Jam istirahat Mila duduk dihalaman belakang sekolahnya, area yang cukup sepi saat tak ada anak-anak yang melakukan latihan basket, gadis itu tengah melamun ia memikirkan tingkah buruknya yang akhir-akhir ini sering membuat sang papa berteriak.
"Papa dan sahabat gue benar, Eric memang gak baik buat gue. Dia sering mengajarkan hal buruk sama gue, dia sering ngajak gue bolos dia juga memperkenalkan gue sama minuman alkohol. Ya Tuhan... bagaimana mungkin aku gak sadar kalau dia hampir menjerumuskanku ke arah yang gak baik" gumam Mila. "Maafkan Mila pah" ucap batin Mila.
Jam 4 sore sekolah bubar, Mila keluar dari sekolahnya namum ia tiba-tiba dihadang oleh Eric yang sedari tadi sudah menunggunya. Kevin melihat namun ia memberikan waktu pada Mila dan Eric untuk bicara, ia tau nonanya itu cerdas dan tak mungkin kembali terjerumus pada lelaki yang sama.
"Mau apa kamu, lepaskan" Mila mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang digenggam Eric.
"Aku mau menjelaskan semuanya sayang, semuanya gak seperti yang kamu lihat, kamu salah paham" Eric membawa Mila menepi.
"Salah paham? coba jelaskan bagian mananya yang aku tidak mengerti Eric? Aku memang masih 17 tahun, tapi aku tau aku mengerti aku paham apa yang kamu dan perempuan itu lakukan. Seorang laki-laki dan perempuan dalam keadaan tanpa sehelai benang pun disebuah ruangan, apa lagi kalau bukan melakukan seks" ucap Mila, ia menatap tajam Eric.
"Kamu salah sayang, aku mencintaimu dan aku gak mungkin menghianatimu, aku di jebak perempuan itu" ucap Eric.
"Di jebak?? simpel sekali alasanmu. Bagaimana mungkin seseorang yang di jebak bisa menikmati kegiatan menjijikan itu, dan lebih menggelikannya, dijebak di apartemen sendiri? dimana logikanya?" ucap Mila dan mampu membungkam mulut Eric.
Lelaki itu tak lagi mampu bersuara, ia tak mengira seorang gadis yang masih 17 tahun itu bisa berpikir sejauh dan secerdas itu, dalam pikiran Eric Mila masih bisa ia perdaya, namun nyatanya gadis itu tak mudah untuk diluluhkan kembali.
"Sayang maafkan aku, aku masih mencintaimu, aku mau kita kembali bersama" Eric memohon dan mencoba memeluk Mila.
"Lepas b******k" teriak Mila.
"Gak, sebelum kamu memaafkanku" ucap Eric.
"Lepas" teriak Mila lagi.
"Lepaskan nona saya" ucap Kevin, ia bergegas menghampiri Mila begitu melihat Eric sudah berbuat diluar batas.
"Lo hanya supir, jangan ikut campur yany bukan urusan lo" teriak Eric marah.
"Saya tau saya hanya seorang supir, anda sudah berbuat kasar pada majikan saya dan itu bagian dari urusan saya. Sekarang lepaskan majikan saya" ucap Kevin, ia menarik Mila ke belakang tubuhnya.
"Lo... berani lo sama gue" teriak Eric dan tanpa disangka lelaki itu memberikan sebuah tinjunya pada Kevin, beruntung Kevin yang memiliki keahlian bela diri berhasil menangkap tinju Eric, ia memelintir tangan lelaki itu ke belakang hingga Eric meringis kesakitan.
"Maafkan saya mas Eric, tapi anda yang terlebih dahulu menantang saya, dan ini adalah peringatan agar anda jangan macam-macam pada nona saya" ucap Kevin.
Kevin menarik Mila dan membawanya masuk ke dalam mobil, Mila masih terdiam ia menatap kagum pada supirnya itu, ia tak menyangka supir pilihan papanya memiliki keahlian seperi itu.
"Wow... lo hebat, kok bisa sih Vin" tanya Mila.
"Apanya?" tanya Kevin.
"Itu tadi kamu bisa mencegah pukulan Eric" ucap Mila.
"Oh itu sedikit keahlian bela diri saya non" ucap Kevin.
"Tapi kamu hebat bisa menghindarinya, kamu belajar bela diri?" tanya Mila.
"Iya, sejak kecil" ucap Kevin.
"Hebat" ucap Mila tersenyum.
"Nah gitu dong non senyum kan cantik, jangan marah-marah terus sama saya" ucap Kevin.
"Apa lo bilang" ucap Mila marah.
"Yaelah, baru dipuji udah balik marah-marah lagi aja" gumam Kevin.
"Hehh... gue denger ya apa yang lo bilang supir" omel Mila.
---
Malam hari Mila keluar tentunya diantar sang supir, ia berkumpul bersama sahabatnya disebuah cafe dan tanpa diduga Eric juga berada ditempat yang sama bersama beberapa temannya.
Eric yang lebih dahulu melihat Mila terus mengawasi gerak gerik gadis itu, hingga akhirnya Mila pamit pada sahabatnya untuk menuju toilet, pergerakan Mila tersebut terpantau jelas oleh mata Eric. Lelaki itu mulai beraksi, ia menguntit Mila sampai akhirnya gadis cantik itu menghilang dilorong toilet perempuan. Tanpa segan Eric masuk ke toilet perempuan yang dalam keadaan sepi tersebut.
Kevin yang duduk diluar memiliki firasat buruk, ia memberanikan diri masuk ke cafe itu dan mencari keberadaan Mila, melihat Mila tak ada bersama teman-temannya bergegas Kevin menghampiri gerombolan para perempuan tersebut dan menanyakan kemana Mila.
Kevin menuju toilet perempuan dimana saat ini Mila berada, ia bermaksud menunggu diluar namun melihat keadaan toilet yang nampak sepi Kevin pun memberanikan diri memasuki toilet itu dan sayup-sayup ia mendengar teriak ketakutan Mila.
"Jangan Ric... please... menjauh dariku" ucap Mila ketakutan.
"Aku gak bisa memilikimu lagi sayang, maka dari itu paling tidak sekali saja aku ingin mencicipimu, mencicipu rasamu" Eric tertawa dengan sinis, ia memeluk Mila dengan erat.
"Tolong... siapa pun tolong... papa Kevin... tolong" teriak Mila.
"Berteriaklah sayang gak ada akan ada yang mendengarnya, gak ada orang disini" tawa Eric.
Suara Mila mulai menghilang, mulutnya dibungkam Eric dengan tangan besarnya.
Merasa yakin itu adalah suara Mila Kevin bergegas masuk.
"Non... non Mila... Mila..." teriak Kevin.
"Eemmmhhh..." Mila mencoba berteriak, namun mulutnya dibungkam Eric.
"Mila..." teriak Kevin lagi.
"Emmmhhhh..." dengan air matanya yang berderai Mila terus berusaha berteriak.
"Diam" geram Eric.
"Mika kamu didalam?" teriak Kevin.
"Kev... Viiinn...." teriak Mila berhasil mengeluarkan suaranya.
Kevin mendobrak paksa salah satu bilik toilet, dan ia melihat majikannya itu sudah hampir polos.
"b*****t, apa yang lo lakukan" Kevin menarik paksa Eric dan memberikan pukulannya pada lelaki itu.
"Ahhh... gue terlalu lama hingga tak sempat merasakan perawannya" ucap Eric seraya mengusap sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan Kevin.
Mendengar keributan di toilet beberapa karyawan dan security berdatangan.
"Ada apa ini" tanya seorang security.
"Si b*****t ini sudah melecehkan kekasih saya" ucap Kevin, ia mengakui Mila sebagai kekasihnya dan kembali memberikan tinjunya pada Eric.
"Sudah pak, biar kami yang urus dan serahkan pada pihak yang berwajib" ucap security yang melerai Kevin.
Kevin menarik Mila ke dalam pelukannya dan tangis gadis itu seketika pecah.
"Untung kamu cepat datang, kalau enggak..." Mila tak sanggup lagi mengucapkan kalimatnya dan entah bagaimana panggilannya pada Kevin berubah dengan sendirinya, dari 'elo menjadi kamu'.
"Sudah ya... kita pulang sekarang" Kevin mengusap punggung Mila yang polos karena bajunya yang sudah dirobek paksa Eric.
"Jangan katakan apapun pada papa, aku gak mau papa kepikiran" ucap Mila memohon.
"Iya enggak non" ucap Kevin, ia memakaikan jaketnya pada Mila lalu menggenggam erat tangan gadis itu menuju mobil.
♥♥♥