Kebiasaan Arumi dan Devara setelah salah satu dari mereka marah adalah mendinginkan suasana dengan melihat benda-benda luar angkasa, bintang, galaxy dan lain sebagainya. Kini keduanya pergi dengan mobil milik Devara, mobil yang hanya dipakainya jika hendak mengajak Arumi jalan-jalan. Jika para Mahasiswa di kampus mereka selalu datang dengan mobil mewah yang diparkir di parkiran kampus, lain halnya dengan Devara.
Baginya Jakarta sudah sangat padat, Ia tidak ingin menjadi salah satu warga yang berkontribusi dengan membuat polusi tambahan di kota super sibuk yang tidak pernah mati selama dua puluh empat jam ini. Tapi, malam ini Devara memilih untuk menggunakan mobil pribadinya, mobil ini sebenarnya hadiah ulang tahun dari kedua orang tuanya disaat dirinya berusia delapan belas tahun. Saat itu Devara dinyatakan lulus ujian berkendara dan mendapatkan SIM A pertamanya dengan usahanya yang maksimal.
Menghargai jerih payah Devara, kedua orang tuanya meberikan kejutan. Bahagia? Tentu saja Devara bahagia, tapi kedua orang tuanya heran. Devara jarang sekali pergi berkendara dengan mobilnya kesana kemari, hanya sesekali dan satu-satunya teman yang pernah naik dimobil itu hanya Arumi dan adiknya Jeff. Tidak ada orang lain yang pernah masuk kedalam area teritori Devara.
“Sudah siapin uang kecil?” tanya Devara memastikan agar mereka tidak menyusahkan petugas loket dan tukang parkir di Taman Ismail Marzuki. Disanalah tujuan mereka saat ini.
“Sudah dong, gw kan anaknya bakul tahu, gudangnya uang kecil yah di dompet gw,” kelakar Arumi membuat keduanya terbahak-bahak bersamaan. Sepanjang perjalanan ada hal yang sedikit mengganjal di hati Arumi, ia begitu penasaran tapi tidak tau harus bertanya kepada siapa, kalau bertanya kepada Devara juga rasanya kurang tepat. Walau Devara sahabat terdekat Arumi, tapi Devara kan tidak tinggal serumah dengannya.
“Loe kenapa? Masih kepikiran sikap gw dikantin tadi?” Devara jadi merasa sangat bersalah dengan sikapnya tadi, Ia berniat besok dirinya harus datang mencari Demas dan meminta maaf atas sikapnya yang tidak sopan. Lagian secara akal sehat Devara juga tidak bisa marah sama Demas, karena memang nyatanya Demas tidak sedekat itu dengan Arumi, sampai harus tau keadaan Arumi saat ini.
“Gw nggak lagi mikirin masalah itu Dev, ah itu mah masalah apa sih? Remahan banget, buat apa gw harus kepikiran. Cuman. Ada yang aneh sama keluarga gw Dev, gw lagi kepikiran sama mereka. Nyokap, bokap dan adik gw semuanya sekarang sikapnya agak aneh Dev,” ungkap Arumi.
“Aneh? Aneh gimana Rum?” Devara masih tidak paham apa yang di maksud aneh oleh Arumi, sampai-sampai Devara sempat paranoid sendiri. Jangan-jangan Tante Citra syok lagi atau entahlah, saat mobil Devara berhenti di depan lampu merah, Ia menoleh sejenak menatap wajah Arumi yang terlihat khawatir.
Cantiknya... cantiknya Arumi selalu sukses mengalihkan dunia Devara sejak kecil. “ Ituloh Dev, mereka sekarang jarang banget nyuruh-nyuruh gw kesana kemari. Kalau gw mau bantu mereka kerja juga selalu dilarang. Terus nyokap gw selalu bilang ke gw kalau bantu jaga toko aja, sambil dengerin musik. Aneh kan?” berharap Devara sepemikiran dengannya.
“Aneh apanya? Kagak ada yang aneh menurut gw, malah normal kan?” Ah, sebal sudah perasaan Arumi. Devara benar-benar tidak memperhatikan perubahan sikap Mamanya, bukannya selama ini Devara juga sangat mengenal Citra? Tidak sampai disitu saja, Arumi kembali menjelaskan keanehan yang terjadi.
“Aneh Dev! Bokap gw, juga ngelarang gw ke gudang untuk bantu angkat-angkat, terus Jeff, dia setiap hari selalu aja ada tugas menggambar loh! Sekolah macam apa itu? Emangnya gw ini bego apa? Kita juga pernah sekolah di sekolahannya Jeff kan Dev? Masa iyah tugas gambar tiap hari?” omel Arumi.
Yah, kalau tingkah Jeff memang terlalu kentara, itu memang aneh. Mana ada Sekolah Menengah Atas yang setiap hari tugasnya hanya menggambar, ah! Bodohnya si bocil itu. Devara akhirnya memutar otaknya dengan keras untuk menjawab semua kejanggalan yang dirasakan oleh Arumi semasuk akal mungkin sambil terus mengendarai mobilnya.
“Rum, kalau Nyokap Bokap Loe kayak gitu, menurut gw nggak aneh. Itu namanya perhatian Rum, mereka lagi perhatian banget sama Loe. Secara Loe habis jatuh gitu kan? Kaki Loe sempat keseleo, tangan Loe juga tulangnya retak. Bokap gw aja selalu ingetin gw harus perhatikan Loe, Loe gak boleh minum es, karena itu berpengaruh sama tulang Loe yang akan terasa ngilu nantinya, apalagi Bokap Nyokap Loe. Wajarlah! Yang aneh itu Loe Rum, diperhatikan malah ngerasa curiga, benar-benar aneh.” Gantian Devara yang mengomel walaupun itu hanya trik sekedar untuk meyakinkan Arumi saja.
Masuk akal, penjelasan Devara memang masuk diakal sekarang. “Lalu gimana sama adek gw? Kalau dia ngerjain gw, kok rasanya keterlaluan banget yah? Kurang ajar banget gitu. Atau jangan-jangan dia lagi naksir gitu sama cewek. Terus bilang ke tuh cewek ngaku-ngaku kalau pintar gambar dan mulai deh pamerin gambaran gw buat narik perhatian si cewek? Kalau gitu masuk akal juga kan? Wah! Kalau beneran gitu konsepnya?! Sumpah bakal gw jewer tuh anak!” Habis sudah kalau Arumi sudah mengambil kesimpulannya sendiri seperti ini.
“Ssstt, sudah jangan ngambil kesimpulan sendiri, gw yakin Jeff nggak segila itu mau ngerjain Loe tiap hari buat gambar manga. Siapa tau dia memang lagi ada project gitu, kan kita nggak tau. Lagian kenapa sih? Kalau Loe bantu Jeff harus tau alasannya dan pakai perhitungan kayak gitu? Jangan gitulah, jelek-jelek gitu Jeff sayang banget sama Loe tau Rum? Lu lupa dia bawain bakpao buat kita pas Loe di rawat di Rumah Sakit?” Luluh sudah hati Arumi mendengar penjelasan dari Devara. Ia langsung mengurungkan niatnya untuk mengomeli adiknya.
“Kok tumben Loe bela Jeff kali ini Dev? Hayo? Ada apa sebenarnya? Jangan-jangan ada yang kalian sembunyikan dari gw yah? Ngaku cepat!” goda Arumi sambil memicingkan matanya seolah sedang mengintimidasi Devara.
“Sampai! Kita sudah sampai. Yuk! Turun, jangan aneh-aneh itu pikiran. Negatif aja isinya,” sangkal Devara sambil mengacak-ngacak rambutnya Arumi. Kini keduanya berjalan menuju ke loket dan mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah serta kartu mahasiswa. Jalan-jalan mereka memang selalu murah dan bermakna. Tidak ketempat clubbing tapi ke planetarium.
Seperti biasa, sudah beratus ratus kali mereka masuk keruangan planetarium tapi beratus – ratus kali juga Arumi selalu terpukau dengan pemandangan langit yang terlihat bergerak luar biasa indahnya, dengan deretan bintang dan galaksi yang memanjakan matanya, ekspresi itu adalah ekspresi terbaik Arumi. Ekspresi yang selalu membuat Devara ikut terpukau. Bukan karena pemandangan luar angkasa, tapi karena pemandangan dihadapannya, ada seorang gadis cantik yang selalu dapat membuatnya terpikat dari waktu ke waktu hingga Devara sudah tidak tau lagi bagaimana cara menyelamatkan dirinya dari ketertarikan pesona Arumi.
“Suatu saat, gw akan menjadi salah satu bintang di angkasa Dev, dan gw akan menjadi bintang paling terang disana. Atau gw akan menjadi salah satu galaksi baru yang akan ditemukan oleh seorang peneiti, keren kan? Kalau namanya galaksi Arumi?” ungkapan itu tiba-tiba saja membuat Devara hendak menangis, biasanya mendengar kata-kata Arumi tentang impiannya menjadi bintang akan membuat Devara bersemangat mengatakan dia juga akan menjadi bintang yang sejajar dengan Arumi di langit angkasa.
Tapi, kali ini perkataan itu terdengar begitu sendu dan memendungkan hati Devara. Pikirannya seakan berkabut akan duka, “Nggak secepat itu Loe akan menjadi bintang di sana Rum. Karena Loe harus menjadi bintang di bumi dulu sebelum kesana. Kita harus dikenal oleh banyak orang lewat karya kita, bersinar ditengah hiruk pikuk dunia dan membuat dunia bungkam dengan prestasi kita. Gw bisa dan Loe juga harus bisa,” sergah Devara menahan airmatanya, suaranya terdengar bergetar Ia tak kuasa menahan keinginannya untuk memeluk Arumi dari belakang.
“Loe kenapa jadi aneh kayak keluarga gw Dev?” Pelukan ini terasa berbeda, tidak seperti biasanya, ada apa sebenarnya? Firasat Arumi seketika merasa yakin memang ada yang aneh dengan seluruh orang-orang terdekatnya.