Marco melempar ponselnya dengan keras ke tembok. Dia marah setelah melihat sebuah postingan video yang dikirimkan oleh seseorang ke i********:. Tadinya dia nggak percaya dengan apa yang dibilang oleh Dion, sahabatnya. Waktu Dion bilang Marco harus cek i********:, dia baru melakukannya setelah 3 jam. Dan ternyata....
Video Raga dan Kim berciuman. Ciuman yang nggak biasa. Marco bahkan belum pernah menyentuh bibir Kim karena cewek itu selalu menghindari ciumannya selama mereka berpacaran. Tapi dengan Raga? Kim bahkan menyerahkan tubuhnya.
"Lo lihat aja, Ga. Apa yang bisa gue lakuin yang nggak akan pernah Lo duga bisa gue lakuin buat hancurin Lo," kata Marco penuh kebencian.
"Kita harus bermain cantik, Co. Jangan sampe semuanya gagal. Materi udah kita dapet, kita tinggal tunggu waktu presentasi yang pas untuk tampil," timpal Dion.
"Bukan cuma Raga. Gue mau kasih pelajaran yang nggak bisa Kim lupain seumur hidupnya."
"Gue dukung lo," Dion menepuk pundak Marco. "Gue bakal bantu apapun itu untuk menghancurkan Raga. Gue akan balesin dendam Rendra, sampe tuntas."
"Lo yakin ini akan berhasil?" Tanya Marco.
"Bukan hanya berhasil. Cacat itu lebih mengerikan ketimbang kematian kan, Marco?." Dion menatap Marco dengan tatapan mengerikan. Otaknya sudah dipenuhi oleh semua rancangan untuk menjatuhkan Raga.
Marco membalas tatapan itu dengan sunggingan senyum penuh keyakinan. Dia sudah tidak sabar melihat Raga berlutut di hadapannya. Merengek memohon sesuatu.
***
Sebelum tidur, Kim dan Raga akan melakukan rutinitas malam bersama-sama; menyikat gigi. Mencuci muka. Kim dengan perawatan singkat rambutnya. Raga dengan pencukur bulu-bulu di wajahnya. Mereka akan berdiri di depan kaca wastafel, bersisian. Saling menggoda dan menjahili.
Jika Raga menjahili Kim dengan menarik atau mengacak rambut Kim padahal cewek itu sudah merapikannya dengan susah payah. Maka Kim akan membalasnya dengan membelepoti muka Raga menggunakan foam pencukur jenggot.
"Raga udah dong," Kim berdecak kesal karena harus mengulang terus menyisiri rambutnya akibat diacak-acak oleh Raga.
"Genit banget tiap malem sisiran," ledek Raga.
"Ini namanya dirawat, bukan genit. Kamu pikir rambut aku bisa sebagus ini karena apa? Karena aku ngerawatnya, bego."
Raga terkekeh. Kim memang benar tentang rambutnya yang bagus. Rambut panjang pirang itu begitu lembut dan menjuntai indah. Selalu harum meski seharian berada di bawah terik matahari.
Raga memeluk Kim dari belakang. Memeluknya sangat erat hingga Kim terbatuk-batuk kesulitan bernafas.
"Mau bunuh aku?!" Sergah Kim.
"Iya," Raga kembali mengeratkan pelukannya. Menggelitik Kim tanpa ampun.
Kim berteriak. Tertawa. Nyaris menangis. Ngambek. Marah. Semuanya... Dia paling nggak suka digelitikin.
"Ragaaaaaaaaa!"
"Bodoooooo," Raga terus menggelitik Kim. Dia menyeret cewek itu menuju ranjang dan membaringkannya di sana. Lalu tangannya kembali menggelitik pinggang Kim, mendudukinya agar nggak bisa bergerak.
"Ragaaaaaaaaa aku marah nih ya!" Sentak Kim.
"Makin marah makin aku bikin geli. Nih rasainnnn..."
"Ahhhhh Ragaaaaaaaaa! Hmpphh hahahaha am.. ampunnnn hahaha."
Raga akhirnya lelah dengan perlawanan Kim. Dia melepaskan cewek itu dari serangannya. Tapi dengan tubuhnya tetap menindih Kim.
Raga membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah cantik Kim. Dia membetulkan posisi rambut Kim yang nyaris menutupi wajah. Mereka saling bertatapan, tersenyum penuh arti.
"Aku nggak pernah ngebayangin hal kayak gini sebelumnya. Kehadiran kamu luar biasa banget buat hidup aku, Kim," kata Raga jujur.
Kim merangkul leher Raga. "Justru kamu yang udah ngerubah aku, Ga. Aku yang bosenan ini bisa bertahan selama ini dalam sebuah hubungan. Itu baru luar biasa."
"Emang selama ini kalo kamu pacaran bertahan berapa lama?"
"Kalo pacarannya sih tergantung kapan aku punya waktu buat bilang putus. Tapi soal bosen, biasanya aku bakal bosenan nggak nyampe seminggu."
"Jahat," Raga menyentil kening Kim.
"Hehehehe." Kim mendorong Raga. "Kamu berat," katanya sambil menggeleng. Dia turun dari ranjang. Membuka kulkas kecil yang ada di atas meja mini bar. Mengambil sebotol soda dan membawanya ke atas ranjang. Giliran Kim yang duduk di atas Raga sekarang. Menenggak soda dingin itu dengan mata menatap Raga.
Raga memainkan ujung rambut Kim yang terjuntai hingga ke perut. Kim hanya memakai lingerie tipis ketika tidur. Hal ini membuat Raga selalu kehabisan akal untuk berpikir sehat. Apalagi, Kim juga selalu responsif untuk segala tindakannya. Nggak pernah menolak setiap kali Raga mengajaknya berhubungan badan. Meski dilakukan berkali-kali dan benar-benar setiap hari.
"Besok aku ada pemotretan. Kamu temenin yah," minta Kim. Dia menguncir rambutnya ke atas karena merasa sangat gerah. Model updo yang dipilih Kim saat mengikat rambutnya adalah pilihan paling pas jika ingin membangkitkan gairah Raga.
"Aku mau foto kamu," kata Kim sambil meraih ponselnya.
"Nggak mau," Raga menutupi wajahnya. Dia menahan kuat-kuat tangannya meski Kim berusaha untuk menariknya.
"Ihhh bentaran doang," bujuk Kim.
"Nggaaak," Raga nggak suka selfie. Dia lebih suka kalo diajak foto berdua ketimbang sendirian.
Karena Raga tetap nggak mau menjauhkan tangan dari wajah, Kim pun mengambil foto dengan keadaan Raga tertutupi seperti itu.
Klik.
"Keren," ujar Kim ketika melihat hasil fotonya. Raga nampak sexy dan manis di foto itu.
Raga menjauhkan tangannya, dia duduk dan membawa Kim makin dekat di pangkuannya. Tubuh mereka menempel dengan wajah berdekatan. Raga melihat layar ponsel Kim. "Orang-orang akan langsung berpikir yang aneh-aneh ngeliat foto ini."
"Aneh bagian mananya?" Tanya Kim polos.
"Perhatiin baik-baik," Raga menunjuk lutut dan tangan Kim yang terlihat tanpa sengaja di atas tubuhnya. "Menurut kamu mereka bakal mikir kita lagi ngapain?"
Senyum Kim mengembang, lalu tertawa kecil. "Aku keliatan kayak b***h banget ya," katanya dengan terkekeh.
Kim mulai fokus dengan ponselnya. Dia membaca setiap pesan yang masuk dan beberapa chat group soal pekerjaan. Dengan tetap duduk di atas perut Raga hingga membuat cowok itu menatapnya tanpa henti.
Ponsel Kim berdering. Dia mendapat telepon dari salah satu teman sepekerjaannya. Cowok, yang juga seorang model. Kim mengacungkan telapak tangannya meminta Raga menunggunya menerima telpon dan jangan mengeluarkan suara.
"Ya Ren?" Sapa Kim.
"..."
"Oh ya. Kapan?"
"..."
"Hahahaha."
Raga merasa bosen kalau cuma menunggu. Dia memilih untuk melakukan hal lain yang lebih menyenangkan.
Kim menggigit bibirnya saat jari telunjuk Raga berputar di p****g payudaranya yang hanya terhalangi oleh kain tipis dari lingerie. Dia melotot pada Raga agar berhenti.
"Hmpphh, ya Ren denger kok. Lanjutin," nafas Kim mulai terengah-engah.
"..."
Raga terus mempermainkan bagian sensitif Kim dengan santai. Dia menarik turun tali lingerie Kim hingga bagian atas lingerie itu mengendur dan turun ke pinggang cewek itu. Setengah tubuh bagian atas Kim terpampang indah di depan wajah Raga. Putih mulus tanpa noda sedikit pun. Dan bentuknya sangat menggoda.
Raga mendekatkan bibirnya, mengulum p****g p******a sebelah kanan Kim. Satu tangannya meremas p******a kiri Kim.
Kim merapatkan bibirnya menahan desahan keluar dari mulutnya. Dia nggak mungkin menutup telepon karena temannya itu sedang menjelaskan soal pekerjaan.
"Emmhhh, iyah nanti aku... Emhh, baca..." Kim mulai nggak bisa mengontrol diri.
Raga terkekeh. Dia sama sekali nggak mau menghentikan tindakannya itu. Malah semakin menjadi dengan menjatuhkan Kim ke atas kasur dan menindihnya.
"..."
"Emhh iya."
"..."
Kim kembali menggigit bibirnya, Raga sedang bermain dengan bagian bawah tubuhnya. Memberikan rangsangan penuh berupa ciuman-ciuman di area sensitif itu.
Kim menjauhkan teleponnya. "Ragaaaaa," Kim menahan geli atas tindakan cowok itu.
"Lanjutin aja aku nggak ganggu," kata Raga lalu kembali membenamkan bibirnya di antara kedua paha Kim.
Kim mendekatkan ponselnya ke telinga kembali. "Emmhhh Ren kita lanjut nanti ya. Aku ada urusan bentar... Emmhhh."
"..."
"Oke bye..."
Kim langsung melempar ponselnya ke kasur. "Raga ihhh," rutuknya. Bagaimana mungkin dia bisa tahan dengan kelakuan cowok itu.
Raga tertawa. Dia melepaskan pagutannya dan naik mendekati wajah Kim. Sekarang gantian tangannya yang menerobos masuk ke bagian bawah Kim. Menggeseknya dengan teratur. Menekannya.
Kim mendesah dengan tubuh menggeliat. Dia memejamkan matanya menahan letupan kenikmatan itu.
Melihat wajah Kim dalam keadaan seperti ini sangatlah menyenangkan bagi Raga. Dia terus bermain. "Kamu udah basah banget," bisik Raga.
Mereka lantas berciuman. Ciuman di saat gairah sedang memuncak terkadang terkesan ganas dan sangat liar. Apalagi ketika Raga memasukkan miliknya, menghentaknya dengan keras.
Mereka berpelukan erat saat ledakan pertama keluar bersama-sama.
***
"Good morning," sapa Raga ketika masuk ke kamar, Kim sudah bangun dengan posisi duduk di atas ranjang.
Kim terkejut melihat Raga membawa nampan berisi berbagai menu sarapan pagi. Semuanya adalah kesukaan Kim tentu saja. Sarapan sehat untuk menjaga berat badan.
"Dalam rangka apa nih?" Tanya Kim penuh kecurigaan.
"Kok nanyanya gitu?" Raga memicingkan matanya.
"Ya kali aja kamu ada maunya," cibir Kim. Dia terkekeh sambil meminum orange juice.
Raga duduk di samping Kim dan ikut menyantap sarapan bersama. "Sesekali manjain kamu kan nggak papa."
"Tiap hari juga nggak papa," cengir Kim.
"Maunya," Raga menoyor kepala Kim.
"Kita udah dua Minggu kan yah tinggal di sini?" Tanya Kim sambil mengingat-ingat.
"Mungkin," jawab Raga. "Kenapa emang?"
"Nggak kerasa aja kalo udah selama itu."
"Karena selama di sini yang kita lakuin itu bener-bener hal menyenangkan," goda Raga. "Pagi. Siang. Sore. Malem. Never stop..."
"Hahaha." Kim menyelesaikan kunyahannya. "Kita udah kayak suami istri ya," katanya sambil menaik turunkan alis.
"Nikah beneran yuk?" Tantang Raga.
Kim tersedak oleh potongan roti. Raga sampai menepuk pundaknya untuk menghilangkan sesak di kerongkongannya. "Raga ih ngomongnya!" Marah Kim.
Raga terkekeh. "Baru ditanyain doang. Belum juga dilamar," sambil menggelengkan kepala.
Kim cemberut. Dia menghabiskan sisa rotinya hingga mulutnya bener-bener penuh.
***