Part 6

1083 Words
      Tepat tengah hari, semua para peserta perkemahan tampak sudah berkumpul. Hari ini akan ada penjelajahan dimana setiap kelompok harus menemukan setiap Pos yang sudah disediakan. 3 Kelompok tercepat sampai akan menjadi kelompok yang menang dan berhak memberi satu hukuman pada kelompok yang kalah. Saat ini mereka sedang dibagi menjadi  beberapa kelompok dimana setiap kelompok terbagi atas 12 orang. Dan sial. Ketiga sahabatnya tidak dalam satu kelompok yang sama dengan Dara yang ada kini Veron yang sudah bediri tepat disampingnya. Beruta buruknya hanya Veron yang Dara kenali dalam kelompok ini. “Baiklah, ditangan kalian sudah terdapat peta yang berbeda berdasarkan kelompok kalian. Ingat keselamatan adalah yang utama” Setelah mendengar berbagai Instruksi mereka mulai berhemburan dan mengikuti peta yang sudah dibagikan  berdasarkan kelompok. ... “Apa ini harus dilakukan?” Gumam Dara dalam keheningan, jika ia bisa memilih tentu saja akan lebih baik tetap tinggal didalam tenda seorang diri dari pada mengikut penjelajahan tidak penting ini. “Tentu.” Dara hanya melirik Veron sekilas dan melanjutkan langkahnya. Ia sengaja memilih berjalan dibarisan paling akhir dengan Veron disampingnya. Entah rumor apalagi yang akan beredar mengingat para anggota kelompoknya sekali kali menoleh kebelakang hanya untuk mencuri tatapan pada mereka. Oh tidak. Veron lebih tepatnya. “Aku tidak tahu apa yang menarik dari kegiatan semacam ini." Veron hanya tersenyum samar tepat seperti dugaannya gadis ini belum pernah mengikuti perkemahan. Berbeda dengannya yang sesekali mengikuti kegiatan Perkemahan, mendaki atau apapun yang bisa membuatnya istirahat sejenak dari dunia pendidikan dan bisnis yang sudah digalutinya sejak berumur 9 tahun. “Ini menyenangkan kalau kau menikmatinya." “Aku harus menikmati apa?” Veron menatap Dara dengan mata kelamnya yang tajam, setajam elang yang tengah mengintai mangsanya. Berbicara dengan gadis ini sepertinya membutuhkan tenaga ekstra mengingat bagaimana sikap gadis ini terhadapnya. “Kalian cepatlah,  sebelum tertinggal terlalu jauh!” Teriak sesorang yang terlihat ragu untuk menegur mereka berdua yang terpisah cukup jauh dengan anggota kelompok yang lain. “Sepertinya kita harus bergegas.” Pinta Veron, Dara hanya mengagguk setuju dan mulai mempercepat langkah mereka. Walaupun tampaknya sia sia karna mereka mempunyai jarak yang cukup jauh dari anggota kelompok lainnya. “Ini benar benar melelahkan.” Gerutu Dara diatara nafasnya yang sedikit memburu, ia meraih botol mineralnya dan menggaknya sedikit. Berbeda dengan Veron , pria itu sama sekali tidak tampak kelelahan. “Sebentar lagi langit mulai gelap, ayo.” Ucapan Veron membuat Dara nyaris tersedak, Veron hanya menatap Dara yang tampak mengendalikan dirinya dengan kening berkerut. “Ayo.” Pinta Dara mempercepat langkahnya mendahului Veron yang melangkah lebar dengan kaki panjangnya, mereka harus bergegas sebelum kegelapan menyelimuti hutan lebat ini. “Dara, hati hati!” Dara tersentak mendengar teguran Veron yang begitu keras dari belakangnya, ia baru tersadar kalau saat ini mereka berada didaerah yung cukup berbahaya. Dara menghembuskan nafasnya pelan berusaha menenangkan dirinya sendiri, kepalanya sedikit pening mengingat semalam ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. “Kita harus bergegas Veron.” Veron bisa mendengar suara Dara yang sedikit bergetar, ia mulai mempercepat langkahnya agar sejajar dengan Dara. “Dara.” Dara tak menoleh, ia tahu kalau Veron menyadari ada sesuatu yang berbeda darinya. Dara mempercepat langkahnya lagi lagi mendahuli Veron tidak ingin pria itu menatap wajahnya. “DARA!” Dara lagi lagi tersentak, kakinya tergelincir karana rumput basah. Tidak. Ia akan jatuh kedalam jurang gelap, tubuhnya akan remuk. Dara menahan nafasnya saat merasakan sebuah lengan yang melingkar ditubuhnya. Mereka berguling. Tubuh kokoh nan hangat itu memeluknya begitu erat berusaha melindungi tubuh mungilnya dari tajamnya bebatuan, dan rerumputan liar. Jantung Dara beregup kencang sama seperti Veron yang mendekap tubuhnya dengan erat, mereka berguling hingga kedalam lembah hutan yang begitu tamaram. “Dara.” Veron menunduk dengan nafas terangah menatap wajah Dara yang tidak pernah ditemuinya. Tidak ada  wajah tenang dan tidak peduli milik Dara disana hingga Veron tertegun bahkan menahan nafasnya saat menatap wajah Dara  dengan lamat lamat , menatap kedua mata coklat keemasan Dara yang penuh ketakutan. “Kau tidak apa apa, Veron?” Suara  bergetar itu  membuat Veron terbangun dari pikirannya seraya mengagguk dan bergegas bangkit dari tubuh Dara yang berada dalam rengkuhannya. Gadis itu memeriksa tubuh Veron yang tidak terlindungi tampak lebam dan penuh goresan darah. “Aku tidak apa apa, Ayo.” Veron mengerutkan keningnya saat menarik tangan Dara yang dingin  berusaha membantu gadis itu agar bergegas bangkit dari posisinya. “Veron.” Dara memegang erat tangan Veron yang terasa hangat, ia menatap kedua mata pria itu dengan mata yang mulai berembun, penuh ketakutan yang membuat Veron lagi lagi tertegun menahan nafasnya. "Ada apa, Dara?" Tanya Veron lembut, ia benar benar tidak tahu apa yang membuat gadis ini begitu ketakutan. Ia menatap wajah Dara yang mulai dihiasi jejak Krystall yang berjatuhan dari sudut matanya. “Aku takut Veron.” Bisik Dara begitu memilukan, membuat Veron terhenyak merasakan sesuatu yang baru didadanya. Ia mengulurkan tangannya menghapus jejak air mata di wajah Dara. “Tidak apa apa, aku disini.”    Veron menarik tubuh Dara yang bergetar dalam pelukannya. Jantung gadis itu berdetak kencang, nafasnya memburu. Hingga tubuh mungil itu nyaris meluruh karna tidak mampu menopang dirinya sendiri dengan kedua kakinya. “Dara.” Veron memegang erat tubuh Dara, membawanya duduk diatas rumput yang basah tepat dibawah pohon yang cukup rindang, sebelum gadis itu benar benar tidak sanggup menggerakkan kakinya. “Aku takut.” Dara mulai terisak saat pandangannya semakin gelap karna kegelapan yang sudah menyelimuti hutan. Ia memegang lengan Veron dengan kuat. Dara takut. Sangat takut. “Tenang Dara, aku disini.” Verin bisa merasakan jantung gadis itu yang berdetak makin  hebat kedalam rengkuhannya. “Aku disini.” Veron berbisik pelan, mengelus pelan punggung Dara berusaha membuat gadis itu tenang. Ia menghembuskan nafasnya pelan, merasakan hembusan nafas Dara yang menguburkan wajahnya dilekukan lehernya yang berangsur membaik. Sial.  Veron bisa gila jika dalam posisi seperti ini lebih lama. Bagaimanapun ia masih pria normal. Tidak dalam situasi seperti ini b******k! “Tidak apa apa.” Veron kembali berbisik, Gadis itu bersembunyi diantara lekukan lehernya. Entah bersembunyi dari apa, Veron benar benar tidak tahu. Mereka terdiam cukup lama, terdiam diantara desiran angin dan dedaunan yang saling bergesekan. Veron menghembuskan nafasnya. Tubuh gadis dalam rengkuhannya sudah mulai tenang walaupun ia masih bisa merasakan ketakutan yang begitu besar hingga gadis itu terus bersembunyi dilekukan lehernya. “Dara.” Veron mecoba membunuh keheningan yang terasa menyesakkan itu. Dara tak menyahut kedua matanya masih terbuka dengan sempurna dalam lekukan leher Veron. Ia takut saat ia memejamkan matanya kegelapan itu akan menyeretnya. Dara hanya mengeratkan pelukannya pada Veron berharap pria itu tidak beranjak, hanya kehangatan dan kenyamanan dari tubuh tegap pria itu yang membuat ia bisa bertahan sejauh ini dalam kegelapan. “Lebih baik?” Veron bisa merasakan gadis itu mengagguk dalam pelukannya, lagi lagi Veron menghembuskan nafasnya. Kembali tenggelam dalam pikirannya yang dipenuhi oleh gadis dalam rengkuhannya. “Tidurlah, aku disini.” Dara hanya mengangguk mulai memejamkan matanya perlahan. Kehangatan dan kenyamanan yang ditawarkan pria ini benar benar membuatnya ingin beristirahat sejenak berharap saat ia membuka kedua matanya kegelapan itu sudah menghilang. "Apa yang terjadi padamu Dara”                               .......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD