Sekiranya lemparkan senyum, itu sebagai sedekah yang murah dan mudah
Keesokannya Ayya rewel. Ketika bangun tidur ia langsung mencari daddy-nya namun tidak ditemukan. Itulah penyebabnya—tidak adanya daddy di rumahnya. Hingga Kalea kewalahan menghadapinya, bujuk rayuan yang dilontarkan pun tak mempan. Karena Ayya hanya butuh daddy-nya.
"Ayya mau ikut Daddy, Bunda!" hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Ayya. Tidak ada yang lain.
"Daddy 'kan lagi kerja, sayang," ujar Kalea lembut.
"Ayya mau ikut Daddy kerja, Bunda!" setelah itu Ayya menangis kencang. Kalea mencoba menenangkannya dengan memeluk tubuh kecil Ayya.
"Nanti kalau Daddy udah pulang, Ayya boleh ikut Daddy," ujar Kalea membujuk.
Kalea melirik jam dinding, jarumnya masih di angka 1 itu artinya Dirga masih mengajar di kelasnya. Karena profesi Dirga adalah sebagai dosen di salah satu Unviersitas Negeri ternama.
Tak lama kemudian, Kalea mendengar dengkuran halus yang membuatnya menundukkan kepala. Ayya tertidur. Lalu tangan Kalea terulur untuk mengusap kepala Ayya yang penuh keringat. Setelah itu Kalea membaringkan tubuh Ayya dan ia melanjutkan aktivitasnya kembali. Hari Ahad begini, memang sebaiknya menikmati hari libur dengan duduk manis di rumah; mengerjakan tugas yang belum selesai.
"Bunda selalu sayang Ayya." bisik Kalea dan memberikan kecupan di kening Ayya.
°^°
Sore ini sesuai rencana Kalea, ia dan Ayya akan berlibur di rumah orang tuanya. Sekarang mereka sedang berada di sebuah halte untuk menunggu mobil travelnya datang. Karena tidak memungkinkan bagi Kalea yang sedang berbadan dua untuk berkendara sendiri dengan jarak yang jauh. Barang yang dibawa pun tidaklah banyak namun cukup, hanya beberapa pakaian ganti dan sedikit oleh-oleh.
Dan hanya beberapa menit menunggu, mobil travel Kalea telah tiba dihadapannya. Ia dan Ayya pun segera masuk mobil tersebut untuk segera meluncur ke tempat rumah orang tuanya yang memakan waktu satu jam.
Baru beberapa menit perjalanan Ayya tertidur dipangkuan bundanya. Sedikit susah sebenarnya—mengingat keadaan Kalea. Dan Ayya tertidur hingga tiba di tempat tujuan mereka; rumah orang tua Kalea.
Itu karena rumah orang tua Kalea memang terletak di pinggir jalan. Jadi, memudahkan mereka untuk tidak harus berjalan kaki terlebih dahulu. Sebelum turun, jarak beberapa meter Kalea membangunkan Ayya terlebih dahulu. Kakinya cukup pegal dan terasa kesemutan, tentu saja itu terjadi.
"Bangun, Ayya." bisik Kalea sembari mengusap pipi Ayya lembut. "Udah sampe, sayang," katanya lagi.
Bisikan lembut Kalea tak kunjung membuat Ayya terbangun, malah ia mencari posisi ternyamannya dengan memeluk bunda-nya. "Ayya bangun."
Alih-alih bangun Ayya malah merengek dan melanjutkan tidurnya. Itu membuat Kalea menghembuskan napasnya lelah, ia sangat lelah. Terpaksa Kalea menggendong Ayya yang tidak kecil lagi itu. Namun Kalea juga tetap memperhatikan makhluk lain yang ada di kandungannya. Dengan pelan-pelan ia turun dari mobil travel itu dan ia pun langsung memencet bel yang terdapat di sebelah gerbang rumah milik orang tua Kalea.
Begitu gerbang yang tingginya hanya beberapa sentimeter di atas kepalanya. Kalea langsung bertatap muka dengan wanita berusia kepala enam yang dipanggilnya mama.
"Kalea!" wanita itu terkejut yang mendapati Kalea ada di depan rumahnya. Kalea tersenyum manis.
"Assalamu’alaikum, Ma," ucap Kalea sambil menarik pelan tangan sang mama dan mencium punggung tangannya.
"Wa’alaikumussalam." Mamanya Kalea langsung mengambil alih Ayya dari gendongannya, karena beliau tahu jika anaknya itu lelah.
"Ayo, masuk dulu!" ajaknya sembari berjalan mendahului Kalea yang sedang menenteng koper yang berukuran sedang.
Mama Kalea menidurkan cucunya itu di kamar Kalea yang dulu dipakainya saat sebelum menikah. Lalu menatap Kalea yang sedang meletakkan kopernya di sisi ranjang. Beliau—mama Kalea begitu terkejut saat mendapati Kalea yang kini berbeda terlebih pada bagian perutnya.
"Ka." panggilnya sembari menghampiri Kalea yang terdiam di tempatnya saat melihat tatapan sang mama. "Ka-mu hamil?" mamanya itu memegang pundak Kalea. Sementara Kalea sendiri perasaannya begitu tak karuan, merasa takut—sedih.
Seperti merasa hamil di luar nikah, namun kenyataannya bukan. "Kamu hamil?" tanya ulang sang mama yang tak kunjung mendapat jawaban dari Kalea. "Kalea! Jawab mama." mamanya itu tampak marah membuat Kalea takut dan akhirnya menangis.
"Iya, Ma. A-aku hamil, aku hamil anaknya Mas Dirga, Ma," jawab Kalea dengan menggenggam erat tangan mama.
"Kenapa kamu merahasiakannya, Ka?" tanya mama Kalea—Farida menuntut alasannya.
"Aku nggak merahasiakannya, Ma. Aku baru tau setelah sebulan aku sama Mas Dirga pisah." jelas Kalea dengan tubuhnya yang kini merosot dan memegang kaki sang mama. "Maafin aku, Ma. Maafin Kalea." Kalea mendongak menatap mamanya yang membuang muka. Seakan tak sudi menoleh ke arah Kalea.
"Dirga harus tau ini." Mama Farida langsung melepaskan tangan Kalea dari kakinya dan hendak beranjak.
Kalea tercekat dan menggeleng. "Aku mohon jangan, Ma. Aku takut," ucapan Kalea membuat mamanya itu menatapnya dengan tajam.
"Apa yang kamu takutkan, Kalea! Yang kamu kandung itu anaknya!" sentak sang mamanya, marah.
Kalea menggeleng. "Aku takut Mas Dirga nggak mau anggap anak ini."
“Mana ada seorang Ayah tak mau menganggap anaknya sendiri?”
“Mas Dirga bakal sulit untuk percaya.”
"Terus mau kamu gimana?" Mamanya merasa jengkel saat ini. Tak habis pikir dengan sifat anak semata wayangnya.
"Biarkan seperti ini, aku bisa jadi ibu sekaligus ayah buat mereka," ujarnya.
"Terserahmu!" begitu usai mengucapkan satu kata, mama Kalea itu pun keluar dari kamarnya. Sementara Kalea beranjak dari posisi dan menghampiri Ayya yang tertidur di ranjangnya. Ia mengelus puncak kepala Ayya lalu menciumnya.
"Bunda sayang Ayya sama Adek."
Inginku menghindari takdir, tapi itu mustahil. Tak ingin dianggap pengecut tapi aku merasa lelah dan berharap ini segera usai. Keadilan manakah yang dimaksudkan-Nya.
°^°
Malam harinya, Kalea tak berani keluar kamar. Yang ada hanya berdiam dan berdiam. Keluar kamar hanya mengambil air wudlu saja.
"Bunda, Eyang ibu panggil!" Ayya datang menyampaikan amanah dari mama Farida.
"Kenapa?"
"Makan sama-sama."
"Bunda nyusul." Ayya yang polos itu pun berlenggang pergi meninggalkan Kalea yang sedang melipat mukena-nya.
Terdengar samar suara percakapan antara Ayya. Menanyakan keberadaan Kalea.
"Bunda mana?" tanyanya sembari menyiapkan lauk di meja dan mengelap piring.
"Di kamar," jawab Ayya singkat.
"Tadi Ayya nggak panggil?" tanya mama Farida lagi.
"Udah." Ayya kini duduk di kursi makan dengan susah payah, karena lebih besar bentuk kursi daripada tubuhnya.
"Terus?" cerca mama Farida yang gemas dengan cucu satu-satunya ini.
"Kata Bunda, nyusul." mendengar jawaban yang terlontar Ayya, mama Farida berdecak kesal. Bagaimana bisa orang hamil mengabaikan untuk makan.
"Ayya mau makan sama apa?"
Ayya langsung menatap satu persatu lauk yang terhidang di atas meja, kaki mungilnya digerakkan pelan.
"Rawon." Mama Farida segera mengambilkan sedikit nasi dan rawon.
"Makan sendiri, ya. Eyang ibu mau panggil Bunda." titah mama Farida kemudian. Dan Ayya menggeleng.
"Nggak mau makan sendiri." akhirnya pun mama Farida menyuapi Ayya sembari juga ia memakan nasinya sendiri.
Berulang kali berdecak kesal karena Kalea tak kunjung ada menyusul ke meja makan. Ingin setelahnya ia mengomeli Kalea hingga anaknya itu tahu dan paham.
Begitu selesai, mama Farida mengambil sepiring nasi dengan rawon tak lupa sambal dan juga segelas air putih. Lalu mengantarkannya ke kamar Kalea.
"Ka." panggil mama Farida seraya mendorong pintu kamar Kalea yang sedikit terbuka itu.
Meletakkan nampan diatas pangkuan Kalea yang sedang berselonjoran di kasur.
"Kalau udah tahu hamil, harusnya itu jaga pola makan. Jangan seenaknya sendiri," tutur mama Farida membuat Kalea terdiam seribu bahasa.
"Paham Kalea?" tanya mama Farida dengan tegas karena tak kunjung mendengar jawaban membuat Kalea seketika mengangguk.
Setelahnya mama Farida meninggalkan Kalea yang menghembuskan napasnya pelan. Batinnya berkata, sabar. Lalu menatap nampan, nasi beserta lauk juga segelas air putih. Ia tersenyum getir.
"Eyang ibu ambilin bunda makan sepadan sama porsi tukang kuli bangunan, nih." kekeh Kalea mengusap perutnya, mengajak bicara jabang bayi itu. Mungkinkah ia bisa menghabiskan porsi besar tersebut.
"Kita makan ya, Adek."