Waktu bergulir dengan sangat cepat, kini kenaikan kelas pun tiba. Sekarang aku menjadi siswi kelas XI IPA 1 dan satu kelas lagi bersama Khanza. Aku merasakan sesuatu yang kurang saat masuk gerbang sekolah. Aku merasakan kehilangan seseorang yang tak lain yaitu Kak Bagas, yang dulu selalu menyapaku, kini tidak ada. Biasanya Kak Bagas selalu duduk di kursi panjang depan kelasku waktu kelas X membaca Alquran di sana, akan tetapi sekarang tidak ada. Setelah melewati kelasku waktu kelas X. Aku berjalan menaiki anak tangga. Karena kelas XI IPA 1 berada di lantai dua. Aku pun langsung masuk.
"Ih kesel! Lea kamu sih datangnya telat, jadinya kita kebagian bangkunya nggak di depan deh tapi di meja kedua!" ucap Khanza.
"Ya sudah, gak apa-apa Khanza. Yang terpenting gak kebagian tempat duduk di belakang, ya kan?" Aku langsung menaruh tasku di bangku itu kemudian duduk, Khanza pun ikut duduk.
"Lea! Tumben masih pagi, muka kamu gak semangat gitu! Keliatan murung tau, memangnya kenapa?" tanya Khanza penasaran.
"Gak apa-apa kok Khanza,"
Tiba-tiba teman sekelasku berteriak di dekat jendela kelas. Khanza yang mempunyai penyakit kepo tingkat akut itu, ikut beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri teman-teman kelas yang sedang berdiri mematung di dekat jendela tanpa mengajakku. Namun tidak masalah bagiku arena aku tidak ingin tahu siapa orang yang sedang mereka lihat.
***
Pagi ini Dimas pergi ke sekolah bersama saudara sepupunya yaitu Arman. Arman akan menjadi murid baru di sekolah ini, tepatnya menjadi murid baru di kelas XI IPS 1 bersama Dimas. Dimas sangat senang karena saudara sepupunya itu satu kelas dengannya. Sudah tidak aneh bagi Dimas, kalau ia lewat pasti banyak para cewek yang melihatnya. Dimas senang diperhatikan oleh banyak cewek, tapi tidak dengan Arman dia risi dengan tatapan genit dari para cewek.
"Dim, memangnya penampilanku ada yang aneh ya? Kok para akhwat lihatin kita?" ucap Arman pelan sambil berjalan di samping Dimas.
"Akhwat? Siapa Man? Memangnya lo kenal sama si akhwat?"
"Dim-dim masa kamu tidak tahu?" ucap Arman terkekeh. Dimas hanya menggaruk dagunya yang tidak gatal.
"Akhwat itu perempuan," lanjut Arman.
"Oh begitu. Menurut gue sih penampilan lo gak aneh! Lo sama kerennya kayak gue. Wajarlah anak-anak cewek pada lihatin kayak gitu soalnya gue dan lo sebelas dua belas lah gantengnya," ucap Dimas dengan PD nya. Arman hanya menggelengkan kepalanya.
Saat melewati kelas XI IPA 1 yakni kelas Azalea. Dimas memperlambat jalannya, dia mulai menengok ke arah kelas Azalea. Akan tetapi dia tidak melihat Azalea, yang ia lihat hanya beberapa teman-temannya yang berteriak histeris dan sahabatnya yaitu Khanza. Karena kesal, Azalea tidak melihatnya. Dimas langsung menarik tangan Arman untuk mempercepat langkahnya.
Sesampainya di kelas XI IPS 1. Dimas meminta Arman memperkenalkan dirinya kepada teman-temannya. Berhubung wali kelasnya tidak dapat hadir, jadi Arman memperkenalkan dirinya sendiri. Setelah itu, Dimas menyuruh Arman untuk duduk sebangku dengannya dan menyuruh Andre teman sebangku lamanya.
"Wah parah lo Dim! Mentang-mentang ada teman baru, teman lama dilupakan," ucap Andre sambil menjitak kepala Dimas.
"Sorry bray, soalnya Arman sepupu gue layaknya adik kandung gue. Jadi gue harus menjaganya hahaha..."
"Dasar Markonah aya-aya wae," ucap Andre menggeleng-gelengkan kepalanya. "Eh Man, jangan deket-deket Dimas, dia suka LGBT!" ucap Andre terkekeh geli.
"Ck! Kampret lo! Amit-amit jabang tokay dah gue,"
Mendengar ucapan Dimas barusan Andre dan Arman pun tertawa.
"Oh ya Man! Kenalin nama gue Andre, orang terganteng di kelas ini," ucap Andre sambil mengulurkan tangannya. Arman menerima uluran tangannya
"Arman." ucap Arman.
"Ganteng dari Hongkong! Iya ganteng alias gangguan telinga!" ucap Dimas menjitak kepala Andre lagi. "Udah sana buruan lo pergi dari sini!" lanjut Dimas.
"Sungguh terlalu kau Ani!" ucap Andre menirukan nada bicara Rhoma Irama sambil memasang muka melasnya dan berlalu pergi.
Sehingga membuat Dimas dan Arman tertawa geli. Setelah Andre pindah tempat duduk. Arman langsung menanyakan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah ini kepada Dimas. Terutama ia ingin masuk ROHIS dan ingin mencalonkan sebagai ketua ROHIS.
"Man, lo serius mau ikut ROHIS?"
"Iya Dim, tadi pas aku perkenalan kata anak-anak kelas ini, ROHIS lagi mencari calon ketua ya? Aku pengen nyalonin jadi ketua Dim!"
"Emh ... kalau soal itu gue gak tau Man! Ya denger-denger sih si Afid ketua ROHIS di sini keluar, mungkin sekarang ROHIS lagi nyari ketua baru. Mending lo tanyain tuh sama si Fahri, dia juga anak ROHIS." jelas Dimas sambil menunjukkan tangannya ke arah Fahri.
"Oh ya sudah, nanti aku tanyain sama Fahri," ucap Arman.
"Man daripada lo ikut organisasi kampungan itu, mending lo ikut band aja sama gue. Secara suara ngaji lo bagus tuh pasti kalau lo nyanyi bagus juga," ujar Dimas.
"Maaf Dim, aku nggak suka menyanyi. ROHIS gak kampungan kok, malahan dengan adanya organisasi itu kita bisa mendekatkan diri kepada Allah," balas Arman.
Dimas hanya diam. Niat ingin memasukkan Arman jadi anggota Band tapi hasilnya nihil. Begitulah Arman yang sangat mencintai organisasi tersebut. Karena berkat oraganisasi itu dia bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
***
Hari ini tidak ada kegiatan belajar mengajar dan masih freeclass. Aku sedang asyik mendengarkan musik dengan memakai earphone di telinga. Aku ikut melantunkan lagu dari penyanyi favorite-ku. Tiba-tiba Khanza mengahampiriku dengan napas terengah-engah.
"Azaleaaaaa!!" teriak Khanza. Aku pun melepaskan earphone dan mendengus kesal.
"Ada apa Khanza? Kamu bikin aku kesal aja deh, lagi asyik-asyik dengerin musik juga,"
Aku kembali lagi memasangkan earphone namun dicegah oleh Khanza.
"Lea! Dengerin aku! Ada murid baru satu kelas sama Dimas, Masya Allah ganteng banget. Kamu tau gak dia mau nyalonin jadi ketua ROHIS di sini, berarti dia anak nya saleh dong, ya kan? Calon imam aku banget," racau Khanza.
Aku tidak menganggapinya. Aku langsung mengambil earphone yang berada di tangan Khanza dan memasangnya lagi sehingga membuat Khanza kesal.
"Ih kesel deh! Lea dengerin, aku belum selesai cerita! Kamu belum tahu kan nama anak saleh itu? Dia namanya Arman!"
"Khanza dengerin ya! Orang yang kelihatannya alim, saleh belum tentu dia itu kayak begitu. Siapa tau hatinya busuk!"
"Astagfirullah Azalea, gak boleh bilang begitu. Berarti kalau Arman kayak begitu, Kak Bagas juga sama dong? Secara Kak Bagas kelihatannya alim dan saleh,"
"Kenapa harus samain sama Kak Bagas? Jelas beda dong! Kak Bagas lebih alim lah daripada si--siapa namannya?"
"Arman!"
"Ya si Arman! Mau dia suara ngajinya bagus, alim, tampan, bodo amat! Aku gak peduli,"
"Awas kemakan tuh omongannya! Bisa jadi nanti kamu jatuh cinta lagi sama Arman!"
Aku tidak menanggapi perkataan Khanza. Aku asyik mendengarkan lagu-lagu favoritku hingga membuat Khanza kesal karena dicuekin. Dia pun memilih pergi.
***
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku sedang menunggu Khanza di bawah tangga kelas sambil memegangi tas Khanza. Karena handphone Khanza ketinggalan di bawah kolong meja sehingga ia harus kembali lagi ke kelasnya. Khanza memang anaknya teledor. Kemarin bukunya ketinggalan sekarang handphone. Aku sudah mengingatkan Khanza untuk selalu mengecek tasnya sebelum pulang. Dan benar saja handphone-nya ketinggalan.
Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang menabrakku. Lantas aku pun terjatuh. Sehingga buku yang berada di dalam tas Khanza berserakan, karena tas nya belum ia tutup. Lututku tidak berdarah hanya merasa sakit sedikit. Kemudian Dimas menghampiriku dan menertawakannya.
"Hahaha ... Si Lele jatuh! Sakit ya? Sini gue bantu," ledek Dimas sambil mengulurkan tangannya.
Aku tidak menerima uluran tangan Dimas. Aku bisa berdiri sendiri. Kemudian aku memalingkan mukaku dan mendengus kesal. Tiba-tiba seseorang yang menabraknya itu pun meminta maaf kepadaku.
"Afwan, ukhti ... saya tidak sengaja," ucap seseorang itu.
"Heh apa lo bilang, kunti? Lo gak sopan banget sih! Jelas-jelas udah nabrak gue sekarang malah ledek gue kunti! Gue manusia bukan kunti!" ucapku kesal kepada cowok itu. Sementara Dimas terkekeh geli.
"Afwan ukh, maksud saya bukan kunti tapi ukhti yaitu panggilan buat perempuan,"
"Whatever you say! Sekarang lo harus beresin tuh buku-buku dan masukin lagi ke dalam tas!" seruku. Kemudian cowok itu membantu membereskan buku-buku Khanza yang berserakan di lantai. Setelah itu Dimas mengajak cowok itu untuk segera pergi meninggalkanku.
"Man! Cabut yuk, nanti neng kuntinya ngamuk lagi," ucap Dimas terkekeh membuatku kesal.
"Ya sudah, ukh. Saya pamit pulang. Maaf sebelumnya udah menabrak ukhti," ucap cowok itu lagi.
Aku hanya diam tidak melihat cowok itu lagi. Terlebih aku sungguh kesal kepada Dimas yang sedari tadi meledekku. Tidak berselang lama Khanza pun datang menghampiriku.
"Lea kamu gak apa-apa, bukan? Eh, Lea yang tadi nabrak kamu itu si Arman murid baru itu lho, dia ganteng kan?"
"Apa? Oh jadi dia murid baru tadi? Baru jadi murid baru aja udah menyebalkan! Masa dia ngatain aku kunti," Khanza pun tertawa.
"Lea, dia bukan manggil kunti tapi ukhti! Telinga kamu budeg ya? Apa gagal fokus karena lihat ketampanan Arman?" tanya Khanza sehingga membuatku menaikkan kedua alisku."Dia suara ngajinya bagus lho kayak Kak Bagas! Yakin nih gak ada rasa sama Arman?" lanjut Khanza.
"Ngaco! Masa iya aku ada rasa sama dia!"
"Oh aku tahu kamu ada rasa sama Dimas ya?"
"Idih ... Sama cowok nyebelin itu? Kagak!"
"Ya udah kalau kamu gak ada rasa sama mereka berdua buat aku aja! Mereka calon-calon imam kriteria aku banget. Dimas keren, ganteng, kayaknya dia cowok romantis deh terus kalau Arman alim, kalem dan juga saleh. Aaa ... Ya Allah terima kasih sudah mempertemukanku dengan calon jodohku," ucap Khanza dengan nada bicara alay.
Aku hanya tersenyum dan mengelengkan kepala melihat kelakuan Khanza yang kalau sudah lihat cowok ganteng pasti bakalan kumat seperti teriak histeris, suka ngomong gak jelas atau caper dan kepo. Kini aku sedang menunggu angkot di pinggir jalan bersama Khanza. Sedari tadi Khanza terus-menerus memuji Arman dan Dimas. Kemudian ia berkhayal menjadi pasangan mereka. Sehingga membuat Khanza tidak sadar kalau kini angkot sudah tiba. Namun, Aku tidak menanggapi Khanza yang sedang tersenyum sambil melamun itu. Aku pun langsung menaiki angkot tanpa mengajak Khanza.
"Jadi naik kagak neng?" ucap supir angkot membuyarkan lamunan Khanza.
"Ih si bapak kesel deh! Jadi lah pak!" ucap Khanza.
"Tunggu dulu pak teman saya hilang, bapak lihat tidak teman saya yang tidak memakai kerudung, rambutnya panjang sepinggang, kulitnya putih dan cantik, bapak tahu tidak?" ucap Khanza cemas.
"Teman neng sudah naik dari tadi atuh! Malahan teman neng yang menyuruh saya nyamperin neng, tuh yang itu bukan temannya?" ucap supir angkot itu menunjuk ke arahku yang sedang duduk di dalam angkot. Setelah Khanza memasuki angkot, Aku mendapatkan omelan dari Khanza karena meninggalkannya. Aku pun tertawa karena telah berhasil membuat Khanza kesal.
"Azaleaaaaa ih kesel! Kesel! Ke---" seketika Khanza menggantungkan kalimatnya saat penumpang yang lain melihat ke arahnya. Khanza tidak peduli penumpang yang lain menertawakannya.
"Ih kesel!" lanjut supir angkot membuat suasana di dalam angkot semakin rame dengan canda tawa.