Bab 3

1728 Words
Keren! Hanya kata itu yang bisa aku pikirkan ketika melihat tempat itu. mataku terbelalak dengan penuh antusias melihat semua koleksi profesor Robert. Banyak sekali model kadal yang tidak pernah aku lihat sebelumnya dengan berbagai macam warna. Ada ular juga yang sebagian besar merupakan ular ball phyton, ada kelinci, marmut bahkan tikus juga disimpan di sana.   Lalu laba-laba, jangkrik, kalajengking, lyphan, juga kecoa? Euh ada apa dengan profesor? Aku mengernyit jijik ketika melihat dua hewan terakhir yang telah kusebutkan tadi. Yang lain mungkin masih bisa kutahan, tapi Lyphan dan kecoa? Tidak. Aku benar-benar merasa geli dengan mereka. Aku rasa professor Robert memiliki selera yang cukup ... cukup unik untuk memelihara semua binatang itu.   Di sudut ruang tempat itu aku melihat terdapat ornamen kecil berupa beberapa rangkaian tulang hewan yang juga menarik atensiku. Wow ini sungguh menakjubkan! Dari tata letak, cara penyimpanan, pencahayaan yang dipakai, dan ornamennya sendiri terlihat bagus di mataku. Bahkan tiap kotak kaca itu ada tulisan kecil mengenai informasi apa yang tersimpan di dalamnya. Ini membuatku terlihat seperti berada di dalam sebuah museum mini milik professor Robert.   Aku jadi bertanya-tanya dalam hati, sejauh mana kekayaan Professor Robert hingga dia bisa membuat tempat yang sangat keren seperti ini? Atau jika tidak, sejauh mana aku bisa merasa takjub dengan apa yang aku lihat di tempat ini. Aku penasaran dengan hal itu. Aku kembali melangkah ke satu tempat menuju tempat yang lain untuk melihat-lihat detail ornamen lain yang tersaji di mataku.   Aku merasa sedikit lebih antusias berada di sana. Hingga mataku kemudian menangkap sebuah ruang kaca yang sebelumnya telah kulihat ketika aku masuk ke tempat ini.  Ruangan kaca dengan sebuah tempat duduk yang dikelilingi oleh beberapa alat asing yang tidak kuketahui. Aku datang mendekati tempat itu.   Mataku menatap lurus pada detail di dalamnya lewat dinding kaca. Tanganku sampai menempel di dinding kaca itu saking fokusnya. Dari situ aku seperti melihat sebuah ruang operasi, ah atau mungkin bisa disebut ruang uji coba, seperti tempat uji coba mental yang digunakan dalam film-film superhero yang pernah aku tonton sebelumnya. Mungkinkah pemikiranku benar?   Itu cukup luas di dalam sana. Untuk apa sebenarnya ruang itu digunakan oleh Professor? Sebenarnya apa yang tengah dilakukan pfrofessor Robert hingga dia mau membuat ruangan penuh alat seperti ini? Benakku semakin tidak henti bertanya-tanya.   Ceerrssh!   Aku tersentak kaget ketika tiba-tiba mendengar suara cukup keras itu. Mata berkaca mataku langsung menoleh ke samping untuk mendengar lebih jelas suara yang baru saja muncul itu. Dalam hati aku merasa aneh dengan suara tersebut berasal. Pasalnya tidak ada siapa pun di tempat ini selain aku. Sedangkan profesor Robert berada di dalam ruangannya saat ini. Mungkinkah suara itu berasal dari ruangan professor Robert?   Drrtt drttt! Wiiinggh!   Aku mendengar kembali suara itu yang terdengar lebih kencang. Tidak, aku rasa suara itu berasal dari ruangan ini. Kedua alisku terangkat ke atas karena merasa heran dengan asal suara tersebut. Aku melangkah ke tengah ruangan kembali dan memerhatikan ke sekitar. Mencoba mencari asal suara tersebut. Aku melihat ke arah pintu di mana professor Robert tadi masuk ke dalamnya. Sebenarnya apa yang dilakukan professor Robert saat ini? Tapi mendengar asal suara tersebut, aku semakin yakin suara itu tidak berasal dari tempat yang sama dengan tempat professor saat ini.   “Suara apa itu?” gumamku untuk diri sendiri. Aku masih mencari asal suara tersebut. Di ruangan ini, suara itu seakan terdengar menyebar. Mungkin karena banyaknya peralatan penting di tempat ini sehingga membuat suaranya terpantul ke sekitar. Mungkin saja. Entahlah aku juga kurang mengerti masalah seperti itu.   Wiiinghh! Aku tersentak kembali ketika mendengar suara itu muncul lagi. Rasanya suara itu semakin datang mendekatiku. Aku melongok ke sana dan kemari hingga pada akhirnya aku merasakan sesuatu menabrak kakiku. Otomatis aku menoleh ke bawah dan apa yang aku lihat? Sebuah mesin kecil berbentuk kotak sudah berada di sana tanpa kusadari.   Mungkin aku terlalu fokus melihat ke sekitar ruangan hingga tidak menyadari sesuatu sekecil ini berada di sekitarku. Terlebih dengan banyaknya barang besar di sekitar tempat ini yang menghalangi pandangan mataku. Aku memerhatikan benda itu dengan lamat. Penyedot debu kah?   Wiinggh! Tiba-tiba benda itu berputar di tempat beberapa kali dan membuatku bingung.   “Apa yang kau lakukan? Apa benda ini sudah rusak?” tanyaku yang lebih diperuntukkan untuk diriku sendiri. Aku menatap aneh benda kotak itu yang masih berputar tidak jelas di depanku. Hingga kemudian berhenti, dan tanpa kuduga benda itu bergerak membelah diri menjadi beberapa bagian, lalu bagian itu saling menyatu membentuk sebuah badan yang memanjang ke atas dengan ruam di tiap sisinya yang lebih mirip sepeti bagian lengan. Tidak begitu tinggi. Hanya sekitar 30 cm, dan hal itu sukses membuatku terperangah takjub.   “WOW! Hahaha,” seruku dengan wajah melongo takjub melihat perubahan itu. Aku bahkan menutup mulutku dengan satu tangan saking takjubnya.   “Wow, itu keren sekali! Jadi kau robot? Kau tahu, kau seperti robot transformer dalam film yang kukenal! Apa kau bisa berbicara?!” seruku. Aku begitu antusias dengan apa yang kulihat ini. Dalam hati aku berharap robot itu juga bisa berbicara. Itu pasti akan sangat, sangat menakjubkan bukan?!   Namun yang kulihat ternyata berbeda. Sepertinya robot itu hanya robot biasa. Tapi kemudian aku langsung terkejut kembali ketika robot itu tiba-tiba memutar bagian tengahnya dengan begitu cepat seperti gasing. Lalu bagian ujung sekitar panjang 5 centi meter tiba-tiba memotong, kemudian bergerak turun ke bawah, menempel ke bagian sisi badan, dan berputar begitu cepat menghadap ke arahku. Mataku langsung membulat kaget karena tiba-tiba robot itu bergerak maju dengan ujung runcing yang berputar seperti bor tersebut menuju ke arahku.   “Wow wow wow, hei berhenti!” Aku langsung panik melihat robot itu semakin mendekat dengan cepat. Ujung bor itu mungkin bisa menusukku jika aku tetap diam di tempat. Segera kakiku melangkah mundur untuk menghindarinya.   “Hei! Berhen—UAGH!!” Aku tidak tahu apa yang baru saja kuinjak, tapi benda itu membuatku tergelincir ke belakang dan akhirnya menabrak salah satu tabung berisi cairan entah apa itu di belakangku dengan cukup kuat.   Duagk! Crashh! Tabung itu oleng setelah aku menabraknya tanpa sengaja. Sebelum aku sempat menghindar, aku melihat tabung yang tingginya berada di atasku itu jatuh dan akhirnya menimpaku.   PYARR!   Drap! Drap! Drap! Langkah kaki seseorang datang mendekat.   “Danny, apa yang terjadi? Oh my God!” Profesor Robert langsung datang setelah mendengar keributan yang baru saja aku ciptakan. Pria paruh baya itu langsung terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa untuk sejenak setelah melihat bagaimana kondisiku saat ini. Aku terbaring di antara pecahan kaca tabung yang bercampur dengan cairan entah apa itu milik profesor Robert.   Aku bahkan bisa melihat uap entah apa yang muncul di atas permukaan cairan tersebut. Baju dan tubuhku basah oleh cairan tersebut, dan yang lebih parahnya lagi, lenganku terkena pecahan kaca tabung hingga meneteskan banyak darah di sana.   Aku mengerang kesakitan dibuatnya. Ini adalah pertama kaliku merasakan luka tusukan yang sepertinya cukup dalam itu. Pecahan kaca itu bahkan masih menancap pada lengan kananku. Ini cukup membuatku ngeri melihat kaca penuh darah milikku itu masih menempel di sana. Rasanya lenganku seakan mati rasa.   “Agk! Uh, profesor Robert, maafkan aku,” sesalku kemudian. Aku ingin menceritakan apa yang baru saja terjadi pada professor Robert, tapi sakit yang mendera lenganku saat ini membuatku tidak bisa berkutik lebih. Aku bahkan menggigit bibir bawahku untuk menahan sakitnya luka tusukan itu.   “Tahan Danny! Aku akan membantumu menarik pecahan kaca itu,” ujar professor Robert yang langsung mendekatiku. Pria paruh baya itu menahan bagian lain dari lenganku lalu entah bagaimana caranya dia menarik pecahan kaca itu dari sana. Aku mengalihkan perhatian ke arah lain karena tidak berani melihat prosesnya. Asal kau tahu ini sungguh menyakitkan. Aku berteriak kencang selama proses pencabutan itu.   Professor Robert meletakkan pecahan kaca itu ke samping kemudian. Dengan dasi yang dipakainya, professor Robert melilitkan benda itu pada lenganku untuk menahan cairan merah merembes ke luar. “Apa kau baik-baik saja Danny?” tanya professor dengan wajah cemas memandang ke arahku. Professor Robert membantuku bangun dan duduk di tempat dengan hati-hati. Aku langsung merasa lemas setelah kejadian itu. Bibirku tidak henti mendesis lirih.   “Mungkin,” jawabku asal. Mana mungkin aku bisa mengatakan bahwa aku baik-baik saja setelah mendapat luka tusukan untuk pertama kalinya dalam hidupku. Mungkin orang akan melihatku terlalu berlebihan. Tapi percayalah, ini benar-benar terasa sakit, dan panas. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada luka itu, tapi aku merasa ada yang aneh dalam tubuhku saat ini.   Aku merasa tubuh bagian dalamku menjadi begitu panas. Panas yang menyebar secara perlahan ke seluruh tubuh. Bahkan aku bisa merasakan jantungku saat ini berdetak begitu cepat hingga terasa sesak. Aku bertanya-tanya apa yang terjadi padaku? Ini hanya luka tusuk dari serpihan kaca, tapi aku merasa seluruh tubuhku terasa terbakar?   Semakin lama kepalaku menjadi semakin sakit. Terasa seperti ditekan dengan begitu kuat hingga seperti akan pecah. Pandangan mataku menjadi berkunang-kunang seperti baru saja terkena blitz dari sorotan kamera. Pikiranku terasa memberat dan aku menjadi pusing. Ada gelombang tidak menyenangkan dari perutku yang tiba-tiba naik ke atas. Aku ingin muntah.   “HUEKK!” dan yah, aku benar-benar muntah sekarang di depan profesor Robert. Semua makanan dan cairan dalam perutku keluar banyak. Sayang sekali melihat semua makanan itu. Entah kenapa aku masih sempat-sempatnya memikirkan muntahan itu.   “Oh my Gosh, Danny! Apa kau baik-baik saja?!” Samar-samar aku mendengar suara professor Robert yang kembali menanyakan kondisiku. Apa kau mengajakku bercanda? Sudah kukatakan aku tidak baik-baik saja. Mana mungkin aku akan baik-baik saja setelah merasakan perasaan aneh ini.   Tubuhku sakit! Bukan sakit karena luka tusukan dari pecahan kaca itu. Maksudku, tusukannya memang terasa sakit, tapi ada yang lebih aneh dari itu. Aku tahu itu. Aku yakin tubuhku sakit karena alasan yang lain. Tidak mungkin serpihan kaca seperti itu bisa membuat tubuhku terasa terbakar dan mual. Aku sudah tidak bisa duduk dengan tegak saat ini. Rasanya dunia seakan berputar dan hanya aku yang tetap diam di tempat.   “Oh Danny, wajahmu sangat pucat! Kemarilah, ikut denganku sekarang!” suara professor Robert seperti dengung lebah di telingaku. Aku merasakan tarikan kuat pada lenganku yang lain. Sepertinya professor Robert membantuku berdiri dan pergi dari tempat itu. Aku tentu tidak bisa berdiri dengan benar. Tubuhku berkali-kali oleng dan hampir jatuh jika saja professor Robert tidak dengan sigap membantuku mengambil langkah.   “Ugh prof—professor Robert, aku ... aku.” Aku merasa sudah di ambang batas kesadaranku. Pandanganku semakin menggelap dan telingaku samar-samar mendengar suara teriakan professor Robert yang semakin lama semakin mengecil.   “Danny! Danny sadarlah! Danny!” Itu adalah kalimat terakhir yang aku dengar sebelum akhirnya  kesadaranku benar-benar hilang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD