Episode 8

1018 Words
Rose yang punya peluang lepas pun mendorong Xexa sekuat tenaga dan menatapnya tajam. "My first kiss!", teriak Rose menutup bibirnya. Xexa yang mendapat respon tersebut menyunggingkan senyum smirk di wajah tampannya sambil berjalan mendekat. "Sialan lo! Berani berani lo nyuri ki...", lanjut Rose penuh amarah. Namun, tiba tiba ucapannya terhenti karena Xexa yang tiba tiba mendaratkan ciuman lagi ke Rose. Rose membelalakkan matanya mendapat perlakuan seperti itu lagi. Dia memukul mukul dadanya tapi, Xexa malahan memperdalam lumatannya. Beberapa saat kemudian Xexa melepaskan kissnya, membiarkan Rose untuk menghirup udara sebanyak banyaknya. Xexa juga mengusap bibir Rose yang terlihat basah dan bengkak akibat ulahnya. Lalu Xexa berbisik tepat di telinga Rose dengan serius," Mulai saat ini dan detik ini lo pacar gue". Rose mendorong tubuh atletis Xexa dan menatapnya nyalang penuh permusuhan. "Ogah! Gue yang cantik cetar membahana ini mau pacaran sama orang m***m kayak lo?! Kagak sudi gue", sarkas Rose menatap jijik kepadanya. "Gue enggak terima penolakan", sahut Xexa dingin dan menatap tajam Rose. "Sialan lo! Gue kagak peduli!", teriak Rose yang langsung melenggang pergi dengan amarah yang masih memuncak disertai dumelan dumelan kagak jelas. Xexa yang melihat tingkah Rose malahan tersenyum karena menurutnya itu sangat menggemaskan. Dia juga berjalan di belakang Rose, mengikutinya sampai kelas Rose. *** Kelas Mipa X "Dari mana lo?", tanya Lilis yang melihat Rose berjalan mendekatinya dengan tampang menyedihkan. "HUAAAA", tangis Rose langsung memeluk Lilis dan langsung dibalas pelukkan. "Lo kenapa Ce?", Tanya Jia yang menghampiri sahabatnya dan menepuk nepuk bahunya. "Iya, lo kok nangis si kayak bayik aja", lanjut Lilis sembari tertawa. "Rose yang cetar membahana ini telah di curi my first kissnya", Gerutu Rose dalam hati yang sempat sempatnya memuji diri sendiri. "Ya kali gue ngomong begitu ke kalian yang ada kalian bakalan ketawain gue", lanjut batinan Rose. "Bayi? Ya ampun sudah segede babon kayak bayi", ucap Nana dengan tampang polosnya yang minta ditampol. Rose enggan menanggapi sahabat sahabat gesreknya itu. "Eh lo kok di sini? Ada apa?", tanya Lilis menatap Xexa yang sedari tadi memperhatikan interaksi Rose dan kawan kawannya. Rose yang tau Lilis bertanya ke orang lain, diapun melonggarkan pelukkannya dan menatap arah tatapan Lilis. Seketika air mata Rose menetes kembali HUAAAA "Eh anjir kenapa nih bayik tua brisik amat", ucap Lilis menenangkan Rose. "Jangan jangan...", ucap Lilis menggantung karena berpikir sesuatu. "Lo apain Rose?", Lanjut Lilis menatap tajam Xexa. Xexa mengedikkan bahunya dan memperhatikan setiap tingkah Rose. "Lo apain dia?", tanya dingin nan tajam dari Jia. Xexa menatap dingin Jia. Namun, tetap enggan menjawab pertanyaannya. Lalu, mengacuhkannya begitu saja. "Ciri ciri orang yang mau disleding ya begini", batin Lilis kesal melihat kelakuan Xexa. Lalu tiba tiba saja Xexa mendekati Rose dan Lilis tanpa peduli tatapan tajam dari Jia dan raut kebingungan Nana yang belum tau situasi. Xexa menarik Rose dengan sekali tarikan dan langsung berada di pelukkannya. Lilis, Jia dan Nana melongo melihat adegan itu. Terutama si Lilis yang tak percaya apa yang baru saja dilihatnya bener atau tidak. Dia berkali kali mengerjapkan matanya dan pemandangan itu tetap sama. Namun, tiba tiba saja, Xexa mengecup kedua mata Rose dan kemudian mengecup bibirnya lalu tersenyum manis. Rose mengerjapkan matanya berkali kali dan menatap Xexa datar. "BANG!?", Teriak histeris Lilis yang semakin syok melihat interaksi antara Xexa dan Rose itu. Jia hanya menatap tajam nan dingin. Sementara Nana tersipu malu dan menutup matanya. Xexa yang mendengar teriakkan itu acuh tak acuh. Lalu, kembali menatap Rose dengan lembut. "Kenapa nangis Honey? Bukannya tadi pengalaman yang menyenangkan?", tanya lembut Xexa menyeka sisa air mata Rose. "HONEY!?", Teriak Lilis diiringi seluruh siswa yang sedari tadi memperhatikan mereka. "Kita pacaran", ucap Xexa beralih menatap ke siswa siswa. "Wuah keren" "Cocok tuh" "Anjir patah hati gue" "Too" "Padahal belum juga berjuang udah ditolak duluan" Itulah respon siswa siswa yang mendengar kabar tersebut. Namun, Xexa dan Rose acuh. "Sejak kapan lo pacaran sama abang gue Ce?", tanya Lilis serius menatap Rose. "Kok lo enggak bilang bilang ke kita?", Lanjut Jia kesal. "Sahabat macam apa lo, sialan", sahut Nana yang tiba tiba mendapat pencerahan otak untuk paham akan situasi. Xexa mengecup bibir Rose lalu menarik pinggangnya agar mendekat sambil tersenyum hangat. Rose masih menatap Xexa intens. "Honey", ucap Xexa lembut nan halus. Rose tersenyum lalu mengalungkan tangannya ke leher Xexa. Pasti bingung ya? Ini sifat mood.an Rose nongol tiba tiba disituasi yang tidak pas ditambah Xexa berbicara halus penuh kasih sayang otomatis Rose meluluh dengan sendirinya. Inilah salah satu sifat aneh Rose. Entah dapet pencerahan dari mana Xexa bisa meluluhkan hati Rose dengan hitungan beberapa detik. Dia tersenyum puas dan memberikan kecupan cinta. "Aku merindukanmu", batin Xexa memeluk erat tubuh mungil Rose. "Cie cie" "Bikin gerah aja" "Pengin ngulek sambel gue jadinya" Respon siswa siswa yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka. "Mesraannya ditunda dulu dong. Itu bel udah bunyi tuh", Ucap Lilis kesal dengan Kakaknya. "Han, nanti kita balik bareng", ucap Xexa mengelus kepala Rose penuh kasih sayang. Rose hanya mengangguk patuh. Lalu, menatap kepergian Xexa sampai tak terlihat. "Udah ilang tuh, masih dilihatin aja", ucap Jia membuyarkan lamunan Rose. Rose menatap sekilas lalu duduk di bangkunya. Sahabat sahabatnya menghampiri Rose dengan banyak pertanyaan. Namun, tiba tiba guru datang dan itu membungkam mereka dari rasa penasarannya. Lalu, kembali ke bangku masing masing dengan tampang cemberut. *** Pulang Sekolah Rose dan kawan kawannya menuju parkiran. Setiap pulang sekolah Rose sudah bilang untuk tidak dijemput karena dia mau bermain bersama teman temannya. Drt drt drt Getar hp Rose menandakan ada panggilan masuk tertera nama Jong Ki Oppa saat hp menyala. Rose yang melihat Oppanya menelpon segeea menjawab. "Halo Oppa?", sahut Rose gembira menerima panggilan Oppanya. Xexa yang melihat itu sedari tadi merasa was was. "Siapa yang telpon? Pake Oppa oppaan segala? Bukannya Rose anak tunggal?", batin Xexa penuh penasaran. Xexa sudah memerintahkan tangan kanannya untuk mencari informasi lengkap Rose sebelumnya. "Sayang, udah pupang sekolah?", tanya Jongki dengan nada lembut. "Sudah Oppa, nanti Oce sama sahabat gesrek mau ke mansion baru", sahut Rose mode imutnya. "Enak aja sahabat gesrek, gue yang paling waras diantara kalian", respon Jia yang tumben merespon tingkah gesrek Rose. Jong Ki yang mendengar itu otomatis tertawa, karena Jongki paham betul sifat dan informasi lengkap teman teman Rose.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD