BAB 6 |CEPAT BERLALU

2188 Words
—Kenapa kebahagiaan dapat terasa cepat kita lalui sedangkan kepedihan justru terasa lambat kita jalani? — *** SISWA-siswi yang ditunjuk sebagai suporter berteriak riuh menyambut dua puluh tiga anggota cheerleaders SMA Nusa Bangsa yang baru saja memasuki tengah lapangan. Mereka lalu menempati formasi masing-masing dan lantunan lagu I Really Like You dari Carly Rae mulai terdengar mengisi ruangan. Mereka melakukan gerakan intro secara serempak dan terlihat begitu pas tanpa kesalahan, ramai suara tepuk tangan dan antusias dari para penonton membuat tim cheerleaders SMA Nusa Bangsa semakin tampil berani. Meninggalkan bagian intro, mereka mulai menuju ke gerakan inti. Para base bersiap-siap membentuk tiga kelompok bersama flyer masing-masing sedangkan kedua belas anggota lainnya yang bertugas sebagai dancer melangkah ke depan membentuk formasi segitiga di mana Ani ada di urutan paling ujung posisi terdepan. Para dancer mulai menari diikuti ketiga flyer yang telah melayang di belakang, mereka melakukan lompatan sebanyak dua kali dengan teknik yang berbeda. Tiap-tiap orang melakukan tugasnya dengan sangat baik sehingga menciptakan koreografi sempurna yang menarik untuk ditonton semua orang. Dipuncak penampilan yang sekaligus akan menjadi penutup, tim akan dibagi menjadi base dan flyer. Akan ada lima anak yang diangkat di sini tetapi tetap Hanin, Vanya dan Amanda yang menjadi icon utamanya. Vanya mengembuskan napas dalam-dalam ketika para base mulai mengelilingnya untuk diangkat. Kemudian tibalah saat itu, Vanya naik ke atas dengan cara membelakangi kemudian melakukan loncatan yang dibantu oleh Hanin dan Amanda untuk berbalik menghadap ke depan. Vanya lalu melakukan loncatan beberapa kali sampai akhirnya berhenti dan berdiri dengan satu kaki di bagian teratas. Orang-orang sampai dibuat tercengang olehnya hingga gema suara tepuk tangan yang dipadukan oleh teriakan histeris para penonton membuat suasana dalam gedung itu begitu sensasional. *** “Ke kiri! Kanan-kanan! Shoot! Ayo cepetan masukin bolanya ke ring Ger!” Ani sangat histeris dan berlagak menjadi pelatih yang memandu alur permainan anak buahnya. Vanya yang sedari tadi berdiri di samping Ani sampai tiga kali tutup telinga saking melengkingnya suara cewek itu, apalagi kalau tim dari sekolah mereka berhasil mencetak skor, suara kebahagiaan Ani akan menjadi suara utama yang terdengar di ruangan ini. “IYA... MASUKK!!! GOL-GOL! YEAY!!” Mulut Vanya melongo, mereka kan tidak sedang menonton olahraga sepak bola, “Woi kutu kupret! Ini itu basket bukan sepak bola, malu-maluin aja sih lo!” Vanya bersedekap kesal kemudian mengarahkan pandangan ke lapangan lagi. Sedangkan Ani tetap bertingkah sama seperti sebelumnya seakan tak mendengar ledekan sinis yang dilontarkan Vanya tadi. Andai mereka tidak sedang ada di depan umum, Vanya sudah jelas akan membungkam mulut cewek ini rapat-rapat, kalau perlu sampai tidak bisa bernapas. Huft, bikin sebal saja. “Gerald ganteng ya...” Suara lembut Ani terdengar menjijikan di telinga Vanya. “Ganteng dari mana coba,” komentar Vanya sambil menatap jengkel sosok Gerald yang kini sedang fokus mendrible bola, “...mamanya aja bilang kalau dia jelek.” Pandangan Ani seketika berpusat ke arah Vanya. Merasa sedang menjadi target tatapan Ani, Vanya menoleh dan terheran melihat raut wajah Ani. “Lo pernah ketemu mamanya Gerald? Kok lo tahu mamanya bilang Gerald jelek.” Bego! Vanya merutuki bibirnya sendiri yang bodohnya bisa keceplosan. Ani bisa mikir yang enggak-enggak kalau dia sampai tahu tentang kecelakaan dua hari lalu. “Mamanya? Siapa yang bilang mamanya