BAB 5 |TANDA TANYA

2310 Words
—Tanpa jeda atau titik koma, hati terus bertanya. Mengapa, kamu lebih memilihnya? — *** SETELAH mendapatkan perawatan medis di rumah sakit Puri Indah, Gerald dan Vanya diperbolehkan pulang malam itu juga. Vanya hanya mendapat luka-luka kecil yang dapat sembuh tanpa perawatan khusus sedangkan Gerald lumayan parah karena mengalami luka dalam. Sekarang Vanya benar-benar merasa bersalah, luka yang didapatkan Gerald semua karena dirinya. Padahal dua hari lagi Gerald harus ikut pertandingan tapi cowok itu malah harus mengalami semua ini. “Yakin lo bisa bawa motor sport?” Gerald bertanya saat Vanya memutuskan menggoncengnya pulang. Tadi motor Gerald diantarkan Aga dan Juna ke rumah sakit. Setelah menjelaskan pada Vanya kalau semua ini adalah rencana mereka berdua, Aga dan Juna langsung kabur dengan alasan akan bertanggung-jawab membawa sepeda ontel Vanya ke bengkel untuk diperbaiki. Vanya jelas tidak akan tinggal diam mengetahui dia telah dikerjai, namun karena Aga dan Juna termasuk anggota basket yang dua hari lagi akan melangsungkan pertandingan, Vanya harus ekstra sabar agar tidak membuat wajah mereka bonyok. “Ini motor bokapnya temen gue. Jadi jangan sampai dirusakin, lo tahu kan Kawasaki Ninja itu mahal banget dan gue—” Brumm! Kata-kata Gerald terpotong ketika Vanya lebih dulu menancapkan gas mengendarai sepeda motor membelah jalanan kota Jakarta selatan. “Lo jago juga bawa motor ginian. Gue jadi heran, bagian mana dari diri lo yang bener-bener normal sebagai cewek?” Vanya sengaja melakukan rem mendadak di lampu merah, nyaris membuat Gerald yang dibonceng terjungkal andai dia tidak cepat-cepat berpegangan pada tas punggung Vanya. “Apapun yang ada di diri gue, itu bukan urusan lo!” sewot Vanya sambil melirik Gerald lewat kaca spion sekilas. Gerald terkekeh dengan posisi kedua tangan masih memegang tas Vanya. “Ini pertama kalinya gue dibonceng cewek, biasanya gue yang bonceng mereka.” Gerald bercerita ketika lampu kembali berganti hijau. Vanya hendak balas mengomentari sebelum Gerald tiba-tiba menceletuk, “Eh gue lupa, lo kan bukan cewek.” Gezz... nih cowok bener-bener nyebelin, umpat Vanya dalam hati. “Lo pikir, lo juga cowok? Mana ada cowok yang mau dibonceng cewek pakai motor segede ini, semua orang yang liat posisi kita sekarang bakal ngira kalau lo itu banci.” Vanya menyahut sarkastik, cewek itu kemudian tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membalas ejekan Gerald. Namun anehnya, ledekan Vanya sama sekali tak membuat Gerald marah atau kesal, cowok itu justru cengengesan. “Kalau gue banci, berarti gue boleh dong pegangan ke lo kayak gini.” Gerald melingkarkan tangan ke perut Vanya yang seketika membuat cewek itu terkejut bukan main. “Aduh!” Gerald meringis saat Vanya mencubit tangannya hingga otomatis melepas pelukan di pinggang cewek itu. “Apaan sih lo! Dasar c***l!” bentak Vanya, menyembunyikan kegugupannya. “Hahaha, katanya gue banci terus kenapa muka lo jadi malu gitu?” goda Gerald, sedikit menelengkan kepala supaya bisa melihat wajah padam Vanya. “Lo mau gue tonjok lagi!” ancam Vanya sambil menoleh ke belakang sekilas. Gerald tertawa sambil menyodorkan pipinya, “Coba aja sini!” “Awas aja kalau udah sampek entar,” jawab Vanya jengkel. Mereka kemudian terus bertukar kata yang berisikan omelan-omelan juga ledekan sementara di sisi lain motor mereka melaju menelusuri jalanan malam menuju rumah Gerald. *** Ternyata Gerald tidak seburuk yang Vanya pikirkan. Julukan monster jalanan kejam yang diberikan kepada cowok itu ternyata hanya sekadar omongan belaka, ya meskipun Gerald lumayan menyebalkan menurut Vanya tapi dia sebenarnya orang yang baik. Mereka kan masih muda, wajar menyebabkan banyak masalah. Yang terpenting tidak mendekati hal-hal berbau n*****a. Seperti kata Young Lex dan Awkarin di lagunya berjudul Bad, ‘jangan nilai kami dari covernya.’ Menilai orang dari segi penampilan memang tidak salah, namun cara itu tak pasti menunjukkan bagaimana sifat asli manusia tersebut. Jadi, jangan terburu-buru mengambil keputusan tentang seperti apa orang itu tanpa lebih dulu membuktikannya. Gerald bersungguh-sungguh saat mengatakan ingin mengantar Vanya pulang menggunakan mobil paling mewah. Diawal Vanya hanya menganggapnya sebatas candaan namun sesampai dia mengantar Gerald di rumahnya, Vanya tahu kalau ucapan Gerald tidak main-main. Tempat tinggal Gerald begitu megah dan nampak elite, rumah itu seolah memberi bisikan pada Vanya mengenai berapa banyak mobil dan motor yang terparkir di dalam sana. Buset, nih rumah gede amat! Vanya menelan ludah, tidak habis pikir mengapa anak berandalan jenis Gerald bisa seberuntung ini. “Gerald sudah pulang, Nak?” Seorang wanita paruh baya mendadak muncul dari pintu gerbang, mengejutkan Vanya serta Gerald yang masih berdiri di depan sana. “Eh mama, iya Gerald barusan sampek.” Gerald menyalami tangan Anggy diikuti Vanya yang pada saat ini mengulas senyuman gugup. Tidak terbayang jika sampai mama Gerald bertanya alasan mengapa Vanya ada di sini malam-malam. Lalu Vanya akan menjawab jujur, saya bonceng Gerald pakek motor gara-gara Gerald lagi sakit dan penyebabnya adalah saya. Vanya mendadak ketakutan, sehabis mengatakan itu pada Anggy kira-kira mama Gerald bakal merespon bagaimana? Ya pasti marahlah! Di mana-mana tuh nggak ada sosok ibu yang rela anaknya terluka. “Ini temen Gerald, Ma. Namanya Vanya,” Vanya tersenyum kala Anggy berpaling menatap ramah dirinya. Tunggu beberapa menit lagi dan Vanya yakin senyuman itu secepat embusan angin akan menghilang tergantikan raut marah. “Dia nganterin Gerald pulang, soalnya Gerald...” Vanya menunggu kelanjutan kata-kata Gerald dengan penuh antisipasi. “Gerald habis jatuh ditabrak sepeda ontel Vanya.” Mata Vanya sukses terbelalak, demi Tuhan cowok ini adalah anak paling berbakti sekaligus paling jujur pada mamanya. “Nih lihat ma! d**a Gerald sampek diperban, terus katanya dokter nggak boleh terlalu banyak melakukan aktivitas dulu.” Tangan Vanya gereget pengen nimpuk muka Gerald ketika cowok itu merajuk bak anak SD. Tapi bukan itu yang harus Vanya pikirkan sekarang, bagian yang terpenting adalah Vanya harus menyiapkan berbagai pembelaan yang dapat meluluhkan hati Anggy supaya mau memaafkan Vanya. “Itu... begini Tan—” Perkataan Vanya harus terhenti saat Anggy memukul pundak Gerald lantas memarahi, “Isshh kamu itu jail banget! d**a kamu kan emang sengaja diperban biar nggak cedera waktu latihan basket. Lagian kamu kan kuat, hobby tawuran juga. Masa cuma ditabrak sepeda langsung KO sih!” Vanya melongo sementara Gerald tersenyum lebar tanpa dosa. Jadi dari tadi Vanya sudah kena tipu cowok ini? Predikat Gerald sebagai lelaki baik-baik langsung menyirna dibenak Vanya. Dokter memang mengatakan luka Gerald tidak terlalu serius, tapi Vanya tidak menganggap demikian ketika Gerald melepas seragam dan hanya memakai kaos oblong yang memperlihatkan balutan perban di dadanya. Vanya pikir perban itu hasil perawatan dokter namun ternyata bukan, jauh sebelum pergi ke rumah sakit d**a cowok itu memang sudah di perban. s****n! “Vanya nggak perlu khawatir, siapa tahu habis kamu tabrak Gerald bisa insaf nggak nakal lagi,” seloroh Anggy sembari memegang pundak sebelah Vanya. Meski reaksi Anggy agak lain daripada yang lain tetapi Vanya tetap lega mengetahui wanita paruh baya ini tidak marah. “Gerald boleh kan Ma bawa mobil, mau nganterin Vanya pulang.” Ucapan Gerald memancing Vanya menoleh ke arah cowok yang berdiri di sampingnya, “Percuma dong gue nganterin lo pulang kalau ujung-ujungnya lo juga bakal nganterin gue. Gue naik angkot aja, lagian rumah lo deket jalan raya, gampang buat nunggu angkot.” Anggy menggeleng membantah ucapan Vanya, “Jangan, nggak baik cewek pulang naik angkot sendirian malam-malam begini. Biarin Gerald yang nganterin kamu pulang ya?” Vanya menjawab setengah ragu, “Tenang aja Tante, nggak bakal ada yang berani ngapa-ngapain saya.” Gerald menahan tawa mengetahui maksud perkataan Vanya, yaiyalah kagak bakal ada, belum apa-apa juga Vanya sudah bikin keok penjahatnya duluan. Anggy mengelus puncak rambut Vanya, “Anak secantik kamu justru bahaya kalau pulang sendirian. Gerald yang jelek kayak gini aja kayaknya mengincar kamu, apalagi cowok-cowok ganteng di luar sana.” Gerald berangsur cemberut mendengar mamanya mengatai dia jelek, sedangkan Vanya tiba-tiba diam memikirkan maksud perkataan Anggy. Gerald… suka Vanya? “Anak seganteng gini Mama bilang jelek? Wah-wah...” bantah Gerald, tidak terima. Dia lalu bersedekap sambil melengos pura-pura marah. Anggy tertawa beberapa detik sebelum mengacak rambut Gerald sambil berkata, “Iya-iya. Anak mama yang tukang ngambek ini, mama akui emang cakep.” Gerald memasang senyuman puas sembari menatap wajah Anggy, Gerald kemudian mengedipkan mata genit dengan bertanya, “Cakepan mana sama Papa?” Tak sampai dua detik Anggy langsung menyahut tanpa pikir panjang, “Papa dong!” “Iiihh Mama! Padahal udah jelas lebih ganteng Gerald.” Anggy terkekeh geli sebelum berakhir menatap Vanya, “Kalau menurut Vanya lebih ganteng mana?” Senyuman di bibir Vanya seketika lenyap ketika Anggy tiba-tiba menyodorkan sebuah pertanyaan untuknya. “Ekhmm, kalau menurut Vanya...” Vanya pura-pura berfikir, sengaja mengulur-ulur waktu supaya Gerald menunggu lama. Dan benar saja, cowok itu lama-kelamaan jadi bosan hingga menatap Vanya kesal. “Meskipun Vanya belum ketemu sama papanya Gerald.” Wajah dongkol gerald seketika kembali semringah. “Tapi Vanya yakin seratus persen kalau papanya Gerald jauh lebih tampan,” sambung Vanya kemudian. Melihat wajah lesu Gerald sekaligus daya semangat cowok itu yang seketika hilang, baik Anggy maupun Vanya tertawa terbahak-bahak karenanya. *** Beginilah dunia, ada yang sedang berbahagia, ada juga yang merasakan lara. Vanya, Anggy dan Gerald, mereka bertiga nampak sedang bahagia-bahagianya tanpa tahu di sisi lain Rahma justru terluka melihat kebersaman mereka. Tangan Rahma menengadah dan bisa cewek itu lihat kerutan-kerutan kecil di ujung jari-jarinya yang sedari tadi telah memutih akibat terlalu lama menggenggam kaleng minuman dingin yang sempat ingin dia berikan pada Gerald ketika cowok itu pulang. Kantin sekolah biasanya sudah tutup dari sebelum latihan basket berakhir dan Rahma pikir Gerald akan mati kehausan sehingga membuat Rahma berinisiatif membelikan minuman segar untuknya agar bisa langsung diminum ketika Gerald sampai di rumah nanti. Namun inisiatif Rahma malah memberi petaka bagi dirinya sendiri begitu Gerald pulang dibonceng oleh Vanya. Tiba-tiba Rahma teringat ucapan Bella di sekolah saat mengatakan Vanya lebih baik bersama Gerald daripada Rahma. Perkataan itu tergiang-giang memenuhi isi kepala Rahma. Rahma menunduk, tak kuat melihat kebahagiaan yang sedang ketiga orang di hadapan sana rasakan. Apa Vanya memang jauh lebih cocok untuk Gerald daripada dirinya? Rahma mulai terisak pelan. Rahma tidak masalah separah apapun cinta melukainya asalkan dia dan Gerald bisa mendapatkan akhir yang bahagia tapi, benarkah mereka akan bersatu kelak setelah Rahma mengalami segala kepahitan ini? Pertanyaan yang Rahma khawatirkan akhirnya muncul, saat Gerald mencintai orang selain Rahma, apa laki-laki itu tetap akan mengutamakan Rahma? Apa Gerald akan selalu memilihnya bahkan dalam keadaan tidak memungkinkan sekalipun? Tangan Rahma meraba dadanya yang terasa sesak, memikirkan jawaban lain yang tak sesuai harapan entah mengapa begitu menyesakkan. Sehingga rasa mual yang akhir-akhir ini sering dialaminya kembali Rahma rasakan. Kepala Rahma juga mulai pening, cewek itu pikir dia harus segera kembali ke rumah sebelum sesuatu yang buruk lebih dulu terjadi pada dirinya di sini. *** Pukul enam pagi di halaman sekolah SMA Nusa Bangsa, 23 anggota cheers mengantri memasuki bus diikuti satu per satu anak-anak cowok dari tim basket. Hari ini mereka mendapat hak bebas tidak mengikuti pelajaran untuk melangsungkan pertandingan di stadion Pakansari mewakili almamater sekolah. Pak Sigit atau kepala sekolah SMA Nusa Bangsa sengaja memesan bus pariwisata kelas VIP demi kebutuhan transpor sekaligus sebagai rasa terima kasih beliau kepada murid-muridnya yang selama ini sudah berlatih keras. Tidak hanya menawarkan tempat duduk yang super luas dan empuk, banyak fasilitas VIP lainnya di dalam bus ini yang sangat berbeda dari bus-bus pada umumnya. Ada wifi gratis, stopkontak pengisi baterai, dua toilet bersih, bebas karaoke yang difasilitasi lampu warna-warni ala disko juga. “Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hati pun senang.” Seluruh siswa bernyanyi bersama-sama sambil bertepuk tangan bagai anak TK yang melakukan tur untuk pertama kali, mereka semua terlihat excited padahal bus baru berjalan lima belas menit yang lalu. “Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hati pun senang! Lalalala…” Tidak ada yang mengenal sedih, semua nampak gembira satu sama lain. Ani memegang mic, berdiri di antara kursi sedang bernyanyi dan menari. “Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hati pun senang. Tangan dilambai-lambai, pinggul digoyang-goyang!” Vanya dan anak-anak yang lain terbahak-bahak menonton penampilan Ani yang dengan pedenya melambai-lambai sambil menggoyangkan pinggul dengan konyol, ditambah gaya chicken dance Aga, suara tawa anak-anak semakin pecah memenuhi bus. Pak Nanang dan Pak Yono atau sepasang kernet dan supir bus itu sampai ikut-ikutan tertawa, tak habis pikir dengan kelakuan para remaja zaman sekarang. Satu setengah jam kemudian, rombongan bus SMA Nusa Bangsa akhirnya sampai di halaman stadion. Para siswa langsung memojok ke sisi jendela bus, ingin melihat bagaimana bentuk stadion yang hari ini akan menjadi saksi bisu perjuangan mereka melawan sekolah lain. Pak Nanang memberi beberapa instruksi agar para siswa tidak bermain terlalu jauh dan kembali ke bus setelah acara berakhir, pria berkumis itu juga memberi doa serta semangat agar siswa-siswi SMA Nusa Bangsa dapat tampil dengan baik hingga memenangkan juara pertama pada pertandingan hari ini. Mereka kemudian melakukan doa bersama sebelum turun dari dalam bus secara bergantian. Vanya berhenti melangkah dan menatap gedung stadion yang cukup besar dari jauh. Ini akan menjadi penampilan ke lima tim cheers di muka umum namun penampilan pertama bagi Vanya sebagai flyer. Cewek itu mengembuskan napas panjang sambil mengepalkan tangan erat-erat, berusaha yakin bahwa dia pasti mampu tampil luar biasa. Beralih dari gedung stadion, pandangan Vanya turun ke anak-anak cheers yang nampak menunggunya di depan sana. Ani meletakkan kedua tangan di depan mulut membentuk terompet lalu berteriak memanggil Vanya. “Ratu galak! Ayo buruan!” Rekan flyer Vanya yakni Hanin dan Amanda ikut serta melambaikan tangan padanya sambil mengulas senyuman khas persahabatan. Kemudian satu persatu dari ke dua puluh dua anggota lainnya menyusul meneriaki Vanya supaya cepat-cepat bergabung dan masuk ke stadion bersama-sama. Vanya terharu. Bukan cuma Ani, Vanya merasa semakin banyak teman-teman yang menyayanginya di tim ini. “Bunda, kau lihat ini? Banyak yang sayang sama Vanya. Bunda nggak usah khawatir, Vanya baik-baik aja di sini.” Vanya bergumam seorang diri tanpa melepas pandangan dari wajah masing-masing temannya. “Apa! Gue nggak bisa denger omongan lo?” Ani menyahut, menyangka Vanya sedang berbicara padanya. Vanya menjawab berupa gelengan kepala lantas berlari riang menghampiri mereka. BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD