" tanya Sinta kepada Khanza. "Aku Khanza Kak! Kalau Azalea yang ini yang tidak memakai kerudung Kak," jawab Khanza. Azalea langsung mencubit lengan Khanza karena malu. "Oh Azalea yang ini ya Yan?" tanya Sinta kepada Riyan. Riyan pun mengangguk, "Cantik ya. Apalagi kalau pakai kerudung pasti lebih cantik." lanjut Sinta sambil tersenyum kepada Azalea. Azalea hanya tersenyum. "Kak, belajar menghafal Alqurannya kapan?" tanya Khanza antusias. "Oh iya Kakak lupa. Jadi untuk sekarang, kalian dengerin ceramah dulu dari Kakak. Karena sekarang jadwalnya ceramah serta dilanjut tadarus bersama. Untuk menghafal Alquran insyaallah besok, akan tetapi sebelum menghafal Kakak mau mengajarkan membaca Alquran yang baik dan benar dulu kepada kalian, gimana setuju?" jelas Sinta. "Setuju Kak!" jawab Khanza senang. Sementara Azalea hanya diam. "Kalau Azalea gimana?" tanya Sinta. "Emh ... Iya, aku setuju Kak." jawab Azalea. Sinta dan Riyan pun tersenyum senang sambil mengucap hamdalah. Mereka berencana ingin merubah Azalea untuk menjadi lebih baik lagi. Harapan Riyan memasukkan Azalea ke rumah tahfidz yaitu supaya Azalea bisa menjadi seorang hafidzah quran seperti Sinta, perempuan yang dikagumi di kampusnya itu. *** "Oke semua kaum akhwat yang hadir di sini semoga dirahmati Allah SWT. Materi ceramah sekarang hijab atau jilbab. Ada yang tahu apa jilbab itu? Kalau ada yang tahu angkat tangan dan perkenalkan namanya," tanya Sinta kepada murid-muridnya. "Saya Kak! Saya Nina." ucapnya sambil mengangkatkan tangan kanannya. "Ya, silakan Nina!" "Jilbab atau hijab secara syariat merupakan bagian pakaian yang wajib digunakan untuk menutupi kepala wanita hingga ke dadanya." "Oke, Nina jawaban kamu benar!  Adapun dalilnya adalah dalam surat An-Nuur ayat 31 yang artinya ‘dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya’. Maksudnya ialah bahwa Allah menghendaki agar para wanita menutup kain dari kepalanya hingga ke dadanya. Dari ayat ini maka para wanita muslimah perlu memperhatikan apa yang ia pakai. Apakah benar-benar hijab yang sesuai hukum Allah, ataukah hanya kain yang dihias-hias oleh tukang salon. Ingat, hijab bukanlah mode yang bertujuan membuat wanita lebih cantik, justru hijab dipakai agar wanita terlindungi dari fitnah. Itulah salah satu tujuan syariat." jelas Sinta. Azalea hanya diam memperhatikan dan menyimak perkataan Sinta. "Di antara para wanita di zaman Rasulullah, tentu ada yang baru masuk Islam atau ahli maksiat. Namun, setelah turunnya ayat kewajiban hijab, maka mereka langsung melakukannya. Tak ada wanita yang beralasan seperti wanita di zaman sekarang yang menolak hijab dengan alasan aku belum siap, atau jilbab hanya untuk wanita salihah. Apa di sini ada yang belum siap memakai hijab?" tanya Sinta. Semua murid Sinta melihat ke arah Azalea, karena Azalea tidak memakai kerudung. Mereka beranggapan bahwa Azalea belum siap memakai hijab. Azalea merasa dirinya malu, namun dengan percaya diri Azalea berkata "Aku belum siap Kak!" spontan Azalea. Tentu membuat mereka semua kaget. "Kenapa belum siap?" tanya Sinta. "Aku belum siap karena aku merasa gak pantas memakai hijab Kak, aku selalu beranggapan kalau memakai hijab itu gerah." jawab Azalea tertunduk. "Oke akan Kakak jelaskan Azalea! Di antara alasan-alasan umum yang dikemukakan wanita muslimah yang belum berjilbab ialah aku belum siap. Jika kita cermati, alasan ini kurang bisa diterima dari segi akal maupun dalil dengan sebab sebagai berikut. Ini bisa kita analogikan sebagai berikut, ketika kita mengajak seseorang untuk salat wajib lima waktu, kemudian orang itu menolak dengan alasan aku belum mau salat lima waktu karena belum siap. Padahal kewajiban memakai hijab lebih mudah daripada salat, yang kamu butuhkan hanya hijab yang cukup hingga menutup d**a, rok panjang dan lebar, dan baju yang agak panjang dan tidak ketat, kalau mau yang lebih efektif bisa memakai pakaian sejenis daster di mana baju dan roknya menyatu. Memakai hijab tidak seperti orang naik haji, atau membayar zakat, atau menyembelih kambing yang dibutuhkan kemampuan, sehingga alasan ku belum siap bukanlah udzur dan tidak ada keringanan." "Dari segi dalil maupun ijma tak ada satu pun ayat Alquran, hadis, pendapat ulama di mana wanita yang berhijab harus menyiapkan sesuatu khusus terlebih dahulu. Bahkan dari hadis yang telah kita bahas tadi, para wanita Arab di zaman Rasulullah yang tentunya di antara mereka ada yang baru saja masuk Islam langsung membuat hijab ketika turunnya ayat yang mewajibkan hijab. Tidak ada di antara mereka yang beralasan Ya Rasulullah, bolehkah aku tidak memakai hijab karena aku belum siap? Dalil ini juga langsung membantah pernyataan bahwa wanita yang pantas berhijab hanyalah wanita salihah atau yang ilmu agamanya luas. Semua wanita muslimah yang sudah akil balig wajib berhijab." jelas Sinta panjang lebar. Azalea merasa belum puas dengan penjelasan Sinta maka dia bertanya lagi. "Tapi Kak untuk apa berjilbab kalau kelakuannya b***t? Lebih baik tidak berjilbab tapi kelakuannya baik. bukan begitu ka?" tanya Azalea, karena dia merasa dirinya belum baik. "Oke Kakak jelaskan kembali. Berjilbab saja kelakuannya b***t, apalagi tidak berjilbab? Seandainya ada wanita tidak berjilbab berpengarai baik, tentu lebih baik lagi apabila ia berjilbab. Dan Allah SWT berfirman di dalam surat Al-Araf ayat 26 yang artinya hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat." "Allah juga berfirman di dalam surat Al-Ahzab ayat 36 yang artinya …dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." "Dan Allah juga berfirman di dalam Alquran surat Al-Kahfi ayat 103 sampai 107 yang artinya katakanlah apakah mau kami beritahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia saja perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat usaha yang sebaik-baiknya. Mereka itulah orang-orang yang mengingkari kufur terhadap ayat-ayat Allah dan menemui-Nya, maka hapuslah amal pekerjaan mereka, dan Kami mengadakan suatu pertimbangan terhadap amalan mereka di hari kiamat. Demikianlah, balasan mereka ialah j*****m, disebabkan mereka kufur atau ingkar dan karena mereka menjadikan ayat-ayat Allah dan Rasul-rasul Allah sebagai olok-olok. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal." "Jelas Azalea?" tanya Sinta kepada Azalea setelah menjelaskan panjang lebar. Azalea hanya diam mencerna perkataan Sinta. Matanya mulai berkaca-kaca, dia pun hanya bisa menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Menahan agar air matanya tidak jatuh. "Kak, bolehkah aku memakai jilbab dan melepasnya sekali-kali?" ucap Khanza. "Boleh, Hal ini disebabkan tidak mungkinnya para wanita muslimah memakai jilbab terus menerus. Ada saat di mana ia melepas jilbabnya, yaitu di saat mandi, tidur di dalam kamarnya, di saat berdua dengan suami, atau saat berkumpul hanya dengan keluarganya di dalam rumah selama ia yakin tak ada orang non-mahrom yang melihatnya tanpa jilbab. Sebab Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat An-Nuur ayat 31 yaitu dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau b***k-b***k yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita." "Maksud dari ayat ini ialah seorang wanita boleh membuka jilbabnya di hadapan suami, ayah, mertua, anak, saudara, keponakan, teman-temannya sesama muslimah, pembantu atau b***k yang tidak punya syahwat karena lanjut usia atau karena dikebiri, atau bocah di bawah umur yang belum mengerti apapun tentang aurat, untuk bocah di zaman sekarang dan akibat dari negeri berpaham sekuler kira-kira di bawah tujuh tahun." Jelas Sinta.  Khanza yang mendengar penjelasan Sinta dia sangat kagum terhadap Sinta. Karena di usianya yang masih muda tapi pengetahuan agamanya sudah luas dan sudah menjadi hafidzah quran. Tidak hanya Khanza, Riyan yang sedang menunggu Azalea di luar mendengar penjelasan Sinta merasa kagum. "Ada lagi yang mau bertanya?" "Saya Kak!  Kalau boleh tau siksa azab buat perempuan yang tidak mau berhijab atau berjilbab itu seperti apa ya Kak?" ucap Azalea memberanikan dirinya, karena dia ingin mengetahui jawaban atas semua pertanyaan yang ia simpan dari dulu. Mungkin dengan ceramah kali ini hatinya akan mantap berhijab. "Gini Azalea dan semuanya, dengerin ya! Siksa azab buat perempuan yang tidak mau berhijab atau berjilbab yaitu pertama, azab buat perempuan yang membuka rambut kepalanya selain suaminya adalah rambutnya akan digantung dengan api neraka sehingga mendidih otaknya dan ini terjadi sampai berapa lama ia di dunia semasa hidupnya belum menutup rambut kepalanya. Kedua, perempuan yang suka berpakaian seksi dan menonjolkan dadanya adalah digantung dengan rantai api neraka di mana d**a dan pusatnya diikat dengan api neraka serta betis dan pahanya diberikan panggangan seperti manusia memanggang kambing di dunia dan api neraka ini sangat memedihkan perempuan ini." "Ketiga, azab buat perempuan yang suka menjadi penggoda dan berusaha menggairahkan pria lain dengan tubuhnya yang aduhai adalah perempuan ini mukanya akan menghitam dan memakan isi perutnya sendiri. Kaum wanita yang tak mau memakai jilbab adalah mendustakan ayat Allah surat An Nur ayat 31 dan Al Ahzab ayat 59 dan menyombongkan diri terhadap perintah Allah tersebut, maka sesuai dengan bunyi ayat tersebut mereka kekal di dalam neraka." "Paham semuanya?" "Paham Kak." jawab semua serempak. Kalau sudah paham Kakak akhiri ceramahnya sekarang. Semoga menjadi renungan kita bersama bahwa yang wajib itu tetap wajib hukumnya, kalau tidak mulai dari sekarang apakah kita akan menunggu hari lusa atau di saat kita sudah tua? Ingat satu hal, malaikat maut itu tidak menunggumu hari lusa, besok atau tahun depan. Mungkin satu menit, jam atau hari esok kita telah dicabut nyawanya oleh malaikat maut, dan kita benar-benar menjadi orang yang merugi setelah hari itu datang kepada kita." "Untuk kaum wanita segeralah berjilab sebelum ajal menjemputmu dan membawamu ke neraka jahanam." lalu menghela nafasnya sejenak dan melanjutkannya lagi, "Yang belum berjilbab, hendaklah berjilbab. Yang sudah berjilbab, hendaklah memperbaiki jilbabnya. Yang telah berjilbab dengan baik, bantulah yang belum berjilbab. Demikian materi ceramah yang Kakak sampaikan, semoga bermanfaat bagi semuanya. Saya akhiri Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu." "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu." jawab semua akhwat yang hadir. Air mata Azalea tidak bisa dibendung lagi. Air matanya pun jatuh membasahi kedua pipinya. Dia meremas rok abu-abu pendeknya sambil menunduk. Khanza yang mendengar isak tangis Azalea langsung memeluk Azalea sambil mengelus punggung Azalea. "Aku ingin hijrah Khanza, Aku ingin menjadi wanita istiqomah hiks ... hiks..." ucap Azalea disela isak tangisnya. ***         Setelah kegiatan ceramah dan tadarusan berakhir. Azalea, Khanza dan Riyan pamit untuk pulang. Sebelum Azalea masuk ke dalam mobil, Sinta memanggilnya. Azalea pun menghampirinya. "Ada apa Kak?" tanya Azalea. "Azalea, hijabmu mahkotamu. Luruskan lagi niatmu untuk memakai hijab karena Allah. Kakak berpesan, apa yang kamu dengar dari ceramah Kakak, kamu bisa ambil hikmah dan sisi positifnya. Diskusikan sama Allah di sepertiga malammu. Minta petunjuk sama Allah supaya hati kamu mantap untuk berhijab. Kamu gak perlu takut, Allah selalu ada bersamamu. Semoga kamu istiqomah ya Lea." ucap Sinta. Azalea kini menangis sambil memeluk Sinta. Dia sudah nyaman dengan Sinta, meskipun kenal belum satu hari tapi Azalea merasa Sinta seperti Kakak kandung, guru dan juga sahabat. Dia senang telah bertemu dengan Sinta, banyak pelajaran yang bisa dia ambil darinya. "Em ... Ya sudah Kak. Azalea pamit pulang, Assalamualaikum." ucap Azalea. "Waalaikumsalam." ucap Sinta sambil menghapus air mata Azalea dengan kedua ibu jarinya.              Senja pun mengiringi kepergian Azalea untuk pulang ke rumahnya. Dia menatap langit jingga itu dari kaca mobil sambil tersenyum, karena terpesona melihat keindahan langit berwarna jingga itu dan Azalea menyukainya. Riyan dan Khanza mengetahui Azalea penikmat senja, mereka membiarkan Azalea melihat langit itu. Azalea tersenyum menatap langit itu membuat Riyan senang, karena adik kesayangannya telah menjadi sosok yang penurut dan ingin berusaha menjadi lebih baik lagi. Dia mengucap syukur kepada Allah karena telah mempertemukannya dengan Sinta yang mana telah membantunya untuk mengubah Azalea. Di kursi belakang, Khanza pun ikut senang, melihat Azalea ingin berubah menjadi lebih baik lagi. Dia pun ikut melihat langit jingga itu dari kaca mobil. "Senja yang indah, Lea." ucap Khanza. "Senja memang selalu indah Khanza!Terkadang aku ingin seperti senja yang cantik dan juga indah dilihat. Akan tetapi sekarang, aku tidak ingin hanya wajahku saja yang terlihat cantik dan indah seperti senja melainkan akhlakku juga." ucap Azalea sambil tersenyum. Riyan dan Khanza yang mendengar perkataan Azalea merasa kagum dan mengaminkan doa Azalea.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD