BAB 7 |PERGI

2092 Words
—Tak apa pergi, asal jangan lupa untuk kembali. — *** “IYA Pak benar, saya Alvaro Geraldi.” Gerald menjawab tenang meski dia sendiri tahu arti kedatangan polisi saat ini menandakan sesuatu yang buruk akan terjadi. “Anda harus kami bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.” Beberapa detik usai bicara, kedua polisi itu langsung menggandeng kedua lengan Gerald meninggalkan parkiran menuju halaman utama sekolah di mana sudah terparkir mobil polisi di sana. Semua siswa mengikuti Gerald sampai ke halaman, rasanya sangat tidak masuk akal melihat polisi di sekolah mereka malam-malam begini. “Kenapa Gerald harus dibawa ke kantor polisi Pak!” Napas Rahma naik-turun setelah berlari-larian pergi ke sekolah karena taxi yang dia tumpangi ke sini terjebak macet. Rahma tahu para polisi ini akan kemari karena sebelumnya mereka mendatangi rumah Gerald sebelum memutuskan pergi ketika Anggy dan Gunawan mengatakan jika putranya masih mengikuti kegiatan sekolah. “Maaf dek, kami harus tetap membawanya.” Salah satu polisi itu menjawab tenang sementara Rahma menggelengkan kepala beberapa kali membantah, “Nggak! Bapak nggak boleh bawa Gerald!” Rahma menarik tangan para polisi itu supaya melepaskan Gerald. Kericuhan yang dilakukan Rahma mengundang tanya di benak masing-masing siswa yang menonton, ternyata si kutu buku yang sering menjadi bahan bully’an anak-anak bisa seberani ini. “Ra, berhenti!” bentakan Gerald membuat cewek itu berhenti memberontak sementara air mata terus bercucuran keluar di kedua matanya. Gerald memberi isyarat agar kedua polisi di samping kanan-kirinya mau memberi mereka waktu sejenak. Polisi itu pun setuju dan melepas cekalan tangan mereka. “Gue nggak apa-apa, lo gausah khawatir,” suara Gerald berubah lembut. Telapak tangannya mengusap puncak kepala Rahma dan membuat cewek itu mendongak. “Jangan cengeng gini dong Ra, gue bakal pulang ke rumah dan ketemu lo lagi,” ujar Gerald sebelum bergerak memeluk tubuh Rahma. Melihat Gerald dan Rahma berpelukan, Vanya teringat tentang perbuatan yang juga cowok itu lakukan padanya saat di bus. Hell! Semua cowok memang sama saja, kecuali Akbar. “Gue pikir Gerald suka sama lo.” Ucapan Ani menarik perhatian Vanya untuk menoleh. “Maksudnya?” tanya Vanya. Ani balas menatap Vanya dengan lesu. “Gue sering lihat Gerald curi-curi pandang ke lo dan tatapannya jelas banget membuktikan kalau dia suka sama lo.” Vanya tertawa sarkas mendengar ucapan Ani, “Mana mungkin dia suka sama gue sedangkan lo bilang mereka pacaran.” Dagu Vanya otomatis maju menunjuk ke arah Gerald dan Rahma. Dahi Ani mengernyit, “Siapa yang bilang mereka pacaran?” “Lo, waktu di pertandingan basket tadi,” jawab Vanya tanpa berpaling menatap Gerald yang akhirnya dibawa masuk ke dalam mobil polisi setelah selesai berurusan dengan Rahma. “Ya ampun Ra, mereka itu nggak pacaran. Gerald sama Rahma itu sahabatan dari kecil, karena itu mereka deket.” Ani mengklarifikasi kesalahpahaman Vanya. Vanya mengedikkan bahu, “Ya mana gue tahu. Lagian ya An, gue sama sekali nggak peduli tentang hubungan mereka,” sahut Vanya tak acuh kemudian melangkah pergi menuju parkiran. “Woi! Lo mau ke mana?” Ani berteriak sambil berjalan mengikuti Vanya di belakang. “Pulanglah, ngapain lo ngikutin gue? Lo kan dijemput sama supir lo,” ujar Vanya ketika dia baru saja sampai di samping sepedanya dan menemukan Ani masih berdiri mengekorinya. “Udah malem Van, lo pulang bareng gue aja terus besok gue jemput lo lagi ke sekolah. Beres kan?” usul Ani tetapi Vanya menolak, “Ada sesuatu yang harus gue lakuin,” alasannya. *** ‘Gue mimpi buruk tentang lo.’ Vanya mengayuh pedal sepeda sekuat tenaga sembari tak lepas memandangi mobil polisi di depan sana yang membawa Gerald. ‘Lo pergi ninggalin kita semua.’ Vanya mengulas senyuman kecut, “Nyatanya... orang yang pergi sekarang adalah lo,” gumam Vanya saat ucapan Gerald sewaktu dalam perjalanan pulang di dalam bus tadi tergiang dalam pikirannya. Gerald menoleh ke belakang kaca bagasi dan terkejut saat menangkap sosok Vanya sedang menaiki sepeda mengekor di belakang mobil. Mengingat sifat antimainstream cewek itu, Gerald pikir Vanya hendak menghentikan para polisi ini menyeretnya ke kantor polisi, namun salah. Vanya bahkan tak mau menatap Gerald sama sekali ketika dengan giatnya cewek itu menyalip mobil polisi yang berjalan lamban. Gerald memerhatikan Vanya yang melewatinya begitu saja sampai akhirnya cewek itu berbelok di tikungan sementara mobil polisi yang membawanya melaju lurus. Apa yang sebenarnya Gerald harapkan? Dipedulikan oleh cewek berhati batu macam Vanya jelas-jelas hal mustahil meskipun Gerald menyukainya. *** Braakk! Kericuhan yang terjadi di gudang sekolah membuat Vanya yang baru saja selesai membantu Mbok Yem berdagang menoleh. “Masa ada tikus sih di gudang?” Vanya bertanya seorang diri dengan heran. “Dasar cewek caper! Gue tahu apa yang terjadi semalem, lo gausah ngelak lagi deh!” Suara makian anak perempuan dari dalam sana membuat Vanya semakin diliputi rasa penasaran. Itu beneran suara orang atau cuma ilusi belaka Vanya saja ya? Ani bilang di gudang sekolah ada hantu anak sekolahan yang katanya dulu pernah meninggal bunuh diri di sana. Ngeri sih, tapi bodoh amat, Vanya sudah dilanda kepo. Dengan langkah bak maling yang masuk ke rumah orang tanpa izin, Vanya mengendap-endap masuk ke dalam gudang. Ada dua bagian ruang di sana, satu ruangan kosong tanpa penerangan dan satu ruangan lagi tempat penyimpanan kursi-kursi bekas. Kayaknya asal suara tadi ada di ruang penyimpanan deh! pikir Vanya. Lalu tanpa mengulur-ulur waktu segera melangkah ke sana. “Gue nggak caper Bel, gue ngelakuin itu karena Gerald sahabat gue... hiks.” Pembelaan yang diutarakan Rahma menambah kemarahan Bella. “Sahabat, lo bilang! Mana ada sahabat yang bisa peluk-pelukan kayak gitu, hah!” Bella menendang tubuh Rahma hingga jatuh mengenaskan ke lantai. “Iya gue salah, maafin gue. Maaf...” Salsa dan Yuni saling bertukar senyuman licik sedangkan Bella mengangkat telapak tangannya ke atas, sudah bersiap-siap mendaratkan satu tamparan di pipi Rahma jika saja Vanya tidak datang dan menepis tangannya. “b*****t lo Bel! Apa yang lo lakuin sama Rahma!” Teriakan Vanya yang cempreng dan menusuk gendang telinga itu membuat Bella serta kedua temannya memejamkan mata meringis. “Van-vanya? Kok... lo bisa ada di sini?” Salsa bertanya gugup sementara Bella dan Yuni menelan ludah. “Gue yang seharusnya tanya itu ke kalian...” suara Vanya memelan namun pandangan mata cewek itu tetap setajam silet, “...ngapain kalian ada di sini?” Melihat ketiga cewek antagonis di depannya ini terus terdiam tanpa satu patah kata membuat Vanya menyeringai. “Gue nggak bakal marah sama kalian kalau kalian bisa jelasin ke gue alasan kenapa selama ini kalian ngebully Rahma.” Yuni membuka mulut hendak menyerukan aksi pembelaan sebelum tangan Bella menepuk pundaknya dan mengisyaratkan agar cewek itu diam. “Yang pertama, dia centil. Lo juga nggak suka punya temen yang ganjen kan?” Akhirnya Bella-lah yang turun tangan untuk menjawab. “Kedua, dia suka pamer karena punya sahabat idol kayak Gerald. Pikir deh Van, apa yang bakal lo rasain ketika lihat orang yang lo suka punya seseorang yang lebih spesial daripada diri lo sendiri?” Vanya menyahut tanpa berpikir panjang, “Nggak peduli.” Bella seketika speechless mendengar jawaban tak acuh cewek itu. Dia kemudian lanjut mengutarakan alasan yang ketiga setelah menjeda cukup lama, “Dan yang terakhir, entah lo percaya atau enggak tapi, Rahma itu nggak sebaik yang lo kira.” Vanya tertegun dan pandangan matanya otomatis mengarah pada Rahma yang sedari tadi menunduk tidak berbicara. Impossible, anak sepolos Rahma tidak mungkin seburuk itu. Meskipun tidak terlalu memahami karakter cewek ini tetapi Vanya bisa merasakan kalau Rahma adalah perempuan yang tulus. “Ayo guys kita pergi!” Mengetahui ada kesempatan untuk kabur, Bella pun mengajak Salsa dan Yuni pergi melewati bahu Vanya satu persatu dan meninggalkan mereka berdua yang masih terus bertahan dalam keheningan. *** Awan putih yang mulai didominasi warna keoren-orenan itu mengambang di langit senja, bergulung-gulung merangkai berbagai pola. Ada satu pola membentuk wajah sedih, seolah mengetahui kesedihan gadis berjilbab yang saat ini tengah duduk bersisihan di makam sang ibu. “Bunda, apa kabar?” Suaranya gemetar namun sebuah senyuman tetap ia paksakan terulas di garis bibirnya. “Vanya rindu Bunda.” Vanya menabur bunga di atas tanah merah yang menimbun tubuh ibunya di bawah sana. “Ayah titip pesan buat Bunda. Ayah minta maaf karena nggak bisa ikut ziarah ke makam Bunda karena hari ini lembur kerja.” “Bun...” Vanya menggapai batu nisan bundanya kemudian mengelusnya pelan, “...semenjak bunda pergi, ayah jadi gila kerja. Aku tahu ayah ngelakuin itu demi Vanya tapi… Vanya takut ayah sakit.” Ketika pandangannya memburam akibat penuh genangan air mata, Vanya mencoba menetralkan emosinya dengan mengembuskan napas dalam-dalam supaya tidak menangis di depan bundanya. Dia tidak boleh menangis di depan bundanya, Vanya sudah janji. “Vanya nggak nangis kok Bun, mata Vanya berair cuma karena angin,” Vanya menunjukkan cengiran lebar, mengumpukan semua kesedihannya lewat kepalan tangannya yang mengerat. Vanya lantas kembali mencurahkan kekhawatirannya, “Vanya takut kalau ayah rajin kerja, dia bakal sakit terus ninggalin Vanya kayak Bunda.” Akbar yang sedari tadi tidak Vanya sadari ada di belakangnya—sedang ziarah ke makam ustaz pembimbingnya yang telah meninggal pun menoleh. Gadis itu sampai tidak menyadari kehadiran Akbar saking seriusnya berbicara dengan mendiang ibunya secara terang-terangan hingga membuat Akbar dapat mendengar semua obrolannya. Beruntung hanya ada mereka berdua di sini. “Hahaha. Tapi itu nggak bakal terjadi kan Bunda?” Siapapun juga tahu kalau gadis itu tertawa bukan karena rasa senang. Lewat suara tawanya yang lebih terdengar seperti ringisan itu jelas membuktikan kalau Vanya hanya sedang pura-pura kuat. Akbar bisa melihat ketegaran Vanya yang nampak sangat nyata di wajah cewek tersebut. Akbar mungkin akan memercayainya andai dia tidak mengenal siapa Vanya. Tetapi sayangnya Akbar terlalu mengenal gadis ini, bukan tentang Vanya teman sekelasnya, namun tentang sisi rapuh Vanya yang cewek ini sembunyikan. Vanya yang menangis saat pertama kali mereka bertemu di danau waktu smp itulah sosok Vanya yang sebenarnya. “Akbar?” Vanya terkejut ketika bertemu Akbar di pintu keluar, cowok itu nampak sedang menunggu seseorang sambil bersandar di dinding perbatasan makam. “Hai Van,” sapa Akbar. “Kamu lagi nungguin siapa di sini?” tanya Vanya setelah sampai berhadapan dengan tubuh Akbar yang sedikit lebih tinggi darinya. “Kamu cantik kalau pakai jilbab.” Vanya speechless. Seumur-umur baru kali ini Akbar memuji Vanya soal penampilan. Meskipun apa yang dikatakan Akbar terlampau jauh dari tema pertanyaan yang dilontarkan Vanya. “Jadi, kalau aku nggak pakai jilbab, jelek gitu?” protes Vanya, pura-pura sebal untuk menutupi degupan jantungnya yang menggila akibat pujian Akbar tadi. Akbar terkekeh, “Kamu cantik kok, cuman kalau pakai jilbab cantiknya makin bertambah.” Demi Allah.., rasanya Vanya sudah terbang terlalu tinggi sekarang. “Penampilan kamu yang tertutup begini juga bikin kamu kelihatan kalem Van,” komentar Akbar seraya mengulas senyuman. Vanya mendesis malu-malu tetapi hanya untuk beberapa detik sebelum menyahut, “Kamu sengaja ngomong gitu biar aku pakai jilbab terus ya?” Akbar menggelengkan kepala, “Kita ngobrol sambil jalan ke masjid yuk! Sebentar lagi azan magrib.” Mereka berdua lantas berjalan beriringan di sepanjang trotoar menuju masjid dan Akbar kembali melanjutkan obrolan. “Aku jujur saat bilang kamu makin cantik kalau pakai jilbab dan sama sekali nggak ada niat buat paksa kamu berjilbab terus. Tapi akan lebih baik kalau tetap menutup aurat seperti ini,” Akbar menoleh menatap wajah Vanya yang fokus mendengarkan, “Sebab menutup aurat termasuk salah satu perintah-Nya.” “Kalau aku menjalankan semua perintah-Nya, apa Allah mau mengabulkan doaku?” Vanya akhirnya bertanya setelah cukup lama terdiam. Akbar menyunggingkan senyuman tipis, “Allah itu Maha pengasih lagi Maha penyayang, Dia akan tetap mengabulkan doa hambanya meskipun hambanya jarang memedulikan perintah-Nya. Jadi, orang-orang yang nggak pernah mematuhi perintah Allah saja doanya bisa dikabulkan, apalagi orang-orang yang selalu menaati perintah-Nya. Sudah pasti Allah tidak hanya akan mengabulkan doanya saja tetapi juga memakmurkan kehidupan dunia-akhiratnya.” Vanya berhenti melangkah begitu sampai di pelantaran masjid, dia mendongak dan menatap Akbar. “Tapi... kenapa Allah mengambil Bunda?” Akbar menatap sendu wajah datar Vanya. “Sebab Allah menyayangi kalian berdua.” Vanya mengangkat salah satu alisnya. “Tuhan menakdirkan kematian bukan untuk memisahkan, melainkan sebagai peringatan. Allah mengambil bundamu karena Dia menyayanginya dan Allah akan lebih menyayangimu saat kamu ikhlas merelakannya.” Vanya tertegun, sejenak menunduk untuk berpikir. “Aku mau pakai jilbab terus. Karena perintah Allah, juga.. rasa terima kasihku pada-Nya sebab telah menyayangi Bunda.” Vanya merangkai senyuman lebar dan Akbar membalas dengan senyuman yang sama. Allah itu baik sekali yah! Baru juga Vanya memulai niat baiknya dan Allah sudah mengabulkan satu doa Vanya agar bisa mendapat senyuman terbaik dari Akbar. Allahu akbar... allahu akbar... Tepat setelah itu azan magrib berkumandang, menuntun mereka memasuki masjid dan shalat berjamaah. BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD