Terik matahari mulai terasa di kulitku. Kini aku sedang menunggu angkutan umum untuk berangkat ke sekolah. 15 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Oh Tuhan ... aku tidak ingin terlambat lagi. Tiba-tiba seseorang yang menaiki motor ninja berwarna merah berhenti di depanku. Seseorang itu langsung membuka helm-nya, dan ternyata Dimas. Sontak membuatku kaget.
"Dimas? Lo ngapain di sini? tanyaku.
"Lo mau ikut nebeng bareng gue gak? Cepetan gih naik!" seru Dimas.
“What? tunggu dulu, maksud lo? Gue nebeng gitu naik motor berdua ke sekolah sama lo? Ogah! mending naik angkot. By the way, thanks buat tawarannya, gue bisa berangkat sendiri!" ucapku.
"Yakin nih? Lo gak mau terlambat kan? Bentar lagi masuk lho," kata Dimas. Aku pun mencoba berpikir antara ikut atau tidak.
"Ya udah kalau lo gak..."
"Ya udah iya gue ikut bareng lo!" potongku cepat. Dimas pun tersenyum senang.
"Lea, peluk gue!"
"What? Lo mau modus ya?"
"Ck! Gue mau ngebut! Kalau gue gak ngebut bisa-bisa kita telat!"
"Ck! Gue gak mau!"
Dimas mulai men-starter motornya dengan kecepatan tinggi. Sehingga membuatku ketakutan, spontan aku memeluk Dimas dari belakang dengan sangat erat. Aku menenggelamkan wajahkudi pundak Dimas sambil memejamkan mata.
"Hahaha ... Katanya gak mau meluk gue? Terus kalau gitu siapa yang modus? Lo apa gue?" ucap Dimas.
"Dasar cowok nyebelin! Gue takut!" ucapku sambil menepuk bahu Dimas. Kemudian melepas pelukanku.
"Sekarang kalau lo gak mau takut! pegangan yang kuat, gue mau ngebut, tujuh menit lagi kita masuk!" titah Dimas sambil menarik tanganku untuk kembali memeluknya. Dengan terpaksa, Aku kembali memeluk Dimas dan menenggelamkan wajahku di pundak Dimas sambil memejamkan mata. Entah kenapa rasa takutku kini mulai menghilang saat aku memeluk Dimas.
***
Sesampainya di tempat parkir sekolah, para cewek pengagum Dimas yang melihat Dimas membonceng Azalea menjadi kaget.
"Ih ... Si Lea ngapain sih peluk-peluk Dimas! Gak banget deh!" ucap salah satu cewek yang tidak suka melihatnya.
"Aaa ... Dimas sama Azalea so sweet! Jadi iri deh!" kini pengagum Dimas yang senang melihatnya bersuara.
Agnes dan teman-temannya yang melihat kerumunan cewek-cewek di tempat parkir langsung menghampiri mereka dan ingin tahu para cewek sedang melihat apa. Setelah dia melewati kerumunan cewek itu, sontak membuat Agnes kaget melihat Azalea memeluk Dimas. Gadis itu mulai emosi, dia ingin sekali melabraknya. Akan tetapi dia ingat perkataan Dimas kalau dia hendak melabrak Azalea, dia akan dilaporkan ke guru BK. Lantas Agnes dan teman-temannya memilih kembali ke kelasnya dan akan melabrak Azalea di lain tempat tanpa sepengetahuan Dimas. Dimas langsung membuka helm-nya. Akan tetapi Azalea masih memeluk Dimas dan bersandar di pundak Dimas. Sehingga membuat Dimas tertawa.
"Eh Lea! Lo bener-bener modus ya!" ucap Dimas. Azalea tidak menyahutnya, "Woy cewek rese! Udah nyampe!" lanjut Dimas dengan suara agak meninggi.
Azalea langsung membuka matanya. Lantas ia mengamati sekeliling dan benar sekarang dia sudah sampai di sekolahnya. Azalea tersadar kalau dirinya masih memeluk Dimas. Spontan dia melepaskan pelukannya dan langsung turun dari motor Dimas.
"Heh cowok nyebelin! Kenapa lo baru bilang sekarang sih kalau udah sampai? Lo itu ..."
"Modus? Lo yang modus!" potong Dimas cepat.
"Dasar nyebelin!" ucap Azalea kesal sambil menghentakkan kakinya Azalea pergi meninggalkan Dimas dan masuk ke kelasnya.
***
Setibanya di kelas, Agnes beserta teman-temannya menghalangi langkahku. Tiba-tiba mereka menarik tanganku dan langsung membawaku ke toilet yang berada di samping kelas. Agnes langsung mendorong tubuhku sehingga aku jatuh tersungkur di atas dinginnya lantai.
"Heh Azalea lo tuh ya jadi cewek jangan murahan dong! Gue udah peringatin lo beberapa kali, tapi lo masih aja deket sama Dimas! Ingat Lea! Dimas itu cuma milik gue!" ucap Agnes dengan nada sarkastik. Sungguh demi apa pun Aku tidak terima dengan perlakuan Agnes, lantas aku pun berdiri.
"Heh Agnes dengerin ya, gue gak ada hubungan apa pun sama Dimas! Kita tuh cuma temen, gak lebih! kalau lo emang suka sama Dimas silakan ambil! Lagian gue tadi terpaksa berangkat bareng karena Dimas maksa!"
"Alah basi alasan lo! Satu peringatan lagi buat lo! Lo gak usah sok ikut-ikutan pengen famous kayak gue deh! Lo itu gak selevel sama gue!"
"Ck! Famous? Inget ya gue sekolah bukan ingin terkenal cari sensasi ataupun famous atau apalah! Gue sekolah cuma mau mencari ilmu jadi gak usah sok ngartis! norak!" jelas Azalea marah sama Agnes.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka ternyata Khanza datang. Dia langsung memisahkanku dengan Agnes.
"Azalea, sudah! Jangan ladenin cewek yang sok ngartis kayak gitu. Kalau ada orang yang gak suka sama kita cukup senyumin aja, jika dia emosi jangan dibalas lagi sama emosi! Kamu harus sabar dan perbanyak istigfar," tegas Khanza.
"Arghh ... Khanza, harus sabar bagaimana lagi sih? Cewek itu musuh bebuyatan aku! Aku udah kenal Agnes semenjak SMP, dia itu cewek egois!" ucapku kesal.
"Ya sudah, kita masuk yuk ke kelas! Lupakan saja kejadian tadi." ucap Khanza menenangkanku dan merangkul.
Saat masuk ke dalam kelas. Aku terbelalak kaget ketika melihat ada Pak Budi yang tak lain guru BK. Lantas aku dan Khanza langsung menghampiri dan menyalami guru tersebut. Kemudian Khanza di suruh duduk oleh Pak Budi sementara Aku disuruh ikut dengannya ke ruangan BK bersama Agnes. Sungguh Aku sangat kesal karena harus berhadapam dengan guru BK yang sangat killer itu.
***
Azalea dan Agnes langsung duduk berhadapan dengan Pak Budi di ruangannya. Mereka sungguh kesal setelah tahu kalau Herry yang melaporkan kejadian tadi di toilet.
"Kalian udah dewasa! Ngapain ribut-ribut? Sekarang kalian saling minta maaf!" titah Pak Budi. Azalea langsung mengulurkan tangannya malas ke arah Agnes. Sebenarnya dia malas meminta maaf duluan, karena tidak mau terlalu lama berada di ruangan ini, Azalea meminta maaf duluan. Agnes pun langsung menerima uluran tangan Azalea dengan sangat terpaksa. Saat mereka berdiri ingin beranjak pergi. Pak Budi tertegun melihat dua muridnya memakai rok pendek. Dia baru menyadarinya. Lantas dia menyuruh Agnes dan Azalea duduk kembali.
"Azalea, Kamu itu murid berprestasi! Kenapa gaya kamu berpakaian ke sekolah tidak wajar? Rok yang kamu pakai itu tidak pantas. Seharusnya kamu memberikan contoh yang baik. Kalau kamu selalu memakai rok di atas lutut, tidak segan-segan bapak panggil orang tua kamu," ucap Pak Budi dengan mata tajamnya.
"Iya pak, paham!" sahut Azalea.
"Dan buat kamu Agnes! Kamu juga gak jauh beda sama Azalea! Rok kamu malah lebih pendek dari Azalea, mau jadi apa kamu? Rambut diwarnai! Rok pendek! Benar-benar gak disiplin kamu Agnes!" tegas guru BK itu.
"Sebagai hukumannya, kalian harus hormat ke bendera sampai bel istirahat!"
Agnes dan Azalea pun melakukan hukumannya berdiri sambil hormat ke bendera di lapangan upacara. Keringatnya bercucuran di wajah cantik mereka, karena cuaca hari ini sangat panas. Apalagi wajah Azalea memerah seperti kepiting rebus, Azalea memang tidak tahan berlama-lama di bawah terik matahari. Wajahnya pasti akan memerah. Sementara Agnes, gadis itu gelisah karena make-up-nya luntur.
