Sebenarnya kalau mau nuruti kemauan Devara saat ini, sudah pasti Devara akan melayangkan sebuah bogem mentah di wajah Demas yang terlihat begitu menyebalkan saat mengusir Devara secara terang-terangan. Tapi semua karena Arumi. Demas selamat.
Jika mengikuti kata hati yang ingin mengalah, saat ini Devara pasti sudah berpamitan dengan Arumi. Tapi, karena kenyataan Arumi sedang sakit hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh Devara. Ia memilih dikatakan sebagai pengganggu dari pada harus melihat Arumi mengalami kecelakaan seperti kemarin lagi. Tidak, tidak! hal tersebut tidak boleh terjadi.
Disaat Devara sedang bergelut dengan pikirannya sendiri, Arumi juga kini bergelut dengan pikirannya sendiri dan mengambil langkah yang begitu bijak, bagi Arumi. “Demas, maaf sebelumnya. Gw baru aja sembuh dari sakit, mama dan papa gw uda pesan, gw harus jaga diri dan mereka juga minta Devara juga buat ngejaga gw. Kalo aja tadi Loe nggak terlambat kita pasti cuman berdua. Tapi karna Loe terlambat dan ini sudah jam pulang gw, mungkin lain kali yah,” pamit Arumi dengan tersenyum ramah kepada Demas.
Sebenarnya Arumi begitu ingin dekat dengan Demas. Tapi Arumi sadar keputusan yang egois akan membuat Ia kehilangan kepercayaan dari kedua orang tuanya, terutama mamanya. Arumi juga tidak mungkin tega untuk mengusir sahabat dari lahirnya itu. Lebih baik menunda sejenak keinginannya dari pada malah semuanya menjadi kacau hanya karena dirinya tidak dapat menahan niat ingin berpacaran dengan Demas.
Tapi ternyata keputusan Arumi membuat wajah Demas memerah, Ia kesal. Merasa kok justru Arumi lebih memilih Devara dari pada dirinya yang berstatus pacar. “Kok Loe ngebela Devara Rum? Loe kan cewek gw.” Tercetus sudah rasa kesal tersebut kepada Arumi.
“Dia bukan ngebela gw, Loe paham nggak? Arumi bilang apa? Arumi baru aja sembuh dari sakit, Nyokap Bokapnya nitipin Rumi untuk balik bareng sama gw. Loe kalo memang pacarnya Arumi, harusnya Loe ngertiin dong keadaan cewek Loe! Bukannya maksain kehendak Loe itu!” Devara begitu kesal dengan keegoisan Demas.
Karakter Demas yang selalu berambisi, dan terbiasa mendapatkan apa saja yang diinginkan memang sangat bertolak belakang dengan Devara. “Benar Dem, kalaupun bukan Devara yang ngantarkan gw pulang, saat ini pasti bokap gw sudah nunggu gw di pintu gerbang kampus,” terang Arumi dengan lembut. Arumi menenangkan Demas dengan suara lembutnya dan wajah cantiknya itu.
“Huft! Rum, maafin gw yah. Gw uda egois banget, tapi janji besok kita makan bakso bareng yah. Ingat, hanya kita berdua.” Demas menekankan kata hanya berdua, sambil melirik tajam kepada Devara sambil menunggu jawaban Arumi. Perasaan Devara kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat Arumi menganggukkan kepalanya dan tersenyum dengan Demas.
Sepanjang perjalanan Devara tidak berbicara apapun, Arumi mulai khawatir dengan perubahan sikap Devara, “Dev, Loe kenapa? Loe jengkel sama gw yah?” Devara menoleh sejenak melihat Arumi, wajah Arumi sudah memelas dan benar-benar merasa bersalah atas kegaduhan yang terjadi di kantin.
Meleleh sudah hati Devara melihat mata jernih Arumi, “Mana bisa gw jengkel sama Loe Rum? Lagian kejadian di kantin juga bukan kesalahannya Eloe kan Rum? Kita pulang yah?” Kini lega sudah Arumi saat tau sahabatnya tidak marah.
“Kalau makan ice cream dulu boleh nggak?” tanya Arumi. Perasaan ragu langsung terlihat di mimik wajah Devara, Ia takut jika ice cream akan menyebabkan efek yang tidak baik bagi kesehatan Arumi.
“Nggak ah! Pulang aja, hari ini katanya Tante Citra lagi masak botok tahu kesukaan gw. Jadi kita pulang, besok kan Loe ada acara kencan bareng Demas, jadi hari ini Loe kudu banyak istirahat. Okay?” ucap Devara terlihat begitu tulus walau, hatinya terluka tapi tak berdarah.
Ah... betapa malunya Arumi diingatkan begitu oleh Devara, “Okay deh, kita pulang,” jawab Arumi menahan malu.
***
Keesokkan harinya, tepat pukul setengah dua belas siang. Kali ini Demas tidak terlambat dan tidak mau terlambat sama sekali. Demas bahkan sudah menunggu Arumi dikantin tepat pukul sebelas siang, kini dari jauh Ia melihat Arumi berjalan sambil menundukkan kepalanya dan sesekali tersenyum ceria ketika disapa oleh teman Mahasiswa yang berpapasan dengannya.
Senyuman Arumi semakin melebar tak kala menatap sang pangeran sedang berdiri dan melambaikan tangan, “Arumi!” teriak Demas dengan semangat. “Bu Ijah, bakso dua sama es teh dua yah.”
“Siap Den Demas!” jawab Bu Ijah penuh semangat, “Weleh Kang Mas, lihat itu pacar barunya Den Dimas, cantik sekali yah?” Bu Ijah begitu berbinar-binar melihat wajah Demas yang sama sumringahnya dengan wajah Arumi. Aura jatuh cinta keduanya membuat Bu Ijah dan suaminya ikut senyam senyum sendiri.
“Ho’o bener Dek, jadi ingat muda kita dulu di kampung,” kikik Kang Joko sambil mencubit gemas pipi istrinya.
“Ah! Kang Mas, bikin Ijah malu,” kekek Bu Ijah sambil membawa nampan. Kemesraan keduanya tidak luput dari penglihatan Arumi.
“Bu Ijah sama Pak Joko mesra banget yah?” bisik Arumi kepada Demas,
“Kamu pengen? Aku juga bisa semesrah itu, bahkan lebih kalau kamu mau Rum.” Giliran Demas yang menggoda Arumi. Bukan main, hanya digoda seperti itu saja sudah membuat wajah Arumi seperti tomat matang. Wajahnya memanas, apalagi Arumi bisa merasakan nafas beraroma mint dari bibir Demas yang berbisik di telinganya.
“Jangan bisik-bisik gitu, aku jadi gelli tau?” Arumi hanya bisa menguasai dirinya dengan mendorong pelan tubuh Demas agar sedikit menjauh dan tidak terlalu mepet. Sungguh rasanya jantung Arumi hendak melompat dan ingin berenang di kuah bakso yang ada di mangkok ini.
“Eh Rum, gw seneng banget loh... Loe sadar nggak beberapa detik yang lalu, kita ngomongnya ‘Aku Kamu’ gitu, kita uda kayak orang kasmaran beneran anjir!” Lagi-lagi Demas menggoda Arumi.
“Emang lagi kasmaran kan Den?” Kini giliran Pak Joko yang nyeletuk dan membuat keduanya malu-malu kucing. Akhirnya mereka sempat juga memakan bakso berdua setelah beberapa kali rencana mereka tertunda karena sesuatu hal yang tidak di inginkan dan tidak di rencanakan. Begitu asiknya Arumi dan Demas bertukar cerita, hingga Devara melihat dari jauh saat Arumi mau meminum es teh yang sudah dipegangnya. Devara berlari dengan cepat, dan...
PIAR!
Pecah sudah gelas dari tangan Arumi tersebut, pecahan tersebut mengagetkan semua orang yang ada di sekitar Demas dan Arumi. “Loe gila yah?! Ngasih Arumi minum es! Dia nggak boleh minum es! Kenapa sih Loe g****k banget Demas!” bentak Devara begitu marah dengan kecerobohan Demas. Oh, bukan. Bukan ceroboh, tapi Devara begitu marah dengan ketidak tauan Demas akan penyakit yang diidap oleh Arumi, hingga kapan saja segala kecerobohan kecil dapat berakibat fatal untuk kesehatan Arumi kedepannya.
“b******n! Loe ada masalah apa sih sama gw?!” giliran Demas yang berdiri dan mencengkeram kerah kemeja Devara. Tidak diam saja, Devara lalu mendorong d**a Demas dengan kedua telapak tangannya hingga membuat cengkeraman tangan tersebut terlepas begitu saja dari kerah kemeja Devara.
“Arumi! Pulang sama gw, sekarang!” tegas Devara menatap Arumi sambil menarik pergelangan tangan sahabatnya.
“Kali ini gw yang ngantar Arumi, minggir!” Demas juga tidak mau kalah dan menarik tangan Arumi. Kesal sudah Arumi dengan kedua pemuda disamping kiri dan kanannya itu. Ia segera menghempaskan tangan kedua pemuda tersebut.
“STOP!” teriak Arumi dengan mata berkaca-kaca.