4. KUOTAKU SAYANG

1067 Words
                    Kuota aja aku sayang, Mas. Apalagi kamu? Tapi kamu selalu meragu untuk mengaku   Pagi ini Kalea dan Ayya berencana jalan-jalan di sekitaran daerah rumah orang tuanya. Kalea mengajak anaknya—Ayya ke taman yang dekat dengan rumahnya itu. Ketika berlibur Kalea memang suka berkunjung ke tempat ini, karena memang taman tersebut itu sejuk dan bersih. "Bunda, Ayya laper," ujar Ayya yang baru saja bermain ayunan itu menghampiri sang bunda sembari mengelus perutnya, membuktikan bahwa ia kelaparan. "Eum, bunda beliin bubur ayam, mau?" tawar Kalea langsung ditanggapi Ayya dengan anggukkan kepala. Kalea tersenyum dan segera bangkit dari posisi yang duduk di gazebo itu. Lalu Kalea menggandeng tangan Ayya dan mengajaknya ke penjual bubur ayam langganannya dulu sewaktu ia masih duduk di bangku SMA. Begitu sampai, Kalea langsung memesan se-porsi bubur ayam sekaligus teh hangat. Karena memang Kalea memesan hanya untuk Ayya saja. "Pak, bubur ayam sama teh angetnya satu, ya." "Siap, Neng!" Kalea pun mengajak Ayya untuk duduk di salah satu bangku yang masih kosong. Karena pelanggan bubur ayam tersebut tidaklah sedikit, apalagi ketika hari libur seperti ini. Itu pasti banyak yang menghabiskan waktunya bersama keluarga, seperti jalan-jalan ke taman, misalnya. Dan akan menikmati bubur ayam di sini ketika perut mereka berdendang minta untuk diisi. "Bunda." Ayya memanggil. "Iya." Kalea menoleh ke arah Ayya yang sedang mendongak menatapnya. "Telepon Daddy, Bunda." pinta Ayya. "Ayya kangen." Kenapa selalu permintaan itu? Dan kenapa selalu dia—Dirga yang dirindukan anaknya ini? Padahal ada Kalea—bundanya yang selalu ada untuknya. Bukan Dirga. Kali ini Kalea ingin bersifat egois, anggap saja ia cemburu. Karena Ayya selalu mencari Dirga—bukan dirinya, juga dengan mudahnya Ayya mengobrol dengan Dirga. Sedangkan dirinya hanya bisa menatap saja ketika mereka bertemu. Untuk bertegur sapa pun, tidak apalagi sekadar menanyakan kabarnya. Wajah Kalea memelas. "Kuota bunda abis, nanti beli dulu ya." tentu saja hal tersebut berhasil, berhasil membuat Ayya cemberut dengan mata berkaca-kaca. "Ayya mau sekarang, Bunda." Stubborn "Daddy 'kan lagi ngajar," ujar Kalea dengan nada lembut agar Ayya memahaminya, karena selain mengajak liburan ke rumah orang tuanya Kalea juga ingin hanya berdua—ralat, bertiga tapi belum tampak, tanpa adanya Dirga. Walaupun itu hanya via telepon. "Daddy libur, Bunda." telak Ayya membuat Kalea terdiam seketika. Ia ketahuan berbohong, Ayya tahu bahwa di hari Ahad daddy-nya itu tidak mengajar bahkan liburnya Sabtu-Ahad. Kalea pura-pura menepuk dahinya lalu berkata, "Oh iya, bunda lupa." lalu ia terkekeh sekaligus gemas dengan Ayya, kenapa Ayya harus ingat dan tahu. Bahwa ini hari Ahad dan daddynya itu tidak mengajar. "Sekarang sarapan dulu, deh. Nanti beli pulsa dulu, ya." bujuk Kalea ketika pesanannya diantar. Dan syukur Alhamdulillah, Ayya menurutinya kali ini tanpa ada air mata. Atau mungkin memang ia sudah kelaparan. Ayya langsung memakan sarapan dengan bantuan suapan Kalea. Begitu selesai sarapan, Kalea mengajak Ayya pulang tapi sebelum itu mereka mampir untuk membeli pulsa terlebih dahulu di sebuah counter kecil. “Voucher unlimited satu, Mas.” Si penjual tersebut langsung mengambilkan selembar kertas yang berukuran seperti kartu kepada Kalea. “Rp. 45.000,00.” “Sama pulsa.” Kalea disodorkan buku untuk menulis nomor yang akan diisi pulsa sesuai dengan kartu langganan yang dipakai. “Semuanya, Rp.57.000,00.” Sementara di sisi lain, Dirga sedang tiduran sambil memandangi ponselnya. Gambar Ayya yang dijadikannya wallpaper itu sangat imut dan menggemaskan. Membuat ia tersenyum saat memandanginya, Ayya cantik seperti... Kalea. Dengan hidung dan mata yang mirip dengan Dirga. Dia pun sebenarnya juga merindukan Ayya, namun untuk saat ini hingga beberapa waktu ke depan ia hanya bisa memandangi fotonya. Karena Ayya bercerita padanya bahwa akan berlibur ke rumah eyang ibunya sewaktu mereka jalan-jalan. Selain itu, juga tidak ingin menelepon lebih dahulu. Ia terlalu gengsi untuk melakukan hal tersebut, sekaligus agar merasa bahwa ia adalah orang yang dibutuhkan bukan membutuhkan. Walaupun sebenarnya Dirga kurang puas memandangi foto anaknya itu, ia bangkit dari tidurannya untuk segera membersihkan diri. Perutnya terasa lapar maka dari itu ia terpaksa bangun. Padahal rencananya ia ingin tidur sepanjang hari hingga kembali bertemu di hari Senin.   °^°   Apa kabar dengan mama Kalea setelah kejadian kemarin? Jawabannya, mama Kalea itu mendiaminya—seakan Kalea tak berkunjung ke rumah. Mamanya itu kecewa dengan sikap anak tunggalnya. Selama ini mamanya itu telah mengajarkan untuk tidak berbohong dalam hal apapun itu apalagi dalam keluarga. Entah apa yang ada dipikiran Kalea saat itu. mamanya tak habis pikir dengan Kalea. Sore ini, Ayya menagih janji kepada bundanya untuk menelepon sang daddy. Sebab dari pagi hingga sore ini Kalea hanya membuat bualan saja, mengalihkan pusat perhatian Ayya dari Dirga. "Bunda, telepon Daddy." pinta Ayya ketika ia selesai dimandikan Kalea dan telah berdandan sangat cantik. "Iya, sebentar." Kalea menjawabnya dengan nada tidak suka. Ia sedang menguncir rambut Ayya menjadi beberapa. "Nggak usah sebentar, Bunda. Sekarang." "Kan, bunda belum beli kuota Ayya." lagi-lagi hanya bualan Kalea yang keluar, padahal kuotanya masih ada dengan masa aktif untuk satu bulan ke depan. Belum lagi tadi sempat membelinya. “Tadi udah beli,” balas Ayya. "Ponsel bunda lagi di charger juga." hanya kalimat ini yang tidak mengandung unsur kebohongan. Sebab, Kalea sempat mengalihkannya dengan game yang ada di smartphone-nya. Ayya menoleh ke arah dimana letak nakas berada begitu rambutnya telah tertata rapi. Ayya memasang wajah cemberut dan siap untuk menangis. "Ayya kangen Daddy, Bunda." tumpah ruah sudah tangisan Ayya. "Kok nangis, sih? Cantiknya nanti ilang loh." Kalea mengusap air mata Ayya namun segera ditepisnya, Kalea pun segera memeluknya. "Bunda jahat." Kalau sudah menangis seperti ini Kalea tidak bisa melakukan apapun selain menurutinya. Dibujuk rayu dengan apapun takkan mempan. Kalea menyesal waktu itu telah menghubungi Dirga, seharusnya ia membiarkan saja Ayya rindu dengan daddynya itu. Kalea melepas pelukannya, menghapus air mata Ayya. Lalu menyentil hidungnya. Gemas. "Oke, bunda jahat. Sekarang diem dulu, jadi telepon Daddy, nggak?" Ayya mengangguk dengan wajah yang masih cemberut itu. "Bunda dikasih sun dulu, dong." pinta Kalea dengan menunjukkan pipinya. Ayya pun menciumnya, bahkan seluruh wajah Kalea membuatnya tersenyum. Kalea beranjak untuk mengecek ponselnya yang ternyata sudah terisi penuh itu lantas mencabutnya. Langsung saja mencari kontak 'Daddy Ayya' dan menyentuh icon video. Lalu memberikannya pada Ayya. Padahal Kalea sedikit sayang dengan kuotanya itu, kenapa bukan Dirga saja yang meneleponnya. Kalea merasa jengkel sendiri dengan hal itu. Sebab, Kalea hanya seorang guru dengan gaji yang tidak banyak harus memenuhi kebutuhannya dan Ayya. Belum lagi nanti ketika anak yang dikandungannya lahir. Sedangkan Dirga yang seorang dosen ia tak pengertian sama sekali, jika Kalea menghubunginya seperti itu harusnya segera menghubungi kembali. Jangan membuat Kalea menanggung biaya tarif untuk video call dirinya. Ya, walaupun Dirga juga ikut menanggung tapi kan… Padahal Dirga bukan seorang dosen biasa... Aargh memikirkan ini membuat Kalea kesal sendiri. Kalea mengalihkan pandangannya ke arah Ayya yang tenyata sedang mengadukan dirinya itu pada daddy-nya. Ayya mengatakan bahwa Kalea sedari pagi beralasan jika dirinya tidak memiliki paketan. Membuat Kalea seketika melotot ke arah Ayya yang sedang asyik bercengkerama dengan mantan suaminya—daddy Ayya. Astaga.              
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD