Mata Arumi mengerjab beberapa kali saat merasakan sebuah tangan masih menggenggamnya dengan erat. Arumi tersenyum melihat Devara yang tidur dengan keadaan duduk sambil menyandarkan kepalanya di tempat tidur. Sejenak Arumi masih memikirkan bagaimana ia bisa berada di kamar tamu rumah Devara. Hingga ingatannya kembali pada sebuah kejadian yang sangat menyakitkan semalam. “Dev,” panggil Arumi dengan lirih. Mendengar suara wanita yang telah mencuri hatinya sejak masa remaja, Devara segera membuka mata. “Rum, sory, gw telat bangun. Mau kemana Rum? Gimana sama kaki, loe? Masih lemas?” tanya Devara khawatir. Arumi lalu beranjak dan duduk. “Kayaknya uda baik-baik aja.” Arumi lalu membuka selimut dan memperlihatkan telapak kakinya yang digerak-gerakkan olehnya. “Syukurlah,” ucap Devara. “Sarapa