"Gila! Cuacanya panas banget! Bete deh make-up gue jadi luntur!" racau Agnes.
Azalea tidak menggubrisnya, dia hanya diam takut ketahuan kalau dia mengobrol sama Pak Budi, karena guru BK itu sedang memantau mereka. Sebenarnya perasaannya sama seperti Agnes, dia juga enggan berdiri di bawah terik matahari yang cukup panas itu.
"AZALEA! AGNES! Berdiri yang tegap! Jangan menunduk!" ucap guru BK itu. Lantas mereka langsung berdiri tegap.
Dimas yang keluar dari toilet bersama Andre. Langkahya terhenti saat melihat Azalea dan Agnes dihukum berdiri di lapangan upacara sambil hormat kepada bendera oleh Pak Budi.
"Yaelah bro! Ngapain berhenti sih? Kan kata Pak Mulyadi harus cepat masuk! Nanti Pak Mul marah baru tau rasa lho," racau Andre.
"Ck! Cais gue lagi dihukum tuh sama Pak Bontot! Kasihan gue liatnya," ucap Dimas sambil menjitak kepala Andre.
"Cais? Emang ada yang namanya cais? Terus pak Bontot siapa?" tanya Andre bingung.
"Cais itu calon istri! Tuh Azalea cais gue lagi dihukum! Kalau Pak Bontot itu Pak Budi guru BK killer," ucap Dimas sambil tertawa. Andre pun yang mendengarnya tertawa geli.
"Gue samperin cais gue ah!"ucap Dimas.
"Dimas! Belegug sia! Zona bahaya atuh euy!" ucap Andre cemas.
"Apanya yang zona bahaya?" tanya seseorang menghampiri Andre.
"Eh Pak Mul. Eng-enggak Pak." jawab Andre sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Andre you come back to class! I akan ke sana!" titah Pak Mul dengan suara meninggi. Andre langsung pergi meninggalkan Dimas dan masuk ke dalam kelasnya.
***
Dimas dengan langkah percaya diri langsung menghampiri Azalea, tidak menghiraukan perkataan Andre.
"Ekhem ... Lea! kasihan banget sih, lo pasti haus ya?" ucap Dimas. Azalea hanya diam, dia tetap fokus hormat kepada bendera.
"Gue haus, Dim! Beliin gue minum dong!" ucap Agnes.
"Haha ... Lea! Muka lo lucu, kayak kepiting rebus!" ledek Dimas membuat Azalea kesal.
"Berisik lo!" ucap Azalea kesal.
Tiba-tiba Pak Budi berdehem cukup keras di belakang Dimas dan menghampirinya.
"Eh ... Pak Bontot!" ucap Dimas dengan wajah tak berdosa menatap Pak Budi. Sementara Pak Budi menatap tajam kepada Dimas. Kemudian menjewer telinga Dimas. Sehingga membuat Dimas meringis kesakitan.
"Aww ... Lepasin pak, sakit!" Pak Budi langsung melepaskan tangannya dan Dimas langsung memegang telinganya yang memerah itu.
"Pelajaran siapa kamu? Cepat kembali ke kelas!"
"Pak kumis baplang kembaran Bapak." ucap Dimas membuat Pak Budi bingung.
"Siapa?"
"Pak Mulyadi,"
Tiba-tiba Pak Mulyadi datang menjewer telinga Dimas.
"You bilang what tadi? Who kumis baplang?"
"Eh ... Pak Mul. Lepasin dulu pak, nanti saya kasih tau siapa kumis baplang itu,"
Pak Mulyadi langsung menurunkan tangannya tidak menjewer Dimas lagi.
"Nih ya pak, Dimas punya nama panggilan sayang buat Pak Mul sama Pak Budi. Kalau Pak Bontot panggilan buat Pak Budi dan Pak kumis baplang buat Pak Mul, bagus bukan?" ucap Dimas sambil tertawa. Sementara Pak Mul dan Pak Budi wajahnya mulai memerah dan menatap tajam ke arah Dimas.
"DIMAS! Tidak sopan kamu! Kembali ke kelas atau saya hukum!" ucap Pak Budi memperlihatkan mata tajamnya.
"You Dimas! You tidak sopan! Come back to class! Atau I hukum di sini!" kata Pak Mulyadi sambil berkacak pinggang. Dimas langsung berlari dan memasuki kelasnya. Sementara Agnes dan Azalea mereka menahan tawanya. Tidak berselang lama, bel istirahat berbunyi. Hukuman Azalea dan Agnes telah selesai. Mereka dipersilakan untuk kembali ke kelasnya.
***
Setibanya di kelas, Agnes langsung menyindirku hingga membuatku kesal.
"Murid berprestasi kok gitu ya kelakuannya? Kayaknya mau plagiatin gue deh biar bisa famous di sekolah ini, bener gak guys?"
"Bener banget tuh! Sok cantik! Cantikan juga Agnes!" ucap Angel membela Agnes.
"Heh Agnes, gue gak pernah plagiatin lo! Ck! Gak banget! Lagian lo juga pake rok di atas lutut malahan lebih pendek dari gue. Terus lo famous karena apa hah? Karena gaya lo yang maksimal atau followers sosmed lo yang banyak? Cuma gitu doang? Haha ... Kasihan ya mendingan gue famous karena prestasi gue dan kalau penampilan gue seperti ini, itu bukan plagiatin lo dan itu bukan urusan lo! Dan gue belum nyaman aja pakai rok panjang. You know my name but not my story life!" tegasku.
"Heh udah deh jangan pada ribut! Nanti kalian dipanggil ke ruang BK lagi baru tau rasa! Udah Lea, cepat duduk!" lanjut Khanza. Aku pun menuruti titah Khanza untuk duduk. Sementara Agnes dan teman-temannya langsung pergi ke kantin. Khanza menyodorkan sebotol air mineral kepadaku. Lantas Aku langsung menerimanya dan meminumnya.
"Thanks ya, Khanza." ucapku.
"Sama-sama, Lea. Oh ya Lea, kamu pasti dihukum karena rok pendek kamu itu kan?" tanya Khanza. Aku pun menggangguk.
"Gimana? Enak gak dihukumnya?"
"Ck! Gak enak lah, mana cuacanya panas banget! Sampai-sampai muka aku memerah,"
"Panasan mana sama api neraka?" tanya Khanza. Kontan membuatku terdiam, sebenarnya aku tahu jawabannya tapi aku enggan menjawabnya.
"Jelas panas api neraka Lea! Masih beruntung kamu memakai rok pendek di sekolah dihukum hanya merasakan panasnya terik matahari. Bukan aku menakut-nakuti tapi nanti di akhirat, hukumannya lebih berat yaitu api neraka tidak sebanding dengan hukuman sekarang! Makanya Azalea tutup aurat kamu, menutup aurat itu gak perlu harus baik dulu! Karena menutup aurat itu sudah kewajiban kita sebagai perempuan! Insyaallah dengan atas izin Allah kalau penampilan kita sudah baik pasti kelakuan kita juga akan lebih baik," jelas Khanza. Aku pun bergeming. Kemudian Khanza memelukku membuatku bingung.
"Aku pengin kita hijrah bersama-sama Lea, karena aku ingin selalu bersamamu di dunia maupun akhirat kelak." kata Khanza. Aku hanya mengaminkan doa Khanza di dalam hatinya. Aku hanya mampu tersenyum kepada Khanza sementara hatiku masih diliputi rasa malu dan ragu untuk berhijrah.
***
Siang ini jadwal pelajaran olahraga kelas XI IPA 1 bersamaan dengan jadwal pelajaran XI IPS 1 akan tetapi guru yang mengajarnya berbeda. Guru olahraga XI IPA 1 menginstruksikan mereka untuk segera menuju ke arah lapangan. Ternyata anak-anak cowok XI IPS 1 juga ada di sana sedang bermain basket.
Azalea berjalan ke arah lapang basket, tiba-tiba lemparan bola basket dari Dimas hampir mengenai wajah Azalea, gadis itu langsung teriak dan untungnya Arman berlari bak pahlawan dan menangkap bola untuk menolong. Dimas segera menghampiri Azalea dan meminta maaf. Akan tetapi Azalea cuek bebek sama Dimas dan dia hanya mengucapkan terima kasih kepada Arman yang sudah menolongnya. Azalea berlalu pergi meninggalkan Dimas.
"Azalea tunggu dulu dong! Jangan ngambek, gue gak sengaja, gue minta maaf sama lo." ucap Dimas merasa bersalah.
"Lo tuh ya selalu aja bikin gue kesel tiap hari, udah deh pergi sana gue buru-buru! Oh ya, gue udah maafin lo, tapi gue minta sama lo, mulai sekarang jangan pernah deket-deket lagi sama gue!" ucap Azalea kesal. Lantas dia mengabaikan Dimas. Sementara Dimas kecewa dan dia kembali ke lapangan basket.
Tiba-tiba Khanza memanggil Azalea untuk masuk ke dalam kelasnya. Pada saat Azalea masuk kelas dan menghampiri bangkunya dia kaget karena di atas mejanya ada sekotak cokelat dan surat. Surat itu kemudian dia baca.
Dear Azalea
Sehelai surat dan cokelat dari aku mungkin gak berarti buat kamu
Tapi aku kasih cokelat ini sebagai permintaan maaf dari aku yang sangat tulus
Ibaratkan hujan di siang hari pasti akan indah apabila ada pelangi
Tapi aku bagaikan hujan di malam hari yang tidak ada pelangi yang indah karena keindahanmu
Seperti itulah perasaanku jika kamu tidak memaafkanku.
Oh ya, jangan lupa makan cokelatnya ya.
Salam Dimas.
Azalea merasa senang, karena dia tidak menyangka Dimas sepuitis itu. Lantas Khanza yang melihat raut wajah Azalea senang dia langsung mengambil surat Dimas dari tangan Azalea.
"Ciee Lea dikasih cokelat sama Dimas, minta dong Lea." ucap Khanza.
"Ih Khanza apaan sih, tumben banget cowok nyebelin itu baik sama aku, kan tadi aku udah maafin dia! Kenapa dia ngasih cokelat ya?" ucap Azalea heran.
Karena merasa bingung, Azalea langsung menemui Dimas sambil membawa sekotak cokelat itu dan berterima kasih kepadanya. Lantas Dimas juga bingung karena dirinya merasa tidak memberi sekotak cokelat buat Azalea. Lalu siapa yang memberikan sekotak cokelat itu? pikir Azalea.
"Heh cewek rese, siapa yang ngasih cokelat sama surat buat lo? Jangan geer lo! Kan tadi gue udah minta maaf langsung sama lo masa gue ngemis-ngemis sama lo lewat surat ini. Sorry, itu bukan gue!" seru Dimas.
Azalea langsung mengerecutkan bibirnya karena dia kesal. Tiba-tiba Arman datang. Arman mengaku bahwa dirinya yang memberi sekotak cokelat itu, sehingga membuat Azalea dan Dimas kaget.
"Azalea afwan sebelumnya, sebenarnya cokelat sama surat itu dari aku, soalnya aku mau kamu memaafkan Dimas." jelas Arman.
"Heh Man, apa-apaan sih bikin gue malu aja, lagian si cewek rese ini udah maafin gue langsung tadi, lagian ya gue kan cowok gentle, jadi harus secara langsung minta maafnya!" lanjut Dimas.
Azalea bener-bener dibuat kesal sama Arman dan Dimas, dia langsung mengembalikan surat dan cokelatnya kepada Arman dan masuk kelas.
***
Malam pun tiba dengan hujan yang sangat deras tidak nampak bintang-bintang yang indah bersinar di langit seakan-akan langit kesepian dan menangis seperti perasaan Azalea. Gadis itu sedang bersedih karena dirinya merasa dibohongi oleh Arman tadi di sekolah. Bukan hanya itu, tapi dia merasa malu dengan ucapan Khanza tentang menutup aurat. Lantas Azalea langsung membuka lemarinya, mengambil kerudung yang pernah dibelikan ibunya yang sama sekali belum dia pakai. Kemudian Azalea menatap pantulan dirinya di cermin sambil memakai kerudung itu.
"Azalea, lo cantik pakai hijab ini! Kenapa lo belum siap pakai ini? Argghh ... Kapan lo siap pakai ini?" ucap dirinya sendiri.
Air matanya pun jatuh di kedua pipinya. Dia langsung membuka kerudung tersebut dan melemparnya asal. Hati kecilnya ingin berhijrah namun ego menguasai dirinya, dia takut setelah dia berubah, orang-orang akan mencelanya dan dia belum siap.
Ibunya melihat Azalea memakaikan kerudung di ambang pintu, dia sangat senang. Dia berharap semoga Allah segera mengetuk pintu hati Azalea untuk segera berhijrah di jalan-Nya. 'Ibu yakin nak, cepat atau lambat kamu akan memakai hijab itu dan kamu akan menjadi wanita istiqomah yang mana bidadari surga akan iri melihatmu.' ucap ibunya dalam hati.