Part 12 Triple Date

1587 Words
Raga mengejar Kim. Cewek itu hampir aja naik ke Taxi kalo Raga terlambat tadi. Dia meminta maaf kepada supir Taxi karena Kim nggak jadi ikut Taxi itu. "Kim, dengerin aku. Maaf ya... Maaf," minta Raga dengan sungguh-sungguh. "Aku lepas kontrol tadi." "Aku cuma penasaran sama perasaan kamu ke aku. Aku takut kalo yang kamu rasain ke aku itu nggak sebesar rasa aku ke kamu." "Ga, aku cinta sama kamu. Dengan apa yang udah kita lakuin, itu udah ngebuktiin kalo aku beneran cinta sama kamu." Kim menghela nafas lagi, menatap Raga dengan serius. "Aku tanya, berapa kali kita udah ML?" Raga membalas tatapan Kim. "Nggak kehitung," jawabnya. Mereka bisa melakukannya berkali-kali dalam sehari. Dan ini sudah lima hari sejak mereka tinggal satu apartemen. "Begitupun cinta aku. Nggak kehitung, Ga." "Soal syabila, aku nggak cemburu karena aku tau kamu nggak berniat buat bermain di belakang aku. Selama kamu masih ngelakuin itu di depan mata aku, selama itu juga aku percaya kalo kamu nggak akan khianati aku." "Dan soal Ron tadi, aku minta maaf kalo kamu emang nggak suka dengan cara aku bergaul. Aku janji bakal perbaikin itu ke depannya." Raga nggak tau harus ngomong apa lagi. Kim jauh lebih dewasa dari yang dia pernah bayangin. Cara pandang Kim memang nggak sama dengan cewek-cewek lain. Dia nggak emosian. Nggak gampang terpancing oleh kemarahan. Coba aja kalo cewek lain, pasti udah perang otot sok-sok lari minta dikejar. "Maafin aku ya," ulang Raga lagi. "Minta maaf terus," cebik Kim. "Makanya lain kali nggak usah sok mau bikin aku cemburu. Kamu sendiri kan yang cemburuan nggak jelas," ejeknya. Raga terkekeh sambil menggaruk kepalanya. Dia memasangkan jaket yang sejak tadi di pegangnya ke tubuh Kim. "Kayak gini lebih baik," ujarnya. "Kayaknya selain ngebatesin pergaulan, aku juga harus ubah cara penampilan aku. Iya?" Raga terkekeh. "Satu lagi, latih rasa kamu buat lebih peka," bisik Raga. Kim tergeleng-geleng. "Eh kalian di sini ternyata!" Zeta dan dua cowok lainnya datang menghampiri. "Jadi nonton nggak?" Tanyanya spontan. "Jadi," jawab Kim. "Mau satu mobil atau iringan?" Tanya Zeta lagi. "Eh Njir masa iya gue harus jadi kambing congek. Ogah gue nggak ikut," tolak Dika. Secara dia sendiri yang lagi nggak ada pasangan sekarang. "Duh nggak seru banget. Kemaren udah nggak ikut ke puncak. Udehhhh comot sembarang cewek ajakin nonton," suruh Zeta. "Enak aja main comot. Gue punya standar, sory ye..." Dika membusungkan dadanya. "Gaya Lo ketinggian," ejek Aldi. "Udah sana cari gandengan. Kita tungguin," Aldi mendorong Dika untuk segera beraksi. "Oke... Oke..." Dika langsung melangkah mencari mangsa. Nggak sulit untuk Dika menemukan satu cewek untuk sekedar diajak jalan. Dika ganteng, tajir iya. Cewek mana yang nggak mau coba? Itu buktinya dia udah berhasil gandeng satu cewek dalam tempo lima belas menit doang. "Kalian satu mobil, biar gue bawa mobil sendiri," kata Dika sambil berlalu merangkul pundak cewek itu. Zeta menggeleng jijik. Dia sangat tau kenapa Dika memilih untuk naik mobil sendiri dari pada bergabung; selain alasan nggak muat. Dika pasti ingin berbuat m***m di dalam mobil. Secara, cewek yang digandengnya sekarang terlihat seperti sedang jual d**a dan paha. "Lo bawa mobil, Di," Raga melempar kunci mobil miliknya. Aldi dengan sigap menangkapnya. Mereka melangkah menuju parkiran tempat mobil Raga di parkirkan. *** Iring-iringan antara mobil Raga dan Dika membuat jalanan bertambah macet. Mereka terkadang mensejajarkan mobil hanya untuk saling melempar u*****n. Saat Dika menikung, Aldi juga dengan sigap mengejar. Jalanan umum yang padat dijadikan sebagai arena balap dadakan oleh mereka. "Awas aja ya sampe nabrak atau berurusan dengan polisi," ancem Zeta. Aldi langsung bersingut. Dia memelankan laju mobilnya. Membiarkan mobil Dika mengunggulinya. Dalam hati Aldi merutuki kesialan nasibnya. Pasti Dika sedang tertawa puas sekarang. Di belakang, Raga dan Kim nggak terlalu mengurusi hal lain. Mereka sibuk sendiri. Ngobrolin sesuatu sampe terkadang tertawa terbahak-bahak. Selama Kim menceritakan masa kecilnya yang lucu, selama itu pula Raga mendengarkan sambil mengelus pipi Kim dengan punggung tangannya. Sesekali dia tertawa saat cerita Kim terdengar lucu. "Astaga!" Kim seperti mengingat sesuatu yang penting dan baru saja ia lupakan. "Kenapa?" Tanya Raga ikutan cemas. "Ada yang ketinggalan?" "Aku tadi belum kasih makan Molly, Ga!" Karena itu? Kim bikin cemas aja. "Udah aku kasih tadi," beritahu Raga. "Hah, serius?" Raga mengangguk. "Minumnya juga udah aku ganti. Tempat pup nya juga udah dibersihin." Kim mengernyitkan mukanya, nggak tau harus makasih dengan cara apa. Karena selama di rumahnya dulu, yang biasa melakukan itu adalah para pembantunya. Dan sekarang Kim harus membiasakan diri untuk mengingat mengurus Molly. Untung ada Raga. Raga meletakkan telunjuknya ke bibirnya. Menaikkan sebelah alisnya. Kalian mengerti maksudnya apa? Dia ingin Kim berterima kasih dengan menciumnya. Genit ya Raga... Cup. Kim mencium bibir Raga sekilas. Dia terkekeh saat Raga mengacak rambut halusnya dengan lembut. Ting. Suara ponsel Kim terdengar. Kim langsung mengeluarkan ponsel itu dan membukanya. Sebuah notifikasi Line dari berbagai nomor dan akun tak dikenal. Seperti biasanya kebanyakan hanya dibaca dan diabaikan oleh Kim. Bara Kim, ntar malem dateng nggak? Gue pengen ketemu lo kali. Kim langsung mengetikkan balasan dari pesan tersebut. Iya Dateng. "Mau kemana emang ntar malem?" Raga tadi nggak sengaja kebaca dengan isi chat dari Bara tersebut. "Club', mau ikut?" "Bukannya kemaren malem udah?" "Ini beda lagi." Kim memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia menjalin kembali tautan tangannya yang sempat terlepas dari Raga tadi. Mobil memasuki area parkiran sebuah Mall. Zeta begitu bersemangat. Sejak tadi dia menceracau kalau dirinya jarang nonton lantaran Aldi bukan cowok yang seru buat diajak ngobrolin tentang Film. Kim adalah sahabat cewek pertamanya selama dia kuliah. Zeta pernah beberapa kali mencoba memiliki teman cewek. Tapi nyatanya semua cewek itu hanya memanfaatkannya untuk mendekati Raga. Dan Raga yang ketus membuat cewek-cewek itu merepotkan Zeta karena harus menyampaikan berbagai macam salam dan pesan. Zeta nggak nyaman dan mengakhiri pertemanan mereka. Ketiga pasang yang sedang triple date ini memasuki Mall sambil bergandengan tangan. Mereka langsung menuju ke studio 21 untuk memesan tiket dan menonton. Para cewek kebagian tugas antri tiket karena mereka yang paling tau mau nonton apa. Sementara para cowok antri di counter makanan untuk membeli camilan. Setelah selesai akhirnya mereka bertemu di area lesehan untuk menunggu pemutaran Film. Kim duduk di depan Raga, diapit oleh dua kaki cowok itu. Dia menyandarkan tubuhnya ke d**a Raga dan tangan cowok itu terulur memeluk lehernya. "Kim mau tau aib Raga nggak?" Tanya Zeta. "Apa?" Tanya Kim penasaran. "Gue jahit ntar mulut Lo," kata Raga pada Zeta. "Ih," Kim mengepal bibir Raga. Meski tau Raga bercanda tapi tetep aja candaan itu terlalu sadis. Zeta memasang ekspresi penuh ejekan pada Raga. "Raga itu pernah ciuman sama banci. Hahahahaha." Tawa Zeta meledak. Aldi dan Dika yang juga tau cerita itu ikut tertawa ngakak. Kim sih nggak tertawa sehisteris tiga orang itu, dia malah menatap Raga dengan seringaian mengejek. Apalagi saat wajah Raga berubah masam gara-gara aib nya mulai dibongkar. "Kok bisa?" Tanya Kim. "Ceritanya Raga kehilangan print tugas kuliah. Lo tau lah tugas kuliah itu isinya penting semua. Eh, ada yang nemuin. Ya Banci tadi. Banci itu ngasih syarat kalo Raga mau tugas kuliahnya kembali, Raha harus ciuman bibir sama tuh banci." Kim menyimak cerita itu sambil tertawa dan dia begitu tertarik mendengarnya. Sesekali dia meledek Raga dengan wajah melucu. "Mereka ciuman deh. Hahahahah." Zeta kembali terpingkal-pingkal. Dika dan Aldi juga. Apalagi Kim... Cewek yang dibawa Dika ternyata nggak bersahabat. Sejak tadi cuma diem doang mainin hape. Atau sesekali melirik nggak suka ke arah Kim yang bermesraan dengan Raga. "Puas?" Tanya Raga. Dia membekap mulut Kim agar berhenti tertawa. "Hmppp," Kim mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya pertanda menyerah. Barulah Raga melepaskannya. Semuanya menyudahi tawa mereka mengejek Raga. Mereka menceritakan hal lain. Giliran aib Aldi sekarang. Kalo Raga pernah dipaksa berciuman dengan banci. Aldi malah pernah dipaksa begituan sama Banci. Nggak percaya? "Kan gue nggak punya pilihan. Dari pada Zeta diapa-apain sama mereka. Lagian Zeta juga bikin ulah pakek berantem sama banci. Udah tau banci itu luarnya aja yang kemayu, dalamnya tetep sangar." Zeta tertawa ngakak. Dika lebih lagi. "Gimana rasanya, Di?" Tanya Kim sambil mengulum senyum. "Yaaa... Gimana ya Kim. Kalo tutup mata sih enak juga." "Buahahaha," Zeta semakin tertawa keras. Dia memegangi perutnya yang terasa sakit akibat banyak tertawa. "Mampus Lo," ejek Raga ke Aldi. "Yang besoknya Lo langsung ke dokter minta punya Lo disterilkan. Terus kalian tau dokternya bilang apa?" Kim mendengarkan dengan penuh minat. "Dokternya bilang, Pak Aldi emang habis begituan sama Anjing ya sampe harus disterilkan? Hahahaha." "Hahahaha." Selesai sudah mereka membicarakan aib. Mulut sampe pegel ketawa Mulu. Sekarang keenamnya sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dika dengan game di ponselnya. Gandengan Dika yang juga autis sama ponsel. Aldi dan Zeta yang sibuk selfie. Dan Raga sama Kim yang masih ngobrol tentang apa aja. "Kim," panggil Raga. Kim menolehkan kepalanya ke belakang, dia tersenyum saat melihat Raga menggigit permen di kedua bibirnya. "Mau taruhan?" Tantang Kim. "Yang kalah, malem ini harus puasin yang menang," Raga menaikkan sebelah alisnya. Kim terkekeh. Dia menggigit bibirnya. "Enakan kalah apa menang?" Cara Kim bicara ini bener-bener bikin Raga b*******h. Nada bicara Kim sungguh menggoda cowok itu. "Sama-sama enak," bisik Raga. Mereka lalu berciuman. Dengan permen yang berada di dalam mulut Raga, Kim berusaha keras merebutnya. Raga memanfaatkan lidah Kim yang menyeruak masuk ke mulutnya dengan menghisapnya. Membuat Kim mengerang karena selalu gagal mengambil permen itu. Kim menyerah. Nafasnya sudah sangat tercekat. Dia lebih dulu melepaskan ciuman dan mengambil nafas banyak-banyak. "Aku kalah," katanya sambil mengangkat tangan. Raga tertawa. Permen di mulutnya sudah sangat mengecil akibat pertarungannya dengan Kim tadi. Dia menghapus jejak ciuman mereka yang basah di bibir Kim. Tanpa dua orang itu sadari, cewek yang bersama Dika itu merekam adegan ciuman bibir yang dilakoni Kim dan Raga. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD