Bab 6 : Move On!

1646 Words
Move on yang paling baik yaitu mendekatkan diri kita kepada sang pemilik hati kita. Cintailah segala sesuatu atas dasar cinta karena Allah dan berharaplah hanya kepada Allah. *****            Aku berangkat sekolah seperti biasa. Saat aku berjalan menyusuri koridor kelas. Aku bertemu dengan Arman. Arman menundukkan pandangannya sementara Aku menatap ke arahnya sambil tersenyum. Akan tetapi dia pergi begitu saja.  'Hemm ... tuh cowok cuek banget sih, kok yang lain pada suka? Dari mananya coba? cowok cuek kayak gitu, apa bener dia yang ngajinya bagus?' ucapku kesal di dalam hati. Aku memang mengagumi cowok yang suara ngajinya bagus dan itu merupakan kriteria cowok yang dikagumi olehku. Termasuk Kak Bagas. Aku mengagumi Kak Bagas karena suara ngajinya yang bagus. Sesampainya di kelas, teman-teman cewek sedang berkumpul dalam satu meja layaknya ibu-ibu arisan. Meja yang dijadikan tempat berkumpulnya itu ialah mejaku. Lantas aku langsung menghampirinya. Ternyata mereka berkumpul di tempat duduknya itu karena sahabatku Khanza. Mereka sedang mendengarkan cerita Khanza, termasuk gosip-gosip di sekolahan ini. Tentu membuatku risi karena tempat dudukku dijadikan tempat bergosip, sedangkan aku enggan mendengarkan gosip-gosip atau membicarakan cowok-cowok ganteng di sekolahan ini. Lantas Aku langsung membubarkan mereka. "Woy, Masih pagi! Sana bubar-bubar!" usirku. "Azalea, ada gosip baru sekaligus berita bagus buat kamu," ucap Khanza "Khanza, setahu aku ya cewek berhijab itu lisannya kalem gak banyak ngomong, kok kamu doyan banget gosip ya?" "Lea! Kita itu bukan ngegosip yang enggak-enggak atau menggunjing orang lain. Kita itu bercerita tentang cowok-cowok ganteng di sekolah ini sekaligus berita-berita baru di sekolah ini," "Ya sama saja itu ngegosip Khanza! Kalau begitu percuma dong kamu pake kerudung! Mending lepas tuh kerudung,"  "Astagfirullah Lea, Memang benar kelakuanku belum baik tapi jangan salahkan kerudungku! Seenggaknya aku memakai kerudung karena sudah kewajibanku untuk menutup aurat meskipun kelakuanku sama sekali belum baik, tapi aku lagi proses berhijrah untuk menjadi lebih baik! Malahan aku kasihan sama kamu Lea, kamu cantik tapi aurat kamu itu gak mau ditutupi!"             Setelah Khanza mengatakan itu, Aku hanya diam begitu pun dengan Khanza. Kami pun saling diam mencerna perkataan masing-masing. Aku merasa bersalah telah berkata seperti itu kepada Khanza, aku merasa tidak enak. Akhirnya aku meminta maaf terlebih dahulu kepada Khanza. "Khanza, maaf..." ucapku. Khanza menoleh ke arahku. "Udah aku maafin kok Lea, wajar kok kamu berkata seperti itu karena aku belum bisa menjadi orang baik,"ucap Khanza sambil tersenyum. "Sudah jangan dibahas lagi, kamu tadi ingin memberitahuku berita bagus apa?" Aku langsung mengalihkan pembicaraan karena aku tidak mau berdebat lagi bersama Khanza, karena aku sadar aku sendiri belum bisa menjadi lebih baik. Rasanya aku tidak pantas untuk menasihati Khanza. "Oh itu ... Aku cuma mau ngasih tau kalau besok bakalan ada acara anniversary sekolah, dan kabar bagusnya itu besok Arman bakal tampil dengan melantunkan ayat suci Alquran sebagai pembuka acara. Asal kamu tahu itu langsung dipilih oleh kepsek lho, secara Arman dia sudah resmi menjadi ketua ROHIS di sini," ucap Khanza membuatku tidak percaya. "Masa sih cowok itu ngajinya bagus? Suara ngaji yang bagus itu cuma Kak Bagas!" "Arman lebih bagus daripada Kak Bagas! Lihat aja nanti. Oh iya, band-nya Dimas bakal tampil lho, pasti seru!" Pada saat aku ingin membalas ucapan Khanza, guru mata pelajaran bahasa Inggris datang. Mereka pun langsung fokus memperhatikan guru tersebut. ***             Sat jam istirahat Aku langsung menghampiri Ayla di ruang OSIS bersama Khanza untuk melihat susunan acara besok. Ayla merupakan teman sekelasku yang menjabat sebagai sekretaris OSIS. Aku langsung melihat susunan acara anniversary sekolah, karena aku tidak percaya dengan ucapan Khanza kalau Arman akan tampil melantunkan ayat suci Alquran. Setelah aku membaca susunan acaranya, ternyata Arman memang benar akan tampil besok, dan itu membuatku kaget. "Tuhkan benar apa kataku, kamu sih gak percaya! Kamu suka kan sama Arman secara dia jago ngaji seperti Kak Bagas? Hayoloh ngaku!" "Apaan sih Khanza, ya aku cuma kaget aja gitu ternyata murid baru itu jago ngaji juga," "Bilang aja kali kalau kamu suka sama Arman," ucap Khanza sambil mencolek hidungku. Aku bergeming. "Wah Ay! Pipi Azalea merah tuh kayaknya ada yang diam-diam suka nih," ledek Khanza. "Cieee... Lea!" lanjut Ayla dan Khanza bersamaan. Spontan membuatku malu dan mencubit lengan mereka. 'Apa aku menyukainya? Ah masa iya dia termasuk cowok kriteria aku? Cowok cuek dan dingin kayak gitu. Aku suka? Duh... Azalea ngapain mikirin cowok baru itu sih, udah ah lihat aja besok!' gumamku di dalam hati.  Tiba- Tiba Khanza mengagetkanku dan dia menunjuk tangannya ke arah Arman. "Lea!  Itu Arman! Aaa ... Ganteng sekali pangeranku," ucap Khanza sambil jingkrak-jingkrak. "Mana? Yuk kita samperin Arman!" ajakku membuat Ayla dan Khanza saling menatap Azalea bingung. "Eh, tunggu dulu, kok kamu mau nyamperin dia sih?  Jangan-jangan..." "Aku kepo sama Arman, aku mau selidiki dia!" ucapku keceplosan. "Cieee ... Yuk atuh berangkat!!" Setelah dari ruang OSIS, Aku bersama Khanza berlari mengejar Arman. Namun langkah kami terhenti saat Dimas menghalangi langkahku. "Heh cowok nyebelin! Minggir gue mau lewat!" ucapku kesal. "Lo harus lihat penampilan gue besok!" "Memangnya harus ya?" "Ya harus dong!" "Ogah!" "Harus!" Khanza pun memisahkankanku dan Dimas yang berantem. "Azalea, Dimas stop!! Dimas ih kamu mah, tuh kan pangeran aku hilang , Kesel deh!" ucap Khanza sambil mencubit tangan Dimas. Dimas pun meringis kesakitan. "Pangeran?  Siapa? Ngapain lo nyariin pangeran? Kan pangerannya ada di sini, ya gak Lea?" ucap Dimas dengan mengedipkan matanya ke arahku membuatku berdecih kesal. "Huh ... Dimas PD banget deh!" jawab Khanza. Aku mengabaikan mereka dan langsung pergi ke kelas. "Ih Azalea tunggu!  Dimas kamu sih, tuh kan Lea-nya ngambek!" ***       Saat jam pelajaran terakhir, aku memilih pergi ke taman untuk membaca novel favorite-ku. Karena guru mata pelajaran terakhir tidak bisa masuk, maka guru tersebut hanya memberi tugas. Sebelum pergi ke taman, Aku mengerjakan tugasnya terlebih dahulu, setelah selesai, barulah aku pergi ke taman. Kebiasaanku membaca novel harus di tempat sepi dan pilihannya ialah taman, karena biasanya saat jam pelajaran terakhir taman tidak begitu ramai. Sesampainya di taman, aku akan duduk di tempat biasa yaitu kursi panjang di bawah pohon rindang. Akan tetapi tempat duduknya itu sudah ditempati seorang perempuan cantik yang berpakaian syar'i. Tentu membuatku penasaran. Lantas aku pun menghampirinya, kemudian langsung duduk di samping perempuan itu yang sedang membaca novel juga. Pempuan itu pun menoleh kepadaku. "Kamu Azalea ya?" tanya perempuan itu. "Eh, kok kamu tahu nama aku?" "Aku tau lah, secara kamu banyak disukai cowok-cowok di sini karena kamu cantik,"  "Emh ... Gak kok aku biasa aja. Cantik itu kan relatif," "Ya sudah Azalea saya pergi ke kelas dulu ya," ucap perempuan itu sambil tersenyum. Lantas ia beranjak pergi. "Eh tunggu dulu nama kamu siapa?" perempuan itu tidak mendengar ucapanku.              Tidak berselang lama Khanza datang menghampiri dan duduk di sampingku. Aku menghentikan bacaan novel-ku dan langsung menanyakan perempuan syar'i itu kepada Khanza secara Khanza tahu nama-nama cewek cantik atau cowok ganteng di sekolahan ini, bisa jadi perempuan itu termasuk ke dalam kategori tersebut. "Khanza cewek yang tadi siapa ya?" "Cewek yang mana?" "Emh ... Yang itu tuh yang lagi berdiri dan yang memakai kerudung syar'i," ucapku sambil menunjukkan telunjuknya ke arah perempuan tadi. "Oh itu Kak Nadia kelas XII IPA 1 pacarnya Kak Bagas Lea!" ucap Khanza keceplosan ia pun segera menutup mulutnya. "Jadi Kak Bagas punya pacar? Kenapa kamu tidak memberitahuku Khanza!" "Ma--maaf ya Lea aku baru bilang sekarang kalau Kak Bagas udah punya pacar. Sebenarnya Kak Bagas pacaran sama Kak Nadia itu udah lama waktu Kak Bagas kelas XII kemarin dan Kak Nadia kelas XI, maaf ya soalnya aku takut kamu kecewa Lea." "Gak apa-apa kok Khanza. Tapi kenapa mereka pacaran? Bukannya Kak Bagas sudah paham ya sama agama kalau pacaran itu dilarang?" "Kalau soal mereka pacaran sih gak tau Lea, itu urusan mereka sama Allah. Aku hanya sekedar tau dan gak mau ikut campur," Setelah mendengar pernyataan dari Khanza bahwa perempuan syar'i itu berpacaran dengan Bagas cowok yang selama ini aku kagumi. Aku hanya bisa menahan rasa kecewa dan rasa sakit karena cinta tidak terbalaskan. Dan aku akan benar-benar melupakan Kak Bagas. "Khanza, aku mau tanya sama kamu tapi ini soal perbedaan Kak Bagas dengan Arman," Aku menatap wajah Khanza dengan serius."Aku mau tanya kenapa Arman kalau ketemu aku dia suka menundukkan pandangannya sedangkan Kak Bagas dia selalu menatapku! Sebenarnya cowok yang benar-benar baik itu seperti apa?" lanjutku. "Cowok yang baik itu seperti Arman. Jelas dia menudukkan pandangannya karena dia tidak ingin zina mata melihat seseorang yang bukan mahramnya. Karena sebaik-baiknya cowok yaitu yang bisa menundukkan pandangannya! Kalau Kak Bagas dia hanya alim di luar saja tapi kelakuan dia belum baik," jelas Khanza sontak membuatku kaget. "Terus apa benar cowok baik akan berjodoh dengan cewek baik?" "Benarlah Lea, cowok baik akan dipasangkan dengan cewek baik dan sebaliknya cowok tidak baik akan dipasangkan dengan cewek tidak baik. Maka kita harus memperbaiki diri kita supaya kelak kita akan berjodoh dengan cowok baik tersebut," ucapan Khanza membuatku termenung. "Lea! Saran aku kalau kamu ingin berjodoh dengan orang baik. Maka hijrahlah dan ubah semua kelakuan kamu yang tidak baik itu, karena jodoh itu cerminan diri kamu sendiri!" "Be--benarkah?" ucapku tidak percaya. "Tentu benar!" jawab Khanza yakin. Hatiku diliputi rasa penasaran, aku ngin menanyakan semuanya kepada Khanza perihal bagaimana aku harus memulai berhijrah menjadi lebih baik, akan tetapi bel sekolah berbunyi. Sehingga aku mengurungkan niatku untuk bertanya karena Khanza sudah mengajaknya untuk pulang. ***            Malam ini hujan turun dengan derasnya. Aku sedang menatap air hujan di balkon kamar sambil menangis. Aku menangis karena aku merasakan kecewa kepada Kak Bagas dan tentunya aku kecewa kepada diriku sendiri. Aku selalu mengharapkan cowok yang lebih baik dari diriku sementara aku sendiri enggan untuk menjadi lebih baik. "Kenapa Kak Bagas bohongin aku kalau Kakak punya pacar? Kenapa?" racauku disela isak tangis. Hatiku benar-benar sakit, aku merasa kecewa karena aku telah mencintai orang lain yang sudah punya pacar. Kemudian Aku menarik napas dalam-dalam dan menghapus air mata. "Oke Azalea tenang, lo gak boleh nangis! Sekarang lo harus move on! Lupakan Bagas! Dia gak baik buat lo! Sekarang lo harus deketin Arman supaya lo bisa berubah menjadi lebih baik!" ucapku sambil tersenyum senang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD