s*x akan terasa nikmat saat melakukannya karena kita mau, bukan dipaksa.
***
"Kim, party yok!" Ajak Shalimar begitu Kim selesai pemotretan.
Kim melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah jam 7 malam dan dia belum mengabari Raga sama sekali sejak pagi. Raga tau kalo dirinya akan ada full pemotretan hari ini. Tapi masalahnya Kim lupa menaruh ponselnya di mana. Dia yakin cowok itu pasti lagi nyariin sekarang.
"Ayolah, Kim. Lo udah lama banget nggak gabung sama kita-kita. Lo nggak asyik lagi ah sejak pacaran sama cowok kece itu," goda Shalimar.
Kim tersenyum tipis. Ingin menolak tapi nggak enak. Ini udah ajakan kesekian dari Shalimar. Kalo dulu sih biasanya Kim selalu ayo ayo aja diajak ke club'. Tapi memang, sejak sama Raga, Kim mulai membatasi diri.
"Jadi nggak, Shal?" Giselle datang dan menepuk pundak Shalimar. "Lo ikut kan, Kim?" Tanyanya sambil memicingkan mata.
"Ayolahhh, Kim," bujuk yang lainnya juga.
"Iya Kim. Ladies night nih. Nggak seru banget cuma bengong di rumah. Come on..."
"Ya udah deh," nggak ada pilihan lain. Kim terpaksa harus ikut.
Sesampainya di club', mau nggak mau Kim terbuai juga oleh suasana hingar bingar musik. Dia seperti menemukan kembali dirinya yang dulu. Berjoget tanpa mengenal lelah. Tertawa sesuka hati. Minum sebanyak yang dia mau.
"Hai, Kim."
Sapaan itu membuat Kim menoleh. Kim masih sangat sadar untuk mengetahui siapa cowok yang sedang berdiri di hadapannya itu. "Marco?"
"Nggak nyangka ketemu kami di sini," kata Marco dengan suara lembut. "Sama siapa, Raga?"
Kim menggeleng. "Sama temen-temen," Kim menunjuk beberapa temen ceweknya yang sedang terpisah-pisah; ada yang masih berjoget, ada yang minum, bahkan ada yang sudah mojok makeout bareng pacarnya.
"Bisa ngomong berdua nggak?" Tanya Marco.
Kim merasa melihat Marco yang sebenernya. Marco yang membuatnya mau menerima cowok itu sebagai pacar. Marco yang lembut, yang selalu memperlakukannya dengan sopan. Marco yang nggak pernah nunjukin satu sifat jelek pun.
"Oke," Kim mengangguk. Walau gimanapun, dia dan Marco masih memiliki hubungan sebagai pacar.
Marco menggandeng Kim ke tempat yang lebih sepi dan nggak berisik. Dia mengajak Kim duduk di sana dan memesan orange juice, bukan alkohol.
"Minumnya jus aja ya, Kim. Biar kamu nggak mabuk. Biar kamu masih bisa denger aku ngomong apa," canda Marco.
Kim mengangguk. Dia mencari di mana Marco yang mengerikan itu bersembunyi di dalam tubuh cowok yang ada di sampingnya ini.
"Jangan ngeliatin gitu, gue jadi ngerasa jahat banget di mata lo."
Kim langsung gelagapan dan memalingkan wajah. Dia meminum orange juice pesanan Marco untuk menetralkan keadaan. "Mau ngomong apa?"
"Apa ya," Marco terlihat berpikir. "Sebenernya sih lebih ke kangen aja, Kim."
Kim memandang Marco lagi, lebih intens.
"Aku tau, kamu sama Raga gimana sekarang. Dan bahkan, hubungan kita..." Marco mengangkat bahunya. "Kamu tau lah..."
"Marco maaf, aku..."
Marco meletakkan jarinya ke bibir Kim. "Nggak masalah. Aku ngerti," katanya sambil tersenyum.
Kim bener-bener merasa nggak enak. Sekarang dia nggak tau lagi harus menganggap Marco ini baik atau jahat. Nyatanya, yang Kim lihat saat ini adalah Marco yang bener-bener jauh dari yang namanya emosi.
"Maafin aku ya, Kim. Mungkin kemaren-kemaren aku udah bikin kamu nggak nyaman. Aku sadar aku salah. Itu karena aku cemburu," Marco menunduk.
Lama Kim menatap Marco yang masih menunduk. Lalu saat kepala Marco kembali tegak, mereka bertatapan.
"Aku cinta sama kamu, Kim," lirih Marco lagi.
"Marco maaf..."
"Aku tau," senyum Marco itu terlihat begitu sedih.
"Maaf udah nyakitin kamu."
"Nggak terlalu sakit kok," Marco masih saja tersenyum. Dia menepuk pipi Kim begitu lembut.
Kim semakin nggak ngerti. Ada apa dengan Marco? Apa cowok ini mabuk?
"Aku bakal lepasin kamu," tetap dengan senyuman. "Perjanjian 30 hari itu bakal aku batalin. Sekarang, sepenuhnya kamu milik Raga."
"Aku udah nyakitin kamu banget. Iya kan?"
Marco menggeleng. "Aku yang nyakitin diri aku sendiri. Aku jadiin kamu bahan taruhan. Aku biarin kamu sama cowok lain padahal kamu itu pacar aku. Sampe akhirnya aku terjebak oleh kebodohan aku sendiri. Ngebiarin kamu jatuh cinta ke musuh aku. Aku yang bodoh, Kim."
"Marco nggak kayak gitu. Aku..."
"Is oke, Kim. I'm oke..." Marco menangkup kedua pipi Kim. "Boleh aku minta sesuatu sebelum kita bener-bener berpisah?"
"Apa?"
"Satu ciuman. Please... Nggak lebih dari itu."
Kim nggak menjawab. Tapi Marco sudah mendekati wajahnya. Kim tetap diam saat bibir Marco berhasil mendekati bibirnya, menempel dengan sempurna.
Marco melumat lembut bibir, Kim. Ini pertama kalinya mereka berciuman.
Kim memejamkan matanya, membiarkan Marco merasai bibirnya. Dia nggak membalas, hanya diam seperti itu.
Marco menarik tengkuk Kim lebih dekat untuk memperdalam ciuman. Digigitnya bibir bawah Kim hingga cewek itu terpaksa membuka mulut. Lidahnya langsung masuk dan merasai semua yang ada di dalam rongga mulut Kim. Termasuk merasakan manisnya lidah Kim dalam hisapannya.
Kim normal, dia terbuai oleh ciuman itu. Tanpa sadar tangannya sudah melingkar di pundak Marco. Membalas ciuman itu sama bergairahnya.
Merasa direspon, Marco berniat melakukan lebih. Dia mendorong tubuh Kim bersandar di sofa. Ciumannya turun ke leher, meninggalkan jejak di sana.
PRANG!
Seseorang menjatuhkan gelas. Kim terperanjat hingga menyadari kesalahannya. Dia mendorong Marco dengan kuat. Dia langsung berdiri dan membetulkan ujung gaunnya yang sedikit terangkat karena tangan Marco tadi.
"Sory Kim, aku kelepasan..." Kata Marco dengan wajah merasa nggak enak.
Kim mengangguk. Dia langsung meninggalkan Marco dan memilih untuk meninggalkan tempat itu.
"Kim tunggu!" Marco menahan lengan Kim. "Aku anter," katanya lagi.
"Aku bisa sendiri," kata Kim sambil menarik lepas tangannya.
"Aku anter. Udah malem, nggak aman kalo kamu naik Taxi."
Kim ragu.
"Sebagai temen," Marco mencoba meyakinkan lagi.
Kim akhirnya mengangguk. Dia mengikuti Marco berjalan menuju mobil cowok itu yang terparkir nggak jauh dari sana.
Selama perjalanan pulang, hanya ada hening dan kecanggungan antara mereka. Kim merutuki kebodohannya karena sudah terbuai oleh ciuman Marco tadi.
"Makasih ya, Kim. Kamu udah kasih hak aku sebagai pacar kamu, meski di detik-detik terakhir hubungan kita," kata Marco memulai obrolan.
Kim nggak menjawab. Dia memalingkan wajahnya ke luar jendela. Menatap gedung-gedung tinggi menjulang yang mereka lewati satu persatu.
"Aku nggak akan lupain ciuman tadi. Only one kiss but so mean to me."
"Marco itu tadi..."
"Ciuman perpisahan?" Marco sedikit terkekeh.
Kim tersenyum kaku. Ya... Ciuman perpisahan.
Mobil Marco akhirnya sampai di depan sebuah apartemen mewah, tempat Kim dan Raga tinggal.
"Kamu tau aku tinggal di sini?" Tanya Kim. Dia yakin tadi dia nggak menyebutkan alamat apartemen itu pada Marco.
"Aku juga tau kamu tinggal sama Raga," jawab Marco santai.
Kim cukup terkejut. Jadi Marco tau semuanya? Dan dia nampak biasa aja mengetahui pacarnya tinggal satu atap dengan musuhnya.
"Makasih," Kim segera keluar dari mobil. Tanpa menoleh ke belakang dia berjalan masuk ke gedung tinggi tersebut.
***
Perasaan Kim sudah nggak karuan. Antara dia senang karena akhirnya Marco melepaskannya. Atau cemas karena sesuatu yang aneh di dalam dirinya masih saja belum mau mempercayai kalau yang tadi itu memang Marco.
Ting.
Lift terbuka di lantai yang Kim tuju. Dia langsung berbelok menuju ke pintu apartemen nya. Kim menghembuskan nafas pelan, mulai memencet angka kombinasi dan pintu terbuka.
Pelan-pelan Kim masuk dan menyadari kalau ruangan di sana masih terang benderang. Itu artinya, Raga nggak kemana-mana dan cowok itu belum tidur.
Kim masuk ke kamar, ranjang masih tersusun rapi persis seperti saat dia meninggalkannya pagi tadi. Pintu Balkon terbuka, membuat tirai halus yang menutupinya terbang masuk ke dalam.
Kim berjalan menuju Balkon, dia tersenyum melihat Raga sedang berdiri di pembatas balkon. Menunduk menghadap ke bawah dengan segelas minuman di tangan. Kim memeluknya dari belakang.
"Maaf ya... Tadi aku diajakin party sama temen-temen," bisik Kim dengan lembut.
Raga nggak menoleh. Mungkin dia tau dengan kedatangan Kim tadi. Dia melepaskan pelukan Kim. Lalu berjalan masuk ke dalam dengan tatapan dingin.
Raga kenapa?
Kim ikut masuk ke dalam. Masih mencoba untuk mendekati Raga karena dipikirnya cowok itu ngambek gara-gara seharian hingga larut malam begitu dia nggak memberi kabar sama sekali.
"Maaf, Ga. Aku lupa narok hape aku di mana. Itu sebabnya aku nggak bisa hubungin kamu," kata Kim menjelaskan. Dia seperti orang bodoh mengikuti langkah Raga yang terus mondar mandir melakukan hal yang nggak jelas.
Karena capek, Kim menarik lengan Raga agar mereka bisa berhadapan. "Kenapa sih? Oke kamu marah... Aku minta maaf," kata Kim menahan sabar.
"Aku pernah bilang ya, aku nggak suka kamu diem. Kalo ada apa-apa tuh ngomong. Diem nggak nyelesain masalah, Ga."
Raga menatap Kim tajam. Itu tatapan paling menakutkan yang pernah Raga berikan pada Kim. Nafasnya memburu, menahan sesuatu yang nyaris meledak di dalam tubuhnya.
"Maafin aku... Tadi anak-anak maksain ke club'. Aku nggak enak karena terus-terusan nolak. Tadinya niat aku juga cuma bentar, tapi tau sendiri lah mereka terus aja nahan aku."
Raga masih diam dengan tatapannya itu.
Kim menangkup pipi Raga yang terasa dingin. "Maafin aku ya..." Ulangnya lagi, nyaris seperti berbisik.
Mata Raga turun ke bawah, melihat bekas merah yang masih sangat baru di leher Kim. Tangannya mengepal. Lalu dia menatap Kim kembali.
Kim yang menyadari kemana arah tatapan Raga tadi, langsung refleks menutupi lehernya dengan menguraikan rambutnya. Dia gugup setengah mati.
"Nyoba nyembunyiin bekas ciuman itu?" Tanya Raga sinis.
Tubuh Kim bergetar.
"Ahhh," Kim sedikit terjerit saat Raga dengan kasar menarik rambutnya ke belakang hingga wajahnya mendongak.
Raga mengamati lekat-lekat bekas ciuman di leher Kim itu. Hanya satu, tapi sangat merah. Matanya semakin berkilat marah, tanpa sadar cengkeramannya pada rambut Kim kian menguat.
"Raga sakit..." Keluh Kim sambil menarik tangan Raga dari rambutnya.
"Dia udah nyentuh kamu di mana?" Tanya Raga.
"Di sini?" Raga mencium bibir Kim dengan kasar. Melumatnya sambil setengah menggigit. Membuat Kim meringis karena kesakitan.
Kim memukul d**a Raga, berusaha mendorongnya menjauh karena ciuman Raga membuatnya kesulitan bernafas. Dia meronta sekuat tenaga saat lidah Raga terus menerobos masuk ke dalam mulutnya, dengan cara yang kasar.
Raga melepaskan ciuman sebelum Kim mati. Dia menatap tajam pada Kim, tanpa mengasihaninya sama sekali.
"Di sini juga?" Mata Raga mengarah ke jejak merah di leher Kim. Lalu ciumannya membabi buta menciumi leher Kim. Menghisapnya dengan keras hingga menghasilkan jejak merah yang lebih banyak hampir memenuhi leher cewek itu. Lebih merah, lebih ganas. Hingga jejak ciuman Marco tadi tertutup sepenuhnya
Kim sudah terengah-engah. Antara tuntutan nafsu yang dialirkan dari ciuman Raga dan rasa sakit karena Raga memperlakukannya dengan kasar.
Belum puas, Raga mendorong tubuh Kim ke tembok. Melepaskan rambut Kim dan berganti mengunci tubuh Kim agar tetap diam di sana.
"Dan ini kan?!" Bentak Raga. Tangannya meremas pangkal paha Kim, sangat kuat.
"Raga ahhhhh!" Kim menjerit, antara mendesah dan berteriak sakit.
"Sampe bates mana, Kim?! Kasih tau aku!!!" Emosi Raga sudah sangat tinggi. Tangannya naik terus semakin naik hingga menyentuh bagian intim Kim. "Sudah sejauh ini?" Tanyanya. Tangannya bergerak masuk menerobos ke dalam, menusuknya dengan kasar.
"Ahhhhh, Raga sakittt," Kim mencoba menarik tangan Raga.
Raga seakan sudah sangat kesetanan, dia nggak memperdulikan kesakitan Kim dan terus membuat cewek itu merintih. Jarinya terus menusuk-nusuk bagian bawah Kim hingga cewek itu mengerang dengan desahan.
Raga menjauhkan tangannya. Berganti mencengkram bahu Kim dan mendorong cewek itu menuju ranjang. Dijatuhkannya tubuh Kim dengan kuat. Lalu tangannya menyentak gaun Kim hingga robek dan terbuka.
Kim sangat terkejut melihat sisi tempramen Raga tersebut. Dia ingin berontak tapi kalah tenaga. Terutama saat yang di depannya ini sudah bukan Raga lagi, tapi seseorang yang sedang dikuasai oleh amarah.
Raga membuka celana pendeknya. Mengarahkan miliknya ke milik Kim. Dengan kasar dia menghentakkan tubuh Kim dengan hentakan kuat.
Kim kesakitan. Mereka tidak pernah berhubungan dengan cara seperti ini. Terutama, Raga yang menyentaknya begitu kuat. Memegangi kedua tangannya menjadi satu ke atas tubuhnya. Kim benar-benar kalah.
Desahan Kim sudah tidak terdengar sexy lagi di telinga Raga. Desahan itu bercampur rasa sakit. Tapi entah setan apa yang merasuki Raga hingga dia buta dan mengabaikan kesakitan Kim itu. Dia terus menyentaknya dengan kuat, hingga dirinya meledak.
Kim terkulai lemas. Dirinya pun ikut meledak namun tanpa sedikitpun ada rasa nikmat di sana. Sekujur tubuhnya nyeri. Dadanya memerah bekas remasan kasar dan gigitan Raga. Pangkal pahanya ikut berdenyut.
"Itu hukuman karena kamu udah main-main di belakang aku," kata Raga sambil melangkah menjauh. Dia keluar dari apartemen, membanting pintu dengan keras.
Air mata Kim mengalir deras. Apa yang Raga lakukan ini benar-benar di luar akal sehat. Dia meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Mengabaikan rasa sakit hebat yang menyerang pangkal pahanya.
***