My Driver 4

959 Words
Sementara sang majikan tengah bersantai dirumah maka Kevin pun memiliki waktu untuk beristirahat, ia duduk diteras seraya menikmati secangkir kopi yang dibuatnya sendiri dari dapur rumah Mila sambil menikmati sebatang rokok. "Enak ya lo santai-santai, ayo antar gue ke mall" ucap Mila dengan ketus, remaja itu sudah rapi dengan pakaian casual dan rok mininya. "Baik non" Kevin segera membuang puntung rokoknya dan menghabiskan kopinya. "Ayo berangkat" omel Mila. "Iya non" ucap Kevin, bergegas ia membukakan pintu belakang untuk majikannya yang super menyebalkan itu. Perlahan Kevin mulai menjalankan mobil keluar halaman rumah mengantar sang majikan ke tempat tujuannya. "Hehh supir... gak jadi ke mall, anter ke apartemen cowok gue aja" ucap Mila. "Apartemen non? apa gak salah?" tanya Kevin. "Ya enggaklah... ayo cepat..." ucap Mila dengan ketus. "Cowok non tinggal sendiri di apartemen itu?" tanya Kevin lagi. "Iya... banyak tanya deh lo" ucap Mila dengan ketus, ia tak menyukai sifat supirnya yang terlalu banyak tanya itu. "Maaf sebelumnya non dan maaf kalau saya terlalu lancang, tapi ini demi kebaikan non sendiri, sangat tidak baik bagi seorang perempuan menyambangi laki-laki non... apalagi laki-laki itu hanya tinggal sendiri di apartemennya, takutnya terjadi hal yang tidak di ingin, seperti timbulnya fitnah" ucap Kevin. "Lancang banget lo berani menceramahi gue. Hehh... dengar ya, perlu lo tau gue sudah sering kesana dan gak terjadi apa-apa tuh, jadi lo jangan sok tau" omel Mila. "Sebaiknya dihindari non, lebih baik lakukan pertemuan ditempat umum yang lebih terbuka" ucap Kevin. "Banyak omong lo, kerja aja yang bener. Lagian lo siapa beraninya menceramahi gue... lo cuma supir disini, cuma babu gue" ucap Mila marah. "Maaf non" ucap Kevin. Kevin tak berani lagi membuka suara begitu ia mendengar kemarahan majikannya dan ia tetap mengantarkan majikannya itu ke tempat yang di inginkan yaitu ke apartemen sang kekasih. Tiba di basement apartement itu Kevin bergegas keluar dan membukakan pintu untuk Mila. "Silahkan non" ucap Kevin begitu ia membukakan pintu untuk Mila. "Lo tunggu disini" ucap Mila dengan ketus. "Saya akan mengantar sampai didepan unit milik kekasih non" ucap Kevin. "Gak perlu gue bisa sendiri" ucap Mila. "Saya akan tetap mengantarkan non, saya bertanggung jawab atas non" ucap Kevin. "Lo ya... nyebelin banget sih" omel Mila. "Tugas saya disini bukan hanya mengantar jemput non, tapi juga mengawasi pergaulan non, itu yang di amanatkan pak Mattew dan bu Santi" ucap Kevin. "Menyebalkan, rupanya perempuan itu sudah menghasut papa" gumam Mila. Dengan wajah yang sangat kesal Mila menuju unit kekasihnya dengan diantar supir tampannya, begitu tiba di unitnya Mila segera masuk dengan kode yang sudah diketahuinya. "Kamu sama supirmu?" tanya Eric kekasih Mila. "Ya supir yang juga menjabat baby sitter" ejek Mila seraya melirik Kevin yang duduk diruang tamu apartemen itu. "Baby sitter?" tanya Eric. "Dia ditugaskan papa untuk mengawasiku juga" ucap Mila. "Ohhh, gak ada pekerjaan lain mas?" ledek Eric. "Ya udah yuk yank... tinggal aja" ucap Mila. Kevin dengan sabar menunggu majikannya itu sampai akhirnya Mila memutuskan untuk pulang. Jam 9 malam keduanya tiba dirumah. "Apa non masih ingin keluar" tanya Kevin begitu membukakan Mila pintu mobil. "Gak, lo pulang aja gue gak mau kemana-mana lagi" ucap Mila. "Baik non" ucap Kevin. Bukan langsung pulang, Kevin lebih dulu mencuci mobil majikannya itu, setelahnya barulah ia pulang dengan menaiki motor maticnya. Tiba dirumah Kevin disambut ibunya yang sudah menunggu kepulangannya. "Jam segini baru pulang" ucap Ratih, seraya menyuguhkan secangkir teh untuk putranya. "Iya bu... tadi cuci mobil dulu, biar besok berangkatnya gak terlalu pagi" ucap Kevin. "Hhh kasian kamu nak harus bekerja seperti ini" Ratih menatap putranya dengan iba. "Gapapa bu, Kevin ikhlas menjalaninya" ucap Kevin. "Kamu sudah makan?" tanya Ratih dan Kevin menggeleng. "Ya Tuhan... ayo ibu siapkan, kamu bersih-bersih dulu" Ratih bergegas menyiapkan makan malam untuk sang putra. --- Sekolah Mila keluar lebih awal dari biasanya dan baru saja ia keluar dari pekarangan sekolahnya, Mila segera memasuki mobilnya. "Langsung pulang non?" tanya Kevin. "Ke apartemennya Eric dulu" ucap Mila. "Ini jam kerja, apa pacar non ada disana? apa dia tidak bekerja?" tanya Kevin. "Eric itu anak orang kaya, dia gak perlu kerja kayak elo Kevinnn... dia cukup santai di apartemennya dan uang datang dengan sendirinya dari orang tuanya" ucap Mila. "Dan lelaki seperti itu yang non pilih? lelaki seperti itu gak bisa diharapkan non, uang aja masih minta sama orang tuanya, gimana nanti kalau menikah sama non? mau kasih makan non pakai apa?" ucap Kevin. "Bawel lo" omel Mila. "Kasih nasehat pacarnya non suruh kerja, jangan bisanya cuma minta duit dari orang tuanya" ucap Kevin. "Bawel ih, udah nyetir aja lo" omel Mila lagi. Kevin hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang majikan. Mila memasukkan kode unit apartemen Eric, ia masuk bersama Kevin. Pelahan Mila melangkahkan kakinya dan samar-samar ia mendengar desahan aneh dari dalam apartwmemen itu. "Suara apa itu?" tanya Mila, Kevin yang mengerti arti desahan itu hanya mengangkat bahunya seolah tak tau. Kevin duduk menunggu diruang tamu sementara Mila berjalan masuk mencari asal suara desahan itu, tiba didepan kamar suara itu semakin nyaring terdengar. Mila terdiam berdiri ditempatnya begitu ia membuka pintu kamar melihat jelas apa yang sedang Eric lakukan bersama seorang perempuan. "Mila" Eric bangkit dan bergegas mengenakan boksernya, ia tak menyangka Mila akan datang saat masih jam sekolah. "b******k kamu... kita putus" ucap Mila dengan berlinang air mata. "Sayang aku bisa jelaskan" Eric berlari mencegah Mila keluar dari apartemennya. "Apa??!! apa lagi yang mau kamu jelaskan? semuanya sudah cukup jelas dan aku jijik sama kamu!!!" teriak Mila seraya mendorong Eric. "Gak sayang, semuanya gak seperti yang kamu lihat, aku termakan rayuan perempuan itu" ucap Eric. "Bisa banget kamu bohongnya" Mila tertawa sinis. "Sayang siapa anak kecil ini" perempuan itu keluar dari kamar. "Sayang??" Mila tertawa, tawa yang menyiratkan rasa sakit. "Kita pulang Vin" Mila menarik tangan sang supir. "Sebentar non" ucap Kevin. BUUGGHHHH "Itu untuk rasa sakit yang majikan saya rasakan" Kevin memberikan satu tamparannya pada rahang Eric. Sepanjang jalan menuju rumah Mila hanya diam dengan deraian air matanya. ♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD