Episode 7

1035 Words
Siswa siswa yang terlambat sudah berdiri di lapangan menghadap bendera. Untung saja cuacanya mendung sehingga, mereka tidak merasa kepanasan. "Hai", sapa orang yang tadi ngikut nyahut seperti Rose menyapa Rose. Rose pun menoleh sembari tersenyum. "Lo Rose kan? Anak mipa x?", tanyanya sembari membalas senyuman Rose. "Iya, emang kenapa?", tanya Rose kembali menatap bendera. "Kenalin gue Doni anak Ips x", Ucap Doni mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Rose melirik dan menjabat tangannya sembari tersenyum manis. Namun tiba tiba saja jabatan tangan itu dilepaskan paksa oleh si cowok yang berangkat telat bersama Rose. Rose dan Doni menatap si cowok penuh tanya. "Udah kenalkan? Ya udah lanjut hukumannya", ucap si cowok dingin. "Lo kenapa Xa? Apa dia pacar lo?", tanya Doni dengan menatap penuh harap jika jawabannya bukan. "Udah lanjut kerjain hukumannya aja", sahut Si cowok dingin dan menatap tajam Doni. Doni akhirnya mengalah dan melanjutkan hukumannya. "Heh lo kenapa begitu?", bisik Rose tepat di telinga si cowok. Debaran debaran jantung si cowok kembali tak beraturan ketika mendengarkan napas Rose yang begitu dekat. Lalu si cowok berbisik kembali ke Rose,"Bahas itu nanti pas istirahat" "Oke", Sahut Rose sambil menganggukkan kepalanya. Namun, Rose baru teringat jika istirahat dia akan makan bersama sahabat sahabatnya. "Eh, gue makan bareng sahabat gue. Kalo mau bahas itu lo gabung aja mau kagak?" "Enggak", sahut si cowok Tik tik tik Brusss Tiba tiba hujan turun dengan begitu derasnya membuat siswa siswa yang dihukum menghambur menuju tempat yang terang. Tak lupa si cowok menarik Rose mereka nampak seperti sepasang kekasih yang berlari bersama ditengah hujan. Setelah mereka berteduh si cowok merapikan anak rambut yang berantakan milik Rose, bener bener seperti sepasang kekasih. "Nanti kita bahas di rooftop aja", ucap si cowok tiba tiba membahas yang tadi. "Oh oke", Sahut Rose tersenyum menatap si cowok. Rose menatap lekat si cowok yang masih merapikan rambutnya. "Ternyata lo ganteng ya", ucap Rose sambil tersenyum polos. Si cowok yang mendengar itu langsung menatap mata coklat itu dengan intens. Mereka saling menatap intens dan si cowok semakin mendekat ke bibir Rose yang sangat menggoda iman itu. "Woi bro, nanti aja jangan di sini banyak anak lain loh", ucap Doni yang tiba tiba merusak suasana mereka dan si cowok langsung melangkah mundur menatap sekeliling dan Rose malahan jadi salah tingkah sendiri. "Gue ke kantin", ucap Rose melenggang pergi karena sebentar lagi waktu istirahat. Si cowok tersenyum tipis melihat tingkah Rose yang menurutnya sangat imut. "Gila bisa bisanya tadi gue mau ciuman kah?", gumam Rose yang berjalan tanpa menoleh sedikit pun. *** Kantin Rose sudah mengambil makan tanpa mengantri seperti biasa karena dia datang paling awal dibanding murid lain. Tak berselang lama istirahat pun tiba. Rose yang masih menikmati makanannya tiba tiba di kejutkan oleh sahat laknatnya. Siapa lagi kalo bukan Lilis, Nana dan Jia. "Anjir gue kaget tau", ucap Rose mengelus dadanya. "Untung gue enggak kesedak", lanjut Rose menatap tajam sahabat sahabat laknatnya. Lilis, Nana dan Jia hanya nyengir kuda menanggapi Rose. "Seneng banget lo, udah makan di sini. Sementara kita abis ngantri kek ngantri sembako", ucap Lilis menatap tajam Rose. "Kalo mau kayak gue, lo pada telat berangkat sekolahnya terus dihukum bareng mau?", ucap Rose menawarkan sambil menaik turunkan alisnya. "Ogah", sahut mereka bersamaan sambil mencebikkan bibirnya. "Lihatlah cuacanya, mereka bahkan sampe nangis karena gue dihukum", ucap Rose cekikikan Lilis, dan Jia hanya memutar bola matanya malas. Sementara Nana hanya menganggukkan kepala sambil ber oh ria. "Eh gue udah selese, gue pergi dulu ada yang mau gue bahas sama orang lain", ucap Rose pergi membawa nampan makanannya tanpa menunggu balasan sahabat sahabatnya. *** Rooftop Hujan sudah mereda pemandangan yang terlihat dari rooftop terlihat tertinggal beberapa genangan air di beberapa tempat. Langit pun masih mendung namun tidak semendung tadi. Rose menatap sekitar dari rooftop sambil merilekskan diri. Si cowok yang baru dateng pun menghampiri Rose yang sedang melihat ke depan di tepi rooftop. Rose yang merasakan kehadiran si cowok pun menoleh dan menatapnya. "Oh iya, gue belum tau nama lo", ucap Rose mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Si cowok nampak menimbang nimbang akan menjabat tangannya atau tidak dan akhirnya dia menjabat tangannya sambil tersenyum tipis. "Xexa Ips X", ucap si cowok yang bernama Xexa menatap Rose. Rose membalasnya dengan senyuman. "Rose Mipa X, harusnya lo udah tau gue kan?", sahut Rose melepaskan genggamannya. Namun bukannya dilepas malahan Xexa menarik Rose kedalam pelukkannya. Rose mematung mendapat perlakuan seperti itu. "Yak! Apa yang lo lakuin, lepasin gue!", teriak Rose memberontak. Namun, Xexa semakin mengeratkan pelukkannya. "Biarkan seperti ini sebentar", ucap Xexa memejamkan matanya dan meletakkan dagunya di pundak Rose. Rose pun akhirnya diam membiarkan Xexa seperti itu. Beberapa saat kemudian Xexa melonggarkan pelukannya. Hal ini dimanfaatkan Rose untuk menjauhkan diri. "Lain kali jangan seperti ini lagi, gue bukan perempuan murahan", ucap Rose penuh penekanan dan berlalu pergi tanpa niat mau membahas masalah tadi. Xexa yang mendengar itu langsung menarik Rose kembali kedalaman pelukkannya tanpa peduli dengan perlawanan Rose. "Diamlah", Ucap Xexa yang semakin mengeratkan pelukkannya. "Gue mau bahas masalah tadi di lapangan", lanjut Xexa melepas pelukkannya dan memegang kedua bahu Rose serta menatapnya. Rose menghela napas kasar serta menatap tajam Xexa yang seenaknya peluk peluk dirinya. "Cepet, enggak usah kebanyakan modus", ucap Rose dingin. Namun, terlihat imut di mata Xexa yang sudah tersihir mantra apa setiap kali bertemu Rose dia enggan berpaling darinya. Xexa yang mendengar itupun tersenyum menanggapinya. "Gue akan perjelas hubungan kita", ucap Xexa serius. "Hah? Hubungan? Emang kita punya hubungan apa? Kita bahkan baru ketemu 2 kali waktu telat", sahut Rose bingung. Xexa tersenyum mendengarnya. Lalu, Xexa langsung menyambar bibir Rose dengan cepat dan menarik pinggangnya dan tangan satunya lagi menahan tengkuk Rose. Rose yang mendapat perlukan itu otomatis memelototkan matanya dan mematung. Xexa menjilati bibir Rose dan berusaha menerobos masuk. Namun, Rose enggan membuka mulutnya. Lalu, Xexa menggigit kecil bibir bawahnya dan otomatis Rose membuka mulutnya dan kesempatan ini dimanfaatkan Xexa untuk menikmati setiap inti rongga mulut Rose yang terasa sangat manis menurutnya. Bagaikan candu Xexa enggan melepaskan ciuman panas itu. Bahkan Rose sudah memukul mukul dadanya. Namun, hal itu tidak membuatnya melepaskan ciumannya itu yang sudah berlangsung lama. "Hmmmm", respon Rose sambil memukul mukul d**a Xexa kembali karena dia kehabisan napas. Akhirnya Xexa melepaskan ciumannya dan menyatukan jidat mereka. Xexa mengelap bibir basah Rose dengan ibu jari sembari tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD