Bab 7 : Anniversary Sekolah

1572 Words
Pagi ini aku sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah. Bagaimana tidak? Hari ini acara anniversary sekolah yang ditunggu-tunggu semua murid. Tentu sangat mengasyikan selain freeclass mereka dapat bersenang-senang melihat penampilan pentas seni dalam acara itu. Apalgi melihat Arman membaca Al-quran tentu membuatku semakin penasaran.           Tepat pukul 08.00 WIB acara dimulai. Pembawa acara pun membacakan susunan acara. Aku bersama Khanza duduk di kursi barisan ke-dua. Aku tidak sabar ingin melihat penampilan dari Arman yang akan membacakan ayat suci Alquran sebagai pembukaan. Suaranya sangat merdu dan membuat hatiku tenang. 'Ternyata Arman ngajinya bagus juga ya? benar kata Khanza.' ucapku dalam hati. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan kepala sekolah, ketua komite sekolah, wakabid kesiswaan dan ketua OSIS, dan acara inti pun dimulai yaitu memotong bolu dan nasi tumpeng oleh kepala sekolah serta pelepasan balon yang disambut meriah oleh semua murid. Khanza langsung mengabadikan moment pelepasan balon tersebut di handphone-nya lalu memotret balon yang sudah terbang ke angkasa dengan indah. Aku sangat takjub melihatnya.            Selesai acara inti. Acara pentas seni pun dimulai. Mulai dari penampilan puisi, nyanyi solo, stand-up comedy, drama musikal dan lain-lain hingga tiba saatnya penampilan terakhir yaitu Dimas Band. Sontak semua murid cewek bersorak ria dan heboh terkecuali aku. Menurutku Dimas hanya cowok biasa dan menyebalkan, tidak lebih.  ***          Dimas bersama anggota band-nya mulai naik ke atas panggung, dia melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri, dengan wajah cool sehingga membuat hati para cewek luluh. Cowok itu langsung memegang sebuah gitar, lantas sekarang dia sudah berdiri di belakang stand mic. "Ekhem," Dimas berdehem membuat semua para cewek tidak sabar ingin mendengarkan Dimas bernyanyi. "Sebelum gue mulai bernyanyi, gue ingin menyampaikan bahwa lagu yang akan gue nyanyikan ini khusus buat seseorang yang spesial di mata gue, meskipun dia rese tapi dia lucu dan beda dari yang lain. Teruntuk lo yang spesial di mata gue, lagu yang akan gue nyanyikan berjudul Surat Cinta Untuk Starla." ucap Dimas sambil tersenyum. 'Untuk Azalea.' lanjut Dimas di dalam hatinya. Para cewek yang mendengar ucapan Dimas barusan mereka sangat penasaran dengan seseorang yang dimaksud Dimas tersebut. Bahkan dengan PD nya ada yang beranggapan bahwa Dimas bernyanyi untuknya sontak membuat cewek yang lain tidak terima. Azalea hanya duduk santai, dia hanya diam tidak menanggapi celotehan para cewek penggemar Dimas. Menurutnya itu lebay. Dan dia sama sekali tidak merasakan bahwa lagu yang akan Dimas nyanyikan untuknya. Dimas pun langsung menyanyikan lagu untuk Azalea itu sambil memainkan gitarnya dan matanya menatap intens ke arah Azalea yang sedang duduk melihat penampilannya. Ya! Azalea memang sedang melihat penampilan Dimas, meskipun dirinya ingin segera pulang tapi dia terpaksa sudah berjanji kepada Khanza akan melihat penampilan Dimas. Kutuliskan kenangan tentang Caraku menemukan dirimu Tentang apa yang membuatku mudah Berikan hatiku padamu Takkan habis sejuta lagu Untuk menceritakan cantikmu Kan teramat panjang puisi Tuk menyuratkan cinta ini Telah habis sudah cinta ini Tak lagi tersisa untuk dunia Karena telah ku habiskan Sisa cintaku hanya untukmu.. Selesai sudah Dimas menyanyi kemudian para cewek bertepuk tangan meriah. Dimas pun turun ke bawah dan menghampiri Azalea, sehingga membuat Agnes yang melihatnya tidak suka. Dia pun akan memberikan perhitungan kepada Azalea. "Gimana Lea, lo suka gak sama lagunya?" tanya Dimas kepada Azalea sambil tersenyum. Khanza yang berada di samping Azalea melihat senyuman dari Dimas barusan membuatnya meleleh, karena senyumannya sungguh manis dan itu hanya untuk diberikan kepada Azalea. "Senyumanmu manis Dimas," ucap Khanza sambil menatap Dimas. Azalea hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu. Sementara Dimas kembali tersenyum. "Gimana Lea, lo suka kan sama lagu yang gue nyanyikan?" tanya Dimas lagi sehingga membuat Azalea bingung. "Memangnya kenapa kalau gue suka sama lagunya? Terus kalau gue gak suka kenapa juga?" Azalea balik bertanya. Dimas canggung untuk menjawab kalau sebenarnya lagu yang dia nyanyikan mewakili perasaannya kepada Azalea. "Lo rese amat sih? Apa susahnya tinggal jawab iya atau tidak!" ucap Dimas membuat Azalea tertawa. Dimas pun mengangkat kedua alisnya, "Kok lo ketawa?" lanjut Dimas. "Hahaha ... gue suka sama lagunya kalau yang nyanyinya penyanyi asli, tapi kalau penyanyinya kayak lo gue yang ada gak mau denger!" "Sebenarnya lagu itu gue nyanyikan buat..." ucap Dimas sambil menggantungkan kalimatnya. "Khanza!" potong Azalea cepat. "Aaa ... Dimas makasih!" ucap Khanza senang. Azalea hanya tertawa melihat wajah Dimas yang kesal itu. "Dasar cewek rese yang gak peka!" ucap Dimas kesal dan berlalu pergi meninggalkan Azalea. Sementara Azalea tertawa melihat ekspresi Dimas barusan. Sungguh konyol menurut Azalea. ***              Dimas mengacak rambutnya frustasi. Kini dia berada di ruang band bersama Andre. Andre yang melihat temannya begitu langsung mengernyitkan dahinya. "Arrgghh ... percuma gue nyanyi lagu itu! Yang dinyanyiin gak peka-peka!" racau Dimas. "Emang lo nyanyi lagu tadi buat siapa Dim?" tanya Andre. "Ya buat si Azalea lah," "Sing sabar wae ya mblo, hirup mah perih!" ledek Andre dengan gelak tawanya. Lantas Dimas menjitak kepalanya, "Aww ... sakit Onta! Eh btw si Azalea kalau lagi senyum bener-bener cantik ya kayak bidadari turun dari kayangan, pantas saja cowok-cowok banyak yang suka termasuk gue!" ucap Andre sambil memasangkan wajah tak berdosa sehingga mendapat jitakan kepala dari Dimas lagi. "Eh Markonah lo mau nikung gue? Gue gak ikhlas kalau lo rebut Azalea dari gue! Sampai kapanpun gue akan menunggu Azalea sampai jadi milik gue!" "Wuiihhh santai bro. Gue bercanda! Gue kan temen lo yang setia gak ada yang namanya tikung-menikung teman dalam rumus hidup gue terkecuali kalau di jalanan baru gue ahlinya tikung-menikung!" "Gue pegang omongan lo barusan! Awas kalau sampai itu terjadi!" "Siaapp bos!" Setelah berbasa-basi dengan Andre, Dimas keluar dari ruangan band. Saat melewati koridor sekolah, tepatnya di dekat tangga kelas XI IPA 1 Dimas mendengar keributan, kemudian ia langsung menghampiri keributan tersebut karena ia mengenali suara yang sedang beradu mulut itu. Dan benar saja setelah Dimas menghampirinya ternyata kedua gadis sedang beradu mulut yang tak lain Azalea dan Agnes. ***             Aku bersama Khanza hendak ke kelasnya untuk mengambil tas karena mau pulang. Setelah menaiki anak tangga dan hendak masuk ke kelas, tiba-tiba Agnes bersama Angel dan Lusi menghampiriku dan Khanza. "Heh cewek munafik! Gue peringatin lo, jangan pernah lo deket-deket sama Dimas! Dimas cuma milik gue!" "Apa lo bilang? Munafik? Yang munafik gue apa lo? Jelas-jelas lo yang munafik! Ckckck! Apa lo lupa dulu lo udah ngerebut pacar gue?" balasku dengan sinis. Khanza hanya diam sambil memegangi pundakku. "Ck! Jadi lo belum move on? Duh ... Kasihan banget guys!" ucap Agnes sambil tertawa. Aku tidak menanggapinya, aku hendak masuk ke kelas namun pergelangan tanganku dipegang oleh Agnes. "Lepasin tangan gue!" bentakku. Kemudian Agnes melepaskan tanganku. "Mau lo apa sih?" tanyaku dengan penuh emosi. "Gue mau lo jauh-jauh dari Dimas! Dan jangan pernah deketin Dimas!" ucap Agnes sambil mendorong tubuhku. Aku hampir terjatuh kalau saja Dimas tidak menahan tubuhku. Kemudian Aku langsung melepaskan tangan Dimas yang memegangi tubuhku. "Heh Agnes! Harus berapa kali sih gue bilang? Sampai kapan pun gue gak akan suka sama lo! Dan gue gak akan pernah jauh-jauh dari Azalea!" kata Dimas. Aku yang mendengar perkataan Dimas barusan langsung menatap tajam kepada Dimas. "Dimas, kok lo gitu sih sama gue?" "Udah jangan banyak tanya lo! Sekarang lo pergi! Dan jangan ganggu Azalea lagi. Kalau lo sampai dorong tubuh Azalea kayak tadi, gue akan laporin lo ke guru BK!" Agnes langsung menghentakkan Kakinya kesal dan menatap tajam kepadaku. Aku yang melihat muka Agnes kesal hanya tersenyum senang. Kemudian Agnes dan teman-temannya pergi meninggalkan kami bertiga. "Aaa ... Dimas kamu keren deh udah bela Azalea tadi." ucap Khanza. "Ekhem ... yang dibela gak mau ngucapin terima kasih atau apa gitu sama gue?" ucap Dimas sambil menatapku. "Tau ih Lea! Buruan gih bilang makasih sama Dimas!" ucap Khanza sambil menyenggol lenganku.. "Ya udah iya! Thanks cowok nyebelin!" "Sama-sama cewek rese." ucap Dimas dengan lembut. Aku yang mendengar ucapan Dimas dengan lembut pun bergidik geli, kemudian aku langsung menarik tangan Khanza untuk masuk ke kelas mengambil tas.  *** Sepulangnya sekolah, Aku dan Khanza tidak langsung pulang ke rumah. Akan tetapi kami mampir ke cafe yang tidak jauh dari sekolah kami. Beberapa menit kemudian pesananku dan Khanza pun datang. Kami langsung menyantap makanan tersebut. Mataku melihat Arman dan Dimas sedang berada di cafe yang sama dan satu meja. Aku pun tersedak. Lantas Khanza pun menyodorkan minuman kepadaku. "Lea kamu kenapa sih? Kalau makan pelan-pelan nelennya!" ucap Khanza. "Khanza, i--itu di belakang kamu!" "Ih Azalea kesel deh! Jangan nakut-nakutin aku! Cepetan bilang ada apa?" "Di belakang kamu di meja sebelah kiri itu ada Arman dan Dimas!" ucapku. Lantas Khanza membalikkan tubuhnya. "Aaaaa .... Seneng deh mereka ada di sini! Kita samperin yuk!" "Gak ah!" "Ayolah Lea! Ayok!" Khanza langsung menarik paksa tanganku, mau tidak mau aku pun menuruti kemauan Khanza untuk menghampiri Arman dan Dimas. "Hai Dimas, Arman! Boleh kita gabung?" ucap Khanza. "Oh tentu boleh dong!" ucap Dimas tersenyum ke arahku. Aku hanya berdecih kesal. Kemudian Khanza dan Aku pun ikut gabung dengan mereka. "Eum ... Arman gue mau nanya kok lo bisa bareng cowok nyebelin si? Emang lo ada hubungan apa sama Dimas?" tanyaku kepada Arman. "Kepo lo!" jawab Dimas. "Heh cowok nyebelin, gue nanya Arman ya bukan sama lo!" "Eum... afwan Azalea. Maksud cowok nyebelin itu Dimas?" Aku pun mengangguk dan tersenyum senang karena pertama kalinya Arman menyebut namaku. "Oh Dimas ... Dia itu sepupu aku! Kebetulan mobil aku lagi di bengkel terus Dimas mengajak aku untuk pulang bareng." jelas Arman. Aku hanya tersenyum senang karena Arman tidak cuek lagi kepadaku. "Oh saudara sepupu ya Man? tapi beda banget ya kelakuannya sama Dimas, Dimas mah cowok nyebelin!" ucapku terkekeh sambil meledek Dimas. Arman dan Khanza pun ikut tertawa sedangkan Dimas menatap kesal kepadaku. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD