Chapter Twenty Two

1021 Words

  Aku mengembuskan napas kecewa memandang sang langit kelabu yang terhampar luas di depanku. Begitu tebalnya, sehingga tak memberikan celah sedikit pun untuk matahari menampakkan sinarnya. Tak ada matahari, tak ada mega merah yang mengelilinginya, dan tak ada pula warna jingga yang menyertainya seperti saat terakhir kali aku datang ke tempat ini.   Yang ada hanyalah gumpalan-gumpalan awan kelabu yang tak berujung. Diam tak bergeming. Tenang di tempatnya semula. Angin berembus semakin kencang, menghempaskan ranting-ranting pepohonan yang ada di sekitar tempat ini. Menerbangkan dedaunan kering yang berserakan di atas rerumputan.    Ini bukanlah suasana yang kuinginkan. Jauh berbeda dengan apa yang kubayangkan. Steve benar, aku tak mungkin dapat melihat matahari terbenam di sore hari ini.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD