Bab 3 : Say No To Zina!

1520 Words
"Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Israa' (17) Ayat 32.)          Pagi ini Aku bersekolah seperti biasa. Aku melihat Kak Bagas sedang membaca ayat suci Alquran di tempat biasa yaitu duduk di kursi panjang depan kelasku. Aku melihat ke arah jendela kelas, ternyata Khanza sudah berada di dalam kelas. Kini aku benar-benar gerogi kalau melewati Kak Bagas. Lantas aku pun memilih untuk diam dan berdiri mematung di sebelahnya sambil mendengarkan lantunan ayat-ayat itu yang tentunya sangat menyejukkan hatiku.           'Pengen banget punya calon imam, yang suara ngajinya merdu, pinter seperti Kak Bagas. Haduh ... Lea udahlah Kak Bagas kan banyak yang suka jadi gak mungkin bisa deket.' ucapku di dalam hati, sambil memandangi Kak Bagas. "Azalea! Hei!" ucap Kak Bagas dengan suara sedikit meninggi, sontak membuatku kaget. "Eh, I--iya Kak, ada apa?" ucapku dengan nada sedikit gugup. "Kamu ngapain berdiri? Mau duduk?" ucap Kak Bagas. Dengan polosnya Aku menganggukkan kepala."Yasudah, sini duduk!" Aku pun duduk di sebelahnya. "Maaf Kak sebelumnya, kenapa Kakak baca Alquran-nya di depan kelas X IPA 1 tidak di dalam musala saja?" tanyaku.           Kak Bagas langsung menghadapkan tubuhnya ke arahku dan menatapku. Aku pun menundukkan pandangan karena aku tidak berani menatap Kak Bagas dengan tatapan yang begitu dekat meskipun ada jarak beberapa centi. "Ma--maaf Kak, a--aku tidak bermaksud mengusir Kakak, cuma di dalam musalakan lebih khusyuk bacanya." ucapku bersusah payah karena hatiku benar-benar tidak karuan karena gerogi dekat Kak Bagas. "Tidak apa-apa Azalea, memang benar di dalam musala lebih khusyuk membacanya, cuma Kakak lebih nyaman baca Alquran-nya di depan kelas kamu ini. Kelas kamu ini dulu kelas Kakak juga. Jadi Kakak sudah terbiasa baca Alquran di depan kelas ini." jelas Kak Bagas. Aku pun berkata 'Oh' seolah mengerti. "Yasudah, sebentar lagi masuk. Kakak masuk kelas ya!" ucap Kak Bagas sambil tersenyum kepadaku dan berlalu pergi. ***            Setibanya di kelas, Aku terus-terusan senyum-senyum sendiri sambil membayangkan Kak Bagas. Tiba-tiba Khanza mengagetkanku, memberitahu kalau guru mata pelajaran PAI sudah datang. "Udah! Senyum-senyum nya nanti lagi. Tuh guru PAI sudah datang!" ucap Khanza mengagetkanku. Ternyata benar guru mata pelajaran tersebut sudah datang. Guru itu sedang memperkenalkan dirinya menggunakan bahasa campuran Indonesia dan Inggris. Benar-benar konyol. Dia bernama Mulyadi dan katanya lebih sering di panggil Pak Mul. "Assalamualaikum everyone." ucap Pak Mulyadi. "Waalaikumussalam warahmatulahi wabarakatu."  jawab semua murid serempak. "Sekarang you buka halaman pertama. Materi sekarang bab one tentang zina, Do you know zina? What is zina?" tanya pak Mul. "Saya pak!"  ucapku sambil mengangkat tangan kananku. "Ya, silakan! Sebelumnya you perkenalan dulu." "Perkenalkan nama saya Azalea Khaliqa Dzahin. Menurut saya, Zina merupakan perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan atau perkawinan." "Ya Azalea, that's right! Bapak want ask kepada kalian semua. By the way, pacaran itu zina or no?" "Saya pak!" Khanza mengangkatkan tangannya. "Ya, silakan!" "Perkenalkan nama saya Khanza Azzahra. Menurut saya, pacaran juga termasuk zina pak, karena sepasang kekasih yang bukan muhrimnya secara tidak sengaja telah melakukan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan kepada bukan muhrim, misalnya pegangan tangan, berduaan di tempat sepi, saling melihat satu sama lain bukannya itu sudah termasuk zina mata dan zina tangan?" ucap Khanza.      Mendengar jawaban Khanza, Aku merasa diriku tersindir. Aku sendiri pernah pacaran semasa SMP dari kelas tujuh sampai kelas sembilan. Aku sering pegangan tangan dan berduaan di tempat sepi tanpa sepengetahuan orang tuaku. Namun hubunganku hanya berakhir tiga tahun pada saat ingin melaksanakan UN. Pacarku yang memutuskanku dengan alasan ingin fokus UN, padahal aku sangat menyayanginya dan tidak mau kehilangannya. Tidak berselang lama aku mengetahui mantan pacarku itu berselangkuh dengan teman sekelasku sedari kami pacaran dulu. Hal itu tentu membuat hatiku sakit dan kecewa, sehingga aku memutuskan untuk tidak mau berpacaran lagi. "Izin menjawab pak!" ucap seorang siswi. "Ya, silakan! Perkenalan dulu." "Perkenalkan nama saya Agnes Maira Anzhany. Menurut saya, zina itu apabila sepasang kekasih telah melewati batasannya, misalkan melakukan apa yang dilakukan seorang suami dan istri. Tapi kalau pacaran itu tidak zina menurut saya! Tinggal kitanya aja menjaga batasan dan pacaran secara positif atau secara islami, bukan begitu pak?" ucap Agnes.  "Oke, bapak akan menjelaskan apa yang dijawab Khanza dan Agnes. Jawaban Agnes memang tepat yaitu melakukan perbuatan yang melampaui batas seperti hubungan suami-istri tapi lebih tepat lagi jawaban Khanza. Bapak want to know siapa yang di sini pacaran?" tanya Pak Mulyadi. Seketika kelas pun langsung hening, dan tiba-tiba seorang gadis yang duduk di belakang mengangkat tangannya. "Saya pak! Saya Pacaran." ucap gadis itu dengan muka polosnya. "ASTAGFIRULLAH! Oh NO!  Kenapa kamu pacaran? Pacaran itu haram! Why?" ucap Pak Mul dengan menutup mukannya oleh kedua tangannya. Semua murid menertawakan Pak Mul, tapi aku salut sama siswi itu dia sudah berani jujur. Tidak seperti diriku yang tidak berani jujur, bahwa aku dulu pernah pacaran. "Karena saya gak mau kehilangan dia pak, sudah terlanjur sayang pak! Takutnya kalau putus dia malah jauhin saya." jawab siswi itu dengan nada sedih dan wajah tak berdosa. "Oh oke. You namanya siapa?" tanya Pak Mulyadi. "Saya Ayu pak!" jawab siswi itu yang bernama Ayu. "Oke, semuanya bapak akan menjelaskan kepada kalian semua. Kenapa pacaran itu haram? Seperti yang kalian tahu kalau pacaran itu adalah suatu hubungan di mana kita dekat dengan seseorang yang bukan muhrim. Dekat dalam artian seperti suami-istri. Apakah itu pantas? Apakah itu bagus? Ketahuilah, kalau itu salah." ucap Pak Mul dengan serius tidak lagi dengan guyonan. Sehingga semua murid X IPA 1 memperhatikan dan mendengarkan penjelasan Pak Mul dengan serius. "Apa kalian tahu kalau pacaran itu gerbang mendekati zina?" tanya Pak Mul. Semua murid X IPA 1 hanya mengangguk."Kalian tahu, tapi kalian tidak peduli, karena yang kalian tahu pacaran itu lebih enak dibandingkan ayat-ayat yang Allah berikan. Apa kalian sadar? Apakah kalian tahu itu?" Semua murid hanya tertunduk diam, termasuk Aku yang merasa tersindir. "Pacaran itu haram! Pacaran itu menyesatkan! Karena pacaran, apakah di hati kalian ada ruang untuk Allah dan rasulullah? Karena pacaran, apakah di hati kalian ada ruang untuk ibu dan bapak kalian? Yang ada di hati kalian hanyalah satu orang saja. Kalian tega meninggalkan semua itu demi satu orang."      