Episode 9

1008 Words
Jong Ki yang mendengar itu otomatis tertawa, karena Jongki paham betul sifat dan informasi lengkap teman teman Rose. "Heh gue juga waras kali kagak gesrek, ingat ya gue yang paling pinter loh diantara kalian", sahut Lilis tak mau kalah menarsiskan diri sendiri. "Nana, Nana juga", lanjut Nana yang ikut ikutan. Xexa yang sedari tadi menyimak pun hanya menghela napas memperhatikan tingkah aneh mereka. Lebih tepatnya Xexa lebih fokus memperhatikan setiap perubahan raut wajah Rose. Mereka sudah sampai di parkiran. Rose yang masih sibuk berbicara dengan Oppanya ditarik oleh Xexa menuju mobilnya. Rose nurut ikut masuk ke mobil Xexa. Xexa tersenyum melihat respon Rose yang mulai menerimanya. Xexa melajukan mobilnya diikuti Lilis dan Jia. "Oh iya Oppa, tadi pagi Oce diceburin ke bathtube", ucap Rose merajuk dengan nada imutnya, mengadukan Fian yang seenak jidatnya nyeburin majikan. Xexa yang mendengar itu malahan tersenyum mendengar aduan Rose yang menurutnya sangat menggemaskan sampai bayangin Rose diceburin gimana reaksinya. "Hahaha, Oppa udah tau sayang", sahut Jongki tertawa mengingat laporan Fian tentang itu tadi pagi. "Ih kok Oppa diem aja? Oce kan udah diperlakukan begitu", sahut Rose kesal tetap mode imut. "Fian itu orang kepercayaan Oppa. Jadi, Oce nurut dulu sama Fian", Ucap Jongki memberi pengertian. "Sebenarnya Fian itu sekertaris kedua Oppa di sini tapi, Oppa suruh jagain kamu dulu sayang", lanjut Jongki. "Hm, baiklah", sahut Rose merajuk mengerucutkan bibirnya. "Jangan ngambek sayang", ucap Jongki sembari tersenyum. "Hm, Udah dulu ya Oppa", ucap Rose masih merajuk. "Mana senyumnya sayang", sahut Jongki yang masih mendengarRsuara ngambek keponkan tercinta. "Buat apa senyum? Lagian kita kan teleponan Oppa", Ucap Rose dengan tampang polosnya. "Oh iya ya, ya udah hati hati di jalan cup!", Sahut Jongki mengecup hpnya salam perpisahan. Rose pun melakukan hal yang sama mengecup hpnya. Panggilan pun berakhir. Rose melirik Xexa yang sedari tadi menyetir. "Kok gue di mobil lo?", ucap Rose yang baru memperhatikan sekelilingnya. Xexa tersenyum sambil mengusap lembut rambut Rose. "Dimana alamat rumahnya Han?", ucap Xexa tanpa menanggapi pertanyaan Rose. "Jalan Xx", sahut Rose dengan suara imut yang sudah masa bodo dianter siapa yang penting nyampe rumah. "Siapa yang telepon Han?", Tanya Xexa melirik Rose yang duduk anteng di sampingnya. "Oppa", sahut Rose singkat. "Siapa dia?", lanjut Xexa dingin. "Oppanya Oce", sahut Rose dengan tampang imut nan polosnya. Xexa menghela napas kasar. Padahal bukan itu masudnya. Sudahlah dibanding debat, akhirnya Xexa mengalah. *** Mansion Rose Xexa sampai diikuti teman teman Rose. Pak satpam yang melihat Nonanya memberi kode untuk membuka gerbang langsung membukakan gerbangnya. Setelah mobil mereka tertata rapi mereka berjalan mengikuti Rose menuju mansionnya. Mansion yang sungguh besar bertingkat nan luas itu di bukanya pintu utama ketika pelayan mengetahui Nonanya sudah kembali dan hendak masuk. Fian yang melihat Nonanya sudah di hadapannya segera menghampirinya. "Siapkan makanan dan minuman", perintah Rose yang berjalan berlalu meninggalkan Fian. Fian yang mendapat perintah segera melaksanakan tugasnya. Teman teman Rose sudah duduk di ruang tamu. Mereka memperhatikan sekeliling. Lilis yang sejak tadi sudah gatal ingin bertanya akhirnya bertanya. "Bang lo beneran jadian sama Rose?", Tanya Lilis serius. Xexa hanya melirik sekilas enggan menjawab, karena jawabannya sudah pasti. "Ini mesti ada paksaan dari lo ya bang?", lanjut Lilis yang masih belum menyerah. "Awas aja kalo lo berani", Ucap Jia yang sedari tadi menyimak. "Brisik!", sahut Xexa males meladeni pengganggu menurutnya. Nana hanya memperhatikan mereka tanpa ingin bertanya. Setelah beberapa saat mereka menunggu. Akhirnya Rose turun menunuri tangga dengan style celana di atas lutut baju kaos oversize rambut dicepol. Xexa yang melihat itu sungguh terpesona. Dia enggan berkedip. "Ekhem!", Lilis yang sedari tadi memperhatikan RoseElalu beralih ke kakaknya segera membuyarkan lamunan kakaknya. Xexa segera menetralisir kekagumannya. "Udah liatinnya bang?", tanya Lilis mengejek. Xexa hanya memutar bola matanya jengah. "Lama ya?", ucap Rose yang langsung duduk di kursi single dekat Xexa. "Enggak juga", sahut Lilis tersenyum serta diangguki mereka. Makanan dan minuman yang dipesan Rose akhirnya dateng. Pelayan segera menghidangkan setelah mendapat instrusi dari Fian. "Siapa dia Ce?", tanya Lilis heboh. "Fian, kepala pelayan", sahut Rose mengambil camilan. "Ganteng juga ya", ucap Jia yang biasanya males menanggapi. "Emang tapi nyebelin", sahut Rose mengingat kejadian tadi pagi habis diceburin. Xexa yang mendengar itu berdehem mengingatkan Rose bahwa dia sudah berpacaran dengan Xexa tidak boleh melirik cowok lain. Rose yang kagak paham hanya melirik Xexa sekilas lalu makan camilan kembali. "Kenapa bang? Keselek batu?", sarkas Lilis menertawakan kakaknya. Xexa hanya memutar bola matanya jengah. "Untung kagak mati", sahut Nana cekikikan diikuti Jia. Rose ikut ikutan ketawa mendengar itu. *** "Udah malem nih", ucap Jia melihat jam tangannya. "Emang", sahut Lilis memperhatikan jam tangannya juga. "Ya udah nginep sini aja", ucap Rose santai. "Oke", sahut mereka bersamaan. "Eh lo kagak boleh nginep bang, Lo balik titik. Di sini cewek semua", ucap Lilis mengusir kakaknya. Xexa mendengus kesal dengan adik laknatnya. "Ayo anter gue", ucap Xexa menarik Rose. "Eh, gue kagak bisa nyetir", sahut Rose yang masoh ditarik sampe gerbang depan. *** "Dianter sampe sini Honey", ucap Xexa mengelus pipi Rose sambil tersenyum hangat. "Oh kirain", sahut Rose cengengesan. Cup Xexa mengecup bibir Rose dan beralih ke pipi kanan kiri, jidat juga. "Bye Han", Ucap Xexa mengecup bibirnya kembali. "Hmm", sahut Rose tersenyum sambil melambaikan tangannya. Setelah Xexa sudah tidak terlihat Rose kembali ke dalam dan mereka bersenang senang merayakan kepindahan Rose. *** Pagi Seluruh alarm membangunkan seluruh penghuni mansion yang megah nan mewah. Namun, si yang punya alarm kagak ada tergangu terganggunya sedikit pun. Jia "Gila! Pagi pagi brisik banget", ucap Jia yang langsung berjalan ke kamar mandi. Lilis Bruk Lilis jatuh dari kasur. "Sialan!", umpat Lilis yang langsung berjalan ke kamar mandi. Nana "Brisik!", teriak Nana menutup telinganya menggunakan bantal. Namun, suara alarm tetap terdengar alhasil Nana pergi ke kamar mandi bersiap. Rose Kagak ada terganggu terganggu sedikit pun. Fian yang sudah menggedor gedor pintu membangunkan Nonanya pun jengah. Akhirnya dia masuk menatap kesal Nona mudanya yang super susah dibangunin. "Karena enggak ada cara lain ya pake cara kemarin", Gumam Fian yang langsung menggendong Nonanya ke barhtube dan diberi cipretan air dingin. "Woi bangke! Sialan! Anjir!", teriak Rose kesal menatap tajam Fian. Fian yang ditatap bodo amat dan langsung melenggang pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD