—Terlalu banyak kebetulan dalam hidup ini. Dan kebetulan yang paling aku sukai saat bertemu dan mencintai kamu.—
***
GERALD mengamati wajah damai seorang cewek yang pingsan menimpa tubuhnya. Beruntung ia segera berlari menolong Vanya atau kalau tidak, bisa-bisa cewek ini sudah mengalami patah tulang. Semakin lama diperhatikan, Gerald semakin tidak bisa melepas pandangannya pada sosok Vanya yang masih memejamkan mata di pangkuannya, bahkan saat anak-anak cheers dan basket mulai berlari mengelilingi mereka.
“Vanya gapapa kan?”
“Perlu ke rumah sakit?”
“Lo keren banget waktu nyelametin Vanya, Ger!”
“Kyaa… gue juga pengen dipeluk Gerald!”
Gerald tidak memedulikan apapun yang orang-orang katakan di sekelilingnya, cowok itu terlalu sibuk meneliti wajah rupawan Vanya yang berhasil memancing keluar perasaan asing di hati Gerald.
Pemilik wajah damai sepolos bayi itu perlahan membuka matanya. Kepolosan yang Gerald tangkap saat cewek itu pingsan langsung hilang tergantikan raut kesal yang sangat jelas Vanya tunjukkan padanya. “Ngapain lo ngelihatin gue sambil senyum-senyum gitu?”
Senyuman di bibir Gerald seketika menghilang, baru sadar kalau sedari tadi dia tersenyum memperhatikan Vanya. “Lo mikir yang enggak-enggak tentang gue ya!” Vanya bangkit dari pangkuan Gerald kemudian menunjuk wajah cowok itu dengan ketus. Kedua alis Gerald mengernyit tidak suka, sudah ditolongin bukannya berterima kasih, Vanya malah menuduhnya.
“Dasar c***l!”
Buaagkk...
Umpatan disertai satu pukulan dari Vanya mendarat ke rahang kiri Gerald hingga membuat cowok itu langsung mimisan. Seluruh siswa yang menyaksikan adegan tersebut sampai dibuat melongo akibat perilaku Vanya.
Menyadari sang ketua terluka, anak-anak basket bergegas menggotong tubuh Gerald dan berbondong-bondong membawanya ke UKS tanpa repot-repot menghakimi perbuatan Vanya karena takut akan menjadi target pukulan sang ratu galak selanjutnya.
***
“Vanya!”
Cewek yang dipanggil terus berjalan tak menghiraukan. Ani menahan pundak Vanya supaya berhenti. “Lo itu kebangetan deh Van. Bukannya berterima kasih, lo malah mukul Gerald!” Vanya bersedekap mendengar gerutuan Ani.
“Ya ampun Vanya, lo harus minta maaf ke dia. Lo tahu nggak sih siapa Gerald? Dia itu—”
“Cowok paling sempurna tiada tara.” Vanya menyela ucapan Ani yang sudah sangat Vanya hafal akan keluar dari mulut cewek itu. Ani terkekeh, sibuk berpikir kenapa Vanya bisa tahu apa yang akan ia ucapkan.
“Plis deh An, dia tuh nggak ada apa-apanya. Yang bisa dibilang sempurna tuh cowok kayak Akbar, udah pinter, soleh, pandai ngaji, bertakwa. Pokoknya idaman banget.” Ani memutar bola mata, Vanya bisa tiba-tiba berubah menjadi orang lain kalau sudah bicara menyangkut Akbar. Lihat aja, nggak ada angin nggak ada badai, Vanya mendadak mesem-mesem nggak jelas.
“Gerald lebih karismatik!” sangkal Ani, memudarkan senyuman di bibir Vanya. “Cowok berandalan kayak dia lo bilang karismatik!” suara Vanya meninggi. “Ngaca Van, lo juga cewek berandalan!” Ani menceplos tanpa sadar.
Perdebatan mereka pun mengundang ketakutan dibenak masing-masing anggota cheers yang menonton. Ani memang kadang suka lupa diri dengan siapa dia berhadapan, jika ini tetap berkelanjutan maka yang pasti terjadi, “Lo ngatain gue berandalan!” Tarikan Vanya di kerah seragam Ani membuat cewek itu menelan ludah, mampus deh!
“So-sorry Van, gu-gue nggak bermaksud...” Ani berusaha mengeluarkan pembelaan meski agak susah payah. Sebagian anak cheers hampir maju untuk menolong namun kembali mundur saat melihat cengkeraman Vanya semakin mengerat. “Nggak bermaksud apa hah?” Bentakan Vanya otomatis membuat Ani memejamkan mata sejenak.
“Gue nggak bermaksud bilang lo cewek berandalan aja! tapi lo juga cewek urakan, cewek gatau diri, cewek kasar, monster, preman, banyak! Sebutan lo nggak cuma satu, harusnya gue ngatain lo lebih banyak lagi.”
Ungkapan Ani yang sama sekali tak terduga itu memancing anak-anak cheers untuk tertawa. “Gue emang nggak pernah salah pilih temen.” Vanya menyeringai senang, bentuk reaksi tidak wajar yang membuat Ani mengembuskan napas lega. Teman dua tahun Ani ini memang spesies langka, kemarahan Vanya jelas-jelas mereda setelah dia mengatai cewek itu banyak hal, kan aneh.
“Yuk ganti baju, gerah nih!” Vanya melepas cengkeraman tangannya dari kerah Ani dan berganti merangkul pundak sahabatnya. Mereka berdua lantas melangkah beriringan di sepanjang lorong terbuka seolah tak pernah terjadi percekcokan apapun sebelumnya. Membuat anggota cheers yang sedari tadi menonton mereka di belakang terbengong-bengong heran.
***
Keesokkan harinya. Di koridor bagian depan sekolah, Vanya berjalan sambil menulis sesuatu di buku warung berukuran kecil persis semacam buku diary. Seolah sedang mengerjakan tugas sekolah, Vanya sesekali berhenti untuk berpikir sebelum menuliskan puluhan angka di sana. Beruntung ini masih pukul enam pagi, setidaknya tidak banyak siswa mengetahui perbuatan aneh yang dilakukan Vanya sekarang.
Di sisi lain, Rahma bertanya pada Gerald yang hari ini kembali menjemput Rahma pergi sekolah menggunakan motor Hardi atau papa Rahma yang belum dikembalikan, “Yakin udah nggak sakit lagi?”
Gerald tersenyum jenaka, “Pukulan dari cewek kayak gini mah, nggak bakal bikin gue mati.” Rahma mengambil dua s**u indomilk rasa stobery dan cokelat dari kulkas lantas menyerahkan selembar uang merah muda pada nenek-nenek pemilik dagangan seraya berkata, “Kembaliannya Nenek ambil aja.” Nenek itu pun tersenyum berterima kasih.
Rahma melanjutkan obrolan bersama Gerald sambil menyerahkan indomilk cokelat padanya lalu mengajak cowok itu pergi meninggalkan kantin. “Tapi anak-anak bilang kamu langsung mimisan. Pukulan itu nggak main-main Ger, emang siapa sih cewek yang berani-beraninya mukul kamu?”
“Vanya.”
Di pintu keluar-masuk kantin, Vanya tidak sengaja berpapasan dengan sepasang siswa yang salah satu di antara mereka tiba-tiba saja menyebut namanya. Mereka tidak sadar telah berpapasan dengan Vanya karena wajah cewek itu tertutup buku warung sedangkan Vanya sendiri sibuk menghitung penjumlahan sebelum aktivitas itu mendadak harus dihentikan saat dia mendengar ada seseorang yang menyebut namanya.
Langkah kaki Vanya berhenti dan menoleh menatap punggung sepasang cewek dan cowok yang belum lama melewatinya. “Apa cuma perasaan gue aja ya?” Vanya bergumam heran sembari terus memperhatikan kedua siswa tadi menjauh.
Melihat tas bergambar beruang yang dipakai si cewek, Vanya seolah pernah menemui tas itu entah di mana. Pabrik kan nggak hanya buat satu, banyak tas bergambar beruang di sekolah ini, pikir Vanya acuh tak acuh.
Ketimbang pusing akibat penasaran, Vanya memilih untuk tidak peduli dan melanjutkan penjumlahan terakhirnya. Alhasil sesampai Vanya di warung Mbok Yem, semua perhitungan sudah kelar.
“Mbok Yem!” Keheningan kantin pagi ini membuat suara sapaan Vanya terdengar jelas memenuhi ruangan. “Mbok! Vanya laper nih Mbok!” Vanya memasuki warung Mbok Yem dengan leluasa tanpa merasa sungkan sedikit pun.
Suara penggorengan dan bau sedap nasi goreng favorit Vanya membuat mata cewek itu berbinar. “Wah! Tumben nih mbok bikin nasi goreng, biasanya juga cuma telur ceplok,” komentar Vanya setelah menyeret kursi plastik lebih dekat ke kompor untuk melihat Mbok Yem memasak.
“Pagi ini alhamdulillah mbok dapet rezeki. Mbok inget kalau kamu suka nasi goreng jadi mbok mau bagi-bagi rezeki ke kamu juga.” Penjelasan Mbok Yem memancing senyuman di bibir Vanya. “Alhamdulillah, Vanya ikut seneng deh! Kalau Vanya boleh tahu, Mbok dapet rezeki dari siapa?”
“Dari Allah atuh Vanya!” Vanya memutar bola mata. “Yaelah Mbok, kalau itu Vanya juga tahu kali.” Mbok Yem terkikik.
“Dari Rahma, Mbok tahu namanya soalnya lihat di nametag seragam dia.” Vanya mengernyit. “Rahma? Mbok nggak salah lihat?” Yang Vanya tahu, anak korban bully seperti Rahma jarang sekali menampakkan diri ke kantin atau tempat-tempat umum lainnya. Mendengar Mbok Yem menyebut cewek itu Vanya juga teringat akan pemilik tas beruang yang sempat dilihatnya tadi.
Benar dugaan Vanya, dia memang pernah melihat tas itu di suatu tempat dan sekarang Vanya ingat. Itu milik Rahma, Vanya tahu karena pertemuan mereka di masjid sepulang sekolah beberapa hari yang lalu.
Tapi, cewek itu kan gatau nama Vanya, kenapa anak cowok yang berjalan bersamanya tadi mengungkit-ngungkit soal Vanya. Huft, saat ini Vanya benar-benar penasaran.
“Mana mungkin mata Mbok salah lihat nama orang yang sudah baik sama Mbok. Dia ngasih mbok uang seratus ribu padahal cuma beli dua s**u indomilk yang harganya nggak sampai lima belas ribu.”
Kaya juga si korban bully itu. Vanya tidak seberapa mengenal Rahma tapi, dilihat dari caranya menyepelekan uang kembalian yang cukup banyak pada Mbok Yem bisa Vanya pastikan kalau cewek itu pasti keturunan anak orang kaya.
Kalau Rahma memang anak orang kaya, kenapa cewek itu tetap bertahan di sini sedangkan dia bisa kapan saja pindah ke sekolah lain agar tidak menjadi bahan pembullyan lagi. Yang bikin Vanya bingung juga, kenapa cewek sekaya Rahma bisa menjadi target pembullyan anak-anak padahal Vanya tahu cara berteman anak-anak di sekolah ini 98% melihat dari tingkatan sosial mereka.
Terkadang menjadi seseorang yang biasa-biasa saja jauh lebih mudah.
***
Setelah sarapan bersama Mbok Yem dan menyerahkan buku warung milik nenek-nenek itu, Vanya kembali ke kelas. Mereka sudah mengenal lama mulai saat Vanya mengikuti tes masuk ke sekolah ini, melihat Mbok Yem yang kerepotan melayani pembeli yang melonjak seorang diri, Vanya pun memutuskan membantu wanita tua tersebut hingga berkelanjutan sampai sekarang.
Vanya juga sering membantu Mbok Yem mengalkulasi modal dan keuntungan yang nenek itu hasilkan di warungnya seperti yang Vanya lakukan pagi ini. Sama seperti Vanya yang membutuhkan sosok ibu, Mbok Yem pun membutuhkan seorang anak.
Bunda Vanya yang bernama Denti sudah meninggal sejak Vanya lulus SD, sedangkan Andre atau ayah Vanya adalah seorang pria yang gila kerja, meskipun begitu Vanya tetap bangga pada ayahnya karena beliau giat bekerja bukan hanya untuk dirinya sendiri dan Vanya melainkan turut didonasikan ke yayasan kanker Indonesia mengingat penyebab Denti meninggal dahulu adalah kanker otak yang dideritanya.
Baik itu Vanya maupun Andre mereka bukan tipe manusia yang cinta harta. Jadi, sampai sekarang mereka berdua tetap hidup sederhana seperti saat bundanya masih hidup dulu.
“Akbar!”
Lamunan Vanya seketika buyar ketika mendengar seorang cewek memanggil Akbar. Vanya mendongak dan memusatkan perhatian ke dua orang yang baru bertemu di depan pintu kelasnya, IPA II-A.
Akbar terlihat baru datang dan hendak masuk ke kelas sebelum dia terjebak obrolan bersama Rahma yang menunggunya di sana. Rahma menyodorkan tas kertas berisi sesuatu yang tidak Vanya ketahui, mereka juga sedang membicarakan sesuatu yang terlihat menyenangkan namun tidak bisa Vanya dengar karena posisi dia agak jauh dari mereka.
“Vanya.” Seseorang menepuk bahu Vanya dari belakang dan mengejutkan Vanya.
Kepala Vanya otomatis menoleh dan langsung terfokus pada plester cokelat yang menempel di hidung mancung seorang cowok. Sejenak Vanya merasa bersalah melihat luka yang ia timbulkan di hidung cowok itu, namun ketika mata Vanya bertemu pandang dengan sepasang mata berwarna cokelat pekat milik Gerald, hancur sudah rasa penyesalan itu.
Tatapan tajam Gerald seolah meluncurkan u*****n-u*****n yang andai saja bisa Vanya dengar. “Lo!” Gerald menunjuk wajah Vanya yang tak bereskpresi dengan geram. “Gara-gara lo wajah ganteng gue jadi lecet kayak gini! Lo harus minta maaf!”
Entah hanya perasaan Vanya atau kemarahan yang Gerald tunjukkan memang sekadar pura-pura. Vanya mengangkat salah satu alis, “Emang kalau gue minta maaf, lo mau maafin gue?” Gerald tertegun mendengar pertanyaan Vanya.
Predikat ratu galak yang melekat padanya membuat Gerald berpikir jika Vanya tipikal cewek yang juga suka membalas makian seseorang dengan cara yang sama tetapi sepertinya Gerald salah, Vanya kelewat tenang sekarang dan itu membuat imajinasi Gerald akan perdebatan sengit yang akan terjadi pada mereka menjadi runtuh seketika.
“Gue bakal maafin kalau lo emang tulus minta maaf.” Gerald menjawab pelan sembari menggaruk tengkuk yang tak gatal. Berbicara dengan cewek setenang ini membuat Gerald sedikit salah tingkah, jantung Gerald bahkan berdetak kencang tak normal.
Biasanya Gerald yang lebih mendominasi tetapi kali ini tidak, berhadapan dengan Vanya tidak tahu kenapa membuat nyali Gerald menciut. Apalagi saat sepasang mata hitam belo itu menatap Gerald lekat, jantung Gerald seolah mau copot saat itu juga.
Sementara itu di sisi lain, setelah menyelesaikan urusan mengembalikan sepatu yang dipinjamkan Akbar kemarin, Akbar lebih dulu berpamitan masuk ke dalam kelas sedangkan Rahma hendak melakukan hal yang sama sebelum matanya menangkap sepasang siswa di lorong tidak jauh dari tempatnya.
Gerald dan cewek berkucir kuda yang pernah Rahma temui di masjid beberapa hari lalu. Rahma tidak sadar mencengkeram rok seragamnya kuat-kuat hingga jari-jemariya memutih. Gerald bertingkah tidak seperti biasanya, cowok itu tidak pernah sekaku itu bersama seorang perempuan, bahkan dengan Rahma sendiri, Gerald biasanya bertindak kejam pada cewek-cewek di sekolah. Tapi bersama cewek itu Gerald nampak berbeda dan perbedaan itu membuat Rahma cemburu.
“Apa... Gerald suka sama dia ya?” Rahma bertanya nanar.
Lalu tiba-tiba, pemandangan Gerald dan Vanya terhalang oleh tubuh Bella yang mendadak nongol di hadapan Rahma. Rahma sontak menatap cewek itu waspada sementara Bella mengulas senyuman jahat.
“Ucucucu, kasihan banget deh... si kutu buku jelek ternyata bisa cemburu juga. Hahaha...” ledek Bella. Rahma diam menunduk sedangkan Bella lanjut mengomel, “Kayak gitu tuh perasaan gue kalau lihat lo deket-deket sama my baby honey Gerald. Cuma karena lo sahabatnya Gerald, lo pikir Gerald juga suka sama lo? Haha, ngaca dong! Cowok seganteng Gerald tuh nggak pantes sama cewek kucel kayak gini,” Bella menarik seutas rambut Rahma dengan ekspresi jijik.
“Kalau my baby honey gamau sama gue, gue akan lebih rela dia sama cewek kayak Vanya daripada kayak lo!” Bella mengatakan ini bukan karena dia mendukung Vanya tetapi hanya untuk memanas-manasi Rahma saja. Karena Bella tahu tipikal seperti apa Vanya, cewek tomboy itu jelas tidak mungkin mau memilih Gerald.
“Va-vanya?” Rahma mengulang nama yang Bella sebutkan dengan kaget. Bella sampai agak heran menatap ekspresi cewek itu. “Cewek yang lagi sama Gerald di sana itu namanya V-A-N-Y-A, Vanya.” Bella membalas angkuh seraya melipat d**a.
“Vanya itu terkenal di sekolah ini, terlepas dari itu Vanya juga anak IPA II-A yang kelasnya sebelahan sama kita! Dasar cewek aneh, ngapain aja lo selama dua tahun sekolah di sini! Masa gitu aja gatau, udah deh ayo... ikut gue masuk! Kerjain PR matematika gue, cepetan!” Bella menarik pergelangan tangan Rahma supaya masuk ke dalam kelas.
Rahma hanya bisa menurut sambil terus berpikir mengenai Vanya. Jadi, cewek yang memukul Gerald dan cewek yang Rahma temui di masjid adalah cewek yang sama. Vanya, entah mengapa mendengar perkataan Bella yang mengatakan jika Gerald lebih cocok bersama cewek itu membuat Rahma sedih.
BERSAMBUNG...