"Aku tetep harus pulang?" tanya Nathan. Berharap Dinda akan mengajaknya untuk sekedar minum teh setelah memberikan dirinya kesempatan. Gadis itu menatap langit yang sudah mulai gelap sebelum melepaskan tangannya dari genggaman Nathan. "Kamu pasti capek, Nath. Pulang kerja langsung anterin aku." "Gak capek kok. Beneran, Nda." Nathan menggelengkan kepala dengan nada semangatnya yang berkobar. Namun, itu tak dapat menutupi wajah lelahnya. "Gak usah bohong," ujar Dinda membuat Nathan mendengkus. "Pulang sana!" "Kamu ngusir aku? Padahal kita baru aja balikan." "Nath, gak usah kekanak-kanakan kalau gak mau aku ingetin siapa yang lahir ke dunia ini duluan." Benar saja, Nathan langsung tampak kesal mendengar ancaman tersebut. Ia tidak bisa menyalahkan mama kekasihnya yang telah melahirkannya

