Chapter Three

1224 Words
Prok.. Prok.. Prok..   Aku terkejut mendengar tepuk tangan itu. Suaranya menggema di ruangan hening ini sehingga terdengar begitu keras. Segera aku menoleh ke arah sumber suara tepukan tangan tersebut. Seorang cowok tengah berdiri bersandar di bingkai pintu dengan kedua tangan terlipat di d**a. Tatapan matanya lurus ke arahku yang tengah berdiri di depan DVD player dan baru saja menekan tombol stop.   "Gerakan lo oke juga." Ia berkomentar, atau mungkin memujiku lebih tepatnya.   "Maksud lo gerakan gue ngepel lantai?" Aku mengerutkan kening tanda tidak mengerti akan arah pembicaraanya.   "Hahaha..." Ia tertawa, "Ya gerakan dance lo tadilah, masa gerakan lo ngepel lantai?!" Cowok itu melanjutkan dengan santai.   "Gue nggak nge-dance," aku menggeleng.   "Oh ya?" Keningnya juga ikut berkerut menanggapi jawaban yang kuberikan, "Tapi tadi gue lihat lo..."   "Udahlah, lupain aja!" Aku segera memotong sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Karena jujur, aku benci mendengar kata 'Dance'. "Sekarang lo ngapain di sini?"   "Gue?" Ia bertanya sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah dirinya sendiri. Aku mengangguk. Cowok itu terdiam sesaat. Entah apa yang tengah ia pikirkan, tapi sepertinya ia lupa akan tujuan awalnya datang ke sini.   "Oh iya!" Ia bergumam. "Gue mau ngambil stick drum gue yang kemaren ketinggalan di sini," katanya kemudian. Aku terdiam lalu berfikir sejenak.   Ngambil stick drum? Berarti dia bakal masuk ke ruangan ini dong? Terus nginjek-nginjek lantai yang abis gue pel, abis itu jadi kotor lagi deh. Rengekku dalam hati.   "Nggak.. Nggak.. Nggak boleh!" Aku berkata dengan tegas. Dengan kata lain aku melarangnya untuk masuk ke ruangan ini. "Pokoknya lo nggak boleh masuk ke sini tanpa seizin gue!!" Aku melanjutkan dengan memberikan penekanan pada setiap kata yang kuucapkan.   "Hah..? Peraturan apaan tuh?" Cowok itu bertanya. Sementara tatapannya masih terpaku padaku.   "Ya peraturan gue!" Aku menjawab cuek. Secuek mungkin malah. "Kenapa? Lo nggak suka?" Aku bertanya menantangnya.   "Emangnya lo pikir lo siapa bisa seenaknya bikin peraturan di sekolah ini, hah?" Ia kemudian balik bertanya kepadaku. Kini volume suaranya berubah menjadi sedikit lebih keras dari sebelumnya. "Anaknya kepala sekolah? Atau.. Lo cucu ketua yayasan di sekolah ini?" Benar-benar di luar dugaan. Aku tak menyangka ia akan menanyakan hal itu. Aku kira ia akan mengalah lalu pergi. Tapi sayangnya nggak semudah itu. "Bukan kan?" Belum sempat aku menjawab, ia kembali bertanya.   Baiklah. Aku kalah. Aku memang bukan siapa-siapa di sini. "Oke, lo boleh masuk tapi lo mesti lepas tuh sepatu." Aku menjawab dengan tak bersemangat sambil mengangkat jari telunjukku lalu kuarahkan pada sepatunya.   "Kenapa mesti dilepas?" Cowok itu bertanya kembali. Kini suaranya kembali stabil, datar dan tidak terlalu keras.   "Ya karena ini lantai baru aja gue pel. Lo liat sendiri kan, udah bersih, bening seperti tanpa lantai?"   "Terus?"   "Ya Tuhan.. Ini cowok ngeselin banget sih! Udah gue jelasin panjang lebar, eeeh yang keluar dari mulutnya cuma kata 'terus'? Satu kata yang nggak penting!" Aku bergumam sendiri. Sementara cowok itu masih tetap terdiam di ambang pintu menunggu kelanjutan penjelasanku.   "Ya terus kalo lo injek-injek pake sepatu lo yang dekil bin kotor itu, nantinya ini lantai juga bakalan ikut-ikutan kotor. Otomatis gue mesti ngepel ulang lantai ini lagi, ngerti nggak sih lo?" Aku kembali menjelaskan. Dari nada bicaraku tentu terselip kekesalan yang amat sangat mendalam pada cowok yang kini berdiri berpandangan denganku itu.   "Ya itu sih derita lo!" Ia menjawab. Tenang tapi berhasil membuatku naik darah.   Aku pejamkan kedua bola mataku sejenak. Kutarik napas panjang dari hidung, lalu aku keluarkan lewat mulut. Hal itu kulakukan sebanyak tiga kali berturut-turut. Sebisa mungkin aku mencoba bersabar menghadapi cowok itu.Aku buka kedua bola mataku, dan terkejut melihat cowok itu melangkahkan kakinya masuk ke ruangan yang telah kubersihkan tanpa melepas alas kakinya terlebih dahulu. Ditambah lagi kulihat jejak-jejak sepatunya yang menempel di lantai. Entah usaha apa lagi yang harus kulakukan untuk mencegahnya. Apa aku harus memohon padanya? Kalau memang itu satu-satunya jalan, oke gue bakal coba. Aku mengeluh dalam hati.   "Hey!" Mendengar itu, cowok itu lalu menoleh ke arahku. "Gue mohon banget, lo jangan injek lantai ini lagi yah... Soal stick drum lo biar gue yang cari! Lo tinggal diem aja di situ, nggak usah ke mana-mana, okay?" Aku menawarkan bantuan padanya dengan nada suara selembut mungkin. Dan berhasil. Cowok itu mengangguk dengan disertai senyuman manis di bibirnya. Ya, baru kusadari ternyata senyuman cowok itu memang manis banget. Pantas aja banyak cewek yang mau sama dia.   "Oke. Sekarang lo kasih tau gue, di mana terakhir kali lo tinggalin stick drum itu?"   "Ya mana gue tau! Orang yang maen drum bukan gue." Baru saja aku terpesona dengan senyumannya, tapi kini ucapannya kembali membuatku kesal.   Sabar Stella.. Sabar.. Hatiku terus mencoba meyakinkan diriku untuk tetap bersabar menghadapi cowok yang satu ini. "Oke. Kalo gitu, gue coba cari di sini dulu." Aku melangkah menuju ke sudut barat ruangan karena di situlah terletak satu set drum serta peralatan band lainnya.   Aku mulai mencari stick drum milik cowok itu. Kedua bola mataku menjelajah ke tempat-tempat yang mungkin terdapat benda yang tengah kucari.   Tiga menit berlalu, namun belum juga kutemukan benda kecil memanjang yang terbuat dari kayu itu. Berkali-kali aku cek namun tetap tidak ada. Ini cowok beneran kehilangan stick drumnya di sini apa nggak sih? Kataku dalam hati dan mulai curiga pada cowok itu. Apakah dia sekarang sedang mengerjaiku.   "Lama banget sih lo!!" Cowok itu berkata dengan sedikit berteriak memecah keheningan. "Sini, biar gue cari sendiri aja!" Ia melanjutkan.   Aku lalu melangkah kembali ke tempatku semula. "Ya sabar dong!  Ini juga lagi gue cari." Kini nada bicaraku juga mulai berubah sedikit berteriak. Kesabaranku perlahan-lahan mulai habis karena berurusan dengan cowok ini. "Masih mending mau gue cariin." Kutatap lekat-lekat kedua bola matanya dan mengamati dirinya yang masih berdiri mematung dua meter dari pintu masuk.   "Oh.. Jadi lo nggak ikhlas bantuin gue?" Ia bertanya. Mukanya sangar dan mungkin sedikit marah. "Ya udah. Kalo gitu biar gue cari sendiri." Setelah mengatakan itu, ia lalu melangkah ke sebelah kiri ruangan. Dan benar saja, lantai ini semakin kotor dibuatnya. Jejak-jejak tanah basah yang ditinggalkan oleh sepatunya benar-benar menghabiskan sisa-sisa kesabaran dalam diriku.   Melihat cowok itu seenak-enaknya mengotori lantai yang baru saja kubersihkan, kemarahanku keluar dengan sendirinya. "HEH!! Lo nggak denger apa, GUE BILANG LO DIEM AJA DI SITU!" Aku berteriak dan berharap dia menghentikan langkahnya. Namun tak ada respon darinya. Ia terus melangkah tanpa menghiraukan betapa kesalnya diriku padanya.   Tiba-tiba aku teringat akan ember yang berisi air kotor bekas membersihkan lantai yang ada di sampingku. Dari situ aku mendapatkan ide yang aku harap bisa menghentikan cowok itu.   "WOY!! Lo denger gue nggak sih?" Pertanyaan itu kutujukan padanya namun tetap tak ada respon darinya. "Oke. Sekali lagi lo melangkah, gue siram lo pake ni air!"   Mendengar ucapan terakhirku, ia berhenti. Kini pandangannya beralih kepadaku. "Lo pikir gue takut sama ancaman lo?" Ia bertanya, menatapku sejenak, lalu kembali melangkah.   "Dan lo pikir gue bercanda?" Aku bergumam. Habis sudah kesabaranku. Kuangkat ember yang di dalamnya terdapat air kotor itu lalu kusiramkan ke arah cowok itu.   Byuuurr... Air di dalam ember itu tumpah ke lantai tepat di belakang cowok itu berdiri. Anjrit! Kenapa mesti meleset sih? Dasar b**o! Aku memaki diriku sendiri dari dalam hati. Berakhirlah sudah. Lantainya kini menjadi semakin kotor karena ulahku sendiri. Namun melihat seragam cowok itu basah karena cipratan air yang kusiram, rasa kecewaku sedikit memudar.   Kini cowok itu tengah berdiri menatapku. Sorot matanya berapi-api mengarah ke kedua bola mataku.   "Lo mau coba cari masalah sama gue?" Ia bertanya dengan santai. "Lo nggak tau siapa gue?" Ia kembali bertanya namun lebih keras dari sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD