Prok.. Prok.. Prok..
Aku terkejut mendengar tepuk tangan itu. Suaranya menggema di ruangan hening ini sehingga terdengar begitu keras. Segera aku menoleh ke arah sumber suara tepukan tangan tersebut. Seorang cowok tengah berdiri bersandar di bingkai pintu dengan kedua tangan terlipat di d**a. Tatapan matanya lurus ke arahku yang tengah berdiri di depan DVD player dan baru saja menekan tombol stop.
"Gerakan lo oke juga." Ia berkomentar, atau mungkin memujiku lebih tepatnya.
"Maksud lo gerakan gue ngepel lantai?" Aku mengerutkan kening tanda tidak mengerti akan arah pembicaraanya.
"Hahaha..." Ia tertawa, "Ya gerakan dance lo tadilah, masa gerakan lo ngepel lantai?!" Cowok itu melanjutkan dengan santai.
"Gue nggak nge-dance," aku menggeleng.
"Oh ya?" Keningnya juga ikut berkerut menanggapi jawaban yang kuberikan, "Tapi tadi gue lihat lo..."
"Udahlah, lupain aja!" Aku segera memotong sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Karena jujur, aku benci mendengar kata 'Dance'. "Sekarang lo ngapain di sini?"
"Gue?" Ia bertanya sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah dirinya sendiri. Aku mengangguk. Cowok itu terdiam sesaat. Entah apa yang tengah ia pikirkan, tapi sepertinya ia lupa akan tujuan awalnya datang ke sini.
"Oh iya!" Ia bergumam. "Gue mau ngambil stick drum gue yang kemaren ketinggalan di sini," katanya kemudian. Aku terdiam lalu berfikir sejenak.
Ngambil stick drum? Berarti dia bakal masuk ke ruangan ini dong? Terus nginjek-nginjek lantai yang abis gue pel, abis itu jadi kotor lagi deh. Rengekku dalam hati.
"Nggak.. Nggak.. Nggak boleh!" Aku berkata dengan tegas. Dengan kata lain aku melarangnya untuk masuk ke ruangan ini. "Pokoknya lo nggak boleh masuk ke sini tanpa seizin gue!!" Aku melanjutkan dengan memberikan penekanan pada setiap kata yang kuucapkan.
"Hah..? Peraturan apaan tuh?" Cowok itu bertanya. Sementara tatapannya masih terpaku padaku.
"Ya peraturan gue!" Aku menjawab cuek. Secuek mungkin malah. "Kenapa? Lo nggak suka?" Aku bertanya menantangnya.
"Emangnya lo pikir lo siapa bisa seenaknya bikin peraturan di sekolah ini, hah?" Ia kemudian balik bertanya kepadaku. Kini volume suaranya berubah menjadi sedikit lebih keras dari sebelumnya. "Anaknya kepala sekolah? Atau.. Lo cucu ketua yayasan di sekolah ini?" Benar-benar di luar dugaan. Aku tak menyangka ia akan menanyakan hal itu. Aku kira ia akan mengalah lalu pergi. Tapi sayangnya nggak semudah itu. "Bukan kan?" Belum sempat aku menjawab, ia kembali bertanya.
Baiklah. Aku kalah. Aku memang bukan siapa-siapa di sini. "Oke, lo boleh masuk tapi lo mesti lepas tuh sepatu." Aku menjawab dengan tak bersemangat sambil mengangkat jari telunjukku lalu kuarahkan pada sepatunya.
"Kenapa mesti dilepas?" Cowok itu bertanya kembali. Kini suaranya kembali stabil, datar dan tidak terlalu keras.
"Ya karena ini lantai baru aja gue pel. Lo liat sendiri kan, udah bersih, bening seperti tanpa lantai?"
"Terus?"
"Ya Tuhan.. Ini cowok ngeselin banget sih! Udah gue jelasin panjang lebar, eeeh yang keluar dari mulutnya cuma kata 'terus'? Satu kata yang nggak penting!" Aku bergumam sendiri. Sementara cowok itu masih tetap terdiam di ambang pintu menunggu kelanjutan penjelasanku.
"Ya terus kalo lo injek-injek pake sepatu lo yang dekil bin kotor itu, nantinya ini lantai juga bakalan ikut-ikutan kotor. Otomatis gue mesti ngepel ulang lantai ini lagi, ngerti nggak sih lo?" Aku kembali menjelaskan. Dari nada bicaraku tentu terselip kekesalan yang amat sangat mendalam pada cowok yang kini berdiri berpandangan denganku itu.
"Ya itu sih derita lo!" Ia menjawab. Tenang tapi berhasil membuatku naik darah.
Aku pejamkan kedua bola mataku sejenak. Kutarik napas panjang dari hidung, lalu aku keluarkan lewat mulut. Hal itu kulakukan sebanyak tiga kali berturut-turut. Sebisa mungkin aku mencoba bersabar menghadapi cowok itu.