Dengan langkah mantap, Dinda berlari kecil menyusul lelaki itu yang sudah menghilang di pintu masuk. Sampai di dalam, Nathan sudah duduk dengan pandangan fokus pada ponselnya, sempat menoleh sejenak sebelum kembali berkutat dengan kegiatannya. Hal tersebut membuat suasana menjadi canggung. Kedatangan pramusaji membuatnya Dinda mengernyitkan dahi, ia pikir wanita muda itu salah mengirim pesanan. "Aku yang pesenin buat kamu." Suara Nathan membuatnya mengalihkan pandangan. "Makanan favorit kamu masih sama, 'kan?" Dinda sempat tertegun sebelum kemudian mengangguk. Keadaan hening untuk beberapa saat. Keduanya menyantap makanan masing-masing. Menyelesaikan kegiatan makannya, Dinda memanggil lelaki di seberangnya, "Nath." Nathan habis meneguk minumannya menoleh. "Ya?" Tiba-tiba Dinda merasa