Seketika semua murid X IPA 1 meneteskan air matanya, begitupun denganku. Aku benar-benar merasa malu telah melakukan pacaran. "Bahkan kalian rela menangis demi satu orang tersebut, kalian rela bermusuhan demi satu orang tersebut, dan kalian rela memutuskan tali silaturahmi demi satu orang tersebut. Kalian tidak pernah lagi bahagia karena Allah. Kalian tidak pernah lagi berkeinginan bertemu dengan Rosulullah. Kalian selalu bahagia bersama pacar kalian dan kalian selalu menghabiskan waktu bersama. Bahkan kalian berdoa kepada Allah hanya untuk hubungan kalian. Apa benar kamu begitu Ayu?"      Ayu hanya menganggukkan kepalanya dan dia merasa malu. Tidak hanya Ayu saja, murid yang lainnya juga menundukkan kepalanya. Entah mereka malu atau mereka merasa tersinggung hatinya. Sementara aku merasa bodoh telah melakukan pacaran. "Ketahuilah, kalau kita diciptakan untuk selalu taat serta mencintai Allah. Bukan dijadikan hanya untuk tempat berdoa agar hubungan kalian lancar tanpa ada masalah. Itu sebabnya Allah, mengharamkan pacaran. Tidak ada yang namanya pacaran dalam ajaran Islam. Tidak ada yang namanya pacaran itu wajib. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Isra ayat 32 yang artinya, dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." jelas Pak Mulyadi. Mereka masih memperhatikan Pak Mul.  "Ada pun Hadist Riwayat Bukhari: setiap Bani Adam mempunyai bagian dari zina, maka kedua mata pun berzina, dan zinanya adalah melalui penglihatan, dan kedua tangan berzina, zinanya adalah menyentuh. Kedua Kaki berzina, zinanya adalah melangkah menuju perzinaan. Mulut berzina, zinanya adalah mencium. Hati dengan berkeinginan dan berangan-angan. Dan kemaluanlah yang membenarkan atau menggagalkannya." "Begitu juga dengan pacaran, pacaran itu tidak ada dalam ajaran Islam! yang ada, pacaran itu haram! Jika kita menyukai seseorang cukup berdoa kepada Allah dan mencintainya dalam diam tidak harus menjadikan seseorang itu menjadi kekasih kalaupun memang ingin bersama jangan mengajak ia pacaran, khususnya kaum Adam langsung saja khitbah atau lamar." "Ayu, bapak bukan bermaksud menyindir kamu, hanya sekadar mengingatkan. Menurut bapak, segera putuskan aja pacar you secara baik-baik. Kalau Ayu with kekasih you berjodoh, Insyaallah pasti bakal balik lagi, kalaupun no! Allah pasti sudah menggantikan sosok pria yang lebih baik buat you!" jelas Pak Mul panjang lebar. Kemudian menghampiri Ayu. "Iya pak, saya mengerti." jawab Ayu dengan nada sedih. "Oke Ayu dan semuanya dengerin ya! Say no to zina! Imam syafi'i said meriwayatkan dalam haditsnya ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya." ucap Pak Mulyadi sebagai penutup untuk pembelajaran hari ini dan dia pun bergegas pamit. "Materi bab one sudah selesai, bapak pamit undur diri. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh." lanjutnya dan berlalu pergi meninggalkan kelas X IPA 1. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab semua murid serempak.           Aku langsung menyadari ucapan dari Pak Mul tadi, bahwa aku yang terlalu berharap lebih kepada mantanku, itu sama saja bikin cemburu Allah sang pencipta makhluk. Dan mulai sekarang, aku akan bersikap biasa saja, tidak terlalu memikirkan mantanku itu yang sudah mengecewakanku, serta aku tidak akan berpacaran lagi. Toh jodoh udah Allah tentukan. Aku yakin pasti pilihan Allah jauh lebih baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD