BAB 4 |THIS IS CINTA

2195 Words
—Diam-diam muncul, lama-lama bertahan, cepat-cepat ingin disampaikan. Ternyata, ini yang dinamakan cinta. — *** “REM sepedanya udah gue putus!” “Good job Men! Gerald pasti bangga sama kita!” “Yoi bro.” Rahma mengernyitkan dahi mendengar percakapan antusias Aga dan Juna yang tidak sengaja Rahma dengar ketika mereka berjalan melewatinya di lorong perpustakaan, bagian paling belakang sekolah dekat area parkiran. Rahma mengenal mereka, Aga Dwi Gieas dan Arjuna Rahardyan adalah teman satu geng Gerald. Meski terkenal nakal dan urakan namun Rahma sangat tahu sifat Gerald yang jujur. Cowok itu tidak mungkin bermain curang dan diresapi dari obrolan Aga dan Juna tadi, sepertinya mereka berdua merencanakan sesuatu diluar sepengetahuan Gerald. Dan plis deh, memutus rem sepeda seseorang itu berbahaya. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kemudian Gerald terlibat dengan semua ini. Rahma menggeleng-gelengkan kepala, dia harus memberitahu Gerald sebelum si pemilik sepeda itu kenapa-kenapa. “Mau ke mana lo kutu buku!” Tarikan tangan Salsa di kerah belakang seragam Rahma membuat cewek itu tertarik mundur, nyaris terjengkang. “Gara-gara lo cuma ngerjain PR-nya Bella, gue sama Yuni di hukum bersihin perpus. Lo yang harus tanggung jawab bersihin seluruh ruangan perpustakaan!” bentak Salsa. “A-aku gatau ka-kalau kalian belum ngerjain PR, kalian datangnya telat ja-jadi—” “Lo mau nyalahin kita datang telat, hah!” Yuni balas memaki tepat di samping lubang telinga Rahma hingga membuat cewek itu meringis merasakan gendang telinganya berdengung. “Buruan bersihin semua! Bukannya buku-buku itu temen lo ya? Sesama teman kalian harus akur.” Salsa meledek sambil tersenyum puas sedangkan Yuni tertawa bahagia di sampingnya. Mau tak mau Rahma menuruti perintah Salsa dan Yuni. Rahma tidak bisa memberitahu Gerald dan dia berharap Gerald lebih dulu menyadari kelakuan teman-temannya dan menunda kejadian buruk terjadi pada si pemilik sepeda. Sepeninggalan Salsa dan Yuni dari sepuluh menit yang lalu Akbar datang memergokinya. “Rahma? Kok kamu bersihin perpustakaan sendiri?” Rahma terkejut bukan main, pasalnya dia sedang menyapu di antara rak-rak buku dan Akbar mendadak nongol dari lubang buku di seberang. “Astagfirullah Akbar! Aku pikir kamu hantu!” decak Rahma seraya memegangi dadanya. Akbar tertawa pendek. “Aku bantuin ya!” Rahma menggeleng, “Gausah, nanti kamu capek.” Akbar mengulas senyuman simpul, wajah polos Rahma benar-benar telah memikat hati Akbar. Setiap kali cowok itu melihat Rahma tersenyum seperti sekarang jantung Akbar langsung melompat-lompat kegirangan. Dia tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul, yang Akbar pahami hanya satu hal bahwa perasaan inilah yang dinamakan jatuh cinta. *** Di jam-jam istirahat siang seperti ini adalah sibuk-sibuknya Vanya melayani para pembeli yang rata-rata adalah teman-teman Vanya sendiri. Kadang Ani ikut membantu, kadang justru menyusahkan, contohnya ya sekarang ini. Cewek itu nggak mau berhenti menangis sebab jarinya teriris pisau sewaktu membantu Vanya memotong lontong. “Mending lo diem deh daripada jadi tontonan anak-anak sekolah, malu-maluin tahu nggak!” Omelan Vanya membuat tangisan Ani semakin menjadi-jadi. Vanya mengembuskan napas lelah sambil geleng-geleng kepala tidak habis pikir, remaja segede Ani kalau nangis bisa persis kek’ bayi gini. “Mau gue panggilin Aga, atau Gerald?” Vanya bertanya disela aktivitas mondar-mandir membawakan pesanan lontong kupang para siswa. Aga itu pacar baru Ani, mereka jadian setelah beberapa kali anak basket dan anak cheers latihan bareng untuk persiapan pertandingan. Tapi nyebelinnya, meskipun sudah punya pacar Ani tetap saja mengagumi Gerald, dasar cewek serakah! “Pang... hiks.. gilin A-aga aja! Ka-kalau hiks... Aga lebih perhatian.” Ani berbicara agak memaksa. Vanya memutar bola mata jenuh, “Yaiyalah Aga perhatian, lo kan pacarnya,” komentar Vanya sambil membawa piring-piring kotor ke cucian dengan susah payah saking banyaknya. Tiba-tiba tumpukkan piring itu berkurang karena seseorang mengambilnya. Vanya pikir itu Mbok Yem, namun ternyata Akbar. Vanya tersenyum semanis mungkin mengetahui Akbar telah datang, cowok itu memang sering membantu Mbok Yem juga di sini walau tidak bisa setiap waktu karena Akbar juga memiliki kesibukan yang lain. “Kamu mau main akrobatik bawa piring sebanyak ini?” canda Akbar ketika mereka beriringan membawa piring ke tempat cucian. “Kamu ke mana aja sih, udah tahu warung rame kayak gini bukannya cepet-cepet bantuin malah telat.” Vanya menggerutu bak seorang istri yang memarahi suaminya, kalau sedang berbicara dengan Akbar, Vanya memang mengubah gaya bahasanya menjadi aku-kamu, menirukan gaya bahasa Akbar. Dasar cinta! Perasaan itu bisa membuat siapapun seakan buta siapa dia sebenarnya. Seperti monster Vanya yang lupa pada identitasnya hingga berlagak menjadi malaikat. “Maaf Van, tadi aku ketemu Rahma, kasihan dia bersihin perpustakaan sendiri jadi aku bantuin deh.” Tubuh Vanya membeku, hanya beberapa detik sebelum cewek itu kembali menguasai diri agar bertingkah normal. “Kamu kenal Rahma sejak kapan?” Vanya bertanya sambil mencuci piring yang kotor, Vanya dapat mendengar suara tangis Ani yang masih sesenggukan dari sini. Bayi itu... kapan selesai menangisnya? batin Vanya. “Sejak ketemu di masjid, dia kehilangan sepatunya. Waktu itu aku keinget kata-kata kamu tentang kaki seorang perempuan yang nggak boleh lecet, jadi aku pinjamkan sepatuku supaya dia pakai.” Mendengar jawaban Akbar, Vanya menyesal pernah mengatakan tentang kaki perempuan yang tidak boleh lecet, dahulu Vanya mengatakan itu dengan tujuan agar Akbar benar-benar menganggapnya seorang wanita, bukan cewek setengah cowok seperti pemikiran teman-teman Vanya terhadapnya. “Akhir-akhir ini kamu udah nggak pernah muncul di pesantren lagi.” Vanya berpaling semringah menatap Akbar yang bersandar di tembok, “Kenapa? Kamu kangen sama aku ya?” Akbar tersenyum geli melihat Vanya. “Pak Sodikin tuh yang kangen sama kamu! Katanya, tumben si ratu galak nggak kemari lagi.” Jawaban di luar harapan Vanya membuat cewek itu cemberut. “Bete deh kalau inget-inget Pak Sodikin, masa dia ngatain aku cewek berandalan,” gerutu Vanya. Cewek itu kemudian mendongak menatap Akbar lagi, “Menurut kamu? Aku cewek yang kayak gimana?” Akbar mengerjapkan mata termenung. Akbar bertemu Vanya di awal masuk pesantren tahun ajaran pertama kala SMP. Mereka tidak satu sekolah waktu itu, Akbar bertemu Vanya secara tidak sengaja di dekat danau ketika cewek itu sedang menangis sendirian. Sebab kasihan, Akbar pun menemaninya. Entah sadar atau tidak, pada saat itu Vanya mencurahkan segala kesedihannya soal bundanya yang belum lama itu meninggal. Mereka tidak mengenalkan nama, yang mereka lakukan hanya duduk bersama dengan Akbar sebagai pendengar dan Vanya sebagai narator. Setelah hari itu berakhir, mereka pun tidak pernah bertemu lagi sampai tiga tahun kemudian Akbar dan Vanya dipertemukan di SMA ini. Akbar mengingat jelas wajah Vanya meskipun saat itu masih belum mengetahui namanya sedangkan Vanya sebaliknya, cewek itu tidak mengingat Akbar sama sekali, mungkin karena waktu itu Vanya terlalu kalut memikirkan kepergian ibunya. Akbar menemukan banyak perbedaan pada diri Vanya, anak SMP yang sangat rapuh dahulu sekarang terlihat seratus kali lipat lebih kuat. Akbar juga tidak pernah melihat Vanya merasa sedih bahkan menangis sejak saat itu. Akhirnya Akbar memutuskan tidak menceritakan pertemuan pertama mereka dahulu, Akbar takut kalau Vanya tahu dia akan bersedih lagi. “Woi! Malah ngelamun!” Sentakan Vanya menyadarkan Akbar dari lamunan panjangnya. “Ma-maaf, kamu tadi tanya apa?” Akbar gelagapan. Vanya mengembuskan napas berat sambil berkata, “Udah bunyi bell, kita harus cepet-cepet masuk kelas.” Sedangkan Akbar terlihat linglung dan hanya mengangguk-anggukan kepala. *** “Tim cheerleaders SMA Nusa Bangsa...” Ani berteriak mengawali. “Syantik... syantik, syantik, syantik. SUKSES!” Seluruh anggota melanjutkan dengan teriakan semangat. Sementara di sisi lain gerombolan anak basket memperhatikan anak cheers menyerukan yel-yel mereka. Sebagian besar cowok-cowok itu mesem-mesem nggak jelas, sebagian kecil justru terlihat ingin muntah. Hanya Gerald satu-satunya anak basket yang tidak peduli dan sibuk memasukkan bola ke ring padahal latihan sudah berakhir dari beberapa menit yang lalu. Kurang dua hari lagi menginjak pertandingan, Gerald harus mampu menjadi juara di sana. “Eh Ger, anak-anak cheers udah pulang tuh. Kita juga ikutan pulang yuk!” ajak Aga dengan alis naik-turun. Bola basket Gerald dengan lancar masuk ke dalam ring dan Gerald menangkapnya sebelum membalas, “Males, entar aja. Kalian juga biasanya ngerokok-rokok dulu, kenapa tiba-tiba ngajak pulang?” Aga dan Juna melempar senyum satu sama lain, Juna juga rela dirangkul Aga padahal biasanya dia lebih memilih menghindar. Gerald mengapit bola ke ketiaknya lalu memicingkan mata curiga, tumben-tumbenan mereka berdua akur begini. “Lo harus berterima kasih sama kita.” Perkataan Aga membuat Gerald semakin penasaran dengan apa yang sudah mereka lakukan. “Gue sama Juna berhasil balas dendam ke Vanya jadi lo nggak perlu repot-repot ngasih tuh cewek pelajaran, kita udah beresin semuanya buat lo.” Mata Gerald terbelalak kaget, bola yang diapit ke ketiaknya sampai jatuh memantul ke lantai. “Lo apain dia?” Suara Gerald meninggi. Aga dan Juna sampai tercengang melihat ekspresi Gerald yang tak sesuai ekspektasi mereka. Juna kemudian menjawab enteng, “Aga mutusin rem sepeda Vanya.” “g****k!” umpat Gerald sebelum kemudian berlari menyusul Vanya. Meninggalkan Aga dan Juna yang saling melempar pandang bingung. *** Vanya mulai mengayuh pedal sepeda ontelnya dengan satu tangan melambai ke arah mobil Ani yang mulai bergerak meninggalkan area sekolah. Akhirnya bisa pulang juga, hari ini Vanya capek sekali dan amat merindukan kasur empuk kesayangannya di kamar. Besok akan jadi hari terakhir latihan dan lusa adalah finalnya. Vanya pasti bisa, dia cukup terbiasa menjadi flyer dan sudah ahli menjaga keseimbangan sehingga Vanya yakin kalau dia dapat tampil memukau saat di pertandingan nanti. “Vanya!” Vanya menoleh ke belakang kemudian melebarkan mata ketika melihat Gerald berlari mengejarnya di trotoar. Vanya kembali menatap ke depan dengan setengah berpikir, kenapa Gerald mengejarnya? Vanya ingat pagi tadi mereka sudah menyelesaikan semua masalah perihal Vanya yang menonjok Gerald kemarin. Lantas apa yang cowok itu inginkan sekarang? Mengapa dia berlari mengejar Vanya? Vanya mencoba menghentikan laju sepedanya namun gagal, tangan Vanya menarik-narik rem sepeda dengan panik, rem sepedanya tidak berfungsi! “Rem sepeda lo blong!” Vanya mendesis kesal, Gerald telat memberitahu. “Terus gue harus gimana? Ger! Gue sumpahin kalau lo yang ngelakuin ini sama gue, hujan bakal turun di rumah lo seumur hidup sampai tenggelam.” Kutukan Vanya yang cukup keras menyita perhatian beberapa pejalan kaki di sana. “Coba berhenti pakek kedua kaki lo!” Gerald memberi instruksi sambil terus berlari di sepanjang trotoar berupaya mengimbangi Vanya. “Lo b**o hah! Gue gabisa!” Vanya mencoba menurunkan kakinya namun melihat kondisi permukaan jalan yang tidak stabil membuat dia mengurungkan niat. “Dek, pinjam skateboard-nya bentar ya! Nanti kakak kembalikan.” Anak laki-laki berusia 11 tahun yang tidak sengaja Gerald temui di jalan itu mengangguk, membuat Gerald mengambil alih skateboard-nya sebelum bergegas mengendarai skateboard itu dengan begitu ahli seakan dia memang pemain skateboard profesional. Gerald bahkan mampu melakukan loncatan tinggi dan mahir melenggak-lenggok melewati para pejalan kaki yang menghalangi jalannya. Orang-orang yang menonton sampai dibuat kagum hingga bertepuk tangan berkat atraksi yang dilakukannya di atas skateboard. Di sisi lain Vanya tidak memedulikan keberadaan Gerald lagi, cewek itu sibuk berpikir bagaimana cara menghentikan laju sepeda. Mulut Vanya terbuka, melongo melihat perempatan di mana banyak lalu lalang sepeda motor dan mobil di sana. Kelar hidup lo Van! Vanya menggeleng-gelengkan kepala ketakutan. “Tolongggg...” Vanya berteriak kencang sembari memejamkan mata, tidak mau menyaksikan peristiwa naas yang sebentar lagi akan menimpanya. Brukk... “Aduh!” Vanya jatuh tertimpa sepeda sedangkan Gerald yang rela menjadi sasaran tabrakan Vanya terjengkang ke jalan. “Lo gapapa?” Dengan susah payah Gerald bangkit dan membantu menyingkirkan sepeda yang jatuh menindih sebelah kaki Vanya. “Kaki lo berdarah,” ujar Gerald setelah berhasil menolong Vanya berdiri meski dia sendiri agak kesusahan berdiri. “b**o banget sih lo!” Vanya mendorong kasar bahu Gerald,“Ngapain rela-rela nabrakin diri lo buat nolongin gue,” maki Vanya saat sudah bisa berdiri tanpa bantuan. Raut wajah Gerald berubah kesal. “Sepeda lo harus nabrak sesuatu supaya mau berhenti. Kalau bukan tubuh gue, terus lo mau nabrak apa? Tiang listrik di sana, atau mobil-mobil di perempatan sana? Kalau itu bukan cuma sepeda lo aja yang berhenti, tapi juga detak jantung lo ikut-ikutan berhenti! Mau lo mati perawan?” Kepalan tangan Vanya mengerat. Semua yang Gerald katakan memang benar dan Vanya kehabisan kata-kata untuk menjawab. Sudah dua kali ini Gerald menyelamatkan nyawanya, fakta itu sangat tidak Vanya sukai namun mesti gimana lagi, Gerald sudah ditakdirkan Tuhan menjadi seorang penyelamatnya. “Kita harus ke rumah sakit,” kata Gerald dengan lemah. Vanya spontan menggeleng, “Gue baik-baik aja, cuma sedikit berdarah. Nggak perlu bawa gue ke rumah sakit.” “Lo emang baik-baik aja, tapi gue enggak.” Gerald menyentuh bagian d**a kirinya yang tiba-tiba terasa nyeri. Vanya mengernyit, tanpa sadar tangan Vanya menyentuh pipi Gerald sambil memberinya tatapan cemas. “Lo kenapa?” Gerald terkejut saat tangan dingin Vanya menempel di pipinya. Sepasang mata cokelat Gerald spontan bergerak menatap lekat wajah Vanya dan membuat mereka terjebak kontak mata cukup lama. Andai Vanya tipikal cewek yang mudah diluluhkan, pasti sejak dulu Gerald sudah menggaet cewek ini menjadi pacarnya. Perasaan asing yang mendadak muncul sejak pertama melihat wajah Vanya, Gerald yakin ini bukan perasaan biasa. Ini cinta. Keheningan yang menyelimuti mereka berdua kemudian terhenti saat seorang anak pemilik skateboard tiba-tiba datang sambil berkata, “Kak, skateboard saya nggak dibalikin?” Vanya buru-buru menarik tangannya dari pipi Gerald lalu berpaling ke arah lain dengan muka memerah. Sedangkan Gerald mengembalikan papan luncur ke dekapan sang pemilik dengan kikuk, “Eh, iya dek. Makasih ya skateboard-nya.” BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD