Rumus mencintaimu itu dengan cara bersabar ditambah tulus lalu dikalikan
Menjelang pagi hari, Kalea kembali ke rutinitas biasanya. Hari ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas itu tandanya tahun ajaran semester ganjil akan segera berakhir.
"Ayya, nanti liburan ke rumah Eyang Ibu, mau?" ujar Kalea sebelum berangkat ke sekolah. Karena mereka masih sarapan, dengan Kalea yang sedang menyuapi Ayya. Eyang ibu adalah panggilan nenek untuk mamanya Kalea.
"Mau Bunda mau!" sahut Ayya riang membuat Kalea tersenyum.
"Oke, lima hari lagi kita berangkat." beritahu Kalea sambil terus menyuapinya hingga habis tak tersisa.
"Yeay!" seru Ayya lantas membuat Kalea lagi-lagi tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Ayya.
Namun tiba-tiba air muka Ayya berubah sendu. "Tapi Ayya kangen sama Daddy, Bunda. Ayya mau ketemu sama Daddy."
Pernyataan Ayya membuat Kalea merasa sedih sekaligus bersalah, karena secara terang-terangan ia sudah memisahkan hubungan Anak dan daddy tersebut. Namun ini bukan kesalahan tapi takdir—jalan hidupnya. Mereka harus berpisah karena suatu hal, mungkin kesalahpahaman.
Kalea menarik napas dalam untuk menghilangkan sesak di dadanya. "Daddy ‘kan lagi sibuk kerja."
Jawaban yang selalu sama.
"Daddy udah nggak sayang sama Ayya lagi ya, Bunda?" Kalea tak kuat lagi untuk tidak menangis itu segera memeluk putri semata wayangnya yang kini sudah menangis.
"Daddy selalu sayang sama Ayya, tapi sekarang Daddy lagi sibuk kerja. Ayya terus doain Daddy, ya," tutur Kalea lalu ia pun melepaskan pelukannya. "Nah, sekarang Ayya sekolah dulu, oke!" ujarnya dengan menghapus air mata Ayya.
"Maafin bunda," tutur Kalea dalam hati. Ia menghapus air matanya lalu menatap Ayya dengan tersenyum.
Lalu mereka pun segera berangkat ke sekolah karena waktu semakin berputar.
°^°
Dua hari kemudian, Kalea sedang mengerjakan raport milik anak didiknya. Agar ketika liburan tiba ia tak memusingkan tugas tersebut, karena pihak sekolah memberikan raport tersebut setelah usai liburan. Jadi, untuk saat ini Kalea akan mengerjakannya terlebih dahulu.
"Bunda!" panggil Ayya yang baru saja bangun dari tidur siangnya. Mendengar suara anaknya itu Kalea segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Ayya yang masih tiduran di atas kasur.
"Kenapa?" tanya Kalea begitu dirinya sudah di kamar. Duduk di samping ranjang sambil menyingkirkan helaian rambut Ayya yang menutupi wajah ayunya.
"Ayya pengin es krim Bunda, tadi Ayya mimpi makan es krim," ujar Ayya.
"Oh ya? Gimana kalau belinya besok?" kata Kalea. Karena baru tiga hari yang lalu Ayya memakan es krim. Kalea tak melarang anaknya melakukan apapun tanpa adanya batasan. Akan tetapi mencegahnya jika itu tidak atau belum boleh dilakukan oleh Ayya. Kalea juga tak memanjakan Ayya, karena ia sangat paham—memanjakan anak tak baik untuk emosionalnya.
Ayya cemberut. "Pengin sekarang, Bunda."
Sejenak Kalea terdiam, mencari cara untuk mengalihkan Ayya dari es krim. "Eum, gimana kalau s**u coklat, mau?" tawar Kalea.
"Nggak mau, Ayya pengin es krim Bunda!" suara Ayya sedikit meninggi dengan nada merengek dan siap menangis.
"Bunda teleponin Daddy, gimana?" Kalea terus mencoba mengalihkan Ayya dari es krim. Sebenarnya, ketika Ayya sering memakan es krim akan membuat Ayya flu dan batuk. Itulah kenapa Kalea sedikit memberi jarak waktu.
"Ayya nggak mau telepon, Ayya maunya ketemu Daddy."
Walaupun Ayya menolak untuk telepon-an dengan daddy-nya, Kalea tetap menghubungi mantan suaminya itu. Kalea mengotak-atik ponselnya untuk mencari kontak nomor Daddy Ayya. Lalu langsung menghubunginya melalui video call. Lama, namun begitu hubungan tersambung dan menampilkan wajah seseorang dari layar lima inch itu. Kalea segera memberikannya pada Ayya.
"Daddy." bisik Kalea memberitahukan Ayya. Seketika Ayya cemberut dengan menatap layar ponsel bundanya.
°^°
Siang itu Dirga sedang berada di rumah karena ia terus muntah-muntah sejak pagi. Tiap hari malah, tapi ini yang paling parah dari sebelumnya. Entah sejak kapan yang jelas ini sudah berlangsung lama.
Saat membaringkan tubuhnya di kasur, ponselnya berdering. Diambilnya dari nakas lantas melihat siapa gerangan, layar menampilkan nama Bunda Ayya. Berdecak kesal ia menggeser layar tersebut hingga menampilkan gadis kecil yang sedang memasang muka masam.
"Ayya nggak mau telepon Bunda, Ayya pengin ketemu Daddy!" Ayya melepar ponsel itu ke kasur. Kalea menghela napasnya, menguatkan diri.
"Alayya." Dirga memanggil dan hal itu didengar Kalea yang seketika hatinya bergemuruh. Ia merindukan orang tersebut. Tapi itu hanya sebatas rasa yang tertimbun tanpa ada balasan ataupun obat pereda.
Layar yang sempat menampilkan langit-langit kini mengeskpos wajah Ayya. Ayya memperhatikannya, "Ayya pengin ketemu Daddy?" tanya Dirga. Ayya mengangguk lalu merebut ponsel dari genggaman bundanya. Mengabaikan bundanya dan asyik bercengkerama dengan daddy.
"Oke, nanti daddy jemput Ayya. Kita jalan-jalan, ya."
"Jalan-jalan?" Ayya bersuara.
"Iya, jalan-jalan, mau?"
"Mau Daddy!"
"Ya udah, sekarang Ayya siap-siap nanti daddy jemput."
Sementara Kalea yang sedari tadi terdiam itu terlonjak kaget kala Ayya memanggilnya. "Bunda!"
Kalea menoleh ke arah Ayya yang sedang tersenyum. "Apa?"
"Daddy mau ajak Ayya jalan-jalan." beritahu Ayya pada Kalea. Padahal tanpa diberitahu pun sang bunda sudah mengetahuinya.
Kalea mencoba tersenyum. "Ya udah, sekarang Ayya siap-siap dulu."
Ayya pun segera beranjak turun dari kasur dan bergegas untuk bersiap-siap. Ini kali pertama mereka bertemu setelah Kalea dan suaminya memutuskan untuk tidak tinggal bersama. Maka dari itu rasa rindu ini yang terpendam.
°^°
Tepat pukul tiga sore, mobil hitam milik mantan suami Kalea sampai di perkarangan rumahnya. Ayya yang mendengar deru mobil yang berhenti di depan rumahnya itu langsung bergegas keluar.
"Assalamu’alaikum."
"Wa’alaikumussalam, Daddy!" Ayya berlari dan memeluk pinggang daddy-nya.
Kalea yang mengikuti langkah Ayya tadi pun melihat adegan tersebut membuatnya tersenyum miris. Andaikan perpisahan ini takkan terjadi, maka setiap waktu adegan itu akan selalu dilihatnya. Namun, hanya sebatas angan dalam kata andai.
"Berangkat sekarang?" tanya daddy Ayya. Ayya mengangguk lalu berpamitan pada Kalea. Dirga enggan menatap Kalea sama sekali bahkan berniat untuk menghindari adanya kontak mata.
"Bunda, Ayya pamit, ya?" Kalea pun mengangguk dan tersenyum. Karena Kalea menolak untuk ikut saat Ayya mengajaknya dengan alasan ia harus mengerjakan tugasnya; menulis raport.
"Hati-hati, ya, yang pinter," pesan Kalea.
"Siap, Bunda!" ujar Ayya lalu menatap sang daddy. "Ayo, Daddy!" Ayya menggandeng tangan besar daddy-nya.
"Hati-hati di jalan, Mas Dirga." lirih Kalea menahan sesak.
Begitu mereka berlenggang pergi Kalea pun tak kuasa untuk menangis. Mantan suaminya itu tak menyapanya sama sekali, ia berubah menjadi sosok dingin dan terkesan cuek.
Kalea pun segera masuk rumah, duduk di kursi yang ada di ruang tamu. Tangannya mengelus perut yang kini buncit, setidaknya ada buah cinta lain yang tertinggal di kehidupannya. Walaupun mereka tak bersama Kalea akan mempertahankannya hingga ia melahirkannya ke dunia. Sebagai bukti ia masih mencintai Dirga.
Kehamilan ini tak ketahui oleh Dirga, karena Kalea sendiri pun baru mengetahuinya saat mereka memilih berpisah satu bulan setelahnya. Dan Kalea barusan menutupinya dengan memakai baju yang sedikit kebesaran di tubuhnya.
Untuk apa kita bersatu, bila akhirnya berpisah.
Untuk apa kita bersama, bila akhirnya ku melangkah sendiri.
Untuk apa kita saling mengenal, bila akhirnya tak saling menyapa.
°^°
Dirga mengajak Ayya ke mall, bermain di sana—mencoba permainan yang ada. Menciptakan derai tawa menghapus rindu dengan daddy. Karena terhitung satu bulan lamanya Ayya dengan Dirga tak bertemu. Tak jarang hal itu menimbulkan tanya pada Ayya yang belum memahami situasi keadaan orang tuanya.
“Daddy.” Ayya memanggil. Dirga menoleh dengan diam, alisnya terangkat.
“Ayya kebelet pipis,” Ayya berkata dengan lirih. Perkataan Ayya sukses membuat Dirga melotot, bergegas ia membawa sang anak dengan meninggalkan area bermain itu ke toilet. Tapi begitu tepat berada di ambang pintu toilet ia bingung. Di sana tentu ada dua pintu; antara laki-laki dan perempuan. Jelas dengan tanda yang terpampang di pintu. Ia tak mungkin membawa sang anak ke tempat toilet laki-laki. Sesaat ia membuka pintu..
Dag—brrakk
Dirga mendapat timpukan sepatu dan itu tepat mengenai dahinya yang seketika membuat Dirga mengaduh, sementara yang melempar sepatu melontarkan kicauan berupa caci maki.
“Don’t pip! Are you crazy?! You don’t belong here.”
Sementara Dirga kembali meratapi nasibnya. Begitu penghuni toilet yang bernama makhluk berjenis wanita itu keluar ia menatap Dirga sengit tak segan tangannya menampar pipi Dirga.
Ayya yang melihat itu hanya bingung, ia fokus dengan dirinya yang ingin membuang hajat. Tapi kenapa bisa daddy-nya itu menerima tamparan dari orang yang tak dikenalnya.
“Daddy, Ayya kebelet, ih!” kata Ayya kesal dengan mata berkaca-kaca.
Bergegas Dirga membantu Ayya, ia kunci pintu itu dan membawa Ayya ke salah satu bilik. Lalu membiarkan Ayya membuang hajatnya. Tak lama kemudian.
“Daddy, udah.”
Setelah semua selesai, Dirga mengajak anaknya ke foodcourt mengingat tadi sore berangkat hingga menjelang maghrib. Setelah memesan makanan Dirga langsung mencari bangku untuk ia duduki dengan menggandeng Ayya agar tidak kehilangan jejaknya.
“Daddy.” Ayya memanggil membuat Dirga menoleh. “Kenapa Daddy nggak pernah pulang, bobok bareng Bunda sama Ayya?” tanyanya.
“Daddy ‘kan kerja,” jawab Dirga dengan memberikan seculas senyuman. Kenyataannya dalam hati terasa pahit.
“Kerja nggak pulang?” Ayya bertanya kembali.
“Iya.”
“Padahal Ayya kangen,” kata Ayya sedih. Segera Dirga memeluk anaknya dari samping dengan sayang.
“Sekarang udah ketemu,” balas Dirga kemudian mencium puncak kepala Ayya. Hingga sang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Dirga pun melepaskan pelukannya.
“Disuapin Daddy, ya?” pinta Ayya yang kembali ceria, dengan senyum mengembang bagai adonan yang telah diberi baking powder Dirga mengangguk.
Tepat jam 8 malam, Ayya baru saja pulang dari jalan-jalan bersama daddynya, Dirga. Ayya yang tertidur pulas itu membuat Dirga harus menggendongnya untuk masuk ke dalam rumah Kalea. Yang sebelumnya, Dirga mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tanpa berkata, Kalea langsung menunjukkan kamar yang dipakai Ayya. Begitu Dirga telah selesai dengan aktivitasnya itu, tanpa berpamitan ia segera berlenggang pergi. Alih-alih berpamitan, menatap saja Dirga seperti tak sudi. Dan lagi-lagi hati Kalea mencelos sakit dibuatnya.
"Mas." panggil Kalea.
Dirga memang berhenti melangkah namun tak berbalik, cukup sekian detik Dirga melanjutkan langkahnya kembali.
"Hati-hati," ujar Kalea lirih, menahan sesak dalam dadanya.
Setelah itu, ia menutup pintu dan menguncinya. Ia pun menuju ke kamar Ayya untuk beristirahat di sana. Karena Kalea dan Ayya memang tidur bersama.
Kalea menatap wajah Ayya lama, hidung dan mata Ayya sangat mirip dengan Dirga. Maka dari itulah Kalea mencium keduanya—di bagian wajah Ayya. Sebagai pereda rindu.