Chapter Four

1431 Words
  Tentu aku tau siapa dia. Bahkan bukan hanya aku, semua siswa di sekolah ini pun pasti tau siapa dia. Steve. Cowok yang cukup populer dan terkenal. Terkenal suka gonta-ganti cewek maksudnya. Setahuku, ia adalah siswa kelas XIIPS5 dan aku cukup tahu banyak hal tentang dia. Karena dulu, waktu kelas X kelas kami bersebelahan. Selain suka gonta-ganti cewek, dia juga seorangvokalis band. Dan tampangnya ya... Okelah. Pokoknya nggak malu-maluin deh, buat diajak jalan.   "Buat gue, siapa lo itu nggak penting." Aku menjawab seadanya tanpa memalingkan pandanganku dari wajahnya. "Tapi setahu gue, lo dulu yang cari masalah sama gue." Aku melanjutkan dengan disertai senyuman miring milikku. Senyuman kebanggaanku, karena tak ada orang lain yang bisa tersenyum miring sesempurna senyumanku.   Steve terdiam sejenak lalu kemudian menyahut. "Oke. Kalo gitu, kita selesaikan masalahnya bersama-sama." Ia juga ikut tersenyum menatapku. Entah apa maksud dari senyumannya, aku sendiri pun tak tau.   "Maksud lo?"   Cowok itu tidak menjawab pertanyaanku. Pandangannya kini beralih dari bola mataku menuju ke ujung kakiku, terus naik ke lutut dan pahaku yang tertutup rok warna abu-abu yang menandakan bahwa aku anak SMA, naik lagi ke pinggangku dan pandangannya berhenti di dadaku. Entah apa yang menjadi fokus pandangannya, namun ia terus memandangi dadaku.   "Stella... Stella... Stella..." Ia berkata perlahan. Mendengar ia menyebut namaku, aku sadar bahwa yang tadi ia lakukan adalah sedang membaca atribut nama yang tertera di d**a sebelah kananku. "Lo kalo diliat-liat manis juga." Cowok itu berhenti sejenak. "Seksi," lanjutnya kemudian dengan disertai senyuman nakalnya.   Rona pipiku memerah mendengar pujiannya. "A.. Apaan sih lo?" Aku tergagap menanggapi pujiannya. Kualihkan pandanganku darinya. Kini aku benar-benar tak kuasa menatap matanya.   Steve perlahan-lahan melangkah menghampiriku. Kedua tangannya membuka satu persatu kancing yang tertera di kemeja putihnya. Aku sendiri masih terdiam tanpa ada kata-kata yang dapat keluar dari mulutku, bingung akan sikap cowok yang tengah berjalan menghampiriku itu.   Kini semua kancing yang terkait di kemejanya telah terbuka. Sementara aku masih tetap terdiam di tempatku. Perlahan-lahan cowok itu melepas kemejanya sehingga terlihatlah sebagian tubuhnya. Putih, mulus, dan cukup sixpack. Gila.Cowok itu berhasil membuatku terpana. Terdiam tanpa dapat berkata-kata.   "Lo liat baju gue!" Ia berteriak dan melemparkan kemejanya ke wajahku. Aku terkejut atas perlakuan yang kudapatkan. Segera kuambil kemeja itu sehingga kini aku kembali dapat melihat ekspresi wajahnya. "Basah, kotor. Lo bersihin tuh sekarang!" katanya kemudian.   APA?! Cowok itu menyuruhku membersihkan bajunya? Kurang ajar nih cowok.   "Iiiihh... Ogah." Aku menjawab cuek. "Lo pikir gue pembokat lo apa?" Aku bertanya namun dia mengacuhkannya.   "Ekhem." Cowok itu berhenti sejenak untuk menarik napas. "Celana gue juga basah nih. Kayaknya gue mesti buka juga deh, ini celana."   Seketika itu kedua bola mataku terbelalak mendengar ucapannya. Dia mau membuka celananya? Apa dia sudah gila? Otaknya ditaro dimana? Nggak punya sopan santun. Masa dia mau buka celana di depan cewek?   "Heh! Lo udah gila yah? Mau ngapain sih lo?" Akhirnya kata-kata tak sopan itu keluar dengan sendirinya dari mulutku. Tapi cowok itu hanya diam dan lagi-lagi tidak menjawab pertanyaanku. Kemudian terdengar oleh telingaku suara gesekan retsleting yang terbuka. Aku memang penasaran, apakah cowok itu benar-benar membuka celananya? Tapi di sisi lain, aku juga tidak berani menatap ke bawah.   Kujatuhkan kemeja putih seragam sekolah milik Steve ke lantai. Segera kumenutup mukaku dengan kedua telapak tanganku. "Heh! Lo udah gila ya? Ngapain sih lo pake buka celana segala?" Kuulangi pertanyaan itu dengan suara yang lebih keras.   "Gue nggak mau ngapa-ngapain." jawabnya halus. Suaranya kini terdengar semakin dekat. "Tapi gue mau sedikit ngapa-ngapain lo. Boleh kan?"   Deg. Jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Napasku memburu tak menentu mendengar kata-kata yang terakhir ia ucapkan. 'mau ngapa-ngapain lo' maksudnya apa coba? Akhirnya kuberanikan diri untuk mengintip dari celah-celah jari yang menutupi wajahku. Aku terlonjak mendapati cowok itu begitu dekat denganku. Ia tepat berdiri di depanku. Wajahnya kini hanya terpaut beberapa senti dari wajahku.   Steve tersenyum mengetahui bahwa aku sedang memperhatikannya dari balik jari-jariku. "Udahlah, nggak usah malu!" katanya lembut dan meyentuh kedua tanganku kemudian menjauhkannya dari wajahku.    Harusnya kan elo yang malu, kenapa jadi gue yang malu? Aku bertanya dalam hati.   Cowok itu kini semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Ya Tuhan, apa yang akan dia lakukan? Detak jantungku semakin tak menentu. Pikiranku menjelajah ke segala kemungkinan yang akan terjadi antara aku dengan dirinya. Apakah dia akan menciumku? Atau mungkin lebih parah dari itu?   Apakah dia senekat itu? Nekat berbuat sesuatu padaku di sini? Di sekolah? Di jam istirahat pula? Kalau seandainya ada yang melihat kami sedang berduaan dengan dia yang t*******g gimana? Bisa gawat ini urusannya.   Nggak. Nggak. Semua itu nggak boleh terjadi. Aku bukan cewek seperti itu. Aku cewek yang bisa menjaga martabat dan harga diriku.   Aku melangkah mundur dan sebisa mungkin berusaha untuk tidak menatap ke bawah. Karena kalau sampai aku melihat ke bawah, aku tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya.   Sadar bahwa aku menjauh darinya, Steve lalu mengejarku. Melangkah perlahan mengikuti irama langkahku.   Aku berhenti, dan dia pun ikut berhenti. "Heh. Mundur lo!! Nggak usah deket-deket gue."   "Gue nggak mau," jawabnya singkat dan datar.   "Sebenarnya lo tuh mau ngapain sih?" Aku bertanya padanya. Dari pertanyaanku, jelas terselip keputusasaan dalam diriku.   Setelah itu, aku kembali melangkah mundur namun tak bisa. Karena di belakangku adalah tembok pembatas ruang seni dan gudang sekolah yang terletak di sampingnya.Tembok yang berdiri kokoh dan tidak mungkin dapat kutembus.    Cowok itu kini kembali mendekat padaku. Ia ulurkan kedua tangannya ke depan dan menempelkannya di  tembok yang berdiri di belakangku, sehingga kini kepalaku berada di tengah-tengah kedua tangannya. Kedua tangannya mengunci posisiku sehingga aku tidak dapat lagi menghindar darinya.   "Lo mau tau gue mau ngapain?" Steve membisikkan kata-kata itu di telingaku."Gue bisa ngelakuin apa aja sama lo. Apalagi sekarang, di sini cuma ada lo sama gue. Nggak ada orang lain selain kita berdua di tempat ini." Ia memberi jeda di antara kalimatnya. "Jadi lo pasti udah bisa ngabayangin kan, apa yang bakal gue lakuin sama lo?" Ia kemudian bertanya masih dengan keadaan berbisik.   Aku terdiam, kehabisan kata-kata untuk kuucapkan. Peluhku mulai keluar membasahi sekujur tubuhku, hembusan napasku memburu tak menentu. Sementara itu, cowok itu semakin berani merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Begitu dekat, sehingga aku dapat mendengar detak jantungnya yang tenang dan biasa saja. Bagaimana dia bisa serileks itu? Sementara aku, ketakutan setengah mati dibuatnya.  Wajahnya pun kini hanya berjarak lima senti dari wajahku, sehingga dapat kurasakan hangat dan segarnya hembusan napasnya.   "Lo.. Lo jangan coba macam-macam ya, sama gue!" Terdapat getaran dari kata-kata yang kuucapkan barusan. Entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulutku begitu saja tanpa kupikirkan sebelunya.   "Kenapa? Lo takut sama gue?" Ia bertanya tepat di depan wajahku. Aku terdiam, bingung dengan jawaban apa yang akan kuberikan atas pertanyaannya itu.   "JAWAB!!" Steve lalu membentakku. "Lo takut sama gue?" lanjutnya dengan berteriak.    Aku mengangguk perlahan. Kemudian kembali menatap matanya yang juga sedang menatap kedua bola mataku.   "Makannya.. Kalo lo takut, nggak usah coba-coba cari masalah sama gue!"   Setelah mengatakan itu, Steve lalu meletakkan ember yang ada di tangannya di atas kepalaku. Menumpahkan sisa-sisa air yang ada di dalamnya ke rambutku. Entah bagaimana caranya tiba-tiba saja ember itu bisa ada di tangannya. Aku tak sadar kapan ia mengambilnya.   Dengan ember tersebut menutupi kepalaku, otomatis membuatku tak dapat melihat apa pun yang ada di sekelilingku kecuali ke bawah. Karena hanya bagian itulah yang dapat kulihat melalui celah bagian bawah ember. Jadi mau tak mau aku akhirnya menengok ke bawah. Dan sesuatu yang kulihat adalah sepasang kaki yang membelakangiku dan mulai melangkah menjauhiku. Pastinya sepasang kaki itu milik Steve, dan ternyata kedua kaki itu masih tertutup oleh celana abu-abu yang ia kenakan.   Oooh.. Jadi soal buka celana itu, rupanya dia hanya menakut-nakutiku saja. Dan sialnya, usaha itu berhasil. Aku merasa takut setengah matidi buatnya.   Kuangkat ember itu hingga ke atas mataku sehingga kini aku dapat melihat seisi ruang seni ini. Pandanganku terpaku pada sosok seorang cowok yang berjalan menuju pintu keluar dengan menenteng seragam di tangan kiri serta stick drum di tangan kanannya. Entah di mana ia menemukan stick drum itu, aku tak peduli. Namun akhirnya aku dapat bernapas lega ketika  melihat sosoknya yang semakin menjauh.   Namun belum sampai cowok itu menghampiri pintu, ia kembali berbalik badan dan tersenyum menyeringai padaku. Jantungku kembali berdetak kencang ketika pandangan kami saling beradu. Dan rasa takut itu kembali menghampiriku.   "Heh! Biasa aja dong tuh muka!" Steve berhenti sejenak kemudian melanjutkan kalimatnya. "Gue juga nggak bakalan ngapa-ngapain lo kok. Nggak nafsu gue sama cewek model kayak lo!" Setelah mengatakan itu, ia lalu tersenyum kemudian balik badan dan melangkah ke pintu keluar. Sementara pandanganku masih mengekor di belakangnya. Terpana melihat tubuh sixpacknya. Dan anehnya, aku suka melihat pemandangan ini. Aku terus memperhatikan punggungnya  hingga akhirnya tertutup karena Steve mulai mengenakan seragamnya. Seragam yang basah dan sedikit kotor karena ulahku. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD