Dengan langkah tergesah, Soni masuk menuju ke dalam rumah untuk mencari istrinya. “Ma! Mama!” Soni memanggil Vina, yang ternyata juga sudah bersiap dengan pakaian rapi.
“Mama, juga dihubungi pihak kampus?” tanya Soni kepada istrinya.
“Bukan Pa, tapi Devara, Mama diminta datang dengan mobil yang berbeda dengan mobil Papa, untuk menjemput Arumi. Devara nggak mau Arumi tau, permasalahan yang baru saja terjadi.” Langkah Vina langsung dicegah oleh suaminya.
“Nggak bisa Ma, kita harus berangkat sama-sama. Devara melakukan penganiayaan berat terhadap anaknya salah satu pejabat, Ma. Papa nggak mungkin bisa menghadapi perdebatan yang akan terjadi nantinya.” Soni mengusap kasar wajahnya, setres dengan apa yang telah dilakukan oleh anaknya.
“Mama tau kok, Pa. Devara sudah cerita semuanya. Arumi dijadikan bahan taruhan. Yang dipukul juga pacarnya Arumi, Pa. Anak kita emosi karena mendengar, anak itu dan teman-temannya bilang kalau Arumi memiliki harga rendah dan didiskon empat puluh persen. Makanya Devara membabi buta. Papa juga tau kan? Bagaimana kondisi Arumi saat ini? Anak itu sakit, tapi dia nggak tau soal penyakit yang dideritanya, kita semua merahasiakan hal ini dari Arumi. Kasihan anak itu, Pa.” Vina mengusap air matanya yang baru saja terjatuh.
“Yah Tuhan, anak pejabat itu sudah keterlaluan. Sangat keterlaluan, kalau begitu kita bawa mobil yang berbeda. Nanti sampai di sana, Papa yang bawa pulang Arumi ya, Ma.” Vina mengangguk setuju dengan usul suaminya.
"Papa, juga jangan kaget yah, dengan siapa kita nanti akan bertemu." Vina memberikan rambu-rambu lampu kuning kepada sang suami.
"Siapa, Ma?" tanya Soni penasaran.
"Sampai disana nanti Papa tau sendiri. Ayo, Pa."
Keduanya segera bergegas menuju ke Universitas tempat anaknya menimbah ilmu. Sedangkan di sisi lain, keluarga Demas juga sudah tiba di Kampus. Keluarga Airlangga Hudayono dan istrinya Pratiwi Hudayono, telah duduk dengan wajah gusar dan gelisah. Menunggu siapa sebenarnya kedua orang tua dari anak yang telah melakukan penganiayaan berat terhadap Demas.
“Selamat Siang, Tuan Hudayono, Pak Rektor dan Pak Bono.” Soni menyapa semuanya.
Betapa terkejutnya Airlangga saat melihat Vina datang. “Selamat Siang, Airlangga, Pratiwi,” sapa Vina dengan tidak formal.
Mendengarnya kini, Soni sang suami yang terkejut. “Apa kabar?” tanya Vina.
“Seperti yang kamu lihat, Vina. Kami tidak baik-baik saja.” Airlangga yang tadinya berkali-kali mengumpat sebelum Vina dan Soni datang, tiba-tiba saja melunak setelah melihat Vina.
Kini satu ruangan yang terkejut, melihatnya. “Kenalkan, ini suamiku, Soni, Papanya Devara, anakku,” ucap Vina dan melihat pria yang pernah mengisi hatinya itu saling berjabat tangan dengan suaminya.
“Aku, tidak tau kalau anak yang memukul anakku adalah anakmu, Vina. Apa, kamu tidak pernah mendidik anakmu? Jika kekerasan itu bukanlah jalan yang baik, untuk menyelesaikan sebuah permasalahan?” Kini giliran Pratiwi yang meluapkan rasa emosinya dengan sebuah pertanyaan sarkasme.
Menanggapinya Vina hanya tersenyum, dan meminta agar mereka berbicara berempat saja. “Pak Bono dan Pak Rektor, dengan tidak mengurangi rasa hormat, bisakah ijinkan kami menyelesaikan masalah ini hanya berempat saja?”
Terlihat Rektor dan Pak Bono tampaknya mengerti akan situasi yang ada di hadapan mereka ini. “Baiklah, Nyonya Vina. Saya harap, masalah ini akan selesai hanya sampai di ruangan ini saja.” Lalu pamitlah Pak Bono setelah mengatakan harapannya bersama dengan Pak Rektor meninggalkan pertemuan kedua keluarga konglomerat itu.
“Jadi, apa yang terjadi? Anakku saat ini sedang terbaring lemah di rumah sakit, Demas tidak bisa membela dirinya. Aku harap, kamu bisa memberikan penjelasan atas tindakan anakmu yang sangat keterlaluan itu, Mbak Vina.” Pratiwi langsung mencecar dan mendesak Vina, walau sudah diberikan kode beberapa kali oleh Airlangga agar Tiwi dapat menahan dirinya.
“Mbak Tiwi, rekaman suara ini, dikirimkan oleh Devara anak ku, sebelum terjadi pemukulan. Saya rasa, Mbak Tiwi dan Mas Angga pasti mengenal suara ini, suaranya siapa.” Vina lalu memutar rekaman suara percakapan antara Demas dan teman-temannya yang sempat direkam oleh Devara.
Betapa malunya Airlangga dan Pratiwi saat mendengar pembicaraan Demas dan ucapan Demas yang merendahkan Arumi dihadapan teman-temannya. “Mungkin Mas Airlangga bertanya-tanya siapa sebenarnya Arumi? Rumi, adalah anak tetangga kami, rumahnya berhadapan dengan rumah kami, anak itu berteman dengan Devara sejak masih bayi. Arumi juga sudah kami seperti anak kami sendiri, mendengar sahabatnya dijadikan taruhan, membuat Devara naik pitam.” Vina menghela nafasnya sejenak.
“Tidak kah tindakan Devara ini seperti tindakan yang dulu pernah kamu lakukan, Mas Airlangga? Aku yakin, kamu yang paling paham alasan Devara tidak bisa menahan emosinya. Aku sebagai orangtuanya anakku, Devara. Meminta maaf kepada kalian Mas Airlangga, Mbak Tiwi atas penganiayaan yang dilakukan oleh anakku.” Vina lalu menunduk sejenak dan melihat wajah Airlangga memerah serta menatapnya dengan sendu, sedangkan Tiwi memerah karena malu setengah mati.
“Maafkan, tindakan yang dilakukan oleh Demas, anakku. Aku akan mengajarkannya bagaimana cara menghargai seorang wanita, kedepannya. Aku juga tidak akan mencari tau siapa Arumi dan mungkin akan meminta anakku memutuskannya saja, jika memang Demas tidak serius dan hanya bermain-main dengan anak gadis itu,” jawab Pratiwi.
“Itu, lebih baik. Menyakiti hati seseorang untuk menjadikannya sebuah lelucon adalah sebuah tindakaan psikologi yang sangat kejam. Saya sarankan, Anda bisa mendidik Demas, agar menjadi seorang ‘Pria Sejati’ yang sebenarnya.” Kini giliran Soni yang berbicara dengan tegas kepada Airlangga dan Pratiwi. Semuanya mengangguk dan terdiam, walau kata-kata Soni, sebenarnya sangat membuat Airlangga malu.
“Baiklah, Pa, Mama rasa urusan kita dengan orang tua Devara, sudah selesai sampai di sini. Kita harus segera ke rumah sakit.” Airlangga lalu berdiri mendengar ajakan sang istri dan menyalami Soni juga Vina.
“Maafkan saya, sebagai orang tua Demas yang tidak becus mendidik moralnya dengan baik. Saya permisi, Mas Soni, Vina.” Airlangga lalu berjalan lebih dahulu meninggalkan istrinya yang mengikutinya dari belakang.
Melihat keduanya sudah menjauh, Soni menatap istrinya dengan sendu. “Dia masih cinta sama kamu, Ma,” kekeh Soni.
“Tapi, cinta ku hanya untuk kamu dan Devara, Pa. Kamu itu, dokter pribadiku. Papa yang menyembuhkan Mama dengan baik, Mama sayang sama Papa.” Vina lalu memeluk suaminya dengan erat.
Begitu juga dengan Soni yang membalas pelukan Vina dengan mesra dan mengecup kening Vina dengan lembut. “Ah, ini di ruangan Rektor, kalau saja di rumah, udah Papa kurung Mama di kamar.” Vina tertawa mendengar suaminya menggodanya.
“Papa, jangan lupa jemput Arumi. Mama, mau keruangan dosen untuk bertemu dengan Devara.” Soni mengangguk, lalu keduanya menemui Rektor dan meminta maaf kepada pihak kampus.
Seperti yang direncanakan, Soni lalu menjemput Arumi yang baru saja selesai mengerjakan lembar ujiannya. “Om Soni? Kok ada di sini?” tanya Arumi terkejut.
“Iya, Rumi, Om memang mau jemput kamu, yuk, kita pulang,” ajak Soni. Arumi tidak bisa menolak ajakan pria yang sudah seperti Papa kedua bagi dirinya itu.
“Tapi, Devara nanti gimana, Om?” tanya Arumi masih celingak celinguk mencari sosok sang sahabat.
“Dia bawa mobil, kan? Biarin aja, nanti Devara pulang sendiri,” kekeh Soni.
“Om, makan Es kacang merah, boleh?” Seperti biasa, Arumi selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mendengarnya Soni terbahak bukan main.
“Hahaha! Kamu ini, yah udah, ayok! Tapi jadi rahasia kita yah, om takut dimarahi Devara.” Kelakar Soni menanggapi Arumi yang sudah seperti anaknya sendiri itu.
“Yes!” pekik Arumi.
Bunga yang sejak tadi memiliki rencana untuk melabrak Arumi dan sudah menunggu Arumi di depan kelasnya, seketika langsung sembunyi saat melihat papanya Devara mendekat ke ruang kelas Arumi. Gagal sudah rencana jahatnya kepada Arumi.
“Awas aja loe, si anak bakul tahu! Besok! Masih ada hari besok, gw bakal bikin menyesal sudah buat Demas dan Devara berkelahi. Tuh, cowok juga, bisa-bisanya yah baku hantam hanya gara-gara si anak bakul tahu. Dasar cowok-cowok g****k!” umpat Bunga.