Gerald, lo salah denger kali.” Vanya terpaksa berbohong. Ani mengerucutkan bibir berpikir, “Masa sih? Gue tadi kayak denger lo ngomong tentang mamanya Gerald.” Vanya mengelak dengan lambaian tangan, “Mana mungkin gue ketemu mamanya cowok c***l itu.” Sorot pandangan Ani berganti kesal, “Dia bukan cowok c***l Van, dia cowok paling sempurna yang tiada tara.” Vanya mendengkus, lagi-lagi dia harus mendengar rentetan kalimat aneh itu. Ani terlalu dibutakan oleh cinta sampai berpikir Gerald adalah cowok sempurna dan tunggu dulu! kalau Ani sudah terjangkit cinta buta dengan Gerald terus bagaimana bisa dia menerima Aga menjadi pacarnya. “Beri gue satu jawaban, lo lebih memilih Gerald atau Aga?” Pertanyaan Vanya membuat kedua alis Ani tertarik ke atas. “Aga dong.” Ani lantas menjawab tanpa membutuhkan waktu lama. Sekarang Vanya semakin tidak mengerti jalan pikiran seorang Anindita Wilona. “Terus kenapa lo masih ngejar-ngejar Gerald?” tanya Vanya. “Karena Gerald saudara gue.” Tidak sampai sedetik sebelum Vanya membalas dengan syok, “DEMI APA LO SAUDARANYA GERALD!!” Ani meletakkan jari telunjuk ke depan bibir, “Sstt! Jangan keras-keras, nanti temen-temen pada tahu!” bisik Ani sambil menengok kanan dan kiri dengan waspada. Vanya mengerutkan dahi, “Kenapa emang kalau temen-temen pada tahu?” Ani melotot kesal, “Gue bisa dibully!” Vanya termenung, dia tidak mengerti keterkaitan antara saudara dan pembullyan, itu adalah dua hal yang sangat jauh berbeda. “Lo kenal Rahma kan?” Dan Vanya kembali diliputi rasa bingung saat Ani menyangkut-pautkan semua ini dengan Rahma. “Yaiyalah, dia kan terkenal suka dibully.” Ani menjetikkan jari tepat di depan wajah Vanya secara tiba-tiba usai Vanya menjawab dan membuat cewek itu setengah kaget, Vanya pikir setelah Ani melakukan itu di depan wajahnya, Vanya akan langsung tertidur seperti Uya Kuya yang menghipnotis korbannya. “Gue takut kayak Rahma, dia kan sering dibully karena anak-anak pada iri dia deket sama Gerald.” Informasi yang diberikan Ani sekarang betul-betul mengejutkan Vanya. Jadi, alasan Rahma dibully selama ini hanya karena hal sepele itu? What the hell! Dasar anak-anak kurang ajar, tega sekali mereka. “Emang mereka pacaran ya?” Vanya sadar dia sangat bodoh karena penasaran dengan ini. “YAA!!” Ani kembali berteriak histeris saat melihat skor tim sekolah mereka yang tiba-tiba sudah sebanyak ini sedangkan Vanya menganggap teriakan itu sebagai jawaban atas pertanyaannya. “Iya?” Vanya kembali bertanya memastikan. Tubuh Ani menyamping menghadap Vanya lalu memegang kedua pundak cewek itu dengan antusias, “Iya! Lo nggak bisa lihat?” Pikiran Vanya melayang ke dua hari lalu di pagi hari saat dia tidak sengaja berpapasan dengan sepasang cewek-cowok di pintu kantin. Kalau cewek itu Rahma, cowok yang sedang bersamanya waktu itu apakah dia Gerald? Pantas saja dia mendengar cowok itu menyebut namanya, Gerald pasti cerita tentang Vanya yang memukulnya. Benar kata Ani, dilihat dari kebersamaan mereka saat itu membuktikan kalau mereka benar pacaran. Vanya bergemelut dengan pemikirannya sendiri sampai tidak sadar jika Ani sudah menghilang dari hadapannya untuk merayakan kemenangan tim basket mereka bersama siswa-siswi SMA Nusa Bangsa lainnya di tengah lapangan. “Woi-woi! Gue mau diapain nih!” Vanya baru sadar ketika tubuhnya mendadak diangkat oleh dua anak basket kemudian mengajaknya gabung berpesta di mana Ani juga sedang diangkat sama sepertinya di sini. *** Terlalu lelah berkompetisi dan berpesta merayakan kemenangan membuat seluruh anak-anak basket dan cheers tertidur pulas ketika dalam perjalanan kembali ke sekolah, kecuali Vanya. Dia menjadi satu-satunya orang yang tetap terjaga. Bus tidak seramai seperti saat berangkat, begitu tenang hingga membuat Vanya bisa mendengar deru suara mesin kendaraan. Ani tidur nyenyak dengan kepala menyandar ke bahu kanan Vanya, sedangkan Vanya nampak tidak terganggu sedikit pun, cewek itu sibuk memperhatikan semburat jingga dari jendela yang kian bertambah pekat. Senja. Jarang-jarang Vanya dapat melihat senja, sore-sore begini yang biasa Vanya lakukan kalau tidak latihan cheers ya mengintip Akbar di pesantren. Mengingat Akbar, Vanya jadi merindukan cowok itu. Akhir-akhir ini dia disibukkan latihan cheers sampai tidak punya banyak waktu memperhatikan Akbar. Tapi Vanya tidak menyesal mengikuti kegiatan ini, cheerleaders sangat mengasyikkan dan berkumpul dengan anak-anak cheers maupun anak-anak basket membuat Vanya tidak kesepian. Beralih mengagumi senja, Vanya merasa ia ingin kencing. Dia pun kemudian menggeser kepala Ani agar bersandar ke punggung kursi secara hati-hati supaya tidak membangunkannya. Setelah itu barulah Vanya pergi menuju toilet yang terletak di belakang bus. Posisi tidur Aga dan Juna yang berpelukan membuat Vanya yang baru saja kembali dari toilet terkekeh pelan, cewek itu kemudian dengan iseng memotret mereka menggunakan kamera handphone dan membagikan foto tersebut ke grup angkatan. Vanya tersenyum bak nenek sihir di film disney, “Syukurin tuh! Salah sendiri siapa yang nyuruh mutusin rem sepeda gue dulu,” bisik Vanya. “Vanya...” Vanya terkejut ketika mendengar seseorang menggumamkan namanya. Vanya lantas membalikkan badan ke kursi yang berseberangan dengan Aga dan Juna duduk. Vanya sangat tidak menyangka jika orang yang tadi menyebut namanya adalah Gerald dan anehnya cowok itu masih dalam keadaan tertidur. “Isshh dasar c***l, dia mimpiin gue,” desis Vanya dengan jengkel. Sebuah ide cemerlang tiba-tiba melintas ke kepala Vanya. Perlahan Vanya mencopot bando micky mouse dari atas kepala Cassie yang tertidur lelap kemudian memasangkannya ke atas kepala Gerald dengan sangat hati-hati. “Yes!” Vanya bersorak pelan melihat hasil idenya yang luar biasa mempermalukan cowok ini. Vanya juga mengambil foto Gerald beberapa kali dan mengunggahnya ke grup angkatan yang sudah ramai oleh chat anak-anak tentang foto Aga dan Juna yang di upload Vanya tadi. “Jangan pergi Van!” Vanya menurunkan kamera handphonenya akibat terkejut mendengar rintihan Gerald. Dianalisis lewat ekspresinya yang nampak sedih, Vanya bisa menebak kalau cowok itu sedang bermimpi buruk dan parahnya ada dia di situ. “Gue mohon...” Vanya tertegun kemudian tanpa sadar mengusap kerutan di dahi Gerald berharap mimpi buruk yang dialaminya segera berlalu pergi. Baru dua usapan dan mata Gerald langsung terbuka lebar memperlihatkan keterkejutannya. Mereka otomatis saling bertukar pandang, hanya beberapa detik sebelum Vanya cepat-cepat menarik tangannya dari atas kening Gerald disusul gerakan Gerald yang tiba-tiba berdiri memeluknya, selain malu Vanya juga bertambah kaget. “Gue mimpi buruk tentang lo.” Iya gue tahu, Vanya membalas ucapan Gerald dalam hati. Cewek itu belum bisa berkata-kata saking tidak percayanya dengan apa yang terjadi sekarang. “Lo pergi ninggalin kita semua.” Vanya mengerjapkan mata beberapa kali sementara Gerald masih saja memeluknya. Ckreek... cekreek! Suara jepretan foto yang saling bersahut-sahutan membuat keduanya tersadar dan segera melepaskan pelukan satu sama lain. Vanya mengedarkan pandangan dengan raut wajah heran, sejak kapan semua anak-anak bangun? Mereka bahkan sudah mengarahkan kamera ponsel masing-masing ke dirinya dan Gerald. “Hapus foto kalian!” bentak Vanya memerintah, tetapi anak-anak tidak mau menurut dengan cara menggelengkan kepala. “Kalau sampai gue nemuin satu berita yang enggak-enggak tentang gue di sekolah, gue pastikan...” Vanya mengancam sambil menaikkan lengan seragam ke atas, isyarat ingin memulai perkelahian, “...semua anak cheers dan anak basket nggak bakal ada yang hidup tenang.” “Guys! Buruan hapus-hapus!” Ani berteriak memberi komando dengan wajah ketakutan. Anak-anak yang tadi memfoto pun buru-buru menghapus seluruh foto mereka sebab takut akan menjadi target kemarahan si ratu galak. “Udah Van, lo jangan marah ya...” “Maafin kita deh!” Vanya memutar bola mata melihat wajah-wajah melas mereka semua, kemudian berganti menatap tajam Gerald yang sudah duduk di kursinya. “Dan lo! Siap-siap bonyok di tangan gue!” Vanya lalu kembali berjalan ke tempatnya sementara Gerald bukannya merasa takut cowok itu justru menantikan hari itu tiba. Entah sejak kapan ini dimulai namun berurusan dengan Vanya menjadi suatu daya tarik tersendiri bagi Gerald. “Eh Ger, kok bando gue bisa di kepala lo sih?” Gerald mengernyit tidak paham setelah mendengar pertanyaan Cassie. Dia meraba-raba kepalanya kemudian melepas bando micky mouse dengan ekspresi bingung, siapa yang naruh ini ke kepala gue? Bayang ingatan Vanya yang menyentuh dahi Gerald melintas begitu saja dipikirannya. Pasti cewek itu, Gerald membatin lantas tersenyum-senyum khas orang sedang dimabuk cinta. *** Sesampai mereka di sekolah, Aga, Juna dan Gerald dibuat tercengang setelah memeriksa line grup angkatan lewat ponsel mereka yang sudah banjir akan komentar. “Wah... parah nih si Vanya!” Aga geleng-geleng kepala tidak percaya, “Lo juga sih kenapa pakek peluk-peluk gue segala pas tidur!” Aga balik menyalahkan Juna. “Kok gue sih? Jelas-jelas di foto itu lo yang peluk tangan gue!” bela Juna, balas mendelik menuding Aga. “Gue juga kenapa ikut-ikutan jadi korban!” Gerald memprotes sembari menoleh ke arah Vanya yang baru saja keluar dari bus bersama Ani, terlihat sedang bersenda gurau tanpa rasa bersalah sedikitpun. “Van! Lo tega banget sih ngefotoin kita begini, anak-anak jadi pada nyangka gue homo.” Aga menghampiri Vanya dengan bersungut-sungut. “Ya emang lo homo,” seloroh Vanya, lalu menyambung sembari melirik Ani di sampingnya, “sebelum jadian sama Ani, wkwk.” Aga menekuk wajah cemberut, ingin protes tapi takut ditimpuk ratu galak. Alhasil, ia pun mengadu ke pacarnya seraya bergelayut manja di lengan Ani, “Sayang, temen kamu jahat banget sih! Masa ngatain pacar kamu yang ganteng ini, homo?” Ani dengan gaya genitnya ikut merespon menepuk-nepuk kecil pipi Aga. “Cup cup, kasihan pacar aku.” Juna menyemburkan tawa, sementara Vanya ingin mual melihat Aga dan Ani malah berakhir mesra-mesraan. “Idiih, uwu-uwu’an nanti aja deh! Pengen muntah gue lihatnya,” protes Vanya. “Cemburu Van?” Aga menaik-turunkan alisnya meledek Vanya yang masih jomblo. “Sini, sama Aa’ Gerald aja neng.” Gerald tiba-tiba mengambil kesempatan merangkul Vanya, membuat anak-anak lain menyoraki mereka berdua. “Cieee…” Vanya spontan menjauh dengan cara memiting tangan Gerald, aksi itupun mengundang semua anggota basket dan cheers tertawa. Sampai kemudian tawa mereka lenyap tatkala seorang polisi tiba-tiba muncul di sekolah dan menghampiri Gerald seraya bertanya, “Apa benar Anda siswa Alvaro Geraldi?” Suasana yang mulanya hangat penuh canda berubah total menjadi tegang. Tidak ada yang menyangka mereka akan kedatangan polisi dan hari yang mereka semua pikir akan berjalan baik-baik saja ternyata berakhir menyedihkan. BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD