Berpacaran itu ternyata tidak seindah dan semuda yang dibayangkan, Arumi pusing bukan kepalang dengan pertikaian yang terjadi antara Devara juga Demas. Sebenarnya, ada apa sih dengan keduanya? Jika diperhatikan sorot mata kedua pria tampan ini., sama-sama memancarkan rasa benci satu sama lain. Aruma kesal! Begitu kesal dengan kelakuan keduanya. Emangnya Arumi ini tali tambang? Yang biasa di gunakan untuk lomba tarik tambang apa?!
“STOP! KALIAN BERDUA BERHENTI!” Sangking emosinya Arumi sampai tanpa sadar menangis, kesal bukan main! “Kalian ini sebenarnya kenapa? Kalian nggak malu dilihati banyak orang kayak gitu. Sama-sama pintar tapi sama-sama tidak punya brain yah! Kalau caranya kayak gini, gw pulang sendirian!”ancam Arumi, melotot dan menatap tajam kepada Devara.
Kalian tau, sangking berwibawanya Arumi, seisi kantin langsung hening mendadak, kayak nonton video yang sedang di pause. “Ma...maafin gw Rum. Gw khawatir, bokap gw bilang, Loe belum boleh minum es sama sekali. Maafin gw udah ngerusak acara makan siang Loe.” Devara segera berbalik tanpa pamit dan meninggalkan Arumi, padahal Arumi masih mau khotbah panjang dan lebar. Tapi, Devara sudah keburu pergi duluan.
Kini giliran Demas yang dapat gilirannya diomeli oleh Arumi, “Loe tadi itu ngapain? Tarik-tarikan sama Devara, Loe kira gw ini tali tarik tambang gitu? Terus, itu jabatan ketua BEM nggak bisa Loe ingat? Nggak bisa Loe jadikan patokan untuk jaga wibawa Loe gitu? Didepan anak-anak satu kampus marah-marah nggak jelas. Malu tau nggak Dem? Gw yang bukan apa-apa aja malu dijadikan tontonan sama anak-anak kampus satu kantin. Liat sono, Bu Ijah sama Pak Joko. Mereka berdua sampe pelukan sangking ketakutannya, kalo ribut-ribut gitu, sampe ada yang pecah, atau barang yang rusak, kasihan mereka berdua kan?! Kesel banget gw sama kalian.”
Arumi langsung berbalik meninggalkan Demas yang melongo dengan mulut terbuka lebar, Demas benar-benar tidak habis pikir. Seumur-umur pacaran sama cewek manapun, baru kali ini dia diomeli sama pacarnya secara langsung. Tanpa ada rasa takut atau sungkan sedikitpun.
“Bajigur! Bisa-bisanya gw diomeli sama Arumi. Anjir! Gw makin gemas liat tuh cewek. Hahaha!” Demas tergelak hebat sambil menggeleng kepalanya berkali-kali. Dia benar-benar heran sekaligus semakin jatuh hati dengan Arumi, sosok Arumi sangat berbeda dengan para wanita yang dikenalnya. Unik dan berani, penyayang, Demas akhirnya duduk dan tersadar jika dirinya ditinggal pergi Arumi begitu saja.
Ingin mengejar tapi masih spechless, “Kangmas, liat tuh... Den Demas kayaknya uda mulai gila karena cinta Kang. Dimarahi malah ketawa ketiwi gitu, duh... kok saya jadi prihatin yah Kangmas.” Pak Joko tertawa mendengaar bisikan istrinya, tentu saja Demas seperti itu karena terlalu cinta sama Arumi.
“Tenang Dek, dulu Kangmas juga gitu kalau dimarahi sama Jeng Ayu ku ini,” goda Joko kepada istrinya sambil mencubit pipi keriput Bu Ija dengan mesrah, akhirnya keduanya sama-sama tertawa melihat pemandangan Demas yang belum berniat beranjak dari kursi sambil menatap kursi kosong tempat Arumi tadi sempat duduk berhadapan dengannya.
***
BRUK!
Tas ransel hitam itu melayang menghantam tembok kamar berwarna abu-abu, Devara lalu menghempaskan tubuhnya diatas ranjang KingKoil miliknya, dengan seprei berwarna hitam. Cocok menggambarkan suasana hatinya saat ini, gelap! Hati Devara tenggelam ditengah kegelapan kekhawatiran dan kecemburuan yang mendalam. Ini pertama kalinya Devara berkelahi dengan Arumi, disebabkan karena pihak eksternal, yah pihak eksternal yang dimaksud adalah Demas.
“ARGH! FVCK! s**t!” Devara berkali-kali meninju sisi tempat tidurnya, mengumpat berkali-kali sambil tengkurap membenamkan kepalanya dibantal agar suaranya tidakk terdengar sampai keluar kamar.
“Loe kenapa sebenarnya?” Arumi?! Itu suara Arumi! Devara langsung terjingkat duduk dan salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepalanya, padahal tidak ada rasa gatal sama sekali. Duh! apa tadi Arumi dengar umpatannya Devara, malunya bukan main jika sampai Arumi tau Devara marah semaunya sendiri.
“Sejak kapan Loe disini Rum? Massuk-masuk kok nggak ngetuk sama sekali, kalo gw pas lagi telanjang gimana?” rajuk Devara lalu beranjak dari tempat tidurnya dan hendak membuka gorder kamarnya yang juga berwarna hitam agar sinar matahari dari luar bisa sedikit menerangi kamar yang bersuasana gelap itu.
“Nggak usah di buka gordennya, gw suka suasana gelap gini,” cegah Arumi sambil meletakkan tasnya diatas meja belajar Devara. Lalu Arumi juga ikut beranjak naik keatas tempat tidur Devara dan berbaring disamping Devara yang sudah duduk sambil bersandaran di kepala tempat tidurnya. “Kalo Loe telanjang yah gw santai aja, dulu juga kita sering kan? Mandi bareng,” celetuk Arumi tanpa ekspresi sama sekali.
Berbeda dengan Devara yang seketika memerah sudah seluruh wajahnya, matanya juga melotot tidak percaya dengan apa yang didengarnya, “What? Rum, gak gitu konsepnya, dulu kan kita masih kecil, sekarang kita sudah besar tau!” pekik Devara tidak terima dan merasa malu bukan main.
“Apa bedanya? Sama aja kan? Cuman bedanya sekarang semua sudah serba membesar dan-“ Mulut Arumi seketika langsung dibekap oleh telapak tangan Devara.
“No! Stop membicarakan yang memalukan. Gw angkat ini tangan, tapi janji jangan ngomong yang bikin gw malu lagi, okay?” Arumi langsung mengangguk pelan, hati kecilnya merasa geli dengan sikap Devara yang menahan malu, sampai keringat dingin mulai keluar dipelipis wajah tampannya, padahal kamar itu selalu sejuk karena ada air conditioner.
“Gw angkat sekarang nih Rum.” Perlahan Devara mengangkat tangannya dan betapa leganya Devara saat melihat Arumi tidak membuka mulutnya sedikitpun.
“Dan berambut.” Arumi melanjutkan kalimatnya yang belum selesai sambil tertawa.
“Rumi! Ugh God!” pekik Devara langsung menutup mukanya dengan bantal ditangannya sambil ikut tertawa bersama Arumi. Begitulah! Sepasang sahabat ini, tidak akan bisa berkelahi lama-lama. Mereka akan selalu berdamai dengan cepat dan kembali akrab seperti biasanya.
“Dev...” panggil Arumi setelah keduanya selesai terpingkal beberapa saat yang lalu.
“Hem?” Devara lalu memalingkan wajahnya menatap Arumi yang masih berbaring dan dirinya masih duduk seperti semula.
“Loe Kenapa? Loe nggak suka yah kalau gw jadian sama Demas?” Arumi kini berbalik dan tidur dengan posisi menyamping sambil memeluk guling lalu mendongak menunggu jawaban dari Devara. Wajah Devara memang tidak pernah bisa menutupi sesuatu yang mengganjal dihatinya jika sudah berurusan dengan Arumi.
“Gw suka ataupun nggak suka itu bukan hak gw Rum. Selama Loe suka dan sayang sama Demas, gw sebagai orang terdekat Loe cuman bisa ikut senang. Tapi,”
“Tapi apa Dev?” Devara kembali menghela nafasnya saat melihat kedua mata yang berbulu mata tebal juga lentik itu mengerjab berkali-kali.
“Tapi, jika ada sesuatu yang membuat Loe dalam bahaya, tentu gw bakal khawatir dan panik seperti tadi Rum. Maaf yah... gw nggak maksud mau merusak acara makan malam Loe sama pacar Loe itu.” sesal Devara.
Arumi lalu menggenggam tangan Devara dengan erat, “Gw nggak marah Dev, gw nggak bakal pernah bisa marah sama Loe, sampai kapanpun. Nggak tau kenapa bisa gitu yah kita ini, hehehe. Loe juga nggak merusak makan siang gw kok. Loe datang tepat pas bakso gw sudah habis semua. Thanks ya.. sudah selalu menjaga gw selama ini.” Senyum Arumi tercetak dengan mata yang sedikit berkaca-kaca semakin menambah kecantikan yang tiada tara.
Jika saja bisa, ingin rasanya kini Devara mengecup bibir merah alami milik Arumi. Tapi, dia hanyalah sahabat. Tidak lebih dari itu, dan tidak bisa lebih dari itu untuk saat ini. Kesempatan sudah tertutup rapat saat Arumi mulai jatuh cinta dengan Demas.
“Gw sayang sama Loe Rumi.” Gumam Devara begitu pelan lalu mengelus rambut hitam Arumi. Jika tiap sentuhan dari Devara membawa kenyamanan yang tidak dapat diartikan dalam sebuah ungkapan kata-kata oleh Arumi, maka berbeda dengan Devara.
Setiap Devara menyentuh Rumi, perasaan cinta dan sayang itu semakin dalam dan terus menggali tiada henti-hentinya.
“Gw juga sayang banget sama Loe Dev, Loe satu-satunya sahabat gw. Kakak laki-laki Gw yang cuman lebih tua dua menit dari pada gw.” Arumi terkekeh begitu juga dengan Devara.
“Mau ke Planetarium Rum?” tawar Devara, seketika wajah Arumi berbinar bukan main, “Ayok!” sahutnya bersemangat lalu beranjak dan menarik lengan Devara.